
Sesampai Jennie dan Mira tiba di kamar, mereka terus bercakap. Sedangkan Mira tengah memakaikan baju pada anaknya.
“Ibu, nenek kenapa tidak keluar kamar? Aku ingin bertemu tapi takut masuk kamarnya.” curhat Jennie yang rindu pada Ji Yong.
Mira terhenyak, ia tahu Jennie sangat dekat dengan neneknya yang dulunya sangat baik itu.
“Ya kenapa Jennie tidak masuk ke kamar nenek saja?” tanya Mira memberi usulan.
Jennie menggeleng, ia dengan murungnya menatap ke bawah.
“Tidak bisa, aku takut. Nenek dengan ibu dan ayah tadi bertengkar `kan?” ujar Jennie.
Mira terdiam, ia takut Jennie ataupun Hyeon Chul mengambil dampak buruknya.
“Jennie, Jennie takut?” tanya Mira khawatir.
Jennie terdiam, saat kejadian tadi itu sebenarnya sangatlah membuat Jennie ketakutan dan berpikir yang tidak-tidak.
“Aku hanya khawatir nenek Ji Yong akan mengamuk lagi.” jujur Jennie sedih.
Mira lalu membelai rambut yang menutupi wajah Jennie, ia dengan senyum hangat dan lembutnya bagai seorang ibu menenangkan anaknya.
“Tak apa, ya? Nenek Ji Yong itu tidak mengamuk, ia kesakitan jadi berteriak. Biasanya nenek akan jalan-jalan saat petang, nanti Jennie temani ibu membantu nenek jalan, ya?” kata Mira tersenyum.
Jennie kembali tenang, ia mengangguk menyetujui ajakan Mira.
“Ya!”
Kedua manusia yang berstatus anak dan ibu itu lalu terkekeh sambil kembali mereka melakukan kegiatan yang tertunda.
Hingga hari sore indah tadi telah berganti menjadi petang dengan matahari yang akan tenggelam, Ji Yong kemudian keluar kamar.
Mira, Dennis, Hyeon Chul dan Jennie serentak melihat ke belakang pada Ji Yong yang berjalan keluar rumah.
“Nenek mau jalan-jalan? Ayo, nek. Aku dan Jennie antarkan.” ajak Mira berdiri menatap berharap pada Ji Yong.
Ji Yong dengan dinginnya menoleh malas pada Mira, namun ia mengangguk sekilas lalu kembali bergerak membuka pintu rumah.
Mira dengan senang menoleh pada Jennie yang juga sudah sangat berantusias.
“Ayo sayang.” panggil Mira menarik tangan Jennie.
Sedangkan Dennis dan Hyeon Chul hanya terdiam bingung.
“Kenapa berantusias sekali?” tanya Dennis.
Namun pertanyaan itu seperti angin lalu bagi Jennie dan Mira mereka terus berjalan mendekati Ji Yong keluar kamar.
“Nenek! Aku sangat rindu nenek,” seru Jennie memeluk kaki Ji Yong.
Sepertinya Ji Yong yang ceria itu kembali lagi, ia membalas pelukan Jennie dengan baik.
“O'oh, Jennie. Kenapa pagi tadi Kau tidak menemui nenek?” tanya Ji Yong dengan bahasa Korea.
Jennie terlihat sedih, ia juga menyesal tidak langsung menemui Ji Yong saat itu.
“Maaf, nek.” gumam Jennie menyesal.
Mereka lalu mulai berjalan, sesekali Ji Yong terkekeh dan tertawa mendengar cerita Jennie. Sementara Mira tersenyum bahagia melihat Ji Yong kembali.
Ji Yong memang baik pada Jennie, namun tidak pada Mira. Seolah ingin menyembunyikan sesuatu dari cucunya, Ji Yong melirik dingin ke Mira, setelah itu ia berbicara pada Jennie dengan bahasa Korea.
“Jennie, Kau dekat dengan anak angkat orang tuamu?” tanya Ji Yong sinis.
