Rumah Petaka

Rumah Petaka
Pengorbanan Ji Yong


__ADS_3

“Mira.” panggil Dennis berjalan mendekati Mira, Jennie dan Hyeon Chul.


Mereka terlebih Hyeon Chul dan Jennie kini tengah berada di kolam renang plastik yang berukuran besar, anak-anak Dennis dan Mira itu sangatlah senang bisa berendam.


Sementara Mira, ia ikut tertawa gembira menemani anak-anaknya bermain.


“Mira kenapa tidak dengar aku dari tadi memanggilmu dan anak-anak?” gerutu Dennis sedikit kesal.


“Maaf Den, memang ada apa?” tanya Mira.


Dennis terdiam, ia tidak mungkin mengatakannya di depan anak-anak dan didengar mereka.


Namun melihat Hyeon Chul dan Jennie yang sibuk tak memperdulikan ayah mereka sendiri sudah hadir, Dennis menjadi yakin bahwa anak-anak pasti tidak akan mendengarkan perkataan Dennis selanjutnya.


“Begini, aku dihubungi oleh pihak polisi. Katanya nenek Ji Yong terlibat dalam setiap rencana pembunuhan Eun Hyuk.” jelas Dennis menatap lekat Mira, ingin melihat ekspresi terkejut istrinya nanti.


“Nenek? Dengan Eun Hyuk?” tanya Mira terkejut, ia namun sadar dengan mengecilkan volume suaranya.


Dennis mengangguk, memastikan pertanyaan tidak mau percaya dari Mira.


“Bagaimana bisa? Aku, nenek tidak pernah mengatakan apa-apa. Jika nenek dekat dengan si brengsek itu, lalu kenapa nenek tidak mengunjungi Dia di bui?” tanya Mira tidak mau percaya.


“Mira, Kau mau apa jika itu benar-benar terjadi? Bahkan jika sudah ada bukti kuat Kau mungkin masih saja membela nenek?” kata Dennis muak membuang muka dari Mira pada anak-anak.


Mira tidak mau dianggap seperti itu, namun ia hanya belum percaya saja.


“Bukan Den, hanya, nenek tidak pernah terlihat mencurigakan.” bantah Mira berharap Dennis tenang.


“Kau tahu apa yang lebih parahnya?” ujar Dennis memberi tahu sesuatu yang menurutnya paling penting.


“Eun Hyuk dan nenek menumbalkan orang yang bermarga Kim dengan darah yang sama dengan mereka agar roh keluarga Eun Hyuk masih ada di sana.” jelas Dennis menekankan perkataannya.


Mira terhenyak, ia sulit memercayai ini. Karena ia tidak pernah melihat neneknya melakukan sesuatu yang mencurigakan.


“Den, aku bukannya bagaimana. Tapi, nenek selama yang aku tahu tidak pernah terlihat menyembunyikan sesuatu atau melakukan sesuatu yang aneh.” kata Mira sulit memercayai ini.


Memang sebenarnya Mira mempunyai hak untuk terkejut dan pantang meyakini dakwaan polisi Korea dan Dennis karena memang dari Mira kecil hingga ia kuliah, Mira selalu bersama setiap harinya dengan Ji Yong di rumah. Dan Dennis akhirnya mengalah mau mengerti Mira.


“Tapi Itulah yang terjadi My. Sayang, jika Kau masih belum atau bahkan tidak mau percaya tak apa, tapi berikan aku hak atas keluargaku termasuk Kau untuk mengatur langkah selanjutnya.” ucap Dennis tegas.


Mira terdiam, ia memikirkan perkataan Dennis yang tidak mungkin bisa dibantah.


“Memang apa yang akan Kau lakukan? Ayolah Den, nenek sudah sepuh.” kata Mira was-was pada tindakkan Dennis.


“Memang bibi, paman dan sepupu-sepupu Kau mana? Aku siap membalas satu-satu perkataan mereka.” balas Dennis sudah memikirkan perselisihan antara dirinya dengan keluarga besar Mira.


Istrinya berdecak, ia kesal dengan pemikiran buruk Dennis tentang keluarganya.


