
Sementara di lain negara, atau lebih tepatnya di rumah sakit tempat Mira, Hyeon Chul dan Jennie di rawat. Senyapnya ruang inap kelas atas itu mendominasi, mereka semua tidur dengan tenangnya. Hanya lampu tidur berwarna kuning gelap yang masih menyala, membuat tidur terasa lebih nyaman.
Namun nampaknya sekarang wajah gusar Hyeon Chul jelas terlihat, membuat setiap orang yang melihatnya akan ingin langsung membangunkan anak laki-laki itu dari mimpi buruk yang mungkin membuatnya berwajah seperti sekarang.
—
—
Hyeon Chul kebingungan, ia tidak dapat menemukan pintu keluar, di sini hanyalah lorong yang tak berkesudahan. Dengan udara yang tipis dan cahaya yang redup, Hyeon Chul terus berjalan lambat dengan sesekali berteriak memanggil ayah ataupun ibunya.
“Appa! Eomma!” teriak Hyeon Chul mengamati segala tempat di sekitarnya.
“Hee Cheol appa, Ji Neun eomma.” ujar Hyeon Chul memanggil nama ayah dan ibu kandungnya dengan suara bergetar menahan tangis dan rasa rindu.
“Kenapa kalian meninggalkan aku secepat itu? Hiks, hiks..aku sendirian sekarang..hiks.” lirih Hyeon Chul tak bisa menahan kesedihan teramatnya yang selalu ia pendam selama ini.
Mengingat masa lalunya, membuat hati Hyeon Chul terasa pecah kembali. Dadanya sesak sama halnya saat ia merasa sangat keberatan menerima perginya ibunya saat ia masih berumur 5 tahun. Satu tahun berselang, ayahnya menikah dengan wanita yang tidak menganggap dirinya ada.
Hyeon Chul sudah terjatuh dari berdirinya, ia meringkuk dengan tangis yang meraung di tenggelamkan oleh cerita masa lalu yang menyayat hati dan pikirannya.
“Nak~”
_
_
_
Byur!!
Wajah gusar nan kelelahan Dennis berubah menjadi terkejut, ia segera membuka matanya dan melihat apa yang terjadi di sini.
“Hahahaha...!”
Tawa menggelegar dari Eun Hyuk di ruangan ini nampak membuat semua orang dapat terbangun, Dennis bahkan meringis mengaduh kasihan pada telinganya yang berdengung sekarang.
“De~” ucap Eun Hyuk terdengar seperti seorang yang mabuk.
Eun Hyuk memanjangkan suaranya sambil tangannya menyentuh dagu Dennis.
“Nis.” sambung Eun Hyuk terdengar sinis.
“Kenapa~? Kenapa Kau mengambil anak kecil itu?” tanya Eun Hyuk menatap nanar Dennis yang menatap dirinya penuh kebencian.
__ADS_1
“Kenapa Kau juga membunuh nenek?!” bentak dan teriak Eun Hyuk sambil menghentak-hentakkan kakinya terlihat sangat frustrasi.
“Kalau Dia tidak merasa bersalah dengan hal yang tidak terlihat salah, Dia pasti masih hidup!” ujar Eun Hyuk nampak memunculkan urat-urat di wajahnya.
“Kau sendiri yang membunuhnya..” rintih Dennis menanggapi, ia menatap ke samping dengan rasa muak melihat wajah Eun Hyuk.
Ketika mendengar perkataan Dennis, wajah Eun Hyuk perlahan terlihat lebih tenang. Namun, terlihat jelas bahwa dirinya masih tegang dan stres.
“Apa..?” lirih Eun Hyuk terbengong.
Dennis menoleh cepat pada Eun Hyuk dengan wajah merah padam menahan amarah hingga kepalanya pusing.
“Kau yang membunuh nenek karena Dia sudah tidak mau membantu mu lagi karena tubuh rentanya dan dirinya yang sebelumnya telah melukai cucunya sendiri. Mira!!” seru Dennis memberontak dari ikatan tali tambang yang mengikat pergelangan tangannya.
Eun Hyuk terdiam, menatap kosong Dennis.
“Hahahaha!! Benar, benar. Aku yang membunuh si tua tak berguna itu! Haha!” ujar Eun Hyuk tertawa puas.
Dennis baru sadar keadaan di sini sekarang, ia melihat Jun Pyung dan polisi-polisi lainnya tersekap dan tertidur di samping dinding dengan kondisi duduk.
“Haha, Kau tahu Dennis!” seru Eun Hyuk masih tertawa terbahak-bahak.
