
Saat membuka pintu,ia melihat pria tersebut adalah pria yang ia kenal, ia pun langsung memeluknya berharap dapat ketenangan. Begitu pun pria tersebut. Ia tanpa sadar membalas pelukan Silvi. Ya nyaman itu yang saat ini mereka rasakan.
"Tenang lah." sambil mengelus- elus punggung Silvi.
"Kenapa kamu tega bang. Apa salahku?" sambil merintih menangis pilu.
Dika yang mendengar tangisan Silvi pun hatinya merasa nyeri. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Tapi satu yang pasti, ia tidak sedang baik-baik saja.
Silvi terus menangis tanpa henti. Ia menumpahkan segala nya yang ada di hatinya. Ia susah tidak dapat mengendalikan dirinya. Ia tidak perduli akan rasa malu Langi atau mungkin Dika akan mengejeknya.
Satu yang pasti semoga ia dapat menjadi lebih baik lagi. Setelah tangisan Silvi mereda. Dika pun pelan-pelan menegangkan pelukannya. Ia langsung mengambil sapu tangan dan memberikan kepada Silvi.
" Te-terimakasih" Ujar Silvi masi dengan menunduk.
Dika pun tak menjawab. Ia hanya mengangguk kan kepalanya. Setelah itu ia melihat Di kening Silvi penuh darah. Tanpa pikir panjang ia pun langsung mengendong Silvi dan membawa nya ke dalam mobilnya.
"Lepasin. Loe mau apain gue" ujar Silvi panik sambil memukul2 dada Dika.
Dika tak menjawab. Ia langsung membawa Silvi kedalam mobil dan langsung menginjak gas mobilnya.
Sepanjang jalan mereka hanya diam. Setelah melihat klinik, Dika langsung mengendong Silvi ala bridal style dan langsung di sambut oleh perawat. Setelah meletakkan di ranjang di dalam ruangan, Dika hendak pergi. Namun Silvi menahannya.
"Plase, gue takut. Jangan tinggalin gue sendiri"ucapnya lirih dengan wajah memohon.
Dika yang melihat Wajah lembut Silvi, ia pun luluh. Bagaimana bisa? Entah lah Dima juga tidak tahu. Dika yang dinginnya sebelas dua belas dengan Aldo. Kini dapat luluh hanya dengan ucapan Silvi. Padahal sekian banyak wanita yang mengejarnya ia cuek. Ia tak perduli walau wanita itu mandi darah sekalipun. Entah lah ia sendiri juga binggung akan hala ini.
__ADS_1
Akhirnya ia memilih duduk di samping Silvi. Silvi yang merasa nyeri saat di obatin pun refleks mengengam tangan Dika. Dika pun terkejut. Namun sebisa mungkin, ia tetap memasang wajah datar dan dinginnya.
Setelah beberapa menit akhirnya luka Silvi sudah dapat di obati. Silvi pun dim8nta untuk dirawat dan belum di perbolehkan pulang sampai keadaan membaik. Dika pun langsung mengiyakan kemauan dokter jaga yang ada disana.
"Mana no keluargamu? Biar saya memberi tahu keaadaanmu pada mereka!" Ujar Dika tode poin.
"Plase, jangan. Aku mohon jangan beritahu siapa pun. Aku tidak mau menambah masalah mereka lagi" ucapnya tertunduk lesu.
"Baiklah. Kamu yang minta. Kalau begitu gue pulang dulu" Ujar Dika datar.
Silvi pun hanya mengangguk kan kepalanya. Sebenarnya ia ingin meminta Dika menemaninya. "Namun apa mau dikata oa harus tahu diri ia siapa. Lagian kalau Dika di sini dan ketahuan dengan kekasihnya, bisa habis ia Dijambak-jambak lagi sama dia." gumamnya dalam hati sambil menteleng-gelang kepala.
Akhirnya ia pun memilih tidur saja ketimbang memikirkan hal yang tidak-tidak.
Dika.
Akhirnya ia pun kembali. Namun saat hendak masuk, ia melihat Silvi yang geleng-geleng kepala sendiri. Luci ya. Itu yang Dika rasakan. Dika pun masih mengamati Silvi dari kemajuan. Setelah melihat Silvi tertidur, baru ia masuk dan duduk di sampingnya.
Pagi hari
Dika pu sudah terbangun saat Azan subuh berkumandang. Namun berbeda dengan gadis yang ada di sampingnya. Entah karna obat tidur atau karna memang gadis itu pemalas. Dika pun hendak keluar untuk sholat subuh.
Sayup-sayup, Silvi melihat Dika yang hendak keluar dari klinik. Silvi pun mengucek kedua matanya untuk memastikan apakah benar yang ia lihat. Namun saat posisi sudah seratus persen tersadar, ia tidak dapat menemukan keberadaan Dika.
"Ah, mana mungkin dia disini" ujar Silvi lirih. Ia pun kembali tertidur.
__ADS_1
Setelah selesai sholat subuh, Dika mencari pedagang kaki lima. Ia pun membeli dua buah bubur ayam untuknya dan untuk Silvi. Kebetulan perutnya sudah keroncongan. Tadi malam ia melupakan waktu makan malamnya.
Setelah mendapatkannya, ia pun langsung bergegas menghampiri Silvi. Saat ia masuk.ia kembali melihat pemandangan Silvi yang masih tertidur. Ia pun menunggu silvi terbangun. Ia tidak berani terlalu dekat dengan sahabat Bosnya itu.
Apa lagi ia tabu jika Silvi adalah kekasih Toni. Ia harus segera menjauh dari Silvi sebelum wajah tampan nya akan babak belur di hajar Toni.
Ia pun menghubungi Bosnya dan memberi tahu jika Silvi dan dia terlibat kecelakaan. Setelah selesai menghubungi Aldo. Terlihat pergerakan dari Silvi.
"Kamu sudah bangun?" Ujar Dika datar tanpa ekspresi.
"Hem" jawab Silvi seenaknya.
Dika pun melirik ke arah Silvi. Terlihat jika Silvi sedang berusaha meraih segelas air yang lumayan jauh dari jangkauannya. Dika pun langsung berjalan dan mengambil segelas air tersebut dan menyodorkan kearah Silvi.
"Bilang kalau tidak bisa" ketua Dika.
Silvi pun hanya mendengus mendengar perkataan Dika. Setelah itu, Dikaoun menyerahkan sebuah bubur ayam yang masih hangat.
"Makan lah" Ujar Dika dingin. Tanpa menjawab, Silvi pun langsung meraih kotak tersebut. Namun siap. Tangan kanannya terpasang infus. Jadi mau tidak mau ia harus makan mengunkan tangan kiri.
Namun karna todak terbiasa, ia pun sedikit kesusahan. Dika yang melihat pun,langsung merebut bubur tersebut.
"Biar saya suap."
"Tidak isah. Saya bisa sendiri" saut Silvi yang tidak mau.
__ADS_1
"Sudah lah. Saya malas berdebat" Ujar Dika tegas.
Silvi pun yang mendengar, mau tidak mau ia menurut. Mereka pun saling pandang. Hingga suapan terahir, terdengar suara pintu yang terbuka.Kedua insan itu pun menghadap kearah suara.