“Bukan, mereka `kan sibuk Den? Kita harus lebih pengertian.” sanggah Mira membela keluarganya.


Tanpa sengaja Dennis meng-gebrakkan tangannya ke pegangan kolam membuat suara bagai letupan balon mengejutkan semua orang.


“Sialan! Apa untungnya Kau membanggakan keluarga busuk itu?! Jika bukan karena nenek sakit aku sudah menolak mereka sebelum mereka berbicara! Kau bodoh, ya? Mereka itu sedang memperalatmu!” bentak Dennis menatap Mira marah bercampur kecewa.


Dennis kemudian menghembuskan napas berat dan segera pergi dari hadapan anak-anaknya dan Mira yang pastinya paling merasa tersakiti dan malu dihina oleh Dennis di depan anak-anak mereka.


Suasana yang hening dan tegang bagi Jennie dan Hyeon Chul, mereka bingung akan berbuat apa agar Mira tidak sedih dan melupakan kejadian tadi.


“Ibu?” panggil Jennie mengecek keadaan psikis ibunya dengan memajukan tubuhnya dan menatap wajah pucat Mira.


Tidak, Mira tidak boleh lemah di depan anak-anak. Mira menoleh—membalas tatapan Jennie dengan senyum lembut.


“Sayang, Jennie, Hyeon Chul. Mainlah, ya.” perintah Mira halus, ia berdiri merapikan dress bawahnya lalu pergi.


Sedangkan Jennie dan Hyeon Chul sama-sama terdiam kaku.


Mira marah, ia tak terima Dennis memperlakukan dan mencaci dirinya di depan anak-anak. Mira dengan rasa egois dan kebencian menuju kamar.

__ADS_1


Di sana, Mira pertama-tama membuka lemari penyimpanan kasur Jepang, ia lalu membawa satu pasang kasur yang lebih tepatnya disebut bedcover dan bantal kecil itu menuju ruang tamu.


Dengan ketetapan hati, Mira sudah siap untuk bertemu dengan Dennis di depan rumah.


Tanpa ada satu patah kata, Mira melemparkan barang bawa-annya ke sofa ruang keluarga yang lebih besar ukurannya. Sementara Dennis terdiam melihat Mira di ruang keluarga dengan dirinya yang berada di ruang tamu menatap tanpa ekspresi Mira.


Hanya berperilaku seperti ini saja, lutut Mira sudah bergetar takut. Ya, hanya itu yang dilakukan Mira, ia lalu pergi kembali ke belakang dengan arah matanya yang samar-samar melirik Dennis yang menatapnya seolah tak peduli.


Setelah memasuki dapur, Mira segera bersandar di tembok, ia mendesis kesal mengapa Dennis se-menyeramkan itu malah saat pria itu terdiam tanpa ekspresi.


[Makan Malam]


Makan malam kali ini sangatlah hening dan canggung, Mira tanpa peduli pada Dennis memakan dengan secepatnya. Sedangkan Dennis terlihat lebih natural bergaya tak peduli pada Mira dengan tenangnya.


Jika orang tua berselisih, tentu anaknya lah yang menjadi korban. Hyeon Chul dan Jennie dengan wajah takutnya menatap meja yang dipenuhi oleh makanan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.


Dennis dalam tidak ke-peduliannya pada Mira, ia tak sengaja melihat Hyeon Chul yang nampak ragu-ragu akan mengambil udang di tengah-tengah meja.


“Hyeon Chul,” gumam Dennis sigap mengambil beberapa udang untuk Hyeon Chul yang sontak menoleh padanya.


“Ini.” kata Dennis tersenyum tipis dan menaruhnya di piring Hyeon Chul.


Jennie cemburu, ia tidak mau di dilupakan oleh Dennis walau hanya 1 detik.


“Ayah! Aku juga mau!!” seru Jennie menatap sendu Dennis.


“Oh? Hhhm.”


Dennis lalu juga memberikannya pada piring Jennie.


“Terima kasih ayah.” kata Jennie mengayunkan kakinya senang dengan senyum puas.


Dennis tersenyum kecil sambil mengangguk menerima perkataan Jennie.


