Rumah Petaka

Rumah Petaka
Bunuh Diri Karena Bersalah


__ADS_3

Melihat Ji Yong yang sudah mati, Dennis segera bergerak cepat. Ia berjalan kembali menuju Hyeon Chul yang masih menangis.


“Hyeon Chul. Tenanglah, ya?” pinta Dennis sambil mengangkat tubuh Hyeon Chul ke dalam.


Ketika Dennis dan Hyeon Chul dengan suara menangisnya melewati kamar Mira, tentu saja itu dapat membangunkan tidur Mira.


Namun Dennis tak peduli, ia masih berjalan menggendong Hyeon Chul dan mendudukkan anaknya ke sofa.


“Sudah, ya? Jangan menangis.” kata Dennis lalu mencari ponselnya.


Setelah menemukannya, Dennis segera menelepon polisi meminta mereka datang untuk mengambil jasad Ji Yong.


“Halo, ini adalah nomor Polresta Penajam Paser. Ada yang bisa kami bantu?” tanya pihak di sana tenang.


“Halo, pak. Di sini ada nenek tua yang meninggal bunuh diri di sumur, kami mohon petugas dapat segera datang.” jelas Dennis melirik Mira yang baru muncul dari balik tembok mengintip keadaan dirinya dan Hyeon Chul.


“Bunuh diri? Tolong bapak jelaskan di mana letak kejadian. Petugas kami akan segera berangkat.” kata pihak polisi sedikit terkejut.


“Letak kejadian bunuh diri di rumah pelaku, pak. Tepatnya di Kutai Barat, kompleks Jaya Raya nomor 9175, paling ujung dari kompleks dengan halaman luar yang besar.” jelas Dennis menatap Mira yang mulai mendekati Hyeon Chul.


“Baik, petugas kami akan segera datang. Sebagai prosedur, silakan sebutkan nama Anda dan siapa Anda di sana.”


“Hyeon Chul, wae geurae?” tanya Mira serak sambil menepuk beberapa kali bahu Hyeon Chul lembut.


“Halmoni, halmoni. Halmoni.” gumam Hyeon Chul di sela-sela senggukannya.


Mira mengernyit, ia masih tidak mengerti kenapa Hyeon Chul hanya menjawab nenek di pertanyaannya.


“Ya, terima kasih pak.” ucap Dennis lalu menutup teleponnya.


Dennis tak tega mengatakan ini pada Mira, ia dengan mata tajamnya terus memandang Mira yang terdiam.


“Ji Yong meninggal,” kata Dennis.


Pernyataan yang sikat dari Dennis itu tentu dapat membuat Mira sakit jantung karena artinya.


“Huh?!” bentak Mira terhuyung ke belakang, hampir jatuh.


“Di mana?!!” seru Mira frustrasi.


Dennis berdiri, ia siap menjaga Mira yang pastinya begitu terpukul depresi mengetahui nenek tersayangnya telah meninggal bukan karena waktunya, namun nenek itu sendiri yang mengatur waktu kematiannya.


“Di dalam sumur.” jawab Dennis berat hati sambil memegang kedua lengan atas Mira.


“Tidak,” bisik Mira menggelengkan kepalanya menolak percaya.


Mira dengan jalan yang terhuyung-huyung, berlari lemah menuju pintu belakang rumah. Sedangkan Dennis mengikuti Mira.


“Nenek!!?” panggil Mira merintih.


Mira lalu membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu di pembatas sumur, air matanya beruraian jatuh ke dalam sumur.


“Nenek?!” teriak Mira menggema suaranya di sumur.


“Tidak, nenek, tidak!!” gumam Mira merintih bersatu dengan tangisannya.


Jantung Dennis serasa tertusuk, ia harus mengambil banyak oksigen agar dadanya tak berasa terbebani.


“Mira, sudahlah. Nenek sudah meninggal.” kata Dennis menatap sendu Mira.


Waktu telah berlalu, polisi datang dengan alat-alat yang bisa mengangkat tubuh Ji Yong keluar dari sumur. Tim forensik juga sudah hadir memeriksa keadaan Ji Yong.


Setelah melihat tak ada kejanggalan di tubuh Ji Yong, pihak polisi tidak akan melanjutkan kasus ini ke otopsi. Jasad Ji Yong di serahkan pada keluarga Mira untuk dikremasi.


Satu persatu rombongan keluarga Mira dan Dennis telah hadir, mereka memeluk hangat memberi semangat pada Mira dan keluarga.


Tidak ada wajah bahagia di sana, hanya relungan tangis yang merenyuhkan hati.


“Mira,” panggil paman Mira menyentuh bahu Mira.


Mereka lalu saling berpelukan dengan Mira yang menangis semakin kencang di bahu pamannya.

__ADS_1


“Yang sabar, ya.” gumam paman Mira ikut sedih atas meninggalnya mertua wanitanya.


Dennis memandang sedih Mira, ia sesekali melihat Jennie yang menangis terdiam di pangkuannya.


Memang acara ini diselenggarakan secara tertutup, tidak ada tetangga yang datang.


