Rumah Petaka

Rumah Petaka
Teror


__ADS_3

Jennie dan Majearn telah sampai di kantin, mereka langsung menuju ke tempat penjualan ice cream.


Jennie segera memilih ice cream batangan, sementara Majearn memilih ice cream berwadah.


Mereka lalu menunjukkan ice cream mereka masing-masing di depan kasir. Setelah itu sang Kasir segera menjumlah dua harga ice cream tersebut.


“Dua puluh delapan ribu, nak.” beri tahu sang Kasir.


“Ini, bu.” gumam Majearn menyodorkan uang lima puluh ribu.


Jennie melihat uang saku Majearn yang kini hanya tinggal dua puluh dua ribu, sedikit ada rasa penyesalan karena ia telah memilih ice cream yang mahal.


“Ayo,” ajak Majearn tersenyum simpul.


Jennie sulit menghapus wajah kesusahannya, ia masih berusaha untuk terus tersenyum.


Selepas mereka duduk di kursi taman dengan pohon yang melindungi mereka dari terik matahari. Jennie mulai berbicara.


“Terima kasih, ya. Sudah memberi ku ice cream.” ucap Jennie membuka pelan bungkusan ice cream miliknya.


Majrean menoleh, ia dengan wajah tampan berdarah Jerman ini tersenyum dewasa.


“Iya, sama-sama. Aku masih mempunyai uang saku tujuh puluh dua ribu.” jelas Majearn sangat peka sekali dengan apa yang dirasa Jennie.


Mengetahui uang jajan sekolah Majearn yang sangat besar, Jennie tak pura-pura untuk membelalakkan matanya terkejut.


“Uang jajan mu banyak sekali!” ujar Jennie terkejut.


Majearn terkekeh lirih, ia tidak mau memperlihatkan sifat sombongnya di depan teman barunya ini.


“Iya, ayah ibuku tidak mempunyai uang kecil. Mereka tadi terburu-buru memberi ku uang saku.” jelas Majearn sejujurnya.


Jennie lalu ber-oh panjang, ia jadi tidak terlalu terkejut mengetahui penjelasan Majearn.


“Oh, ayo makanlah. Nanti meleleh.” kata Majearn.


Jennie segera tersadar, ia tertawa lalu mulai menggigit ice cream-nya.


Majearn dan Jennie lalu memakan ice cream mereka masing-masing, terkadang mereka tertawa lepas dengan candaan yang ringan.


Hingga Hyeon Chul tidak sengaja lewat di sekitar taman, ia melihat Jennie yang terus ia cari di kelas adiknya itu dan sekitar kelas namun tidak ada jua. Sampai Hyeon Chul melihat Jennie bersama dengan seorang anak laki-laki membuatnya cemburu.


Hyeon Chul dengan langkah besar menemui Jennie dan Majearn, ia dengan wajah tenang menyapa mereka.


“Jennie.” panggil Hyeon Chul pelan berdiri di hadapan antara Majearn dan Jennie yang terduduk


Jennie menoleh, wajahnya cukup terkejut lalu tersenyum senang.

__ADS_1


“Kakak!” seru Jennie spontan.


Terlalai, Jennie segera memperkenalkan Hyeon Chul pada Majearn.


“Kakak Hyeon Chul, ini Majearn teman sekelas ku. Majearn, ini kakak Hyeon Chul, kakak...kakak ku.” jelas Jennie.


Majearn sungguh seharusnya bukanlah bocah berumur 6 tahun, dia dengan dewasanya berdiri lalu bermaksud menjabat tangan Hyeon Chul.


Sedikit risih dengan kedewasaan Majearn ini, namun Hyeon Chul tidak mungkin tidak menjabat tangan Majearn.


“Majearn Jan Orkh Hensen.” perkenal Majearn tersenyum tipis.


Dari lahir mungkin saja bocah ini sudah diajak orang tuanya untuk bertemu relasi bisnis dan semacamnya, sampai-sampai sekaku ini.


“Kim Hyeon Chul.” balas Hyeon Chul sinis.


Majearn termenung, nampak di wajah dewasanya ia terheran.


“Kim Hyeon Chul? Bukankah itu nama Korea? Kau anak angkat ayah ibu Jennie?” tanya Majearn tidak bisa direm mulut dan lidahnya.


Jennie khawatir, ia takut Hyeon Chul sedih mendengar kenyataan itu. Jennie melirik Hyeon Chul yang masih tenang.


“Iya, orang tua Jennie sangat baik pada ku. Mereka mau menambah aku sebagai anggota keluarganya.” jujur Hyeon Chul.


Mereka masih menjabat tangan, hingga Hyeon Chul akhirnya melepaskan.


Hyeon Chul menggeleng pelan, ia dengan elegannya duduk di tengah-tengah mereka.