“Kembali kasih.” jawab Dennis tak lama kemudian ia kembali serius memakan.


“Nenek,” panggil Dennis berusaha tidak menatap tajam Ji Yong.


Ji Yong meletakkan pelan garpu dan sendok di samping piring, setelah itu ia baru mau menoleh dan menatap Dennis.


“Ada apa Dennis?” tanya Ji Yong menatap tenang Dennis.


“Setelah ini nenek mau ya bicara dengan Dennis di ruang tamu?” pinta Dennis memaksa.


Ji Yong terdiam menatap Dennis penuh penimbangan.


“Heum, baiklah.” jawab Ji Yong tersenyum sambil mengangguk-angguk samar.


Dennis tersenyum terpaksa, ingin memberi sedikit rasa hormatnya.


Mira terdiam mendengar, ia ingin tahu apa nantinya yang mereka bicarakan. Sungguh, jika Dennis berbicara sesuatu yang dapat menyakiti Ji Yong neneknya, ia tak akan segan-segan untuk menceraikan pria itu.


Makan malam pun selesai, Hyeon Chul dan Jennie tanpa semangat sekarang ini hanya ingin segera merebahkan tubuhnya ke kasur dan tidur. Namun sebelum itu tentu saja mereka harus melakukan kegiatan yang biasa di lakukan oleh orang lain, yaitu sikat gigi, cuci wajah dan pipis.


Sedangkan Mira tengah mencuci piring sendirian dengan hati yang was-was.


Di ruang tamu, Dennis sedang menunggu Ji Yong yang masih sibuk di dalam kamar. Namun tak berapa lama, Ji Yong pun datang dengan anggunnya.


Dennis bergerak sambil menatap Ji Yong, menyambut nenek itu setengah hati.


“Nenek, nenek kenal dengan Kim Eun Hyuk?” tanya Dennis tanpa basa-basi.


Ji Yong terdiam kaku, ia terkejut bagaimana Dennis tahu hal ini. Apakah Dennis mengenal Eun Hyuk?


“Kenapa? Memang siapa Eun Hyuk?” tanya Ji Yong penasaran bagaimana Dennis mengenal Eun Hyuk.


Dennis semakin menatap Ji Yong dengan perasaan terluka. Mau tak mau, Dennis harus mengatakan yang sejujurnya tentang kejadian buruk di Korea.

__ADS_1


“Kim Eun Hyuk, Dia tersangka pengancam pembunuhan kepada kami. Aku, Mira bahkan Jennie telah Dia ancam karena menempati salah satu rumah yang dahulunya milik Eun Hyuk. Jujur saja, nek. Nenek punya hubungan apa dengan Eun Hyuk dulu?” jelas Dennis tak sabar Ji Yong mengakui sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.


Ji Yong melamun tertunduk sedih mengingat semua kesalahan-kesalahan yang ia buat secara sadar ini.


“Tidak, tidak Dennis. Nenek malu dan merasa bersalah pada kalian. Tolong, jangan buat nenek depresi.” kata Ji Yong panik sendiri.


Dennis terdiam ia hanya menatap tak suka Ji Yong yang ketakutan. Tidak hanya sampai di sana, Ji Yong kemudian berdiri dengan kaki bergetar, ia menatap lantai-lantai rumah ini takut.


Ji Yong sekarang benar-benar seperti seorang yang depresi, ia berputar di tempat seolah ingin pergi namun juga seolah dihadang oleh sesuatu.


“Nenek tenanglah, aku-” peringat Dennis tak mau melihat kelakuan konyol wanita sepuh ini.


“Tidak, tak apa. Ini nenek, nenek yang salah.” gumam Ji Yong kemudian berlari menuju kamar.


Dennis ditinggalkan, ia menatap heran serta khawatir Ji Yong yang nampak trauma.


“Huft~” hembus napas Dennis sambil memijat dahinya yang berat.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Dennis bagai seorang bujangan tengah melihat tak tertarik dengan acara televisi yang hadir, ia ingin tidur namun bukan di tempat ini. Lagi pula ia harus menjaga anak-anak dan istrinya dari sihir nenek tua itu.


