Rumah Petaka

Rumah Petaka
Nomor Satu Keselamatan Anak-anak


__ADS_3

Mira dan Dennis lalu mulai memasak, Dennis selalu mengajak Mira berbicara agar kekasihnya itu melupakan rasa kesal pada dirinya.


“Mira, kapan kita beri tahu anak-anak soal perpindahan rumah?” tanya Dennis selanjutnya.


“Sekarang saja tak apa.” jawab Mira singkat fokus mengolah masakannya.


Dennis tersenyum, namun tidak tahu mengapa hatinya begitu cepat berdebar khawatir. Ia menunduk mencari tahu mengapa perasaannya tidak baik.


“Eumh, sudah selesai.” gumam Mira mematikan api kompor.


Dennis mendongak menoleh pada Mira lalu beralih ke panci yang berisi makanan kuah itu.


“Aku akan panggilkan Hyeon Chul dan Jennie.” beri tahu Dennis lalu berbalik menuju ruang tamu.


Dari kejauhan di mana Dennis sudah bisa melihat Jennie dan Hyeon Chul, pria berumur 37 tahun itu tersenyum dan terkekeh gemas melihat anak-anaknya masih saja meng-unboxing barang yang dibeli mereka.


“Anak-anak, saatnya makan, sayang.” panggil Dennis memberi tahu.


Jennie dan Hyeon Chul sontak mengarahkan pandangan matanya kepada Dennis.


“Melihat barang-barangnya nanti dulu, ya?” lanjut Dennis menanggapi wajah sedih Jennie.


Hyeon Chul lebih dahulu berdiri dari duduknya, ia yang melihat kemalasan gerak Jennie segera menarik tangan adik kecilnya itu.


“Ayo,” ajak Hyeon Chul menarik-narik lengan Jennie.


Dennis tersenyum senang dapat dibantu oleh kedewasaan Hyeon Chul.


Setelah akhirnya Hyeon Chul dapat membuat Jennie berdiri, Dennis dengan santainya kembali berjalan mengkomando kedua 'anak buahnya' di belakang.


Mereka berjalan hingga kemudian sampai di ruang makan.


“Yeay, makan!” seru Hyeon Chul berlari melepaskan genggaman tangannya pada Jennie.


“Ih! Oppa!” pekik Jennie ngambek di tinggalkan Hyeon Chul.


“Hahaha, sudahlah Jennie. Sini-sini, ayah gendong.” kata Dennis mengangkat Jennie


Lalu tak lama setelah berjalan dua langkah, ia meletakkan anak perempuannya ke kursi.

__ADS_1


Melirik kesal pada Hyeon Chul yang berada di sebelahnya, Jennie segera menampar tangan kakaknya yang berada di atas meja.


“Auh! Ssh”


“Ck! Jennie, jangan begitu, ah. Itu kakak mu kesakitan lho.” peringat Mira tak sengaja melihat Jennie dan Hyeon Chul saat ia meletakkan piring ke meja.


Terkejut, namun Jennie masih saja berwajah kesal menatap Mira protes.


“Sudah, sudah. Ayo makan.” ujar Dennis menarik kursinya dan duduk kemudian.


Mereka lalu memulai makan, beberapa lontaran kata di sana hingga Dennis teringat sesuatu.


“Oh, ya. Anak-anak. Setelah pulang sekolah nanti besok, kalian pulang ke rumah, ya? Ayah dan ibu akan tinggal di sini. Kalian di sana akan tinggal bersama bibi Esha dan paman Supri.” jelas Dennis takut ada penolakan dari Jennie dan Hyeon Chul.


Dan nyatanya ada raut kekecewaan dan sedih dari mereka anak-anaknya.


“Haa! tidak mau! Aku mau bersama ibu!” teriak Jennie menumpahkan makanannya dari mulutnya.


“Jennie jangan takut, setiap hari ibu akan menjenguk, kok.” kata Mira prihatin melihat anaknya.


Mira lalu dengan segera mendekati dan menghapus air mata Jennie.


Mira dan Dennis saling menatap, saling bertanya diantara mereka harus apa. Tidak ada pilihan lain, Dennis kemudian menggeleng pada Mira, membatalkan rencana mereka.


“Jennie, Jennie.” panggil Mira lembut berusaha membuat Jennie lebih tenang.


Jennie kemudian memelankan tangisnya, ingin mendengar perkataan selanjutnya dari ibunya.


