Rumah Petaka

Rumah Petaka
Ji Yong Yang Aneh


__ADS_3

Esoknya, saat matahari sudah muncul tanpa malu-malu yang waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Ji Yong masih saja tertidur, tidak seperti biasanya. Nenek tua itu tertidur dengan pulas.


Namun, nampaknya sesuatu mengganggu tidur Ji Yong hingga ia akhirnya terbangun dengan mata terbelalak, nenek itu langsung menegakkan badan atasnya dari tidur.


“Heuh, kenapa? Kenapa Eun Hyuk masih saja?” gerutu Ji Yong nampak sekali dari wajahnya begitu tertekan.


Sesuatu yang mengejutkan, siapakah nama yang disebut Ji Yong tadi? Apa itu benar-benar nama yang Mira dan Dennis juga Hyeon Chul kenal di Korea?


Tiba-tiba, Ji Yong berubah sedih, ia lalu menangis dalam diam mengetahui nasibnya.


“Hyeon Chul, Jennie. Ayo makan.” panggil Mira merapikan piring-piring yang berisi lauk.


Tak lama kemudian Hyeon Chul dan Jennie sudah datang dengan senyum senang tak sabar ingin memakan sarapannya.


“Hei, duduk yang rapi, ya?” peringat Dennis melihat kebrutalan anak-anaknya jika di hadapkan soal makanan.


“Ya, makanlah. Ibu akan mengambilkan makanan untuk nenek.” kata Mira sibuk mengambil nasi ke piring.


Saking enaknya masakan Mira, hingga mereka termasuk Mira yang masih sibuk itu tidak tahu kedatangan Ji Yong yang sedang mengintip.


Hingga Ji Yong akhirnya mau menampakkan diri secara menyeluruh, baru Mira saja yang sadar akan kehadiran neneknya.


“Nenek? Nenek mau makan? Ayo, sebentar aku ambilkan kursi dulu.” kata Mira bergegas ke sudut ruangan.


Mira lalu kembali dengan Ji Yong yang sudah duduk di kursi tempat Mira, kemudian ia lalu menduduki kursi yang ia bawa dengan posisinya di samping Jennie, sedangkan Ji Yong di samping Hyeon Chul. Itu yang membuat Mira terlebih Dennis khawatir.


Namun kaki ini yang membuat mereka kecuali Jennie terhenyak adalah saat Ji Yong tersenyum tipis melihat Hyeon Chul yang menengok padanya.


Ji Yong lalu mengusap hangat punggung tangan Hyeon Chul dan berkata.


“Makan yang banyak, ya. Jennie Hyeon Chul.” kata Ji Yong lembut.


Nenek tua itu lalu melepaskan genggamannya pada tangan Hyeon Chul dan mulai memakan sajian yang ada.


Tentu saja suatu keanehan bagi mereka, tapi mungkin saja Ji Yong memang sudah mau menerima kehadiran Hyeon Chul dan membuat semua spekulasi buruk Dennis tentang Ji Yong hancur.


“Nenek, Dennis pergi kerja dulu, ya.” pamit Dennis mencium tangan Ji Yong.


Seperti yang dulu-dulu lagi, Ji Yong bagai seorang nenek yang normal—yang tersenyum saat disapa dan berperilakuan baik terlebih pada anak-anak.


Dennis lalu pergi setelah juga menyapa Mira dan anak-anaknya untuk dirinya pergi sebentar.


Setelah mobil Dennis pergi, Mira menoleh pada Ji Yong yang menatap sayu ke depan. Memberanikan lebih, Mira lalu merangkul lengan Ji Yong dengan kepalanya yang ia sandarkan di bahu Ji Yong.


“Nenek, nenek baik-baik saja?” tanya Mira khawatir pada dengan keadaan Ji Yong dua hari yang lalu.


Ji Yong lalu menoleh menatap seperti biasanya sosok cucunya yang paling ia sayangi.


“Memang nenek kenapa? Nenek sehat-sehat saja.” jawab Ji Yong.


“Tidak, selama dua hari ini nenek berubah sikap—menjadi lebih sensitif.” jelas Mira takut Ji Yong marah kembali seperti yang kemarin-kemarin.