Jasad Ji Yong telah terkubur, membuat beberapa anggota keluarga Mira dan Dennis berlarut pergi. Menyisakan beberapa anggota keluarga Mira yang dekat dengan nenek Ji Yong.


Jennie dan Hyeon Chul diperintah untuk tidur siang di kamar mereka masing-masing, agar orang tua mereka dan para sesepuh berbincang.


“Mira, Dennis. Rumah ini mau diapakan, ya? Sudah terlalu tua.” kata bibi Mira prihatin melihat atap rumah.


“Diwariskan ke dirimu saja, ya? Anak-anak kami ini sudah mendapat banyak harta. Tinggal Kau saja yang tidak punya apa-apa.” kata bibi Mira sengaja menyombongkan anak-anaknya.


Mira mendongak menatap tajam tak terima dengan pengucapan bibinya. Dennis tentu sebagai suami Mira ikut merasa terhina, ia menatap tak suka bibi Mira.


“Yaa, tak apa kalau ini diwariskan ke kami, tak apalah membuat Mira sedikit lebih kaya. Sebenarnya aset Mira sudah banyak yang aku berikan padanya. Bibi tahu `kan? Gedung 4 lantai itu aku berikan pada Mira, perlantainya disewa 100 juta perbulan. Lalu juga Mira mempunyai saham dibeberapa perusahaan, perbulannya sekitar 200 juta Dia dapatkan.” ungkap Dennis menyombongkan Mira.


Bibi Mira terdiam, ia skakmat dengan penjabaran Dennis.


“Tak apa, ini punya kami `kan? Biar nanti rumah ini direnovasi.” lanjut Dennis melihat kerusakan-kerusakan atap dan tembok rumah.


“Mira, Kau tinggal di sini, ya? Orang bilang, roh orang meninggal akan tetap di rumahnya dalam 42 hari. Tidak mungkin `kan? Ibu ditinggal sendirian di sini?” pinta bibi Mira menatap sendu.


Mira terdiam, ia menoleh meminta izin pada Dennis yang nampak keberatan.


“Eum, tak apa.” jawab Dennis setengah hati.


Mira kemudian tersenyum tipis, ia menatap berterima kasih pada Dennis.


“Iya bi, kita akan tinggal di sini.” balas Mira pada bibinya yang tersenyum tipis.


“Terima kasih, ya. Dennis Mira. Kalau begitu kami pamit pergi. Ayo, yah.” kata bibi Mira mengambil tasnya.


“Kami pergi dulu, ya Mira Dennis.” pamit paman Mira tersenyum manis.


Anggota keluarga itu kemudian pergi, kembali hanya Dennis dan Mira yang ada di sana.


Dennis melirik pada Mira, ia tahu dirinya dengan istrinya itu belum berbaikan juga.


“Sebenarnya Kau `kan yang membunuh nenek?” tuduh Mira langsung tanpa menatap Dennis.


Keinginannya untuk berbaikan pun segera lenyap ketika Mira menuduhnya sejahat itu.


“Maksudmu apa?”


“Jelas-jelas nenek meninggal beberapa jam setelah Kau berbicara padanya. Kau mengatakan apa hingga nenek bunuh diri?” tanya Mira menuduh Dennis.


Nampaknya Mira benar-benar sedih tak mau ditinggal oleh Ji Yong, hingga ia berani sampai menatap nyalang Dennis dengan mata sembab.


“Apa? Seburuk itu pikiranmu padaku?” tanya balik Dennis kini sungguh kecewa dan marah pada istrinya.


“Apa Kau ini istriku?”


Prank!


Gelas Dennis geser cepat hingga benda itu tidak lagi berpijak ke meja, membuat suara yang nyaring dan mendebarkan.


Mira tak gentar, walau kelopak matanya sedikit bergetar turun ketika Dennis memperlihatkan sisi tempra-mentalnya, Mira tetap memandang nyalang Dennis.


“Sesalah apapun nenek, Dia tidak pantas untuk mendapat ancaman dari cucunya sendiri.” kata Mira bergetar suaranya.


Dennis masih dengan bakat tenangnya disaat kepalanya hampir meledak marah, ia sedikit mengangkat wajahnya memandang Mira rendah.


“Ku rasa aku salah memilih istri,” gumam Dennis tak berperasaan.


Hati Mira terhunus sakit dihina seperti itu oleh Dennis, ia tak bisa lagi menahan air matanya.


“Iya! Makanya Kau pergilah cari istri yang lebih rendah dariku!!” seru Mira beranjak cepat dari sofa dan berlari menuju kamar.


Dennis tak tahu Mira akan semarah ini, ia segera berjalan menjemput Mira yang sudah memasuki kamar.

__ADS_1


“Mira,” panggil Dennis menahan pergelangan tangan Mira.


Merasa tak sudi disentuh oleh Dennis, ia menarik-narik dan mengangkat-angkat tangannya memberontak dari genggaman Dennis.


