
"Ayo kita pulang. Perjalanan kita masih panjang" ujarnya lirih sambil mengandeng Tangan Amel dengan lembut. Mereka pun berjalan beriringan. Entah mengapa, setiap mendapat perlakuan manis dari bosnya itu hatinya terasa nyaman.
Sebelum Aldo datang.
Amel yg merasa kepalanya terasa sakit, ia pun menyadarkan kepalanya di bangku. Amel pun tak menyadari, jika sedari tadi, ia di perhatikan oleh seseorang. Memang pantai hari ini sangat sepi. Pantai akan ramai jika memasuki hari pekan atau libur panjang.
Pria tersebut memanggil temanya dan menghampiri Amel. Tangan pria tersebut langsung membelai wajah Amel. Sontak Amel terkejut dan membuka matanya. Amel yg kesal langsung menampar pria yg berani menyentuhnya. Setelah itu, ia pun menjauhkan tubuhnya dari mereka berdua.
Namun, bukannya takut, kedua pria itu malah semakin berani. Amel pun mencari cara untuk menjauh dari mereka. Namun belum sempat melarikan diri, salah satu pria itu berhasil meraih tangannya. Sontak Amel semakin takut. Amel panik. Apa yg harus ia lakukan.
Amel berharap bos kutupnya itu akan segera datang, dan menyelamatkannya. Di saat Amel sudah sangat ketakutan, datang lah seseorang yg langsung menghajar preman itu hingga terkapar.
Buk...
Buk..
Buk..
"Jangan berani ganggu dia. Atau tangan kamu mau saya patahkan?" Bentak Aldo. kedua preman itu langsung berlari terbirit-birit.
Ternyata orang tersebut bosnya. Tubuh Amel gemetar. Ia sangat takut. Tak terbayang, jika bosnya itu tidak segera datang entah, apa yg akan terjadi padanya.
Tubuhnya yg bergetar, langsung terasa tenang. Saat bosnya itu memeluknya. Amel seperti pernah merasakan pelukan itu. Namun lagi-lagi ia tak dapat mengingatnya.
Dalam perjalanan, mereka hanya diam. Tak ada satu orang pun yg bersuara. Mereka tengelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga sampai di Jakarta. Amel masih tidak menyangka. Kini Amel sudah menyandang status sebagai kekasih CEO. Namun bukanya bahagia hatinya semakin sedih. Andai saja ini semua tak akan terjadi. Ia tak akan mungkin menjual harga dirinya.
Kini mereka sudah sampai di apartemen Aldo. Aldo pun segara mengambil benda pipih miliknya dari sakunya, kemudian ia mengirimkan sebuah pesan kepada Dika. Setelah itu Aldo bergegas ke kantor.
Setelah kepergian Aldo, Amel memilih beristirahat. Kini ia sudah terlelap ke alam mimpi. Baru sebentar ia tertidur, terdengar suara bel berbunyi. Amel yg merasa terusik, ia pun terbangun.
"Siapa, sih ganggu aja." Ujarnya kesal dan bergegas membuka pintu.
Ceklek
Terlihat seorang wanita yg membelakangi Amel.
"Maaf, mau cari siapa?" tanya Amel memastikan.
"Kamu" Teriak wanita itu yg tak lain adalah Alda.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Alda dengan nada sedikit di tekan.
"Eh, mbak Alda. Maaf, mbak. Beneran deh saya gak ada maksud buat merebut Calon suami mbak. Beneran mbak. Saya melakukan ini karena terpaksa" ujar Amel yg merasa bersalah.
"Maksud kamu?" tanya Alda dengan tatapan mengintimidasi.
"Mari, kita masuk Mbak. Nanti saya akan menjelaskannya" ujar Amel sambil melangkahkan kaki.
Amel, sangat takut. Bagai mna jika Alda akan menghajarnya seperti yg ada di film-film? Amel takut jika Alda akan menjambak dan mencakar nya. Kini ia kembali dalam ketakutan.
"Sekarang, jelaskan. Kenapa kamu, bisa ada disini" sambil menatap waja Amel dengan sorot mata tajam
__ADS_1
"Ma, maaf Mbak. Begini, pak Aldo meminta saya menjadi pacar pura-pura nya. Karena saya sedang membutuhkan uang, jadi saya menyetujuinya. Tapi Mbak jangan khawatir. Ini hanya untuk enam bulan kedepannya. Setelah itu, saya akan pergi menjauhi kekasih Mbak. Saya janji" jelasnya sambil terbatah-batah karena takut.
Alda yg mengerti,ia pun menyusun rencana agar dapat menjadikan Amel sebagai senjata untuk menaklukan hati Abangnya itu.
"Baik lah, saya akan meminta penjelasan kepadanya" ujar Alda sambil mengambil benda pipih miliknya. Ia pun segera mengirim chat kepada abangnya itu sambil tersenyum licik
Aku tunggu, sekarang. Atau aku akan bilang ke ibu kalau Abang membawa wanita ke apartemen. Isi chat tersebut.
Saat Aldo sedang berkerja, terdengar notifikasi dari henponya. Segera ia mengambilnya dan membukanya. Sontak matanya membulat. Tanpa pikir panjang Aldo segera bergegas pulang. Dalam hati, ia sangat kesal. Kenapa adiknya itu harus ke apartemen nya. Padahal sudah berulangkali ia berbicara pada adiknya itu agar tak datang ke apartemen nya. Namun, apa yg terjadi. Bisa-bisanya adiknya itu mengancamnya. Lihat saja, jika ia berani macam-macam. Akan aku memberi pelajaran.