“Kau mau membunuh kami?” tanya Dennis sudah pasrah.
Eun Hyuk terdiam dengan senyum yang masih nampak di bibirnya.
Wajah terlihat bahagia puas itu tiba-tiba berubah serius, ia melirik ke belakang dengan tatapan tajam.
“Pembantuku! Bantu tamu kita ini untuk melihat sesuatu yang amat sangat penting!” teriak Eun Hyuk melirik dan menengokkan wajahnya ke samping.
Kemudian, 4 orang pria memasuki ruangan besar tanpa barang yang berarti ini. Ke empat orang itu mendekati duduknya Dennis.
Mereka dengan jubah mirip dengan milik Eun Hyuk itu lalu secara kompak memperlihatkan kedua telapak tangan mereka masing-masing ke wajah terutama di mata Dennis seraya mulut mereka terus mengucapkan mantra.
Bagai magnet, Dennis mau tak mau terus memakukan tatapannya pada telapak tangan mereka. Melihat dan mendengar suara-suara ke empat pria ini membuat mata Dennis terasa berat, kepalanya juga pusing hingga ia merasa jatuh ke suatu tempat.
—
—
—
Dennis tidak bisa melihat badannya, ia seperti sedang melihat sebuah video yang Dennis dapat masuk ke sana namun ia hanya sebagai penonton.
__ADS_1
Penglihatan yang sebelumnya buram kini terasa lebih baik, hingga Dennis akhirnya melihat sosok anak kecil laki-laki tengah terduduk bersimpuh dengan punggung tertunduk nampak begitu sedih.
Suara itu, Dennis kenal. Yaitu Hyeon Chul.
“Nak~”
Dennis seketika menatap sumber suara itu, yaitu di dalam ruangan yang mempunyai pintu terbuka setengah, di dalam ruangan itu sangat gelap hingga Dennis tidak bisa melihat apa-apa.
Tatapan Dennis lalu beralih pada Hyeon Chul yang menghentikan tangisnya. Hyeon Chul menoleh ke belakang pada sumber suara nenek tua.
Merasa sesuatu buruk akan terjadi lebih lagi, Dennis mendekat tergopoh-gopoh pada Hyeon Chul yang masih duduk bersimpuh di samping dinding itu.
“Hyeon Chul, jangan. Pergilah!” perintah Dennis lantang.
Namun nampaknya Hyeon Chul tidak bereaksi akan suara lantang bahkan membuat lorong ruangan ini menggema dari Dennis.
“Nak..tidak ada ketenangan di bumi yang busuk ini..” lanjut suara terdengar rapuh itu.
Dennis melihat ada sebuah gumpalan asap tebal berwarna hitam terbang dan datang menuju keberadaan Hyeon Chul.
Mengetahui itu, Dennis berlari sekuat tenaga untuk menggapai Hyeon Chul. Namun, kakinya yang terus berlari itu tidak sampai-sampai di dekat Hyeon Chul.
Hyeon Chul melihat bayangan hitam tebal tersebut berhenti dan melayang di sampingnya, tak lama bayangan itu berubah menjadi sosok kakeknya.
“Tidak, tidak. Hyeon Chul jangan percaya!” seru Dennis masih berusaha lari menuju Hyeon Chul, namun kakinya sekarang menjadi sangat berat.
“Kakek?!” teriak Hyeon Chul spontan memeluk kakeknya, namun Hyeon Chul malah jatuh ke depan saat memeluk tubuh kakeknya.
Hyeon Chul pun bangkit dengan terheran-heran, ia menatap kakeknya dengan penuh tanda tanya.
“Hyeon Chul, dunia kakek, ibu mu, ayah mu. Sudah berbeda dengan mu.” ujar kakek Hyeon Chul membuat mimik wajah cucunya itu kembali sedih.
“Aku rindu kalian..” rengek Hyeon Chul menahan tangisnya, hatinya rapuh ketika mengingat keluarganya lagi.
Disaat ia rasa dirinya akan menangis, Hyeon Chul kemudian menutup matanya dengan lengan kanannya. Namun kakek Hyeon Chul lalu kembali menarik tangan kanan Hyeon Chul ke bawah.
“Hyeon Chul..ingin `kah bersama kami?” tanya kakek Hyeon Chul menatap lekat cucunya tuk memberi kepercayaan.
—
—
—
__ADS_1
Readers ku~ makasih ya udah baca sampai sini. Aku minta maaf sebelumnya udah terjadi kesalahan. T.T
Tetap baca yaa~ masih panjang soalnya. Sarangheo!!