Rumah Petaka

Rumah Petaka
Cerita Dari Hyeon Chul


__ADS_3

Masa lalu tentang rumah ini adalah hal yang paling ia takuti, memikirkannya saja membuat Hyeon Chul ingin menangis. Namun inilah yang ingin ia ceritakan pada Jennie agar kejadian 5 tahun yang lalu itu tak terjadi lagi dan menimpa pada Jennie dan orang tuanya, inilah hal pertama yang membuat semuanya kacau.


“Selamat ulang tahun Hyeon sayang!” kata Kakek Hyeon Chul menghampiri Hyeon Chul yang sedang duduk melihat TV.


Hyeon Chul dengan keterjutannya ia beranjak dari sofa dan ikut mendekati kakeknya lalu mengadahkan kedua tangannya untuk bisa menangkup kue kecil yang berada di tangan Kakek Hyeon Chul, namun pria tua itu tak memperbolehkan kue itu berada di tangan bocah yang baru genap berusia enam tahun itu.


Kakek Hyeon Chul melewati Hyeon Chul dan berhenti di ruang tamu lalu duduk di mana Hyeon Chul tadi duduk.


“Kakek! Aku ingin memakannya!” pinta Hyeon Chul sambil menggoyangkan lengan Kakeknya.


Kakek Hyeon Chul tertawa senang lalu ia mengambil pisau kue dan memotong kue itu menjadi dua.


“Ini untuk cucu kakek, ini untuk kakek!” jelas Kakek itu lalu mengambil bagiannya dan memakan kue itu.


Hyeon Chul tersenyum senang lalu ikut juga mengambil kue potongan itu dan memakannya pelan namun kue yang di genggam Hyeon Chul habis dalam waktu yang singkat.


“***Kakek! Apa ibu dan ayah belum datang?” tanya Hyeon Chul mengharap dengan mata yang terlihat berbinar**.


“Belum, mereka sedang sibuk. Nah! ada hadiah untuk Hyeon Chul dari ayah.” gumam Kakek Hyeon Chul lalu berbalik berjalan menuju dapur dan mengambil dua benda bersampul kertas kado berwarna ungu dan jingga*.


“***Ini dari ayahmu!” gumam Kakek itu sambil memberikan kado berwarna jingga**.


“Dan ini dari ibumu.” lanjut Kakek itu juga memberikan kado berwarna ungu*.


***Hyeon Chul melebarkan matanya dan mengambil kado berwarna jingga dan membukanya**.


“Wah! Mobil mainan.” gumam Hyeon Chul mengangkat bungkusan kardus yang cukup besar berisi mobil mainan yang diberikan oleh ayahnya*.


“***Hahaha, Kau menyukainya?” tanya Kakek itu ikut gembira melihat kebahagiaan yang muncul dari cucunya**.


Hyeon Chul mengangguk semangat tanpa melihat kakeknya*.


“Tapi kakek, apa kakek tak punya hadiah untukku?” tanya Hyeon Chul menatap cemas kearah kakeknya.


***Senyum gembira kakek itu menghilang dan membuat senyumnya lebih tipis dan tenang**.


“Maaf, kakek tak punya apapun untukmu.” jawab Kakek itu masih dengan senyum bersalahnya*.


***Hyeon Chul pun ikut tersenyum menenangkan lalu ia menghela napas panjang.


“Apa aku boleh meminta satu kebahagianku darimu?” pinta Hyeon Chul sambil mengadahkan tangannya***.


***Kakek itu melebarkan matanya dan menaikkan salah satu alisnya.


“Apa***?”


“Teman, apa aku bisa mempunyai teman? Kata kakek ada penghuni lain di sini selain kita dan kata kakek mereka melindungi kita. Apa boleh aku meminta kakek untuk menjadikan mereka temanku?” jelas Hyeon Chul menurunkan tangannya dan menatap kakeknya dengan wajah polosnya.


“Apa itu dikabulkan oleh kakekmu?” tanya Jennie memotong cerita Hyeon Chul.


Hyeon Chul mengangguk membenarkan pertanyaan Jennie dan berbicara lagi menjelaskan akhir cerita.


“Hyeon Chul! Ayah dan ibumu pulang!” teriak pria berjas dan menenteng sebuah tas berwarna coklat muda, pria itu tak lain adalah ayah Hyeon Chul yang di sampingnya ada istri barunya yang bermuka dua.


Hyeon Chul mendongak dan tersenyum senang mendengar suara ayahnya, segera ia menutup buku yang sebelumnya ia isi dengan beberapa kata tulisan Korea tersebut dan berdiri dari duduknya lalu menghampiri ayahnya.


“Ayah!” teriak Hyeon Chul dengan bahasa Korea yang kental sambil memeluk kaki ayahnya.