15 menit berlalu. Aldo sudah sampai di apartemen. Biasanya ia akan memakan waktu 25 untuk sampai di apartemen. Karena panik,ia mengemudi dengan kencang. Dan ini lah dia sekarang. Sudah berada di apartemen. Segera ia bergegas masuk dengan langkah lebar.
Alda yg melihat saudara kembarannya yg tergesa-gesa, ia tersenyum puas.
"Wah, lihat lah Mel. Siapa yg datang?" Ujar Alda sambil tersenyum lebar.
"Gak usah basa-basi. Apa yg kamu mau?" Ujar Aldo dengan raut wajah datar dan sedikit ketus.
"Santai, Bang. Sabar dikit kenapa" ujar Alda cengengesan.
"Apa, Abang?" teriak Amel yg terkejut.
Sontak Alda dan Aldo menatap Amel. Amel pun langsung menutup mulutnya mengunakan tangan.
"Hahaha, kamu mikir apa Mel. Kamu kira dia calon suamiku ya?" Tunjuk Alda sambil menahan tawa.
Amel yg di tanya seperti itu, ia sangat malu. Ia tak berani menatap ke pada Aldo. Amel yakin tatapannya kali ini pasti menakutkan. Seremnya melebihi hantu-hantu yg bergentayangan. Sementara Alda tak henti-hentinya tertawa. Sungguh sangat lucu sekali.Dalam hati Amel sangat kesal.
"Bisa, Diam gak? Kalau kamu masih tertawa pulang lah" Bentak Aldo kepada Adik semata wayangnya itu.
"Is, Abang. Gitu aja ngambek." Ujar Alda sambil berusaha agar tidak tertawa.
"Ada apa kamu kemari?" Tanya Aldo dengan nada sedikit di tekan.
"Ibu, minta Abang pulang dan menagih janji Abang" jelas Amel serius.
"Baiklah. Kamu tenang saja" jawab Aldo santai.
sementara Amel hanya menjadi pendengar yg baik, Adik dan kakak tersebut.
"Oo,iya Mel. Bisa tinggal kan kami berdua" Pintanya sambil menatap ke arah Amel.
"Baiklah, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Amel sambil berlalu meninggalkan mereka berdua. Setelah kepergian Amel, Alda pun kembali bersuara.
"Bang, Abang gak merasa ada yg aneh dengan Amel?" Sambil menatap wajah Aldo.
"Apa maksud mu? Abang tidak mengerti" tanya Aldo yg pura-pura tidak tahu.
"Sudah lah, Abang tidak usah pura-pura begok. Apa mungkin dia itu Mesi? Tak mungkin bang di dunia ini ada seseorang yg seratus persen sama. Kecuali kembar identik. Apa mungkin dia Saudara Mesi, atau mungkin dia adalah Mesi?" Ujar Alda serius.
"Abang juga tidak tahu. Abang bingung"Ujar Aldo.
__ADS_1
"Abang sudah mencari tahu siapa dia? Maksudnya identitas dia?" Tanya Amel antusias.
"Sudah, Abang sudah meminta Dika mencari tahunya"
"Oke, selanjutnya ini tentang Amel. Kenapa Abang berani sekali membawanya kemari? Abang tidak takut kalau sampai ibu atau Abang Faris tahu? Bisa habis Abang jadi perkedel" jelas Amel serius.
"Abang, tahu. Terus Abang harus bagaimana? Abang, tidak tega melihatnya tinggal di sebuah kost yg sangat kecil dan kumuh" Ujarnya lesu.
"Kalau menurut aku si Bang, mending Abang pulang kerumahnya saja, dan biarkan Amel tinggal disini. Itu akan lebih baik dan Aman" Saran Alda.
"Kamu benar. Baiklah nanti Abang akan pulang. Bagai mana persiapan pernikahanmu? Apa sudah selesai?" tanya Aldo sambil membelai rambut Alda.
"Sudah hampir tujuh puluh lima persen Bang" sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aldo.
Walau Aldo sangat dingin dan kaku, namun saat bersama adik kembarnya itu ia sangat lembut dan perhatian. Alda pun begitu. ia akan selalu manja kepada saudara kembarnya itu. Sejak Faris menikah, Aldo lah yg mengantikan peran Faris. Kini saat menjelang hari pernikahan Adiknya itu, ia merasa berat dan sedih. Ia takut kehilangan sosok yg ia sayang. Namun demi kebahagiaan adiknya itu, ia rela melepasnya.
" Oh ya bang. Cepat atau lambat ibu pasti tau tentang Amel. Apa yg Abang akan lakukan?" tanya Alda lirih
"Entah lah. Nanti akan Abang pikirkan. Namun sebelum itu, kamu harus janji, tidak akan memberitahu siapa pun" jelas Aldo.
"Abang tenang saja. Percayakan sama aku.semoga apa yg kita inginkan terkabul Bang. O, iya Bang. Aku pulang dulu ya, takut ibu nyariin. Tadi soalnya aku pamit cuma sebentar" Pamit Alda.
"Baiklah, hati-hati. Salam buat ibu dan Ayah"Ujar Aldo. Alda pun hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan beriringan. setelah punggung Alda mulai menjauh. Aldo mencari keberadaan Amel. ia pun mengetuk pintu kamar Amel.
Tok...
Tok...
Tok..
"siapa..?" teriak Amel dari dalam
"Saya. Keluarlah saya mau bicara" teriak balik Aldo.
Amel yg mendengar pun segera membuka pintu.
cek lek
"Ada apa?" tanya Amel
"ini, untuk kamu" sambil memberikan paper bag yg ia bawa.
Apa yg Aldo bawa ya?ππ
Maaf Author gantung sebentar.πππ
Terimakasih yg sudah sabar menunggu
Jangan lupa like komennya ya biar author semangat ππππ
Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaππππ
__ADS_1
Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburπππ