
Dennis keluar dari toilet sambil membenahi celananya lalu berjalan kembali menuju ruang kerjanya, tak lupa dengan surat tak tahu pemiliknya tersebut ia pun mendekatkan tangannya pada surat itu dan mengambilnya.
“Haruskah aku membukanya?” gumam Dennis menimbang jalan selanjutnya pada surat itu karna ia tak mengetahui coretan nama dari luar surat tersebut.
Dengan perlahan Dennis membuka suratnya dan dengan sengaja membaca seluruh tulisan di sana.
“Pergi dari rumah itu atau jika tidak seluruh keluargamu akan mati.”
Itulah isi tulisan dari surat itu namun kembali lagi, Dennis sama sekali tak percaya akan makna tulisan itu. Entah karna surat itu mungkin tak ditunjukkan padanya atau, bisa apa pelaku pengancam itu untuk membunuh keluarganya?
Tok! Tok!
Pandangan Dennis mulai tertuju pada suara pintu yang diketuk oleh asistennya atau entah siapapun itu yang berada di luar.
“Sayang.” rengek seorang wanita berbaju merah marun dan celana panjang berwarna coklat berpadu hitam tersebut. Mira.
“Mira? Kenapa Kau ada di sini? Di mana Jennie?” tanya Dennis bertubi-tubi sambil mengaitkan kancing di ujung lengan bajunya.
“Karna itu, anak itu selalu berperilaku tak menyenangkan saat pagi.” rengek Mira manja sambil membenahi kemeja Dennis.
Dennis menghela napas lelah karna anak dan ibu itu tak pernah akur walau hanya sehari saja, pasti entah pagi, siang, malam mereka bertengkar.
__ADS_1
“Lalu bagaimana keadaan Jennie?” tanya Dennis lirih lalu duduk di kursi kerjanya.
“Terakhir aku melihatnya, Dia menangis.” jawab Mira ikut duduk di kursi meja yang berada di depan Dennis, kedua pasutri itu hanya terhalang oleh meja putih Dennis.
“Kau tidak kembali lagi? Bisa saja ia masih menangis.” bujuk Dennis menyuruh Mira untuk segera melihat keadaan Jennie terkini.
*
Tangan kecil itu terus berusaha untuk mengambil selembar roti yang berada ditepat pinggir meja dapur.
Wajahnya benar-benar menunjukkan rasa perjuangan untuk melawan tinggi badannya yang berjarak 5 inch dari pada meja dapur.
“Ahh, dapat juga.” gumam anak kecil yang tak lain Jennie itu sambil menatap istimewa selembar roti itu.
Tok! Tok! Tok!
Jennie tersadar dari keasikannya dan menoleh menghadap pintu rumah yang terus sering terdengar suara pintu terketuk. Jennie mencibir sebentar merasa jika pengetuk pintu itu adalah ibunya.
Dengan berat hati Jennie turun dari kursinya, dan mendekati pintu itu lalu memutar knop pintu dengan kedua tangannya.
“Heum? Kau lagi?” tanya Jennie terkejut melihat bocah bernama Hyeon Chul itu kembali lagi mengunjungi rumahnya.
__ADS_1
Hyeon Chul tersenyum kaku sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
“Aku, sebelum Kau dan orang tuamu pindah di sini, aku selalu datang ke sini mengenang kejadian dulu yang keluargaku lakukan.” kata Hyeon Chul mencoba menjelaskan kenapa ia selalu mendatangi rumah ini.
“Bukankah sebelum kami datang rumah ini—bahkan gerbang rumah di depan di kunci, dan tidak dapat dimasuki walaupun memasuki halamannya saja?” tanya Jennie setelah mencerna perkataan Hyeon Chul.
“Ya, biasanya aku hanya berada di depan gerbang saja.” jawab Hyeon Chul menatap penuh minat roti berselai yang berada di atas meja makan.
Jennie yang tahu jika Hyeon Chul menginginkan rotinya. Ia pun hanya tertawa kecil sambil mendekati meja makan, mengambil roti itu dan memberikannya pada Hyeon Chul, yang disambut baik oleh Hyeon Chul.
“Tapi sepertinya Kau bukan warga negara asli Korea. Lalu kenapa Kau bisa selancar itu berbahasa Korea?” tanya Hyeon Chul sadar akan Jennie yang wajahnya sangat berbeda dari wajah-wajah Korea.
“Nenek dari Ibuku adalah orang Korea, jadi saat hal yang tak disengaja ia sering mengatakan sepatah dua kata dalam Bahasa korea. Dan juga, aku bercita-cita sebagai diplomat jadi aku ingin berbicara pada rekan kerjaku nanti dalam bahasa mereka masing-masing.” jawab Jennie dengan nada suara yang bersemangat.
Hyeon Chul entah kenapa mengganti raut wajahnya menjadi tak berseri-seri lagi, wajahnya terlihat lebih letih dan sendu.
“Kau kenapa?” tanya Jennie mengetahui gerak-gerik Hyeon Chul.
“Aku, aku mungkin tak bisa memenuhi impianku.” jawab Hyeon Chul lirih sambil melengkungkan bibirnya kebawah.
“Panti asuhan di sana tak mampu membuat anak asuhnya melanjutkan pelajaran sekolah. Jadi kami hanya diajarkan caranya menulis dan angka.” lanjut Hyeon Chul lalu menatap Jennie yang menatapnya iba.
__ADS_1
Jennie dan Hyeon Chul sama-sama menghela napas berat lalu Jennie mulai memberi tepukan persahabatan pada bahu Hyeon Chul.
“Aku mau tahu bagaimana keluargamu bisa meninggal secara bersamaan. Bagaimana kata para polisi terhadap pembunuhannya?” tanya Jennie mencoba mengalihkan topik saat ini.