
'Dunia Mira'
Mata yang terlihat letih itu terbuka dan terus menatap kesegala arah. Dahinya sedikit mengernyit merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
“Akh,” rintih wanita berpiyama merah tersebut sambil mengangkat tubuh atasnya dan membiarkan sebagian tubuhnya terbaring.
Ini kamar mandi, Mira sedang berada dikamar mandi dan sepertinya wanita itu tertidur panjang disini.
“Eungh, Den!” panggil Mira berdiri mencoba melawan pusingnya dan keluar dari kamar mandi.
Pintu toilet terbuka dan betapa sedihnya ia melihat pemandangan ini. Ia tahu jika Dennis tak memperhatikannya, namun tidak mungkin jika sampai pagi seperti ini Dennis tak masuk kamar mandi. Untuk sekedar membersihkan diri saja.
“Den, kau benar-benar jahat pada ku.” gumam Mira menatap sendu kearah ranjang yang sudah rapi, terdengar ia begitu terluka pada Dennis dan—Jennie.
Mira kembali melangkah melewati semua barang yang berada dikamar itu lalu langkahnya terhenti didepan pintu. Mira membukanya pelan dan ketika pintu itu berhasil terbuka, ia dikejutkan dengan seorang kakek yang menunduk lalu mendongak mengetahui reaksi Mira padanya.
“Cepatlah pulang, katakan pada anak dan suamimu untuk menemukanmu. Kau tersesat nak.” tutur kakek itu menatap memohon pada Mira.
Mira berdiam sejenak lalu memposisikan dirinya senormal mungkin walau tatapan terkejut dan takutnya masih terpancar. Mata wanita itu terus bergerak atas-bawah melihat kakek tersebut.
“Anda, siapa?” tanya Mira penasaran.
“Aku budak dari pemilik sah rumah ini. Jika kau tak mau seperti aku, lebih baik kau segera pergi!” perintah kakek itu lugas membuat Mira menjadi semakin tak mengerti dengan keadaan ini.
“Apa maksudmu? Ini rumahku.” jelas Mira sambil melirik sekeliling rumahnya.
Suara pintu terbuka dengan sendirinya tanpa ada yang keluar dari pintu rumah itu. Kakek itupun juga menoleh memandang kearah pintu tersebut dan kembali menatap Mira.
“Dennis, lelaki itu sedang berada dibawah perintahnya. Mereka akan membuat kalian bernasib sama sepertiku dan lainnya.” kata kakek itu dengan intonasi yang cepat dan terdengar khawatir akan sesuatu.
”Kenapa? Dennis dengan siapa?”
Kini tak hanya kakek itu yang panik, wanita muda itu terdengar sangat membutuhkan jawaban sejelas-jelasnya dari kakek itu.
“Rumah ini sudah dilingkupi kutukan, nak. Dulu aku juga penghuni rumah ini, bersama anakku, orangtua Hyeon Chul." kata kakek itu menjelaskan yang terjadi pada rumah ini, namun jeda sesaat. Ia butuh banyak kekuatan untuk menceritakan hal pahit yang ia alami beserta keluarganya.
Mira mengernyit sesaat pada kata kakek itu membawa nama Hyeon Chul disana.
“Hufh, intinya kau harus segera keluar dari alam ini dan beritahu suamimu lalu minta pertolongan darinya.” jelas Kakek itu yang otomatis membuat Mira selalu mengingatnya.
__ADS_1
Wanita itu memang belum sepenuhnya yakin jika ia sedang berada didunia lain. Namun ia langsung percaya begitu saja ketika hawa disini begitu panas dan hampa. Bahkan warna dari alam ini hanya kelam, tak berwarna.
*
Suara pintu terbuka menampilkan tubuh Dennis yang tidak terlalu kelelahan karena ini baru pukul 5 sore awal. Memang semua pekerja normal pasti pulang dalam waktu sore ini, namun sebuah hal yang jarang dilakukan oleh Dennis. Ia terbiasa pulang sekitar pukul 7 hingga 8 malam.
“Sayang, ayah pulang!” teriak Dennis melangkah dengan jarak lebar mencari keberadaan anaknya. Ia benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan gadis kecilnya tersebut.
“Ayah!” teriak balik Jennie berlari menuju Dennis dan memeluknya erat.
“Whoa, ada apa? Kau rindu pada ayah? Dan dimana ibumu, heum?” tanya Dennis mencoba menatap wajah manis putrinya.
“Entah, aku tak suka dengan ibu. Ibu terus saja berbicara menggunakan bahasa Korea.” lirih Jennie menatap sayu pada Dennis.
“Benarkah? Mungkin sekarang ibumu sedang belajar bahasa Korea.” tebak Dennis logis.
