
Suara bising dari ruang tengah membuat Mira terbangun, Mira menoleh menghadap tempat Jennie yang kosong.
“Dennis sudah pulang?.” gumam Mira dengan suara serak khas bangun tidur.
Mira sudah menyiapkan hatinya untuk tidak terkejut atas kehadiran Dennis nanti, namun kehadiran pria di ruang g tengah itu melupakan semua rencananya.
Mata Mira melebar melihat tubuh suaminya di sana dengan Jennie tentunya.
“Oh, Anda sudah bangun Nyonya?” goda Dennis ketika melihat sosok istrinya yang baru bangun.
“Kenapa ada perban di dahimu?” tanya Mira setelah ia berhasil menuruni tangga dan menghampiri Dennis yang masih duduk tenang di sofa.
“Ayah kecelakaan, betulkan aku bilang?” sela Jennie memotong kata Dennis.
Mira terkejut mendengar penjelasan mengejutkan dari Jennie.
“Apa?! Kecelakaan?”
“Hei, tak perlu khawatir! Lihat aku baik-baik saja. Yah hanya ada perban di kepala.” kata Dennis berdiri dari duduknya lalu ia mengusap kedua lengan Mira menenangkan.
“Huh! Bagaimana bisa?” tanya Mira setelah ia berhasil menenangkan dirinya sendiri.
“Entahlah, aku juga bingung kenapa ada truk besar yang sebelumnya mungkin mengalami kecelakaan, namun tentu saja seharusnya ada jalur polisi di samping badan truk namun itu tidak. Seperti hanya akulah yang berada dijalan itu.” gumam Dennis mengingat kembali apa yang ia lihat sebelum kecelakaan.
“Maksudnya?”
“Apa itu ulah dari hantu?” gumam Jennie berbicara sendiri tanpa mengetahui jika kedua orang tuanya tengah menatapnya terkejut.
“Hei sayang, apa yang Kau bicarakan?” tanya Dennis yang anehnya menggunakan bahasa Korea pada anaknya tersebut.
“Em ayah, menurutku ada hantu yang ingin—“ kata Jennie terhenti saat kata-kata yang akan ia sebutkan tidak bisa ia ungkapkan dalam bahasa Korea karna ia tak terlalu mendalami bahasa Korea .
“Ingin? Mengganggu? Membunuh? Mencelakai?” tanya Dennis berkata dalam bahasa Korea.
“Ya, mencelakai ayah.” kata Jennie selanjutnya.
“Hei! Jangan membuatku marah! Apa yang kalian bicarakan?” tanya Mira gemas dengan kedua manusia menyebalkan ini.
“Berjanjilah, kalau ibu tidak akan marah.” kata Jennie sambil menunjukan jari kelingkingnya.
“Apa?” tanya Mira mengernyitkan dahi lalu wajahnya ia dekatkan pada Jennie.
“Ayah dicelakai oleh hantu.” jelas Jennie singkat namun nada bicaranya terkesan dramatis.
“Hantu? Sayang Kau terlalu banyak menonton film horror.” ucap Mira menjauhkan wajahnya dari Jennie.
“Ah, ibu! Aku kan sudah bilang ibu harus janji untuk tidak marah!” rengek Jennie menautkan bibirnya.
“Siapa yang marah? Ibu tidak marah! Ibu hanya tak suka kau berbicara tentang hantu terus.” bela Mira berdebat dengan Jennie.
__ADS_1
Entah perasaan tak baik apa ini namun setelah Dennis mengingat tentang surat yang dikirim ia kira dari Sekretaris nya itu membuatnya menjadi memikirkan lagi isi dari surat itu.
"Tapi, 'kan ibu sudah- "
“Diam?! Tak bisakah kalian tak bertengkar sehari saja?!” bentak Dennis untuk pertama kalinya pada istri dan anaknya.
“Ayah.”
“Sayang.”
Dennis tanpa memperdulikan bentakannya sesaat tadi ia pun pergi meninggalkan istri dan anaknya dalam rasa marah.
Cklek!
Pintu kamar itu terbuka menampilkan tubuh mungil Mira yang berusaha untuk mendekati Dennis
“Sayang, aku minta maaf jika tadi itu mengganggumu.” kata Mira menyesal.
Pergerakan tubuh Dennis membuat Mira berharap suaminya bisa menatapnya dan memaafkannya. Setengah dari badan Dennis beranjak dari ranjang lalu ia mendongak dan menoleh menatap Mira.
“Maaf, aku tadi terlalu lelah jadi aku membentak kalian.” sesal Dennis juga mengetahui kelakuannya keterlaluan.
Senyum Mira merekah mendengar penuturan Dennis.
“Sebenarnya memang Kau yang salah, jadi aku memaafkan mu.” kata Mira menaiki ranjang dan duduk dengan kedua lutut yang ditekuk.
