Rumah Petaka

Rumah Petaka
Melupakan Sejenak


__ADS_3

Dennis dan Mira lalu keluar dari kamar Ji Yong dan segera diterkejutkan oleh Jennie yang berlari masuk rumah.


“Hahaha! Ayaah!” teriak Jennie berlari dari Hyeon Chul yang tak lama kemudian ikut memasuki rumah.


Namun saat Jennie sudah di dekat Dennis dan Mira, gadis kecil itu tak tahu bahwa Hyeon Chul berpindah haluan bukan lagi tertarik menangkap Jennie namun karena sudah kelelahan ia berjalan menuju sofa dan berbaring di sana.


“Apa? Apa?” tanya Dennis gemas mendengar teriakan Jennie.


Dennis segera mengangkat tubuh Jennie dan menggendongnya, mereka lalu berjalan mendekati Hyeon Chul.


“Ish, kakak Hyeon Chul lemah! Wleek!” ejek Jennie masih terkekeh senang.


Jennie lalu meminta Dennis untuk menurunkannya ke sofa.


“Sudah, sudah. Ayo bersiap jalan-jalan ke mall!” seru Mira senang.


Berbanding terbalik dengan Dennis yang terkejut menatap terluka Mira, sedangkan Jennie tentu senang ikut berseru antusias.


“Yeay! Mall!” tanggap Jennie bangkit dari duduknya.


“Kakak! Ayo ganti baju, kita akan ke mall!” ajak Jennie akhirnya di mengerti Hyeon Chul kenapa mereka berisik.


Hyeon Chul tak kalah gembira mendengarnya, ia lalu berjalan bersama Jennie menuju kamar masing-masing.


“Siapa yang mengajak ke mall?” tanya Dennis protes.


“Aku, tapi sebagai kepala rumah tangga. Suamiku ini lah yang membiayai, betul 'kan?” jawab Mira tak sama sekali merasa bersalah.


Dennis tidak bisa apa-apa, ia tahu. Akhirnya Dennis hanya memperlihatkan wajah sedihnya dengan jiwa pelitnya.


Mira lalu menepuk manja bahu Dennis, ia dengan senyuman manis pergi meninggalkan Dennis yang menangisi uangnya.


Walau begitu, Dennis tetap beranjak untuk bersiap-siap jalan-jalan ke mall.


Di perjalanan, Hyeon Chul dan Jennie sebagai peramai di mobil tengah bernyanyi tak beraturan membuat Dennis dan Mira tertawa renyah.


Setelah 30 menit perjalanan, mereka telah sampai di mall terbesar di kotanya ini.


“Ayo, ayo. Masuk.” kata Dennis senang.


Sampai mereka masuk ke dalam mal, mereka memilih untuk pergi ke seaworld terlebih dahulu karena Hyeon Chul bilang ia sangat ingin melihat ikan besar.


Setelah melihat aquarium besar itu dengan rasa terkagum-kagum. Mereka berpindah tempat ke ice skatting, hebatnya malah Hyeon Chul yang mengajari Jennie memainkannya.


Hanya melakukan dua kegiatan itu saja mereka sudah menghabiskan waktu 3 jam. Jam di arloji Dennis memperlihatkan pukul 1 siang, Dennis lalu mengusulkan untuk segera makan.


Mereka pun pergi ke suatu restoran, Hyeon Chul bahkan memesan makanan hingga 3 kali tuk mengisi perutnya.

__ADS_1


Setelah makan pun mereka pergi berbelanja baju, begitu lama mereka memilih baju hingga 1 jam lamanya, itu dikarenakan Mira yang ambigu.


Setelah menghabiskan uang 5 juta hanya untuk baju, keluarga Dennis berpindah menuju toko aksesoris dan perhiasan.


Hingga akhirnya mereka keluar mal saat hari telah sore.


“Huh, 20 juta habis sehari, sayang.” kata Dennis memasuki mobil.


Mira tersenyum manja meminta belas kasih Dennis.


“Tak apa, ya? `Kan hanya sebulan sekali, sayang.” sahut Mira mengelus punggung Dennis.


Menanggapi Mira, Dennis dengan setengah hati hanya tersenyum tipis dan menghela napas.


Mereka lalu pergi berpulang ke rumah dengan barang belanjaan yang banyak di bagasi.


Sesampai di rumah, mereka telah dijumpai oleh hari yang sudah petang.


