Rumah Petaka

Rumah Petaka
Teror Pada Jennie


__ADS_3

“Apa yang Kau lakukan di sana?” tanya seorang dari seberang sana.


Begitulah Jennie, ia akan melakukan video call dengan kakek ataupun neneknya jika ia tak bisa tidur.


“Emm, aku tak melakukan apapun Kakek. Hanya di rumah.” jawab Jennie setelah berpikir sebentar.


Cklek!


Suara pintu Jennie terbuka dan Jennie sangat tahu jika itu pasti ibunya dan menyuruhnya untuk segera tidur.


“Iya bu, aku akan segera tidur.” kata Jennie tanpa menoleh ke arah sosok yang ia pikir ibunya tersebut.


“Sayang, itu, apa itu ibumu?” tanya Kakek Jennie sedikit terbata-bata melihat wanita yang membelakangi Jennie itu bukanlah sesosok menantunya.


Jennie mengernyit bingung lalu ia mulai berbalik menghadap ibunya tersebut.


Seribu benar, wanita itu bukan ibunya, kulit yang menghitam seperti terbakar, rambut yang berantakan dan wajah yang hancur dan jauh dari kata cantik seperti ibunya tengah menatapnya dengan menyeringai.


“Aku belum mengatakan, Kau harus tidur.” gumam wanita itu lalu segera melemparkan batu yang mengenai tepat di layar kaca ponsel Jennie.


Jennie hanya bisa melebarkan matanya dan meneteskan air mata ketika rasa takut menghampirinya akan sosok wanita jadi-jadian ini.


Brak!


Pintu kamar Jennie tertutup dengan sangat kencang membuat Jennie kembali tersadar. Ponselnya mati tapi tak memunculkan kerusakan di sana, apa yang ia alami tadi benar atau hanya halusinasi?


.****.


Pagi yang cerah ini begitu dimanfaatkan oleh para warga di kompleks ini, mereka mulai keluar dari rumahnya dan berlari kecil menghirup udara segar yang belum tercampur dengan polusi.


Mira dengan kesibukannya di dapur membuatnya tak keluar rumah dan menyapa para tetangga barunya, ia harus mempunyai waktu sebanyak-banyaknya untuk suaminya.


“Jennie! Kenapa tak bangun anak itu?” tanya Dennis pada Mira setelah ia duduk di kursi makan.


Mira menoleh tersenyum menyapa sang suami untuk pertama kalinya dihari ini.


“Entahlah, mungkin ia lelah setelah menelepon ayahmu.” jawab Mira yang masih beradu dengan alat di dapur.


Dennis yang juga mendengar jika Jennie tadi malam tengah berbicara dengan ayahnya lewat telepon hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


“Pagi ayah, pagi ibu.” sapa Jennie terkesan lesu sambil menuruni tangga.


“Pagi. Apa Jennie menelepon Kakek tadi malam?” tanya Dennis setelah ia meminum seteguk kopi hitam yang berada di tangannya.


Jennie menoleh kepada Dennis lalu meng-anggukkan kepalanya.


"Kakek tak berpesan sesuatu pada Ibu atau Ayah?" tanya Dennis lagi kali ini dijawab gelengan oleh Jennie.


“Tidak,” jawab Jennie sambil berpikir.


“Lalu apa ayah mendengar suara pintu tertutup dengan keras dari kamarku?” tanya Jennie setelah beberapa detik ia mempertimbangkan apakah ia harus bertanya demikian.


“Suara pintu tertutup? Entahlah, ayah dan ibumu terlalu sibuk melihat televisi.” jawab Dennis tak pasti.


“Kenapa membawa aku juga? Apa yang Kau bicarakan?” sela Mira yang mendengar perkataan Dennis.


“Tak apa.” jawab Dennis tenang sambil terus mencelupkan gulungan roti tawar ke dalam gelas kopi lalu memakannya.


Melihat Dennis bertingkah menggelikan Mira pun kembali berbicara.


“Ayah! Jangan ajarkan anakmu berperilaku kotor sepertimu!” protes Mira berkacak pinggang sesudah ia mematikan kompor masaknya.