__ADS_1


Wanita yang berada di samping Ayah Hyeon Chul melirik sekilas Hyeon Chul namun tanpa peduli ia melewati kedua pria itu juga melewati ayah mertuanya yang tersenyum menatap kebersamaan kedua anak dan ayah itu.


“Kau sudah mendapat hadiah kami?” tanya Ayah Hyeon Chul membungkuk melihat anaknya tersebut.


"Eum, aku suka ayah. Tapi ibu hanya memberikanku surat 'selamat ulang tahun' dan sebuah gelang biasa, kenapa hanya seperti itu?"


Ayah Hyeon Chul tersenyum lalu mengangkat Hyeon Chul ke pundaknya kemudian berjalan menuju ruang tamu dan menurunkannya di sofa ruang tamu.


“Mungkin ibumu bingung mau memberimu apa, jadi ya, hanya itu.” jawab Ayah Hyeon Chul dengan santainya.


Hyeon Chul terlihat berfikir sebentar sebelum ia mengangguk tak mengerti.


“Ayah tadi membeli beberapa makanan di Busan, tolong bantu untuk memindahkannya di mangkuk .” pinta Ayah Hyeon Chul sambil mengeluarkan beberapa bungkusan di dalam tas cukup besar berwarna hijau muda.


___


Hyeon Chul dengan baju tidurnya melangkah keluar kamar setelah merasa ada yang memanggilnya di halaman belakang rumahnya, sesuatu yang kuat terus menariknya mengikuti angin dingin di luar.


“Kakek? Apa itu kakek?” panggil Hyeon Chul melihat di sekitarnya, di belakang rumahnya yang tertanam para tumbuhan liar.


“Hyeon Chul.” panggil kembali sesosok di sana.


Hyeon Chul terkejut menyadari jika itu bukanlah anggota keluarganya, ataukah keluarga lain?


“*****Siapa?” tanya Hyeon Chul dengan perlahan menjauh memundurkan langkahnya semakin mendekat dengan pintu belakang rumahnya*****.


“Sesuai keinginanmu, kita akan menemanimu.” kata sosok itu memperlihatkan dirinya secara tak terduga di depan Hyeon Chul.


Hyeon Chul semakin terkejut dan pastinya ia merasakan takut yang luar biasa hingga rasanya ia ingin menangis tapi ia masih mencoba untuk menghentikan laju buliran air mata tersebut.


Wanita paruh baya dengan rambut putih yang menjuntai itu tersenyum licik lalu mendekati Hyeon Chul yang melangkah mundur seiring nenek tua itu menghampirinya.


Hyeon Chul mencoba menenangkan diri dan mulai menatap semua barisan keluarga di sana.


“Bolehkah aku bermain denganmu?” tanya bocah yang seumuran dengan Hyeon Chul dan mendekati Hyeon Chul.


“N-nama-mu?” tanya Hyeon Chul pada bocah itu dengan terbata-bata.


“***Sa Na, Kim Sa Na.” gadis* ***itu berkata sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih*****.


“Sampai berapa bulan Kau bermain dengan mereka?” tanya Jennie menarik tubuhnya agar lebih dekat dengan Hyeon Chul.


“Tidak berapa bulan, hanya malam itu saja.” jawab Hyeon Chul sesudah berpikir sejenak.


“Sudah ya, aku mau tidur.” kata Hyeon Chul sambil berjalan menaiki ranjang dan menutup sebagain tubuhnya dengan selimut.


Sa Na terlihat kecewa mendengar perkataan Hyeon Chul, dengan perlakuan jahilnya ia mendekati Hyeon Chul dan menarik selimut Hyeon Chul.


“Ayo, bermain! Ini masih sore untuk Kau tidur.” kata Sa Na yang masih menggenggam selimut Hyeon Chul.


“Hei Sa Na! bermainlah sendiri seperti sebelum Kau mengenalku.” perintah Hyeon Chul marah dan kembali menidurkan tubuhnya.


***Sa Na tak kehilangan akal untuk membuat Hyeon Chul kembali bermain, lampu meja yang tepat berada di hadapannya ia nyalakan lalu matikan dan terus seperti itu hingga Hyeon Chul** terganggu dengan perilaku Sa Na*.


“Kau ini memang pengganggu! Aku bilang tidak ya tidak! Kenapa kau terus mengganggu ku?! Pergilah sana, monster!” teriak Hyeon Chul marah sambil melayangkan tangannya ke udara.


Sa Na begitu terkejut menerima perkataan dari Hyeon Chul, seiring waktu wajah Sa Na terlihat akan menangis dan beberapa saat tangisannya yang keras terdengar membuat Hyeon Chul mengusap telinganya.

__ADS_1


Namun sebuah suara langkah kaki terdengar di luar kamar Hyeon Chul membuat Hyeon Chul segera kembali mencoba tertidur meninggalkan Sa Na yang mulai mengganti tangisannya dengan suara tawa yang terlihat begitu bahagia.


