
Mira lalu memasuki kamar, melihat Dennis yang masih tertidur nyenyak di kasur. Sebelum ikut tidur di samping Dennis, Mira terlebih dahulu ingin mencuci wajahnya.
Tentu saja Mira tidak berani malam-malam seperti ini harus ke kamar mandi. Namun memang di dalam kamar Dennis dan Mira itu sudah ada bilik kamar mandi yang memang berukuran lebih kecil dari kamar mandi di belakang.
Setelah Mira keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, ia akhirnya memutuskan untuk tidur.
Pagi di hari Sabtu yang menenangkan, Dennis tengah santai terduduk di meja teras dengan teh yang masih mengepul mengeluarkan uap hangat. Sedangkan Jennie dan Hyeon Chul tengah bermain tebak-tebakkan matematika di samping rimbunan pepohonan.
Hanya Mira yang masih di dalam rumah. Setelah mengepel lantai dapur, Mira menengok waspada takut ada orang yang akan masuk melihat dirinya sedang di depan kamar Ji Yong.
Mira lalu mengeluarkan kunci untuk kamar Ji Yong, ia segera memasukkannya ke dalam lubang pintu.
Cklek..
Pintu terbuka pelan dengan sendirinya mempersilakan Mira untuk masuk. Lalu Mira tanpa ragu-ragu lagi segera memasuki kamar Ji Yong, ia bermaksud mengambil tusuk rambut yang sepertinya menjadi alat media ritual penumbalan.
Mira mencari-cari di manakah tusuk rambut itu, karena di laci atau di sekitar lantai meja rias juga tidak ada keberadaannya.
Tiba-tiba angin halus dan dingin menerpa tubuh belakang Mira, setelah itu udara pun mulai menipis dan pengap.
Mira merasa ada sesuatu yang buruk akan mendekatinya, ia spontan menoleh memberanikan diri agar tidak merasa semakin takut.
Di belakangnya gelap, terasa tembok di belakangnya itu begitu jauh.
Brak! Bugh!
Mira segera menengok sesuatu yang bersuara itu, ternyata kardus yang terisi buku telah tergeletak menyamping membuat buku-buku yang masih di dalam beberapanya keluar.
Namun tiba-tiba salah satu buku yang terlihat sudah tua dan paling tebal itu terbuka secara cepat dan membuat buku itu menjadi dua bagian.
Mira penasaran, ia mendekati buku itu. Pertama-tama Mira hanya melihat dengan seksama, namun karena semakin penasaran ia akhirnya menyentuh buku tersebut dengan takut-takut.
Buku yang aneh, Mira tidak bisa mengartikan apa yang tertulis di buku ini. Hanya sebuah tulisan tanpa arti yang aneh.
Merasa tertantang ingin membaca tulisan aneh ini, Mira pun membacanya dengan suara.
__ADS_1
“Likki Hie Mazvoy.” gumam Mira.
Sesaat kemudian ia baru sadar bahwa mungkin saja ini adalah buku ritual untuk penumbalan.
Mira melebarkan matanya dan melempar pelan buku itu agar menjauh darinya.
“Mira,” panggil sosok suara Dennis.
Mira sontak menoleh pada pintu kamar yang terbuka, namun bukannya ada Dennis namun sosok pria bertubuh kering nan kurus dengan kepala botak tengah bergerak cepat akan menyekiknya.
“Aakh!”
Mira berteriak takut sambil tangannya tertahan kaku untuk bergerak.
“Mira!” panggil Dennis berlari mencari Mira.
Ia menyusuri ruang tengah namun tidak ada, lalu Dennis melihat pintu kamar Ji Yong terbuka. Dennis segera memasuki kamar Ji Yong.
“Mira.” panggil Dennis bergumam menggoncang tubuh Mira yang kaku.
“Hei, ada apa? Bagaimana jika anak-anak tahu? Beruntung mereka sedang asyik bermain.” kata Dennis menatap khawatir Mira.
“Dennis, aku takut sekali.” gumam Mira memeluk tubuh suaminya.
Dennis terdiam membelai kepala Mira, sedang kan matanya tertuju pada buku tebal itu.
