Rumah Petaka

Rumah Petaka
Kali Pertama Masuk Sekolah


__ADS_3

Mira mencibir, ia segera menarik paksa tangannya dari genggaman Dennis.


“Ish, bilang saja tangan ku kotor, masih ada lendir bawangnya.” cibir Mira menatap ketus Dennis.


Sedangkan pria itu hanya tersenyum dan terkekeh bodoh.


Mira dengan wajah muak kembali berjalan menuju meja dapur untuk lanjut memasak.


Dennis tak lama kemudian ikut berjalan mendekati istrinya yang marah.


“Mira, jangan marah, ya? Baiklah, baiklah. Kau boleh menyentuh baju ku, bahkan wajah ku jika ingin Kau sentuh juga boleh.” kata Dennis melingkarkan tangannya di pinggang Mira.


Merasa tertantang, Mira berbalik cepat seraya berkata.


“Baiklah, sini!” ujar Mira mengangkat kedua tangannya pada depan wajah Dennis.


Dennis pasrah, ia dengan kerutan ketakutan di dahinya hanya terdiam menutup mata cemas.


Mira otomatis menghentikan laju tangannya menyentuh wajah Dennis, ia tak mungkin sampai hati menyakiti.


“Heuh! Sudahlah!” kata Mira sinis kembali berbalik menghadap meja dapur.


Dennis tersenyum, ia lalu membuka mata dan melihat Mira yang membelakanginya.


“Uluh-uluh, Kau sudah tidak marah lagi `kan? Hehe.” kata Dennis memeluk kembali Mira dari belakang.


Mira dengan gaya jual mahalnya menggerakkan bahu mengkode Dennis untuk segera pergi darinya. Namun Dennis tak menggubris, ia masih setia memeluk erat Mira.


Sampai akhirnya tubuh Jennie yang sudah terbalut seragam sekolah itu datang, spontan membuat Dennis melepaskan cepat pelukannya pada Mira.


“Jennie!” sapa Dennis tersenyum gugup melangkah menjauh dari Mira.


Jennie yang masih mengamati jalan pun otomatis mendongak menatap sosok yang memanggilnya.


Jennie lalu tersenyum senang menyambut ayahnya.


“Ayah, ibu.” sapa balik Jennie mendekati kedua orang tuanya yang berjarak 1 meter itu.


Mira tersenyum lebih lebar mendapat sambutan dari Jennie.


“Ibu akan masak apa?” tanya Jennie berjingkat ingin melihat permukaan meja dapur.


Mira menoleh ke bawah dahulu dengan lembut sebelum menjawab pertanyaan Jennie.


“Ibu akan memasak sayur bayam. Jennie rindu itu `kan?” kata Mira tersenyum manis.

__ADS_1


Wajah terkejut penuh kegembiraan dari Jennie nampak jelas, ia melompat kecil berkali-kali saking senang dan antusiasnya.


“Yeay! Sayur bayam!” seru Jennie bahagia.


Dennis jadi ikut tertawa gemas melihat keceriaan yang dihantar Jennie kepada mereka.


“Eum, Jennie suka, ya? Tunggu sebentar, oke? Hehe.” sahut Mira menyatukan jari jempol dan membentuk lingkaran.


Jennie lalu mengangguk senang dengan bibir yang terbuka.


Dennis lalu berjalan bersama-sama menuju meja makan dengan obrolan-obrolan ringan tercurahkan di meja tersebut.


Tak lama setelah itu Hyeon Chul datang dengan wajah terganggunya. Kedatangan anak laki-laki itu me-magnet perhatian Dennis, Mira maupun Jennie.


“Pagi Hyeon Chul.” sapa Dennis bersendekap-kan tangannya di atas meja.


Hyeon Chul spontan mendongak, mengarahkan tatapannya pada si Pemanggil.


“Ada apa?” tanya Dennis perhatian melihat Hyeon Chul yang kesulitan memasang dasi sekolah.


Hyeon Chul sambil berjalan mendekati Dennis, ia lalu berkata menjawab pertanyaan ayahnya.


“Ini ayah, aku tidak bisa memakainya.” kata Hyeon Chul berdiri di depan Dennis yang terduduk.


Dennis memandang sejenak ikatan tak benar dasi tersebut, ia lalu mulai mengarahkan jari-jemarinya ke dasi Hyeon Chul.


Hingga tak lama dasi itu pun jadi dengan rapi terpasang di leher bawah Hyeon Chul.


“Nah, ingat tidak?” tanya Dennis menguji.


Tentu Hyeon Chul dengan jujurnya menjawab pertanyaan Dennis dengan gelengan.