Jennie berpikir sebentar apa yang dimaksud anak angkat itu.
“Ah, Hyeon Chul oppa?” tebak Jennie berseru.
Tentu saja seruan Jennie menarik perhatian Mira, ibu dua anak itu langsung berpikir negatif jika neneknya menanyakan tentang Hyeon Chul.
“Ada apa Jennie?” tanya Mira meminta kejujuran Jennie.
“Hish! Kenapa Kau mengganggu saja? Aku dan Jennie sedang berbicara!” tegur Ji Yong tidak suka Mira ikut campur.
Takut pada Ji Yong dan juga tidak mau merusak suasana antara Jennie dan neneknya, Mira hanya kembali terdiam.
__ADS_1
“Ya, kakak angkatmu.” jawab Ji Yong antusias.
“Kau tahu sosok kakak angkatmu itu?” tanya Ji Yong bermaksud.
Jennie lalu dengan polosnya menggeleng pelan, penasaran dengan kelanjutan pernyataan Ji Yong.
“Jennie tidak tahu, ya? Kakak angkatmu itu ingin merebut semua perhatian ayah dan ibu Jennie, Dia juga tidak suka pada nenek.” jabar Ji Yong ingin mendoktrin Jennie.
Nampak tidak percaya, Jennie melengkungkan bibirnya ke bawah dan menggeleng.
“Hyeon Chul oppa tidak seperti itu.” bantah Jennie pelan.
Ji Yong tersenyum licik, ia menggeleng tidak menyetujui perkataan Jennie.
“Nak, Kau masih anak kecil, tentu saja tidak tahu ini. Anak angkat itu selalu meminta perhatian dari ayah ibumu dengan cara ia bersikap diam, karena sikap diamnya akan membuat ayah ibumu khawatir dan selalu memperhatikannya. Lama kelamaan ia akan merebut semua kasih sayang ayah dan ibumu.” hasut Ji Yong.
Jennie mulai percaya dengan perkataan Ji Yong, ia jadi kesal. Jennie lalu menoleh marah pada Mira yang tidak salah apapun. Kemudian ia pergi berlari menuju rumah.
Melihat Jennie yang bertingkah aneh, Mira khawatir. Ia menoleh pada Ji Yong yang masih menatap kepergian Jennie.
“Nenek?! Nenek bicara apa?!” tanya Mira khawatir.
Tidak mendapat jawaban dari Ji Yong, Mira lantas segera pergi meninggalkan nenek tua itu.
“Ayah!” teriak Jennie berdiri di depan televisi.
“Heuh? Ada apa Jennie?” tanya Dennis belum menyadari mimik wajah Jennie.
“Ayah aku ingin Hyeon Chul oppa pergi! Aku tidak mau ada Dia!” teriak Jennie menahan tangis.
Dennis tentu terkejut dan tidak suka dengan permintaan Jennie, ia tidak terlalu memperhatikan Mira yang berjalan cepat masuk rumah.
“Jennie! Jennie bicara apa? Sayang, tenanglah.” ujar Mira juga terkejut mengetahui maksud Jennie.
Sudah tidak bisa menahan rasa marah dan sedih, Jennie sebagai anak berumur 6 tahun tentu melampiaskannya dengan cara menangis.
Mira segera memeluk Jennie dari belakang, ia lalu mengangkat sedikit tubuh Jennie dan menggiringnya ke ujung sofa.
Sedangkan Hyeon Chul, ia terdiam namun sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Jennie hingga membuat adiknya itu sendiri menangis.
Mira berdecak keras, ia memperingati Dennis dengan ketidak pekaan suaminya ini. Sedangkan Dennis yang mengetahui arti mata Mira akhirnya terdiam menatap sendu Jennie anaknya.
Sungguh merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Jennie, Hyeon Chul kemudian turun dari sofa dan menghampiri Jennie.
“Appa? Jennie-ah wae geurae-seo?” tanya Hyeon Chul polos dan sangat khawatir pada Jennie.