Dennis kini merasakan kantuk yang semakin berat, ia beberapa kali melebarkan matanya paksa agar dirinya terus berjaga. Namun ketika acara itu diganti dengan sponsor televisi, rasa kantuk Dennis sudah tak terbendung. Ia tanpa sadar menutup mata dan tertidur.


Semakin malam, Dennis nampaknya sudah tertidur dalam posisi terduduk bersila. Televisi pun nampak error dengan adanya garis berwarna-warni yang membuat suasana menjadi sangat senyap, bahkan jangkrik pun malas tuk bersuara.


Kreek..


Tiba-tiba, suara pintu tua berwarna hijau bergerak pelan, berdenyit—bergesekan dengan lantai kayu. Hingga munculnya Hyeon Chul yang masih tidak bisa membuka kelopak matanya dengan sempurna, alhasil ia membuka pintu berwarna abu-abu itu dengan paksa.


Hyeon Chul berjalan dengan gaya kaki yang menyilang, menahan rasa ingin pipis. Ia tak peduli atau mungkin tidak sadar bahwa pintu rumah belakang telah terbuka sedikit.


“Stukaa vathazkhan ikhhair bhyuar-bhyuar,”


Namun, bisikan yang membuat bulu Hyeon Chul merinding itu seketika berhasil melebarkan mata bocah itu.


Pandangan Hyeon Chul langsung tertuju pada sumur yang ber-ketinggian 1 meter itu. Tak hanya melihat sumur yang terbuka terpalnya, ia juga melihat sosok berjubah putih dengan rambut tipis yang jatuh menjuntai tengah berdiri di pembatas sumur.


Hyeon Chul tidak bisa bergerak ketika sosok itu menolehkan kepalanya pada Hyeon Chul, dan bocah laki-laki baru tahu bahwa sosok menyeramkan itu adalah Ji Yong, neneknya.


Tidak, untuk bernapas saja sulit bagi Hyeon Chul. Ia tidak bisa berteriak atau memanggil dan menyadarkan neneknya.


Ji Yong tersenyum, tersenyum kecut pada Hyeon Chul.


“Nak, aku harap setelah aku sendiri yang berkorban. Tidak ada lagi yang harus rugi.” kata Ji Yong untuk terakhir kalinya.


Setelah itu ia dengan pasrah menjatuhkan dirinya ke lubang besar sumur dengan terlebih dahulu kepalanya terbentur pembatas sumur di depan.


Ddakk!


Hyeon Chul melebarkan matanya dengan tubuhnya yang serasa ingin berjalan maju, namun sebuah ketakutan menahannya mematung menatap kejadian bunuh diri tragis neneknya.


Setelah persekian detik di tengah suasana malam yang gelap gulita, akhirnya Hyeon Chul melepaskan rasa frustrasinya.


“Aakh!!”


Sontak Dennis yang masih setengah tidur itu terkesiap, siaga berdiri dan berlari menuju ke arah suara.


Dennis pastikan arah suara itu menuju ke halaman belakang rumah, Dennis sempat berhenti terkejut melihat Hyeon Chul yang sudah terduduk dengan kaki lurus yang bergerak acak-acakan ke sana ke mari.


“Hyeon Chul,” bisik Dennis memeluk Hyeon Chul yang terlihat frustrasi itu.


Dennis lalu melihat apa yang dilihat Hyeon Chul, namun tidak ada apa-apa kecuali terpal sumur yang selalu tertutup itu kini telah hilang membuat lubang besar sumur terlihat.


Dennis menurunkan sedikit arah matanya, ia jadi berpikir yang tidak-tidak.


Dennis kemudian melepaskan pelukannya, ia segera kembali berlari melihat apa yang ada di dalam sumur itu.


Dengan bantuan cahaya bulan, Dennis bisa melihat sosok Ji Yong neneknya yang dulunya begitu sangat baik dan ramah itu telah terbunuh dengan posisi meringkuk di sana.

__ADS_1


“Oh my Goddess! Shit!” umpat Dennis memegang dahinya tak percaya akan apa yang terjadi.


__ADS_2