“Aku juga memaafkanmu.” sambung Dennis tak ingin Mira lupa jika istrinyalah yang lebih dahulu meminta maaf.
Keluarga kecil itu tertawa bersama dan saling berpelukan erat.
.
.
Berita jika Direktur Pemasaran perusahaan ini baru saja mengalami kecelakaan kecil membuat semua karyawan di sana berbising membicarakan bagaimana keadaan Direktur, sehatkah ia, lukakah ia dan apakah korbannya harus sampai dibawa kerumah sakit berhari-hari?
Tak ada pemberitahuan pasti dari perusahaan, yang terdengar hanyalah jika Direktur itu sedang cuti untuk memulihkan kesehatan.
“Hei! Katanya tuan Direktur itu akan masuk hari ini!” teriak salah seorang pria yang berkerumun di sana.
“Benarkah? Memangnya ia sudah baikkan?” tanya seorang wanita di sana.
Pintu kerja di ruang itu terbuka menampilkan kedua pria dengan tubuh jangkungnya tersebut.
Dennis selaku Direktur Pemasaran itupun berjalan dengan senyum sapaan pada karyawannya.
“Apa selama aku pergi semuanya baik-baik saja?” tanya Dennis pada Sekretaris Kim di sampingnya.
“Ya Tuan, hanya beberapa berkas-berkas yang belum Anda tanda tangani.” jawab Sekretaris Kim menjelaskan.
__ADS_1
“Ah, apa pihak polisi sudah tahu kejadian saat aku kecelakaan?” tanya Dennis kembali kali ini mengahadap Sekretaris-nya.
“Polisi baru saja datang ke TKP.” jawab sekretaris Kim dengan wajah datar yang selalu ia tunjukkan.
“Ya sudah, kalau begitu ayo kerja!” kata Dennis setelah ia duduk di kursi kebesarannya.
Sekretaris Kim mulai membungkuk hormat lalu pergi dari ruang kerja Dennis. Sekretaris Kim duduk di kursi kerjanya lalu ia mengambil handphone di sakunya dan menelpon seseorang.
“Apa Kau sudah mengambil CCTV-nya?” tanya Sekretaris Kim terlihat serius.
“Baiklah, setelah itu keluar dari sana dan aku akan membayarmu.” sambung pria bernama lengkap Kim Eun Hyuk itu setelah jeda sesaat.
Seringaian licik tercetak di wajah datarnya setelah memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
“Masih hidup saja Kau Tuan Den.” gumam Eun Hyuk terdengar jelas bahwa ada rasa geram di sana.
Tumpukan kertas dan beberapa dokumen sebagiannya Dennis ratakan dan ia mulai membaca lalu memilah salah satu dokumen yang ia baca.
Kerutan di dahi Dennis begitu nampak saat pemiliknya sudah 20 menit lebih memeriksa dokumen di sana .
“Heuh, kepalaku pusing.” gumam Dennis lalu memijat pelan dahinya.
Matanya kembali terbuka lalu ia kembali memeriksa kembali beberapa dokumen yang belum ia lihat, namun pergerakan tangan dingin Dennis terhenti dan pandangannya hanya tertuju pada sebuah kertas berlipat itu.
Diambilnya kertas itu mewanti-wanti jika kertas itu sama isinya dengan surat tentang ancaman itu.
"MATI! Kau akan mati tanpa campur tanganku!
Begitu pula dengan anak dan istrimu!
Dibelakang yang tak pernah kau lihat!
Temani mereka."
Dennis bukan lagi takut, ia marah karna surat tak berguna ini, Dennis pikir ia tak pernah membuat seseorang marah termasuk di negara Ginseng ini. Dan lagi, tulisan dari pengancam itu sama sekali tak ia mengerti.
“Sekretaris Kim!” teriak Dennis yang terdengar membentak, ia meremas surat itu sampai menimbulkan otot ditangannya terlihat.
“Tuan, ada apa?” tanya Sekretaris Kim yang masih diambang pintu.
“Kau ‘kan pemilik surat ini?” tanya Dennis sambil menunjukkan gumpalan kertas itu.
Eun Hyuk mengernyit bingung melihat surat itu, ia lalu mendekat satu langkah kearah Dennis yang sedang kalap.
“Boleh saya lihat isinya?” tanya Jong Woon pelan.
Dennis kini menyeringai melihat Eun Hyuk berpura-pura tak tahu, Dennis berpikir bahwa Eun Hyuk-lah yang melakukannya.
“Oh, apa Kau lupa dengan tulisanmu sendiri?” tanya Dennis terdengar mengintimidasi.
__ADS_1
“Ini tulisan tanganmu benarkan?!” bentak Dennis begitu kencang hingga membuat para karyawan yang berada di luar terperanjat dan takut karna sifat atasannya tersebut.