“Tidak, tidak. Jennie tidak akan dipisahkan dengan ibu, karena melihat anak perempuan ibu satu-satunya menangis seperti ini. Ibu jadi tidak tega.” kata Mira mengusap berkali-kali pipi anaknya.


Jennie tak lama kembali menangis lagi, kali ini ia menangis terharu sambil memeluk tubuh samping ibunya.


Mira awalnya terkejut lalu kembali menenangkan tubuhnya dan sesaat kemudian membelai surai Jennie lembut.


“Ibu jangan pergi.” ucap Jennie lembut nan lemah.


Mendengar kata mutiara bagi Mira itu, ia tak lama langsung meneteskan air matanya terharu. Belum apa-apa, ia sudah takut sendiri jika dirinya mati lalu bagaimana keadaan Jennie nantinya.


“Tidak, ibu tidak akan pergi.” kata Mira bergumam menahan getaran suaranya.

__ADS_1


Dennis terdiam, mau bagaimana lagi. Jennie tidak mau berpisah dari ibunya, namun. Bagaimana caranya pun harus Dennis tempuh untuk memisahkan mereka.


Setelah banyak pembicaraan di meja makan, akhirnya acara makan malam ini pun telah usai.


Berlanjut dengan Mira yang akan mengajari Hyeon Chul dan Jennie, namun tidak biasanya Dennis ikut menjadi relawan mengajar.


Pelajaran berlangsung 1 jam, setelah itu Dennis dan Mira memerintahkan Jennie dan Hyeon Chul untuk masuk ke kamar masing-masing.


Sementara Dennis dan Mira masih di ruang tamu untuk membicarakan sesuatu yang penting dan tidak boleh diketahui oleh Jennie.


“Anak-anak wajib di pindahkan ke rumah kita, bagaimana pun itu demi kebaikan mereka sendiri. Mau tak mau mereka harus tinggal di luar rumah petaka ini.” kata Dennis mengawali dengan serius dan nampaknya tak bisa dibantah.


Mira bingung, ia tidak tega melepas anaknya begitu saja. Ya, walau memang masih ada pembantu yang sudah Dennis dan Mira percaya untuk menjaga rumah nya, dan tak lupa bapak supir yang setia bekerja bersama Dennis dari saat pria itu masih lajang.


“Aku tak tega Den, Jennie masih kecil untuk kita tinggalkan bersama orang lain, walaupun mereka dekat.” jawab Mira dalam hati meminta Dennis agar mengubah keinginannya.


“Biarkanlah mereka beradaptasi tanpa kita. Mira, Kau tidak takut `kah nanti mereka kenapa-kenapa jika terus berada di rumah ini? Jelas-jelas mereka itu mengincar Hyeon Chul, dan orang yang paling dekat dengan Hyeon Chul adalah Jennie. Jennie bisa mengalami hal buruk akan itu.” jelas Dennis seperti biasanya menyadarkan Mira.


“Tapi,”


“Atau kita tinggalkan rumah ini? I-”


“Tidak! Bagaimana tanggapan keluarga ku nanti? Mereka pasti memarahi aku.” sela Mira sudah ketakutan sendiri.


Dennis melihat sarkastis istrinya yang diperbudak oleh bibi dan sepupunya itu dalam diam.


“Lalu bagaimana?” tanya Dennis lelah dengan Mira yang ingin ia umpati `bodohʼ ini.


Mira putus asa dalam berpikir, ia membungkukkan tubuhnya dengan dahinya yang ia tahan dengan kedua telapak tangan.


“Entah Nad, aku tidak tahu.” gumam Mira menutupi wajahnya dengan rambutnya yang turun menjuntai.


“Pulangkan paksa Jennie dan Hyeon Chul, mereka tidak mungkin menangis sampai seharian bukan?” kata Dennis akhirnya mengetuk palu.


Setelah permusyawarahan tadi, mereka lalu memutuskan untuk tidur nyenyak agar terbangun dengan segar di pagi harinya.


Hingga ayam pun sudah malas berkokok, Dennis dan Mira baru bangun dengan rasa terkejut teramat bagi mereka.


Ck, ck, ck. Rupanya mereka tidak tertidur dengan baik mungkin saja karena terus memikirkan Jennie, hingga akibatnya pun terjadi di pagi harinya. Sungguh malang.

__ADS_1


__ADS_2