Dennis lalu menoleh pada Hyeon Chul, ia kemudian mengangkat anak itu ke pangkuannya.
“Jennie sedang ngambek Hyeon Chul, ingin pulang.” bohong Dennis mengelus rambut Hyeon Chul prihatin.
Beberapa menit telah mampu meredam tangis Jennie, gadis kecil itu sekarang hanya sesenggukan.
“Jennie, kenapa Jennie berubah seperti ini? Memang apa salah kakak Hyeon Chul pada Jennie?” tanya Mira lembut sambil mengusap pipi basah anak perempuannya ini.
“Jennie tidak suka, kakak Hyeon Chul mau merebut ibu dan ayah dari Jennie.” jawab Jennie berusaha menahan cegukannya.
Mira dan Dennis terheran, mereka saling menatap terlebih Dennis yang sungguh tidak tahu kenapa Jennie berubah drastis seperti itu.
“Siapa yang bilang begitu? Kasih sayang sayang ayah dan ibu tidak mungkin begitu saja pergi dari Jennie.” kata Dennis hangat.
Sementara Mira hanya terdiam menggigit bibir tidak ingin Dennis tahu bahwa neneknya lah yang membuat Jennie khawatir seperti ini.
“Heum? Jennie tidak percaya pada orang tua Jennie sendiri? Jennie itu anak kami, ayah dan ibu tidak akan membeda-bedakan kalian.” jabar Dennis menangkup pipi Jennie.
“Jennie, tegur ibu atau ayahmu jika ada urusan yang merasa Jennie dipilih kasihkan.” lanjut Dennis berusaha meyakinkan Jennie.
“Jennie tidak mau kakak Hyeon Chul mendapat perhatian lebih, kakak sudah besar.” gumam Jennie mengusap matanya.
Dennis terdiam, ia penasaran kenapa Jennie berubah ketakutan seperti ini. Ia kemudian mendongak melihat Mira sedikit tajam.
Melihat wajah penuh ketegasan Dennis, Mira menggerakkan bola matanya gusar, ia sama sekali tidak ingin melihat suaminya yang bagaikan detektif ini.
Namun Dennis tidak berlanjut, ia tidak ingin menanyakan itu di depan Jennie.
“Jennie jangan khawatir lagi, ya? Sekarang ayo peluk kakak Hyeon Chul.” kata Dennis memegang ujung bahu Jennie.
__ADS_1
Sedikit berat hati dan masih cemburu, Jennie terdiam berpura-pura tidak dengar perintah halus ayahnya.
“Jennie,” panggil Dennis sedikit tegas namun dengan nada panjang.
Masih tidak mau menoleh pada ayahnya, Dennis lalu mengangkat dagu Jennie pelan hingga anaknya ini dengan terpaksa menatap Dennis.
“Ayo, berpelukan dengan kakak Hyeon Chul, ya?” perintah Dennis tidak ingin dibantah.
Mau tidak mau Jennie menurut dengan menganggukkan kepalanya. Dennis lalu segera menyuruh Hyeon Chul untuk berdiri dan menunggu pelukan Jennie.
Mereka lalu berpelukan dengan Hyeon Chul yang mengelus atas kepala Jennie sayang.
Tak dapat dielak pemandangan itu membuat Dennis dan Mira tersenyum tulus.
“Ya sudah, Hyeon Chul ajak Jennie lanjutkan melihat televisi, ya? Ibu akan berbicara dengan ayah.” kata Dennis tersenyum manis pada Hyeon Chul dan tidak terlupa pada Jennie yang baru saja mengatakan kecemburuannya.
“Kkaja Jennie, yeoggi-seo.” pandu Hyeon Chul memegang pergelangan tangan Jennie.
Sedangkan Dennis, ia menarik Mira menjauh dari penglihatan anak-anak mereka.
“Mira, kenapa Jennie seperti itu?” tanya Dennis melihat kegusaran Mira.
