
“Hyeon Chul, ingin `kah bersama kami?” tanya kakek Hyeon Chul menatap lekat cucunya tuk memberikan kepercayaan.
Dennis menggelengkan kepalanya kuat, ia tahu maksud kakek itu. Ia tak sanggup kehilangan Hyeon Chul.
“Tidak..jangan Hyeon Chul..sungguh..!” tutur Dennis sambil terus menggelengkan kepalanya.
“Jika Kau benar kakeknya! Tidak mungkin Kau mau membunuhnya!” teriak Dennis frustrasi.
Ia terus berusaha untuk tetap berlari, namun kakinya sangat berat untuk terangkat.
Hyeon Chul tetap terdiam, ia terus menimbang ajakan kakeknya.
“Siapa memangnya orang yang Kau cintai di dunia ini Hyeon Chul? Juga tidak ada lagi yang menyayangi mu. Ikutlah dengan kami.” ajak kakek Hyeon Chul lagi semakin menarik perhatian cucu kecilnya itu.
Kini Dennis telah berurai air mata, tubuhnya sudah tidak sanggup untuk bergerak. Ia hanya terus bergumam dan menangis.
“Tidak Hyeon Chul, ku mohon. Jangan percaya kakek mu..” gumam Dennis disela tangisannya.
“Hhh, dia bukan kakek mu!!” teriak Dennis frustasi.
Keringat dan airmata bercampur membasahi wajah Dennis yang merah padam tersebut.
Dengan perlahan, Hyeon Chul mengangguk pelan dengan tatapan rindu juga berharap pada kakeknya yang kemudian tersenyum simpul mengetahui ajakannya telah disetujui oleh Hyeon Chul.
“Ayo, nak. Kita pergi...” kata Kakek Hyeon Chul menggenggam tangan Hyeon Chul sambil tubuhnya bergerak berdiri.
“Tidak Hyeon Chul, ku mohon!!”
Dennis terus berlari tertatih-tatih pada Hyeon Chul yang perlahan berdiri.
“Jalannya..di sana...” ucap Kakek Hyeon Chul berbisik dengan tatapannya menatap jendela besar bagai pintu.
Hyeon Chul dan Dennis pun sama-sama menoleh pada jendela kaca besar tersebut.
“Tidak. Tidak Hyeon Chul! Jangan!” seru Dennis putus asa.
Mata Dennis terasa dibuka paksa oleh sesuatu, Dennis pun segera sadar bahwa ia telah kembali lagi di pondok setan milik Eun Hyuk ini.
“Shuh! Kelanjutannya Kau bisa melihat di berita dan cctv rumah sakit, ya?” ujar Eun Hyuk tersenyum sinis.
__ADS_1
“Tidak..” rintih Dennis masih kebingungan.
“Kau apakan anak ku, Hah?!” bentak Dennis membuat kursi yang ia duduki terhentak.
Eun Hyuk dengan senyum sinisnya itu terus melihat Dennis dalam diam.
“Apa, ya? Aku `kan hanya mengambil sesuatu yang sudah diberikan untuk ku.” jawab Eun Hyuk mengelak.
Dennis mengerutkan samar dahinya, dari tadi Eun Hyuk selalu bilang hal yang menjadi kepemilikan dan diberikan.
“Aargh! Sebenarnya apa yang Kau maksud?” tanya Dennis geram.
“Ha, ahahaha. Aku suka wajah dan rasa keinginan tahu itu. Den!” kata Eun Hyuk sambil tertawa renyah.
“Memang, orang yang akan mati pasti sebelumnya akan terus bertanya banyak.” gumam Eun Hyuk menghentikan tawanya.
Mendengar kata-kata itu, Dennis berdecih.
“Siapa kata mu yang akan mati?” tanya Dennis mengejek.
“Heum? Tentu saja Kau dan teman kota mu itu. Roh kalian nanti akan menjadi budak roh desa Jinan ini.” jelas Eun Hyuk.
“Pengikut ku! Seret mereka semua ke tempat pemujaan!” perintah Eun Hyuk tegas.
Lalu bertambahlah sosok yang memakai jubah besar nan panjang itu, mereka dengan cepat membawa Dennis beserta polisi-polisi yang masih tidur itu keluar.
“Kita lakukan ritualnya sekarang..” desis Eun Hyuk tenang.