Dennis mendongak menatap Mira lalu ia segera menarik rotinya dan melahap sisa roti itu secepatnya.


“Apa? Kekanakan? Kau tidak tahu cara makan seperti ayah ini akan berbeda rasa, jika Kau tak percaya cobalah masukkan ke kopi ayah!” perintah Dennis menyodorkan cangkir kopinya kepada Jennie.


“Ayah!” teriak Mira memperingati sambil menghampiri meja makan dan meletakkan bowl berukuran sedang yang terisi oleh nasi goreng.


Jennie tertawa kecil mendengar perdebatan kedua orang tuanya ini.


“Sudah aku bilang jangan!” kata Mira gemas lalu memukul lengan suaminya pelan.


“Apa salahnya melakukan seperti itu? Jika itu tak membuat orang sakit berarti itu baik-baik saja.” bela Dennis lalu mengambil nasi goreng ke piringnya.


“Kalau begitu lakukanlah terus seperti itu! Dan jangan memakan nasi gorengnya.” ancam Mira sambil menggenggam erat lengan Dennis yang mengambil nasi gorengnya.


“Ya! Aku tak akan melakukannya!” kata Dennis terdengar gemas akan perilaku istrinya.


“Heum, bagus.” gumam Mira mempersilakan pergerakan tangan Dennis untuk mengambil nasi goreng.

__ADS_1


*


“Sayang! Kemari Jennie, apa yang Kau lakukan di sana?” panggil Mira sambil matanya terus terpaku di televisi lalu mulut dan tangannya sibuk mengelupas kacang tanah rebus dan memakannya.


Jennie bersandar di dinding sambil menghadap pintu rumah akhirnya menjawab panggilan Ibunya.


“Ya bu!” jawab Jennie lesu lalu menghampiri ibunya di ruang tengah.


“Eum? Kenapa wajahmu lesu? Kau sakit?” tanya Mira menarik tubuh Jennie pelan dan membawanya ke sofa tempat Mira duduk.


“Tidak, tapi temanku belum datang juga. Padahal ia katanya akan datang pagi ini.” gumam Jennie di akhir katanya.


Mira mengernyit bingung mendengar penjelasan Jennie.


“Siapa temanmu?” tanya Mira kembali sambil menyampingkan rambut Jennie di belakang telinganya.


Jennie menoleh terkejut mengetahui perkataannya yang kelewatan.


“Tidak, aku hanya pernah melihat seorang anak kecil di sini.” jelas Jennie gugup lalu berusaha mengalihkan pandangannya pada Mira.


“Hyeon Chul? Anak kecil itu datang lagi?” tanya Mira mengintimidasi.


Jennie terkejut saat Mira mengetahui jika Hyeon Chul yang ia maksud.


“Kenapa Kau berteman dengannya? Memangnya Kau tahu siapa Dia?” tanya Mira bertubi-tubi.


Jennie tak bisa menjawab karna ia terlalu gugup dan takut.


“M-memangnya kenapa bu? Dia hanya anak kecil.” bela Jennie dengan sisa keberaniannya.


Mira menghela napas panjang mencoba meredam amarahnya.


“Ibu mau ke kamar dulu.” lirih Mira melenggang pergi meninggalkan Jennie.


“Hah! Anak itu selalu saja membantah perkataanku.” gumam Mira rebahkan tubuhnya keranjang berukuran king size tersebut.


“Ah! Ibu selalu saja melarangku melakukan apapun.” kata Jennie menatap sebal kearah pintu kamar orang tuanya lalu ia mulai duduk dengan tenang di sofa dan menikmati kacang tanah rebus dari ibunya itu.


“Jika aku melapor lagi kelakuan Jennie pada Dennis apa aku akan dimarahi oleh pria satu anak itu? Haruskah aku melapor.” gumam Mira lalu mulai mencoba mengambil ponselnya yang ada di atas laci samping ranjang.

__ADS_1


Pergerakan tangan Mira terus merambat sampai ia merasakan tangannya memegang juga sebuah tangan yang dingin dan keras.


Mira hampir saja memekik jika saja ia tak sadar bahwa hal itu akan memancing anaknya untuk ke atas.


__ADS_2