“Mira cobalah untuk terbuka sedikit. Ini bukan sepenuhnya atau mungkin tidak ada kaitannya aku dengan kematian nenek. Kau tidak ingatkah saat Kau diperlihatkan sosok berkepala tidak bertubuh di dapur? Nenek yang begitu tidak menyukai Hyeon Chul? Nenek yang mempunyai hubungan dekat dengan Eun Hyuk? Nenek yang selalu menghindar ketika kita menanyai apakah Dia mempunyai kedekatan dengan sesuatu yang seperti itu. Dan lain-lain! Coba Kau pikirkan, sayaang.” jelas Dennis sebenarnya tidak ingin lagi bertengkar dengan Mira.


Istrinya terdiam, tak lama suara tangisan frustrasi yang hampir 10 jam Mira tahan telah lepas juga didekapan sang Suami.


Dennis hanya diam, ia hanya membelai rambut Mira dengan tangannya yang lain menepuk punggung Istrinya itu.


Satu jam kemudian...


Lelah berdiri selama satu jam, akhirnya Dennis dengan pelan-pelan menggiring Mira agar sama-sama terduduk di atas ranjang.


Nampaknya tangis Mira lambat laun mulai sedikit reda, Dennis masih dengan kuat dan sabarnya menepuk dan mengelus Mira.


“Shuuz, sudah, ya?” gumam Dennis lelah menimang bayi sebesar Mira.


“Mengatuk, huh?”


Dennis lalu menidurkan Mira, ia melihat Mira yang sudah menutup kelopak matanya. Namun tak lama mata Mira kembali terbuka.


“Dennis,” panggil Mira melihat Dennis yang terduduk menatapnya.


“Heum?”


“Terima kasih, ya. Aku mencintaimu.” kata Mira tersenyum sebisanya.


“Iya, aku juga mencintaimu.” balas Dennis lembut lalu mengecup dahi Mira.


Dan cerita untuk Dennis dan Mira masih berlanjut, tapi Author malas menulisnya karena Author jomblo😧.


Hyeon Chul dan Jennie pun sudah bangun, mereka segera disambut oleh kedua orang tuanya yang ingin berbicara penting.


“Hyeon Chul Jennie, karena kita akan terlalu lama tinggal di sini. Maka kalian akan disekolahkan di sekitar kompleks ini.” beri tahu Dennis berat hati.


“Iya `kah? Yeay, akhirnya sekolah!” ujar Hyeon Chul untuk waktu ini melupakan ingatannya tentang kejadian bunuh diri neneknya.


Dennis tak menyangka Hyeon Chul se-senang ini, Dennis dan Mira jadi ikut tersenyum senang melihatnya.


“Di sekolah yang ayah pilihkan itu berbahasa Inggris, jadi Hyeon Chul tidak perlu takut.” kata Dennis melanjutkan.


Hyeon Chul tambah senang mengetahui bahasa yang digunakan adalah bahasa internasional.


Jangan pikir anak panti asuhan seperti Hyeon Chul tidak mengetahui bahasa Inggris, ia masih ingat ajaran ayahnya mengenal bahasa Inggris agar mewanti-wanti jika Hyeon Chul tersesat di suatu tempat di luar negeri. Karena memang sudah 3 kali Hyeon Chul tiba-tiba tersesat terlepas dari tim karena dirinya yang terlalu bersemangat mencari hal yang tidak diperlihatkan oleh sebuah tim wisata.


“Hyeon Chul bisa bahasa Inggris `kan?” tanya Dennis.


“Yes, of course.” jawab Hyeon Chul mengundang gelak tawa ringan.


“Ya sudah, ayo makan. Ibu sudah buatkan makanan.” kata Mira segera setelah mereka selesai tertawa atau lebihnya terkekeh.


Mira, Dennis, Hyeon Chul dan Jennie lalu bersama-sama melangkah menuju dapur.


Entah. Mira, Dennis ataupun Jennie kalau makan tanpa ada selipan bicara itu tidak enak rasanya. Karena itu, Dennis pun memulai pembicaraan.


“Hyeon Chul, nanti kalau kalian bersekolah tolong jaga Jennie, ya?” pinta Dennis menatap Hyeon Chul.


“Eum, tentu saja ayah.” balas Hyeon Chul sebelumnya terdiam meresapi perkataan Dennis ayahnya.


“Oppa, bukankah katanya Kau melihat kejadian saat nenek meninggal? Memang bagaimana nenek meninggal? Tidak benarkan beritanya kalau nenek jatuh ke sumur?” tanya Jennie benar-benar penasaran.


Hyeon Chul terlihat kembali tak bersemangat, sangat jelas di wajahnya bahwa ia sangat takut mengingat kejadian itu kembali.


Dennis pun yang mendengarnya merasa sangat bersalah pada Hyeon Chul. Ia pun segera menegur Jennie.


“Jennie, jangan bertanya seperti itu. Jika nenek mendengarnya, nenek pasti sedih mengingat kembali kejadian meninggalnya. Sudah, ya? Nanti jika Kau sudah remaja, Jennie pasti akan tahu sendiri.” tegur Dennis halus beserta mengajarkan Jennie.


To Be Continue


__ADS_1




__ADS_2