“Yeay! sampai! Aku ingin melihat barangnya!” seru Jennie menunggu Dennis keluar dan membuka bagasinya.


“Ya ampun, berapa jam kita di mall?” gerutu Dennis berjalan bersama Mira menuju mobil belakang.


“Yeay!”


Jennie lalu bersama Hyeon Chul membawa dengan semangat barang yang mereka pilih dan miliki di mall tadi.


“Kenapa? Kau tidak suka membiayai anak-anak mu dan aku?” tanya Mira tersinggung.


Karena memang terlihat sekali wajah nampak tak ikhlas Dennis di depannya ini. Suaminya itu nampak terkejut tak mau dituduh seperti itu, ia segera menoleh pada Mira yang lebih sedikit berada di belakangnya.


“Bukan sayang, hanya saja. Setengah gaji ku habis, padahal aku sudah menempatkannya untuk sekolah anak-anak kita.” jelas Dennis.


“Bukankah Kau sudah membayarnya sejak pendaftaran?” selidik Mira menyipitkan matanya.


“Ya, untuk bulan depan?”


“Dennis, sepuluh hari lagi Kau sudah gajian 40 juta!” seru Mira gemas.


“Untuk uang tabungan?”


Mira berdecak, tujuannya atau mungkin tujuan semua orang untuk berdebat adalah menjadi pemenang debat namun Dennis tak pernah mau mengalah.


“Iish! Kau ini tidak ingin kalah, ya? Sudah jelas Kau tadi kalah!” seru Mira kesal.


“Kau ingin aku kalah? Oh, ya sudah. Aku kalah.” tanggap Dennis polos juga tidak mau memperpanjang debat.


Namun nyatanya Mira malah terlihat semakin marah, ia menepuk keras dada Dennis sambil memekik kesal.

__ADS_1


“Ih! Kau ini!” pekik Mira tak hanya menepuk kasar Dennis namun kemudian juga mencubitnya.


“Auw!” seru spontan Dennis sambil menarik lengannya dari cubitan sadis Mira.


Setelah itu Mira segera berjalan menuju rumah meninggalkan Dennis yang mengusap cepat lengannya yang terkena cubitan Mira.


“Anak-anak, setelah ini belajar, ya!” peringat Mira memegang masing-masing bahu Jennie dan Hyeon Chul.


“Iya, bu!” seru Jennie dan Hyeon Chul berbarengan.


Melihat dari ujung mata nampak kehadiran Dennis, Mira menoleh tajam pada Dennis yang menatap sedikit terkejut di tatap sejahat itu oleh Mira.


Menghindari Dennis karena marah, Mira segera berjalan kembali menuju kamarnya.


“Mira,” panggil Dennis pelan berjalan lebar namun lambat menuju Mira.


Tak mau berhenti juga, Dennis akhirnya terpaksa menahan kencang tangan Mira.


“Ish! Kau ini kasar.” gerutu Mira menghentakkan tangannya sekali.


“Mira-”


“Aku tak marah, kok.” sela Mira menatap lantai.


Dennis terlihat kebingungan di awal, ia lalu segera bergerak menormalkan ekspresinya.


“Oh, iya. Kau berarti memaafkan aku `kan?” tanya Dennis menahan perkataannya yang sebenarnya.


Mira hanya mengangguk pelan meng-iyakan pertanyaan Dennis.


“Eeuumh, Kau baik sekali sayang.” kata Dennis manja lalu memeluk Mira ke dadanya.


Tak bisa dipungkiri, Mira merasa nyaman dan senang di dalam pelukan Dennis.


“Tapi Mira, sekarang aku sedang lapar. Kau mau `kah memasak untuk ku dan anak-anak?” pinta Dennis akhirnya.


Mira lalu melepaskan pelukannya dengan wajahnya yang kembali cemberut. Dennis pun terkekeh malu melihat tanggapan Mira.


“Ya sayang?” pinta Dennis mengelus dagu Mira.


Lalu dengan terpaksa karena tak tega, Mira mengangguk melaksanakan permintaan Dennis.


“Iya.” jawab Mira menyetujui.


Ia lalu tanpa basa-basi segera berjalan berbalik tak menghiraukan Dennis yang sedang menyemangati dirinya.


“Hehe, semangat sayang ku. Ayo, aku akan membantu mu.” seru Dennis lalu ikut berjalan ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2