“Kalian makanlah es krim-nya, nanti bisa menetes dan kotor di baju mu.” jawab Hyeon Chul menolehkan wajahnya pada Jennie.


Awalnya Jennie pikir ini akan canggung, tapi ternyata karena sikap ramah Majearn. Mereka bisa menjadi teman.


Namun tiba-tiba, Jennie merubah wajah tenangnya menjadi sedikit gelisah. Karena ia harus pergi ke toilet untuk membuang ampas nutrisi cairan di dalam tubuhnya.


“Kakak, Majearn, aku tinggal sebentar boleh, ya?” izin Jennie berdiri dari duduknya.


Kedua bocah laki-laki itu menengok dan mengangguk bersama.


Jennie lalu segera berlari menuju toilet umum wanita.


Setelah Jennie keluar dari bilik toilet, ia lalu ke ruang wastafel, bermaksud mengeringkan tangannya.


Sambil menunggu tangannya kering hanya dalam beberapa detik, Jennie bersenandung dengan matanya yang melirik ke kaca besar wastafel.


Namun ketika mata anak kecil itu kembali memandangi kaca wastafel, tiba-tiba sosok wanita berjubah putih tinggi tengah menghadapnya.


Jennie terkejut, ia masih belum mencerna bahwa kalau sosok itu terpantul di kaca berarti sosok itu ada di belakangnya.

__ADS_1


Tangannya yang sudah kering ia hempaskan, Jennie akan segera berlari pergi menuju ruang itu namun ia malah kembali diterkejutkan oleh sosok yang sangat tinggi dengan badan yang kurus itu.


Entah mengapa Jennie tidak bisa bersuara, ia hanya menatap nanar hantu berjubah besar yang masih itu.


Hingga hantu itu mengangkat kedua tangannya hendak meraih tubuh kecil Jennie, disaat itulah Jennie berteriak dan kembali berlari menuju ruang wastafel.


Dengan kaki panjangnya, hantu itu tidak kesusahan untuk mengejar Jennie.


Sambil berteriak Jennie bisa melihat sosok itu berada tepat dan dekat di belakangnya. Jennie berteriak histeris, ia jatuh terduduk meringkukkan badan dengan kedua tangannya yang menutupi kepalanya.


Nampaknya hantu itu sudah siap untuk menangkap Jennie, ia membungkuk dengan tangannya meraih bahu Jennie yang bergidik


Namun, seorang cleaning service dengan sengaja membuka paksa pintu toilet dan segera menghampiri Jennie yang meringkuk di sudut ruang.


“Oh?! Nak? Ada apa?” tanya cleaning service tersebut mendekap tubuh Jennie yang bergetar.


Jennie terkejut sekaligus bersyukur sudah ada orang yang membantunya, ia lalu menoleh pada ibu cleaning service tersebut.


Mata Jennie nanar, nampak sekali ia ketakutan. Di depan ibu ini, Jennie tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi, ia pun hanya bisa menangis ketakutan.


Membuat kebingungan ibu cleaning service tersebut.


“Nak, kau tidak apa-apa `kan?” tanya Ibu itu mengusap memberi semangat pada Jennie.


“Ibu bawa Kau ke ruang guru, ya? Ayo.” ajak ibu cleaning service tersebut memapah tubuh lemas Jennie sehabis melihat hantu.


Jennie pun menurut saja, ia berjalan pelan dituntun ibu itu hingga dirinya sampailah di ruang guru.


“Permisi bu, ini ada murid baru menangis di toilet tadi, bu.” ujar ibu cleaning service tersebut mengangkat tangan Jennie.


Beberapa guru nampak ada yang hanya menengok dan terdiam, yang kelompok lain juga malah seolah tidak mendengar. Namun ada tiga guru satu seorang pria mendekati mereka.


“Jennie, ya?” tanya salah satu guru sambil berjalan bersama kedua temannya.


“Jennie kenapa? Ayo duduk. Sini,” ujar seorang guru wanita mengambil alih Jennie dari ibu cleaning service tersebut.


“Terima kasih, ya bu.” kata guru pria sebelumnya mengeluarkan dompet lalu menyelipkan uang berwarna biru di telapak tangannya yang berjabatan dengan ibu cleaning service tersebut.


Eumgh! Benar-benar royal manusia di sini.


Jennie lalu duduk di kursi meja guru Marissa yang baru tahu kalau itu adalah muridnya.


“Oh, Jennie. Kau kenapa? Ada yang merundung mu? Huh? Siapa kakak kelas?” tanya Marissa nampaknya sangat khawatir pada Jennie.


“Mana mungkin anak dari Direktur Pemasaran perusahaan De Hyon Indonesia mengalami perundungan?” cetus guru pria menyangkal.


Celetuk tak sengaja guru pria itu membuat lirikan sinis teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2