Ji Yong melengkungkan bibirnya tidak setuju dengan anggapan Mira dan sebenarnya juga Dennis tentangnya.


“Nenek baik-baik saja. Hanya karena mungkin nenek sakit, jadi sedikit frustrasi.” jawab Ji Yong bohong.


Entah, Mira masih tidak percaya dengan jawaban Ji Yong. Ia merasa Ji Yong menutupi sesuatu yang membuat neneknya itu juga merasa terancam.


Mira melirik ke atas pada wajah Ji Yong yang terlihat tegar, ia lalu berdiri tegak memegang erat-erat tangan Ji Yong dengan mata yang lekat.


“Nenek, nenek kalau ada yang membebani nenek. Aku dan Dennis siap membantu.” kata Mira serius.


Ji Yong tersenyum, ia terharu dengan cucunya Mira yang begitu mengetahui suasana hatinya ini.


“Tidak, nenek tak apa.” kata Ji Yong lalu tangan kirinya yang tidak digenggam Mira terangkat membelai surai hitam Mira.


Dan mereka pun tanpa sebab sama-sama tertawa ringan.


[Di kantor Dennis]


Pria berbadan tegap itu tengah membungkuk membaca dengan teliti tulisan di buku laporan hari ini. Ia dengan wajah serius sesekali membenarkan letak kaca matanya.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Terdengar seseorang yang bisa dipastikan Sekretaris Dennis meminta izin untuk mengabari sesuatu.


“Heum, masuklah.” jawab Dennis dengan matanya yang masih terperangkap ke buku di meja.


Perlahan pintu besar dan tinggi itu terdorong terbuka menampilkan sosok wanita yang semampai.


“Direktur, pihak kepolisian dari Korea menghubungi Anda.” kata Sekretaris itu meminta izin.


“Oh, sambungkan padaku segera.” jawab Dennis merebahkan punggungnya ke kursi.


Sekretaris itu mengangguk dan membungkuk hormat sebelum ia menutup kembali pintu ruang kerja Dennis.


Tak lama kemudian, telepon kantor Dennis berdering dan Dennis sudah siap untuk mengangkat teleponnya.


“Halo.” sapa Dennis terlebih dahulu menatap tajam lantai yang ia pijaki.


“Ya, halo. Ini Tn. Dennis yang menjadi korban tersangka Kim Eun Hyuk bukan?” tanya pihak polisi memastikan.


“Ya, itu benar saya, pak. Ada apa?” tanya Dennis penasaran bagaimana keadaan Eun Hyuk selanjutnya di bui.


“Kami sudah menyelidiki kasus tersangka Kim Eun Hyuk. Ia dengan jujur berkata bahwa tersangka menggunakan ilmu hitam untuk membunuh setiap orang yang menempati rumah kejadian. Dan setiap orang yang bermarga Kim dengan darah yang sama dengan keluarga tersangka, akan dibunuh dengan alasan yang tidak masuk akal, yaitu karena ingin mengembalikan roh keluarga tersangka yang ia bunuh sendiri dengan teman geng mafia-nya.” jelas pihak polisi meminta Dennis mengambarkan bahwa pria itu paham.


“Ya,” jawab Dennis singkat.


“Dan karena pihak polisi ingin menelisik lebih dalam lagi, kami bertanya pada tersangka siapa yang mengajarkannya ilmu hitam seperti itu. Tersangka Eun Hyuk dengan terkekeh lalu menjawab bahwa orang yang mengajarkannya adalah nenek tua yang bernama Kim Ji Yong—teman dekat keluarga paman tersangka sejak berumur 17 tahun hingga nenek itu kemudian menetap di Indonesia karena menikah dengan pria di sana.” jelas pihak polisi itu berharap Dennis terkejut.


Dan tentu saja pria itu terkejut, ia melebarkan mata dan mulutnya. Ia menggeleng samar tak menyangka.


“Kim Ji Yong? Itu nama nenek saya.” kata Dennis merintih.


“Iya, benar Tn. Dennis. Tapi karna tidak ada pasal pembunuhan berencana dengan menggunakan ilmu hitam, kamu terpaksa tidak akan menarik Ji Yong ke Korea untuk diperiksa.” kata polisi itu mendengus.