Para polisi itu terbangun secara paksa karena terganggu dengan keadaan mereka yang terseret. Sontak mereka semua tertegun dan memberontak mengetahui ada sesuatu yang janggal.
“Shuh! Diam!” bentak salah seorang yang mengawal mereka.
Dennis dan polisi tersebut dibawa di lapangan berbentuk lingkaran yang sudah tersedia disana alat-alat pasung.
Namun bentuk pasung itu sangat berbeda dari biasanya. Yaitu, berbentuk salib (maaf) dan di tiap-tiap ujungnya terdapat besi tipis lancip yang jika pasung itu dieratkan dapat membuat korban pasung terpotong-potong tubuhnya.
“Hehe, nanti aku ingin darah dari otaknya.”
Tak sengaja, Dennis mendengar percakapan itu. Tubuhnya pun bergetar ketakutan, ia berharap ada sosok pahlawan yang membantu mereka.
__ADS_1
“Letakkan mereka semua!” komando Eun Hyuk sambil menaiki tangga rendah yang terbuat dari batu.
Dennis dan para polisi itu dengan segera pun di letakkan di tengah wadah pasung, kedua tangan yang sebelumnya terikat kini dilepas lalu dengan cepat para pengikut Eun Hyuk atau setan ini memasangkan lengan tersebut ke pasung yang berbentuk salib tersebut (maaf).
Kepala mereka di dongakkan ke atas agar bisa sesuai dengan bentuk pasung.
Dennis menatap tajam Eun Hyuk yang berdiri dengan gagahnya di tempat yang mirip bagai podium dengan di samping-sampingnya terdapat tangga kecil, karena hanya ada 5 anak tangga yang terbuat dari batu itu.
Di depan berdirinya Eun Hyuk sudah ada meja pahatan yang sama terbuat dari batu, di sisi panjang meja itu terdapat dua tanduk yang melengkung hingga membuat kedua tanduk itu hampir bersatu.
Eun Hyuk terlihat mengambil sesuatu dari atas meja itu dengan berhati-hati, Eun Hyuk mengambil mangkuk kecil berwarna hitam itu dengan kedua tangannya yang lurus. Mangkuk itu terus terangkat hingga ke atas kepala Eun Hyuk.
“Wahai Iblis! Sang pemberi kesejahteraan kepada kami! Wahai alam! Sang pemberi kecukupan kepada kami! Inilah sesembahan kami kepada kalian! Belasan anak manusia ini akan kami berikan kepada Engkau agar kami selalu mendapat perhatian dari Mu! Terimalah! Sang Iblis!” ujar Eun Hyuk nampak memulai ritualnya.
Dennis melihat semua orang yang berjubah hitam itu mendongak dengan mata yang memejam sambil bergumam sesuatu.
“Laksanakan!” perintah Eun Hyuk sambil terus mengangkat mangkuk di tangannya sampai berada tepat di atas kepalanya.
Sembari anak buahnya tengah mempersiapkan tumbal, Eun Hyuk kemudian berbicara dengan lantang.
“Biarkanlah darah segar dari mereka kami minum agar iman kami terus bertambah kepada mu. Wahai Iblis! Tolong kami!” ujar Eun Hyuk menatap lekat Dennis yang juga menatapnya.
Bagai tempat penjagalan masal, para penjagal itu telah siap untuk memotong-motong, hanya tinggal mendapat izin dari sang Ketua.
“Berhentiiii!!” teriak nyaring dan lama seseorang dapat membuat Eun Hyuk terkejut dan menoleh pada sumber suara.
“Penggal!!”
Dorr!
Glak!
Darah mencuat paksa dari berbagai tubuh manusia, terutama Eun Hyuk yang jatuh sekejap karena tertembak di perutnya.
Tubuh-tubuh manusia yang dipasung itu juga tak kalah banyak mengeluarkan darah kental nan segar dari berbagai tubuh.
“Selamatkan korbannya terlebih dahulu! Tembak para ba*i*gan ini agar tidak memberontak!”
Hyun Man, ia datang membawa para warga pria dengan beberapa dari mereka bersenjata api. Ya, dialah yang menembak secara cukup akurat di tubuh Eun Hyuk walau keadaan sedang terluka parah di tangan.
__ADS_1
“Aku tahu sulit sekali menembak! Tapi usahakanlah! Dan jangan sampai berada di dekat tubuh para korban! Mengerti!” seru Hyun Man diangguki pasti oleh warga Jinan.