“Kau sendiri yang memintaku untuk selalu bersamamu, tapi Kau membuangku setelah aku hanya sekali mengganggumu.” gumam Sa Na menatap Hyeon Chul tajam namun Hyeon Chul tak tahu itu karna ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Cklek!


Suara derit pintu terdengar dan mengalihkan tatapan tajam pada seorang Kakek yang memasuki kamar cucunya.


“Kau sudah tidur?” tanya Kakek itu pada Hyeon Chul yang masih mendengar jelas pertanyaan kakeknya tersebut.


“Kakek, Dia tak mau berhenti bermain.” terang Hyeon Chul sambil menunjuk ke arah Sa Na.


Kakek itu mengernyit sebentar sebelum ia mendekati cucunya. Setahu yang kakek itu lihat tak ada siapapun di kamar Hyeon Chul.


“Apa karna itu Kau segera mematikan lampunya saat kakek akan segera menemuimu? Heuh anak ini!” protes Kakek itu sambil mengusap kepala Hyeon Chul sesudah ia menghampiri Hyeon Chul dan duduk di tepi ranjang.


Namun langkah kaki terdengar kembali membuat Hyeon Chul melihat ke arah pintu.


“Hyeon Chul! Tidurlah! Kenapa Kau membuatnya masih terjaga?!” teriak Ibu Hyeon Chul mendobrak pintu Hyeon Chul.


“Aku ini ingin membuat Hyeon Chul tertidur, Yeon.” terang kakek itu lembut.


Brak! Brak! Brak**!


Pukulan keras yang teratur itu membuat ketiga manusia disana terkejut hebat, bahkan aura disana terasa benar-benar menyeramkan.


Wanita itu berbalik menuruni tangga dan kakek itu juga merasa ingin tahu dengan semua ini, dengan berat hati ia melepaskan tangan cucunya yang melingkar erat di pinggangnya dan berjalan keluar dari kamar Hyeon Chul.


Ya, kini hanya Hyeon Chul sendiri tak lagi ditemani dengan teman barunya Sa Na, tapi ia merasa Sa Na kembali lagi namun kini tidak dengan rupa wajahnya yang terlihat menggemaskan tapi wajah yang penuh darah dan memar di sekujur wajahnya.


“S-Sa Na?” panggil Hyeon Chul tak percaya akan rupa asli temannya itu.


“Aku membencimu Hyeon, kau membuangku dan keluargaku. Kami akan membalasmu!” teriak Sa Na sebelum ia menyeringai.


Hyeon Chul hanya bisa melebarkan matanya dan diam tanpa perlawanan, ditariknya salah satu kaki Hyeon Chul dan menggeret Hyeon Chul hingga jatuh dari ranjang.


“Kakek.” rintih Hyeon Chul mencoba menegakkan tubuhnya yang terasa remuk.


Dan tak berhenti dari itu sesuatu kekuatan kembali menarik Hyeon Chul.


“Kakek?! Aaa!” teriak Hyeon Chul meminta pertolongan dari kakeknya.


Tubuh kecil Hyeon Chul terbanting hingga membuat posisi tubuhnya ditepi perbatasan balkonnya, namun dengan cepat kedua tangan Hyeon Chul mencoba untuk memegang tembok pendek ujung balkonnya tersebut dan jika saja ia kehilangan satu detik untuk bergantung pada tembok itu mungkin saja ia akan jatuh dihalaman rumahnya.


“Hyeon Chul!?” teriak Kakek Hyeon Chul membuka pintu kamar namun ia tak mendapatkan cucunya tersebut.


“Kakek!” teriak Hyeon Chul kembali membuat Kakek itu segera menuju kebalkon namun Hyeon Chul dengan kepastian bahwa ia melihat sesosok wanita paruh baya yang duduk diujung kamar itu menggunakan rambutnya yang berubah sangat panjang untuk membuat Kakek Hyeon Chul terbanting sampai kedinding.


“Kakek.” lirih Hyeon Chul tak kuasa berteriak karna wanita paruh baya itu menatapnya dengan mata yang empat kali lebih besar dari manusia biasa dan dengan warna mata yang percampuran antara merah dan hitam.


Begitu jelas Hyeon Chul melihat pergerakan kakeknya dan mahluk itu dari kaca.


“Biarkan aku menyelamatkan cucuku.” gumam kakek itu terdengar oleh Hyeon Chul yang mungkin meminta pertolongan pada Tuhan.


Kakek itu mulai kembali beranjak dan mendekati Hyeon Chul.


“Hyeon Chul!” kata Kakek itu sambil berusaha menarik tubuh Hyeon Chul dari petaka ini.

__ADS_1


Dengan kekuatan alam mendadak angin begitu kencang hingga membuat semua barang dikamar Hyeon Chul terbanting dan rusak.


__ADS_2