Dennis bingung, ia sangat tidak mau lagi dengan apa-apa yang berhubungan dengan Eun Hyuk.


“Ya, itu saja Tn. Yang bisa saya katakan. Kasus ini sudah ditutup dengan hukuman Eun Hyuk dipenjara selama 50 tahun dengan pasal berlapis. Yaitu, pembunuhan, masuk sebuah geng mafia dengan kekacauan di Jepang, dan perbuatan tak menyenangkan kepada Anda dan keluarga. Selain itu, bukanlah pasal yang ada di Korea.” jelas polisi itu akhirnya.


Walau Dennis berat hati karena Eun Hyuk tidak dihukum karena pembunuhannya pada keluarga Hyeon Chul dengan ilmu hitam, tapi mengetahui berapa lama Eun Hyuk dipenjara membuat Dennis lega.


“Ya, terima kasih banyak pak.” ucap Dennis masih dengan ekspresi kebingungan.


Di rumah, Ji Yong sedang membantu Mira bersih-bersih. Mira mencuci piring sedangkan dirinya mengelap meja.


Sambil mengelap meja, Ji Yong melirik ke belakang pada Mira.


“Mira,” panggil Ji Yong masih mengelap meja.


Mira terhenyak lalu menoleh dengan raut bertanya pada Ji Yong.


“Ada apa, nek?” tanya Mira berperilaku lembut pada neneknya.


“Hyeon Chul ke mana?” tanya Ji Yong tidak mencurigakan.


Walau Mira awalnya curiga, namun melihat air muka Ji Yong yang tidak bermaksud apa-apa membuat Mira berpikir positif.


“Hyeon Chul ada di teras, nek.” jawab Mira tak curiga.


Ji Yong lalu tersenyum hangat mendengarnya.


“Buatkan nenek teh, ya? Antarkan ke teras.” pinta Ji Yong dengan senyum damai-nya.


Mira kini baru terhenyak, ia bertanya besar mengapa neneknya ingin menemui Hyeon Chul.


“Oh, baiklah, nek.” kata Mira kebingungan.


Ji Yong kembali tersenyum lebar, ia lalu meninggalkan Mira yang tengah membuat


teh—menomor duakan pekerjaan cuci piring tadi.


Di teras, Hyeon Chul tengah menatap sayu rindangnya pepohonan di depan. Serasa berada di tengah-tengah hutan, Hyeon Chul menikmati pemandangan ini.


Kesendirian ini membuat Hyeon Chul tertarik masuk ke dalam kenangan masa lalu bersama keluarganya, ia jadi mengingat kembali kejadian-kejadian yang tragis maupun yang menyenangkan.


“Hyeon Chul,” panggil Ji Yong lembut namun sanggup mengembalikan Hyeon Chul ke kesadaran.

__ADS_1


Menyadari apa yang terjadi sekarang malah membuat Hyeon Chul terkejut, ia hanya memandang sedikit membesarkan mata pada Ji Yong.


“Oh, iya nek. Ada apa?” tanya Hyeon Chul tersadar dari ke terkejutannya.


Ji Yong kemudian tersenyum menyapa Hyeon Chul hangat.


“Hyeon Chul takut `kah? Pada nenek?” tanya Ji Yong tak lama ia bergerak berjalan duduk di samping Hyeon Chul.


Walau sebenarnya ia ada sedikit rasa takut, Hyeon Chul berbohong dengan menggelengkan kepalanya.


“Tidak nek,” bantah Hyeon Chul terus menatap gerak-gerik Ji Yong.


“Hyeon Chul-ah, maafkan nenek kalau dari pertama kita bertemu nenek tidak berperilaku baik pada Hyeon Chul.” kata Ji Yong setelah lama menatap wajah Hyeon Chul yang baru kali ini ia benar-benar melihatnya.


Hyeon Chul terdiam, ia menunduk samar tidak suka kecanggungan ini.


Lama-lama wajah ceria Ji Yong berubah terlihat sedih tertahan menatap sikap diam Hyeon Chul. Ji Yong lalu meraih tangan Hyeon Chul dan menggenggamnya erat, hingga anak laki-laki itu menoleh padanya.