“Itu, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saat berjalan-berjalan Jennie-”
“Tolong jangan bohong padaku, Kau akan menyesal nantinya.” peringat Dennis menatap kecewa samar Mira.
Istrinya itu segera mendongak terkejut mendengar gertakan Dennis. Namun ia juga dengan cepat kembali menunduk.
“Aku tidak tahu, Jennie berbincang masalah apa dengan nenek karena mereka berbicara bahasa Korea. Tiba-tiba Jennie langsung pergi seperti itu.” jelas Mira sedikit takut.
Setelah Mira ia rasa benar-benar jujur, Dennis lalu mengecup perlahan dahi Mira dengan matanya yang teduh.
Walau Mira tahu setiap kemarahan Dennis padanya akan berakhir dirinya yang diperlakukan manis, namun Mira tetap merasa terpukau pada Dennis yang bisa menjadi tegas juga lembut.
Mira lalu mendongak menatap terkesan Dennis yang lebih dulu menatapnya.
“Terima kasih sudah memberiku jawaban.” ucap Dennis pelan dengan senyuman hangatnya.
Mira tanpa sadar membalas senyum Dennis, pria itu kini sedang mengusap kepala belakangnya pelan.
{Di Ruang Keluarga}
Hyeon Chul tahu Jennie habis menangis, namun sebuah keanehan tentunya melihat Jennie yang terdiam tenang seperti ini.
Hyeon Chul dengan polosnya menengok-nengok Jennie dengan berbagai arah, mulai dari samping atau bawah ia terus melihat ekspresi datar sehabis menangis Jennie yang membuat wajahnya sembab.
“Jennie, mau tissue lagi?” tawar Hyeon Chul setelah melihat kotak tissue di atas meja.
Namun Jennie hanya menggeleng pelan tanpa melirik Hyeon Chul sedikit pun, tapi Jennie juga nampak tidak memperhatikan televisi walau tatapannya terus pada benda lonjong yang mengeluarkan cahaya itu.
Hyeon Chul tetap tak mengerti namun ia akhirnya terdiam sembari melihat televisi dan sesekali melirik pada Jennie kaku.
Hingga akhirnya Hyeon Chul bosan, ia teringat pada Ji Yong yang sedang berada di luar rumah sendirian.
Lalu Hyeon Chul tanpa pamit pada Jennie pergi menuju pintu rumah.
Dengan tarikkan tangan Hyeon Chul, pintu itu terbuka menampilkan suasana yang sudah gelap dengan tidak ada lampu di teras.
“Ya sudahlah, ikhlaskan saja keluargamu. Aku sudah baik membantumu dulu.” bisik sosok Ji Yong duduk di kursi teras.
Mengetahui neneknya yang aneh itu Hyeon Chul terdiam terkejut, tak sengaja mendengar apa yang Ji Yong katakan.
Ji Yong terus berbisik tak terlalu jelas disuasana yang petang dengan banyak pepohonan di sekitar rumah ini.
Hyeon Chul berusaha mendengar apa yang Ji Yong katakan namun itu sama sekali tidak jelas. Hingga kepala Ji Yong tiba-tiba menoleh pada Hyeon Chul.
Sontak tubuh Hyeon Chul terhempas ke belakang dan jatuh karena terlalu terkejut dan ketakutan, Hyeon Chul terlebih dahulu mengaduh sampai Ji Yong berdiri dengan tegaknya menghampiri Hyeon Chul.
Karena ketakutan, Hyeon Chul menggeret tubuhnya mundur dari neneknya dengan gelengan menghadap Ji Yong.
Tidak, tidak boleh. Hyeon Chul harus pergi dari hadapan Ji Yong ia kini berusaha meyakinkan diri.
Ingin berusaha membuang rasa takutnya, Hyeon Chul memekik tertahan lalu segera bangkit dan berlari menuju pintu dan membukanya.
Meninggalkan Ji Yong yang terdiam menatap kepergian Hyeon Chul sedih.
__ADS_1