
Mata itu mengerjap beberapa kali sebelum kedua mata itu benar-benar terbuka dan melihat sekitarnya.
Mira terbangun lalu mengambil jam yang berada diatas laci disamping ranjangnya itu.
“Heuh, jam 8.” gumam Mira dengan suara seraknya.
“Jennie pasti lapar.”
Setelah itu Mira segera turun dari ranjang—merapikan rambutnya dan mengikatnya lalu berjalan kearah kamar mandi berniat untuk sekedar mencuci wajah didepan kaca wastafel yang berada dihadapan pintu kamar mandi, saat Mira masuk ia hanya membiarkan pintu kamar mandi terbuka hingga kaca wastafel itu leluasa memperlihatkan keadaan diluar kamar mandi.
“Jennie?” panggil Mira ketika ia melihat ada bayangan Jennie dari kaca wastafel.
Mira terus memandang pergerakan anaknya dari kaca, namun Jennnie terlihat menyusut. Hingga kaca yang menjadi pandangan Mira tak menampakkan tubuh Jennie.
Mira menyampingkan niatnya untuk mencuci wajah, iapun segera berbalik dan melangkah menuju kolong kasur yang tadinya terdapat tubuh Jennie yang membelakanginya.
“Jennie?" panggil Mira berjongkok—menunduk dan kepala juga tangan masuk pada kolong dan mencoba menarik Jennie.
Tubuh Mira dari luar secara tiba-tiba tertarik dan menjauh dari kolong ranjangnya.
“Ouch.” rintih Mira lalu menatap tangannya yang tadinya berada dikolong ranjang.
Lengan Mira terluka dan bentuknya seperti sebuah cakaran yang panjang sampai kulit Mira terpisah menjadi dua sisi.
“Jennie!” teriak Mira histeris sambil terus memegang punggung lengannya yang terluka dan berlari menuju kamar Jennie.
Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit, rasanya ia harus terus waspada dengan kejadian aneh dirumah ini jika tak ada suaminya.
Rasa sakit dari lengan Mira tak ia hiraukan, ia hanya butuh perlindungan dari seseorang.
“Jennie!” panggil Mira kembali mengetahui anaknya itu tak berada dikamar atau dimanapun.
“Ibu! Aku disini!”
Suara melengking Jennie membuat Mira menoleh dan segera keluar dari kamar anaknya tersebut.
“Ibu kenapa berteriak seperti itu?” kata Jennie melambaikan tangannya pada Mira yang berada dibawah.
Mira sedikit tak percaya akan keberadaan Jennie yang begitu tiba-tiba dibawah sana, karna itu ia mengerutkan dahinya kearah Jennie yang tersenyum manis disana.
“Kenapa kau bisa ada disana?” tanya Mira menuruni tangga dengan perlahan.
“Hm? Aku dari tadi memang disini.” jawab Jennie duduk disofa panjang depan TV.
__ADS_1
Mira tak lagi berkata, ia hanya mengangguk menanggapi jawaban Jennie.
Jennie dan Mira sama-sama diam dan hanya terpaku pada acara TV pagi ini dan itu membuat Mira terheran pada tabiat Jennie yang suka bicara saat melihat TV.
“Kenapa ibu melihatku terus?” tanya Jennie mulai membalas tatapan dari Mira.
“Tak apa, kau hanya berbeda.” jawab Mira memelankan suaranya diakhir katanya.
“Aku tak suka ibu melihatku seperti itu.” protes Jennie memandang marah pada ibunya tersebut.
“Aku, memangnya kenapa Je-“
“Aku pulang bu!” suara yang sama dengan Jennie namun berbeda tempat dapat mengalihkan pandangan Mira kepintu rumah yang hampir terbuka.
Tangan Jennie menepuk pada bahu Mira dan membuat Mira kembali menoleh ke depan pada anaknya.
Plak!
Suara tamparan yang diperbuat Jennie membuat Mira terpelanting dan menghantam lemari berisi hiasan kaca yang sekarang hancur karna tubuh Mira yang menabrak benda setinggi 2 meter itu.
Cklek!
“Ibu, ibu!”
*
Gedung bercat putih itu terlihat senyap dan hanya ada satu seorang anak kecil duduk dikursi tunggu dengan wajah yang ia tutup menggunakan kedua telapak tangannya.
Tak lama kemudian pintu besar dibelakang bocah itu terbuka menampilkan sosok pria dengan wajah kusamnya menghampiri lelaki kecil nan manis itu.
