Rumah Petaka

Rumah Petaka
Ancaman Yang Nyata


__ADS_3

“Oh, Den! Sudah pulang? Aku kira kau pulang jam 7 malam.” kata Mira terdengar tegang.


“Kau tahu ini jam berapa?” tanya Dennis mendudukkan dirinya pada punggung sofa.


Mira yang baru saja sampai dari rumah menatap pergelangan tangannya lalu kembali melihat suaminya.


“Ini jam 7:43.” gumam Mira terdengar pelan lalu ia menatap kepergian Jennie yang membuatnya semakin merasa tersudutkan, tak ada yang akan membelanya.


“Maafkan aku, sayang! Kau tahu? Sebenarnya yang mengajak ku pulang malam Jennie—“


“Jangan menyalahkan Jennie pada kecerobohan mu! Kau 'kan bisa saja menolak keinginannya.” sela Dennis keras hingga membuat Jennie mendengarnya.


“Iya, tapi... ”


Helaan napas pasrah terdengar dari pasutri itu, Dennis menurunkan kedua lengannya setelah sebelumnya ia melipat kedua tangannya didada.


“Aku tak suka kau melakukan ini.” gumam Dennis mengakhiri berdebatan kecil itu lalu ia meninggalkan Mira yang menatapnya dari belakang dengan pandangan berharap, berharap jika Dennis akan berbalik dan memeluknya.


Tubuh letih Dennis ia dudukkan dipinggir ranjangnya, ia kemudian mencoba melepas ikat dasi yang ia pakai sementara pikirannya melayang jauh memikirkan perubahan beberapa hari yang lalu.


“Kenapa aku terlalu emosional akhir-akhir ini.” gumam Dennis bertanya pada dirinya sendiri.


Sementara Jennie yang masih berada didalam kamar mulai mencoba keluar dan ingin melihat ibunya yang mungkin masih berada di ruang tamu.


Baru saja Jennie membuka pintu kamar tubuh tinggi ibunya telah berada didepannya.


“Ibu?” tanya Jennie memastikan siapa tubuh wanita didepannya ini.


“Heum, siapa lagi.” jawab Mira sedikit ketus lalu ia segera memasuki kamar anaknya dan berbaring diatas ranjang Jennie.


“Ibu, apa memang salahku karna terus menyuruh ibu untuk pergi ke wahana sampai ke mall?” tanya Jennie sendu sambil menunduk melihat kedua pasang jarinya bertautan.


Tanpa Mira melihat Jennie ia tahu jika sekarang Jennie merasa bersalah padanya.


“Tidak, ibu yang salah.” kata Mira menatap langit kamar anaknya.


Mira bangun dan melihat anaknya yang melihatnya ia pun segera tersenyum dan menepuk bagian ranjang yang tak ia tempati.


*


Malam ini begitu mengganggu Mira untuk tidur, ia bergerak gelisah ketika sesuatu memegang leher begitu kencang dan kuat.


Mira mencoba membuka matanya lalu bangun, berharap jika sesuatu yang menyakitkan dilehernya hanyalah dimimpi.


“Akh— uhkk— lepass.”


Tidak! Bukan ini yang ia inginkan, seseorang dikegelapan malam tengah mencekiknya dan ia tahu betul siapa pria itu, Dennis!


Dengan kekuatan yang tak sebanding dengan Dennis, ia berusaha menarik lepas kedua lengan itu.

__ADS_1


Cekikan Mira akhirnya berakhir, dengan terbatuk-batuk Mira mencoba bangun dengan badan bawahnya masih terbaring diranjang.


“Kau gila?! Apa yang kau lakukan?!” pekik Mira tertahan sambil terus berulang-ulang memukul punggung Dennis sekeras mungkin.


Sementara Dennis terus bergumam tak jelas dan tangannya memegang rambutnya sendiri.


“Neon gwenchana?” tanya Dennis dengan Bahasa Korea.


“Baik? Aku tanya kenapa kau melakukan ini?!” kata Mira merasa geram dengan perilaku Dennis.


“Aku tidak tahu!” jawab Dennis menatap Mira dan arti dari tatapanya itu terlihat bertanya pada Mira, ia benar-benar tak tahu apa yang tadi ia lakukan.


Mira menghembuskan napasnya yang masih menatap marah dan bertanya pada Dennis.


“Sudahlah, ini baru jam 1 pagi, tidurlah sana.” perintah Mira setelah ia menatap jam dinding di kamar Jennie.


“Maaf sayang, aku juga tak tahu apa yang terjadi pada ku.” kata Dennis mencoba mengambil hati Mira kembali.


“Ya, ya baiklah. Sekarang pergilah.” pinta Mira kembali sambil mendorong bahu Dennis.


Dennis segera mengecup dahi Mira lalu ia beranjak pergi meninggalkan kamar Jennie.