Kedua anak adam itu tertawa ringan lalu berjalan menuju sofa. Dengan cepat Jennie merangkul lengan Dennis dan bersandar dibahu lebar lelaki itu.
“Ayah jahat! Sekarang ibu menjadi seperti itu karna ayah.” gumam Jennie menatap kosong didepan.
Dennis menoleh pada Jennie yang menampilkan wajah kesal bercampur sedih.
“Ayah mengacuhkan ibu sampai ibu menjadi seperti ini,” jelas Jennie memandang Dennis sendu. Tatapannya seolah meminta ayahnya untuk kembali pada ibunya.
Dennis ingin menjawab pernyataan anaknya namun ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Pria itu hanya berkata lirih tanpa ada kejelasan yang pasti. Ia hanya terus menatap anaknya, dan Jennie juga ikut menatapnya. Sebuah senyum tipis muncul dari bibir Dennis.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Mira yang sedang berada diatas tangga.
“Tak apa, bu. Ibu sedang apa? Kemarilah.” ajak Jennie menyuruh Mira datang kepada mereka, yang ditanggapi wanita itu dengan baik.
“Ibu sudah masak banyak sekali. Ayo kita makan!” seru Mira tersenyum manis pada kedua manusia tersebut.
“Ya, baiklah bu. Sepertinya ayah juga mulai lapar.” sela Dennis beranjak dari tempat duduknya, dan melewati Mira yang menatapnya lekat dengan sebuah senyum masam tercetak dibibir wanita itu.
“Eum, ibu. Aku semalam mimpi ibu sedang tertidur lalu terjatuh. Tapi aku tidak tahu saat itu ibu berada dimana.” cerita Jennie disela-sela makan teraturnya.
Mira menoleh pada Jennie lalu ia tersenyum miring pada anaknya tersebut.
“Benarkah?” gumam Mira membuat Jennie menganguk membenarkan ceritanya.
__ADS_1
Dennis akhir-akhir ini memang selalu menjadi pendengar yang baik diantara kedua wanita ini. Pria itu hanya melirik secara bergantian pada mereka.
“Lalu setelah itu aku langsung bangun, tapi aku merasa ibu saat itu sedang terjebak.” sambung Jennie mulai serius memakan makanan berkuahnya.
Mira tersenyum tipis nan kecut pada Jennie yang tidak mengetahui kejadian itu. Senyum miris itu berhasil terekam dipenglihatan Dennis, dan tentu saja pria itu begitu meragukan Mira sekarang sebagai ibu dari anaknya ini.
*
Makan malam tadi terasa lebih hening, bahkan Dennis saat itu merasa kesemutan karna ia terlalu tegang.
Dennis menatap kosong disudut kamarnya yang hanya meninggalkan secercah cahaya dari lampu meja.
“Mira,” panggil Dennis pada istrinya yang bersiap untuk berbaring tidur.
“Heum? Kenapa?” tanya Mira terdengar jengah karna suaminya mengganggunya tidur.
“Kenapa kau selalu berbicara logat Korea?” tanya Dennis menatap Mira tajam dan penuh tanya.
“Itu terserahku.” jawab Mira membuat Dennis mengernyit terkejut.
Mira yang ia kenal tak pernah berkata sangat singkat dan ketus seperti itu sebelumnya.
“Mira, apa kau mendengarku!” panggil Dennis kembali mencoba membangunkan Mira yang terbaring.
Entah karna wanita ini tak ingin menjawab, atau wanita ini tak tahu bahasa yang Dennis gunakan, bahasa negerinya sendiri. Dennis mendesis frustasi karna jawaban Mira yang hanya sebatas angin saja.
'Alam Bawah Sadar Dennis'
“***Dennis, Dennis! Apa kau mendengarku?!" teriak Mira terdengar sangat jauh, dan membangunkan Dennis yang mulai membuka matanya.
Pria itu menoleh disebelah bagian ranjangnya yang ditempati Mira, namun pria itu sangat yakin jika wanita disampingnya ini bukanlah Mira.
Pria itu bergerak mundur dan turun dari ranjangnya tanpa berniat membangunkan wanita disampingnya.
“Den!” panggil suara yang sama dengan suara Mira. Dan kembali membuat Dennis melangkah lebih jauh meninggalkan seorang 'Mira' disana.
Namun pergerakannya diketahui oleh wanita itu, dan tepat yang Dennis rasakan. Ia bukanlah Mira namun seorang yang tampak sangat ingin membunuhnya lewat jalan tubuh Mira. Wanita itu dengan cepat beranjak dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju Dennis yang bernapas tak teratur.
Bingung ingin melakukan apa, tanpa pikir panjang Dennis berlari keluar dari kamar dan segera menutup kembali pintu kamar itu.
__ADS_1