“Orang tuamu baik-baik saja.” gumam pria itu menghampiri dan sambil mengusap bahu lelaki kecil bermarga Kim tersebut.
“Paman, aku bersumpah! Aku melihat keluargaku diserang oleh hantu! Bukan pembunuhan!” terang Kim Hyeon Chul mengacungkan jari telunjuknya ke udara.
“Hyeon Chul! Sudahlah! Pihak polisi sudah melakukan pencarian dan hasilnya memang seperti itu! Keluargamu dibunuh oleh teroris.” bantah pria itu memelankan suaranya diakhir kata.
"Keluarga ku, sudah tiada. ” gumam Hyeon Chul menunduk mencoba menyembunyikan tetes demi tetesan air mata yang keluar dari bola matanya.
Pria lugu berkaca mata itu menatap Hyeon Chul dengan pandangan kosong, ia tahu rasanya seperti apa.
“Lalu, aku akan tinggal dimana, paman?” tanya Hyeon Chul kemudian mendongak menatap berharap pada pria yang membenahi kaca matanya tersebut.
“Aku tidak tahu, tapi kau tentu saja masih bisa tinggal dirumah mu itu.” jawab pria itu menatap Hyeon Chul sayu.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku juga ingin mati!” kata Hyeon Chul beranjak dari duduknya dan berlari mengikuti gelapnya cahaya dilorong itu.
Pria muda dengan pungung yang ia tekuk itu terus menatap kepergian Hyeon Chul dengan mata yang tajam mendelik.
“Belum saatnya, belum saatnya, belum saatnya.” gumam pria itu meremas kedua pinggir bangku disampingnya dan menatap kepergian Hyeon Chul.
Lelaki bertopi yang hampir menutupi seluruh wajahnya itu dengan gerakan cepat mengambil topi birunya hingga terlihatlah siapa wajah pria itu dari atas, Kim Jong Woon.
*
Kerutan didahi Mira mewujudkan harapan Dennis agar Mira segera bangun dari pingsannya, dan tak lama kemudian Mira membuka matanya yang terasa berat dan mencoba membiasakan lensa matanya karna diterpa cahaya lampu disampingnya.
“Mira, kau baik-baik saja? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? –“
“Dennis.” sela Mira mememotong pembicaraan Dennis dengan suara seraknya.
“Ya?” tanya Dennis mencondongkan wajahnya kewajah Mira.
“Aku haus, aku ingin minum.” gumam Mira terdengar oleh Dennis membuat pria itu segera mengambil gelas berisi air putih diatas tempat lampu duduk samping ranjangnya itu.
Mira mencoba beranjak lalu punggungnya ia sandarkan ke dashboard ranjang yang ia tiduri.
“Apa aku tidur terlalu lama?” tanya Mira setelah meneguk habis minuman yang diberikan Dennis.
“Yah, cukup lama.” jawab Dennis gelas kosong yang diberikan Mira.
Setelah Dennis berhasil meletakkan kembali gelas itu iapun segera bergerak melangkahi tubuh setengah terbaring Mira lalu ikut bersandar di dashbroad seperti yang Mira lakukan namun berbedanya tubuh Dennis tertuju kearah Mira, menyamping.
“Kenapa kau bisa pingsan?” tanya Dennis setelah cukup lama ia menatap Mira dengan intens namun tatapannya terlihat teduh.
“Aku juga tak tahu, aku seperti dilempar hingga lemarinya jatuh mengenaiku.” jawab Mira menunduk menatap tautan jari-jarinya.
“Maksudmu?” tanya Dennis kembali merasa belum puas akan ucapan Mira.
Mira menoleh pada Dennis dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapannya begitu lekat memandang mata Dennis yang juga menatapnya.
“Aku, aku tidak mau karna nanti kau pasti tidak akan percaya.” lirih Mira masih menatap Dennis.
“Tak apa katakanlah, aku percaya padamu.” kata Dennis meyakinkan Mira lalu ia merubah posisinya lebih mendekat kearah Mira, duduk bersila sambil menatap Mira dengan senyum tipisnya.
Mira menghela napas pasrah namun ia masih mencoba untuk mengingat memori buruk itu dengan menundukkan wajahnya.
“Aku bangun kesiangan, lalu mencoba memanggil Jennie dikamarnya tapi ternyata ia sudah berada diruang tamu –“
__ADS_1