“Apa yang Kau lakukan di sini?” tanya Dennis masih memeluk Mira.
Tersadar akan sesuatu yang harus Mira ungkapkan, ia segera melepaskan pelukannya dan menatap Dennis serius.
“Dennis, nenek. Nenek telah membunuh kakek.” beri tahu Mira kembali menangis mengingat hal itu.
Dennis mengernyitkan dahinya dan membuat cekungan di bawah bibir.
“Bukankah kakek meninggal terpeleset di kamar mandi?” tanya Dennis mempertanyakan.
__ADS_1
Mira mengangguk sambil menyeka terus air matanya yang sialnya selalu keluar.
“Iya, nenek menggunakan ilmu sihirinya untuk membunuh kakek. Dia, dia saat itu sedang melakukan ritual tumbal. Akh, aku kurang tahu apa yang sedang di lakukan nenek, tapi saat itu kakek datang dan meminta nenek untuk berhenti namun nenek tidak mau berhenti dan malah menarik kakek ke udara dengan tangannya yang tidak menyentuh kakek lalu Dia mendorong kakek sampai terbentur pintu kamar mandi yang terpaksa terbuka karena dorongan yang begitu kuatnya.” kata Mira berusaha tegar.
Enam tahun, enam tahun setelah meninggalnya kakek Mira baru tahu siapa yang membunuh pria baya rentan itu.
Dennis turut sedih mengetahui kenyataannya, ia tak bisa apa-apa kecuali hanya membantu Mira untuk menyeka air matanya.
“Ya ampun Mira, nenek mu benar-benar kejam.” gumam Dennis menatap sedih istri nya.
“Heuhm, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah menjadi masa lalu, ikhas kan saja, ya?” nasihat Dennis membelai kepala Mira memberi semangat.
“Tapi Den, sepertinya meninggalnya nenek tidak langsung membuat Eun Hyuk berhenti. Selagi masih ada ikatan entah apa itu, Eum Hyuk yang di penjara bisa saja membunuh target nya.” kata Mira mengarah pada seseorang.
Dennis berubah kembali berwajah serius, ia tahu siapa yang di bicarakan Mira.
“Siapa? Hyeon Chul?” tanya Dennis penasaran langsung ingin di jawab mengapa Eun Hyuk tetap kekeh.
“Aku masih ingat, Hyeon Chul kehilangan orang tua dan kakeknya sekitar 5 sampai 6 tahun yang lalu. Kemudian saat aku di perlihatkan siapa yang membunuh kakekku yang juga meninggal 6 tahun lalu, nenek berkata ia sedang membuat ritual penumbalan pengambilan darah bermarga Kim, namun tidak semua anggota keluarga yang meninggal, ada satu anak dari orang tuanya yang masih hidup karena nenek Ji Yong diganggu konsennya oleh kakek. Seharusnya, itu akan selalu menjadi ikatan kapan Hyeon Chul benar-benar akan menjadi tumbal selanjutnya untuk keluarga busuk Eun Hyuk.” perjelas Mira memprediksi.
Dennis mengangguk menyetujui pemikiran terbuka Mira.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dennis kebingungan harus kembali menghadapi hal seperti ini.
Mira ikut kebingungan, ia tapi harus cepat-cepat menemukan jalan keluarnya.
“Temui Eun Hyuk, paksa Dia untuk mengakui kejahatannya.” kata Mira untuk pertama-tama itu dulu yang bisa direncanakan.
Dennis mendongak menatap Mira sedikit terkejut, ia berpikir sebentar mempertanyakan ke-efektif-annya. Tak lama kemudian, Dennis mengangguk menyetujui.
“Bagaimana jika sementara Hyeon Chul dan Jennie pulang ke rumah saja?” usul Dennis mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka.
“Eum, itu juga bagus.” gumam Mira sambil tersenyum tipis.
“Ayo temui anak-anak kita,” ajak Dennis akhirnya.
__ADS_1
Ia lalu berdiri kemudian tangannya menganggapai tangan Mira yang berusaha beranjak dari duduk.