“Aku harus segera ke orang pintar sebelum ini semua terjadi lebih parah.” gumam Dennis sambil terus melangkah menuju kamarnya.


*


“Oh! Sayang! Aku sudah menyiapkan semua peralatan piknik!” teriak Mira menatap Dennis yang masih berada ditangga.


Dennis terkejut sesaat lalu ia menggerakkan kepalanya gelisah.


“Oh? Ah, ya.” jawab Dennis ragu, ia lupa jika Mira menginginkan piknik dimusim semi saat mereka diKorea.


“Heum, ayo!” teriak Mira mengepalkan tangannya dan menunjukkannya keatas udara.


“Jennie?” tanya Dennis mencari keberadaan anaknya.


“Jennie sedang dikamar, katanya ia akan mengambil beberapa barang yang penting untuknya.” jawab Mira lalu mengambil dua paper bag yang berisikan makanan dan minuman dan tangan yang satunya memegang sebuah tikar dan memberikannya pada Dennis.


“Ayo! Berangkat!” teriak Jennie mulai keluar dari kamarnya dan berlari mengikuti kedua orang tuanya.


Pagi ini begitu menyenangkan bagi keluarga kecil itu, menikmati harumnya bunga yang mulai bermekaran diarea taman ini.


“Ibu, ayo disana.” ajak Jennie setelah ia beranjak dari duduknya dan menunjuk kearah pepohonan yang berjejeran rapat hingga terlihat menunjukan bayangan yang terasa dramatis dan sangat gelap.


Mira sedikit mengerutkan dahinya menyetujui permintaan Jennie.


“Eum, baiklah.” Kata Mira beranjak dari duduknya dan menepuk bagian belakang tubuh bawahnya mencoba membersihkan debu atau kotoran yang menempel dari tikar yang tadi ia duduki.


“Wah! Bu, disini indah sekali.” gumam Jennie menangkup sebuah bunga sakura yang jatuh dari tangkai pohonya.

__ADS_1


Mira tersenyum senang ketika Jennie terlihat begitu kagum dengan pemandangan pertama kali untuk ia dan anaknya ini.


Namun senyum Mira perlahan hilang ketika ia merasa ada sesuatu yang ingin menariknya kedalam rimbunan pepohonan.


“Ibu? Ibu ingin kemana?” tanya Jennie saat ia menoleh dan menatap ibunya tengah melangkah kedepan meninggalkannya.


“Tak apa, Jennie mainlah.” kata Mira sama sekali tak menatap anaknya dan lebih tertarik dengan suasana yang berada didalam lingkaran pohon Sakura.


Ya, Mira telah berhasil memasuki gelapnya putaran pepohonan, rasanya seperti malam hari.


“Gelap.” gumam Mira menatap sekitarnya.


Tatapan Mira terhenti dan tertuju pada sebuah bunga Sakura yang jatuh dari tangkai yang berada diatas Mira.


Tangannya menjulur mengambil bunga Sakura itu dengan begitu pelan dan lembut.


“Cantik.” puji Mira menatap bunga Sakura yang sekarang berada di jarinya.


Dahi Mira mengkerut sakit ketika ia rasa jari yang memegang Sakura itu terasa panas lalu sesaat waktu lagi terasa membakar kulit jarinya, iapun segera membuang Sakura yang terus ia tatap itu secara tak sengaja.


“Ahh, kenapa begitu sakit.” gumam Mira lalu mengelus kasar kulit jarinya sambil terus menatap bunga sakura itu.


Mata Mira membesar ketika tanah yang ia pijaki terasa akan ambruk atau retak, tubuhnya bergerak awas ketika semakin lama menyentuh jalanan ber-aspal.


Mira merasa, semua yang ia pijaki akan turun kebawah. Pusing.


Benar! Jatuh yang ia rasa, begitu sakit hingga dahi dan salah satu telinganya berdarah.


“Akh, Huh? Apa ini?” gumam Mira menatap dinding yang berada cukup jauh darinya, dan dinding itu adalah dinding rumahnya—tepatnya berada diruang tamunya.


“Mira!”


Kepala Mira menoleh kesegala arah, ada yang memanggilnya namun tak ada orangnya.


“Semua keluarga mu akan mati! Terlebih kau dulu yang akan menemani kami!”


Mira semakin ketakutan, ia mundur bergerak tanpa sadar dari tempatnya dengan menggunakan tangannya. Terseok-seok lemah.


“Akh!”


Setelah Mira berhasil menarik tubuhnya, pergelangan tangannya terasa dicengkeram oleh lengan yang besar.


“Mira sadarlah!” teriak Dennis mengguncang tubuh terbaring istrinya.


Mata Mira akhirnya terbuka lebar dan terlihat ketakutan.


“Mira, kau baik-baik saja?” tanya Dennis menatap Mira lekat.


“Memangnya apa yang terjadi padaku?” tanya Mira masih dengan raut ketakutannya.

__ADS_1


__ADS_2