“Hyeon Chul, maafkan nenek, ya? Hiks, ini seharusnya tidak terjadi padamu. Nenek lah yang salah.” pinta Ji Yong kembali membuat Hyeon Chul bertanya-tanya dan kasihan melihatnya.


“Nenek, tak apa. Hyeon Chul tidak memasukkan hati dengan sikap nenek.” kata Hyeon Chul berharap tangis Ji Yong reda.


Namun nampaknya Ji Yong tidak berkesudahan untuk menangis, ia malah menunduk menempelkan wajahnya pada punggung tangan Hyeon Chul.


Hingga Mira datang dan tentu saja terkejut dengan apa yang ia lihat. Mira berhenti melangkah, menatap neneknya dengan mata yang lebar.


Hyeon Chul pun menatap Mira berharap agar ibunya dapat meredakan tangis Ji Yong.


“Nenek, nenek kenapa?” tanya Mira setelah meletakkan gelas teh hangat itu ke meja.


Mira menoleh menatap Hyeon Chul penuh tanya. Namun, Hyeon Chul sendiri kurang tahu mengapa Ji Yong se menyesal itu padanya.


“Nenek, sudahlah. Hem? Nenek kenapa?” tanya Mira mengelus punggung Ji Yong.


Akhirnya nenek tua itu berhenti menangis, ia mengusap kasar pipi dan matanya yang basah.


“Mira, tolong katakan pada Dennis untuk menjaga Hyeon Chul baik-baik, ya?” pinta Ji Yong bersungguh-sungguh lalu meninggalkan mereka yang kebingungan.


Mira sungguh sangat terheran dengan Ji Yong, ia menoleh pelan pada Hyeon Chul yang sama persis ekspresi wajahnya dengan Mira sendiri.


“Hyeon Chul, nenek kenapa?” tanya Mira.


“Nenek, tadi meminta maaf lalu menangis.” jawab Hyeon Chul.


Mira berusaha untuk menemui Ji Yong dan menanyakan kejadian baru saja, namun Ji Yong mengunci pintu kamarnya dan berkata tidak mau diganggu.


Berusaha melupakan kejadian tadi, Mira kembali berkegiatan, sedangkan Hyeon Chul terus terdiam masih fokus terhadap perubahan drastis neneknya yang sebelum itu bersikap dingin.


Hingga suasana senja dan waktu menunjukkan pukul 5 sore, Dennis pun sudah pulang dengan tergesa-gesa.


“Jennie, Hyeon Chul. Ayah pulang sayang.” panggil Dennis.


Karena dari awal bahkan sebelum ia sampai ke rumah saja Dennis sudah berpikir yang tidak-tidak pada keadaan Hyeon Chul dan keluarganya, Dennis sudah sangat khawatir melihat keadaan rumah yang sepi.


“Hyeon Chul,” panggil Dennis menekan namun bernada rendah berjalan melewati ruangan depan yang tidak terlihat sosok makhluk hidup.


Dennis kembali berjalan menuju tiap kamar anak-anaknya dan kamarnya sendiri.


“Hyeon Chul,” panggil Dennis membuka pintu kamar Hyeon Chul.


Tak menemui Hyeon Chul dalam sekejap mata, Dennis mencari anak laki-laki itu di sudut-sudut kamar dan kolong kamar namun masih saja tak ada.


Menyerah dalam mencari Hyeon Chul di kamar bocah itu sendiri, Dennis kemudian mencari Jennie.


“Jennie.” panggil Dennis bersamaan dengan dirinya yang membuka kasar pintu kamar anak perempuannya.


Di sudut manapun juga Dennis tak menemukan Jennie, ia mulai frustrasi. Namun Dennis tak ingin gegabah, ia masih mempunyai 3 tempat rujukan.


“Mira!” teriak Dennis memasuki dapur yang juga tidak ada manusianya.


“Ya Dennis!” jawab suara sosok Mira nampaknya dari belakang rumah.


Dennis terdiam, ia lega akhirnya bisa menemukan sinyal keberadaan anak-anaknya dan istrinya.

__ADS_1


Dennis lalu berjalan lebih santai menuju pintu belakang rumah.


__ADS_2