“Tak ingat, ya? Coba sekali lagi,” sahut Dennis menarik ikatan dasi Hyeon Chul sehingga terlepas kembali.


“Coba ingat, ya.” gumam Dennis lalu kembali memasangkan dasi pada Hyeon Chul.


Kali ini anak laki-laki itu terlihat sangat fokus, ditunjang dengan perhatian Dennis yang sangat pelan dan detail mengajarkan Hyeon Chul.


“Ya, sudah ingat?” tanya Dennis setelah ia kembali memakaikan dengan benar dasi di leher Hyeon Chul.


“Ingat!” jawab Hyeon Chul berseru semangat.


Dennis yang mendengarnya pun tersenyum simpul.


“Kalau sudah ingat, coba lakukan sendiri.” kata Dennis kembali menjadikan ikatan dasi itu ke rupa semula.

__ADS_1


Namun Hyeon Chul tidak kecewa atau terkejut, ia segera mengutak-atik dengan beberapa kali wajah keraguan ketika memakaikan dasinya.


Setelah selesai, Hyeon Chul menatap cukup lama dasi itu dengan rasa ragu dan bangga bisa memaikan sendiri.


“Sudah?” kata Hyeon Chul pada Dennis namun dengan suara yang terdengar bertanya.


Dennis tersenyum maklum, ia lalu mengusap kepala Hyeon Chul.


“Sudah, hanya kurang rapi saja. Bagus,” tanggap Dennis.


Lalu tak lupa ia menoleh pada Jennie yang menatap mereka tanda tanya. Dennis kemudian juga mengusap lembut pipinya.


“Anak-anak ayah memang pintar dan cerdik semua. Iya `kan? Hehe.” lanjut Dennis dibalas senyum oleh kedua anaknya.


Dari cukup kejauhan, Mira melirik mereka dengan senyum tipis, namun penuh dengan arti kebahagiaan.


Tak lama memang Mira untuk memasak, apalagi jika ia sedang terburu-buru, memasak pun hanya berlangsung selama 27 menit yang biasa dilakukan selama 1 jam.


Hyeon Chul sudah menunggu dengan tenangnya di meja dapur bersama adik dan ayahnya, hingga tak lama masakan pun sudah siap tuk disajikan.


Piring dan segala macam peralatan makan pun sudah disiapkan terlebih dahulu oleh Jennie dan Hyeon Chul, jadi ketika makanan sudah ada, mereka tidak perlu masih ribut memilih-milih alat makan.


Keluarga Dennis kemudian makan dengan tenang dan harmonisnya di meja, melupakan waktu yang masih berjalan.


Hingga akhirnya mereka saling khawatir, takut Hyeon Chul dan Jennie terlambat sekolah.


Dennis menggandeng tangan Jennie, berjalan lebar dengan di samping satunya lagi terdapat Hyeon Chul yang nampak masih santai.


“Ibu, kami pergi dulu!” pamit Dennis berbalik pada posisi Mira.


Wanita yang berada di ambang pintu itu mengangguk dengan senyuman, ia melambaikan tangannya menyapa selamat pergi untuk anak-anak dan suaminya.


Dennis lalu memerintahkan Jennie dan Hyeon Chul untuk memasuki mobil, kemudian Dia terakhir yang memasuki mobil. Setelah itu, mobil pun melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


“Heuh, Dennis selalu saja tiba-tiba.” gerutu Mira melihat kecerobohan suaminya.


Mira lalu masuk rumah, ia jadi bingung akan melakukan apa lagi dengan rumah yang sudah bersih ini. Mira akhirnya memilih untuk melihat televisi dengan dirinya yang terbaring di sofa.


Mobil putih SUV milik Dennis itu telah datang di depan gedung sekolah internasional Jennie dan Hyeon Chul. Sebenarnya Dennis ingin mengantarkan mereka—terlebih Hyeon Chul ke kelas, namun ia sendiri tidak bisa dikatakan aman dari ketelatan.


“Tak apa, ya? Kalian ke sana sendiri?” tanya Dennis masih khawatir.


Ia masih tak tega membiarkan anak-anaknya pergi walau mereka pun tidak keberatan pergi sendiri.


“Iya, ayah. Tak apa.” jawab Jennie gemas melihat wajah cemas ayahnya.

__ADS_1


Dennis seolah nampak tak menggubris perkataan Jennie. Ia mengambil ponselnya dan menunggu seseorang untuk menjawab telepon.


“Ayah menelepon wakil kepala sekolah dahulu untuk menjaga anak-anak ayah nanti, setelah Dia datang ayah akan benar-benar pergi.” gumam Dennis memberi tahu.


__ADS_2