Sang Penakluk Hati CEO

Sang Penakluk Hati CEO
Bab 21


__ADS_3

"Siapa..?" teriak Amel dari dalam.


"Saya, Keluarlah. Saya mau bicara" teriak balik Aldo.


Amel yg mendengar pun segera membuka pintu.


cek lek


"Ada apa?" tanya Amel


"ini, untuk kamu" sambil memberikan paper bag yg ia bawa.


Amel melirik sekilas paper bag yg Aldo berikan, tanpa berniat mengambil nya. Aldo, yg melihat tak ada pergerakan dari Amel. Dia Langsung meraih tangan Amel, dan meletakkannya di tangan.


"Apa ini?" Tanya Amel sambil mengegam paper bag tersebut.


"Buka, dan lihat lah" Jawab Aldo santai.


Amel pun segera membukanya, ternyata isinya sebuah iPhone keluaran terbaru. Dan untuk masalah harga, jangan di tanya lagi. Satu iPhone ini bisa untuk membeli 30 henpon jadul nya.


"Ini, buat saya?" Tanya Amel penasaran.


"Menurut mu? Nomor kamu yg lama sudah ada di sana. Jadi kamu bisa langsung menggunakannya" jelas Aldo sambil menatap Amel lekat-lekat.


"Tidak, ini terlalu mahal. Saya tidak pantas menggunakannya" jelas Amel, sambil menyerahkan paper bag tersebut.


"Tidak, Itu milikmu. Apa kamu lupa, siapa kamu sebenarnya?" Ujar Aldo dengan sorot mata tajam.


"Maksudnya? Saya tidak mengerti!" Ujar Amel yg belum paham.


"Apa kamu sudah lupa, atau pura-pura lupa? Mna mungkin kamu akan menggunakan barang-barang murahan. Kamu lupa siapa saya?" Ujar Aldo yg mulai kesal.


"Maaf, saya lupa dengan status saya jalani." ucapnya lesu, sambil menundukkan kepalanya.


"Ambil,dan pakailah. Saya tidak mau ada penolakan" ujar Aldo sambil menekan kata-katanya di ujung kalimat. Amel pun hanya menggunakan kepalanya. Dia tidak berani menatap Aldo. Sudah di pastikan wajah Aldo sekarang seperti apa. Pasti seremnya melebihi hantu. Gumamnya dalam hati.


Aldo yg sudah melihat wajah Amel menunduk ia sedikit iba. Namun apa mau dikata. Amel lah yg memancing kemarahannya. Sebelum berangkat kembali ke kantor, Aldo membisikkan sesuatu di telinganya Amel.

__ADS_1


"Jangan sekali-kali membantah ku. Atau kamu akan tau akibatnya!" Bisiknya.


Amel tak mau menjawab. Ia memilih diam, dari pada terjadi hal yg tidak ia inginkan. Mending ia terima saja apa yg bos kutupnya itu berikan.


Setelah melihat tak ada pergerakan dari Amel, Aldo semakin kesal. Pasalnya, Amel sudah berani mengacuhkannya. Diangkatnya wajah Amel, tatapan mereka saling beradu. Amel yg di perlakuan seperti itu tubuhnya menegang. Aldo membungkukkan badannya, semakin lama wajah mereka semakin dekat. Jarak antara mereka hanya beberapa senti. Hembusan nafas Aldo tercium wangi di hidung Amel, spontan Amel menutup mata.


"Jangan membuat ku kesal, atau aku tidak segan-segan memakan mu" Bisiknya di telinga Amel dan langsung pergi meninggal kan Amel.


Amel yg merasa ada yg aneh, ia pun segera membuka mata. Dan benar saja Aldo sudah pergi meninggal nya.


Sontak, Amel sangat kesal dan malu. Bisa-bisanya, ia berpikir Aldo akan menciumnya."Ah,, sial. Kenapa aku sangat mudah si kecohkanya? Ini tidak boleh terjadi. Ingat Amel, kamu hanya pacar di atas kertas. Jangan pernah mengharap lebih" gumamnya dalam hati.Amel semakin merutuki dirinya sendiri, sungguh ia sangat bodoh.


Berbeda dengan Aldo, setelah berhasil menjaili Amel, bibirnya tak henti melengkung. "Ada apa dengan aku, kenapa hanya menjahili gadis itu sudah membuat hatiku bahagia?" gumamnya dalam hati. tak henti-hentinya bibirnya tersenyum. sampai di kantor pun Aldo masih tersenyum. Setiap karyawan yg melihat Aldo, mereka di buat bingung. Namun Aldo cuek. ia pun langsung masuk kedalam ruangannya.


Setelah kepergian Aldo, Amel kembali merebahkan dirinya di atas kasur yg berukuran jumbo. Ia pun berusaha memejamkan kembali matanya. Namun entah mengapa matanya seolah engan terpejam. Banyangan Aldo selalu menghantui pikirannya. Ini lah yg selama ini ia takutkan. Siapa pun tidak akan sanggup menahan pesona bosnya itu. Walau Ia selalu berusaha, namun apalah daya hatinya seolah luluh dengan pesona pria itu. Kini ia hanya bisa menahan hatinya dan berusaha tegar walau nanti hatinya akan terluka.


Hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Di lihatnya siap yg menghubunginya. Ternyata itu kakeknya. Amel pun segera menekan tombol hijau yg ada di ponselnya.


"Halo, kek. Apa kabar?"


"Alhamdulillah, Amel baik-baik saja kek. Bagaimana keadaan nenek?" Tanya Amel yg mulai sedih. Karena ia belum bisa mengirimkan uang untuk biaya neneknya.


"Alhamdulillah, nenek sudah membaik. Terimakasih, ndok. Kamu sudah mengirim uang untuk pengobatan nenek. Berkat uang yg kamu berikan, keadaan nenek semakin membaik " ujar Kakek antusias


"Sama-sama,kek. Amel berkerja kan untuk Kakek dan nenek" jawab Amel senang.


"Tapi, ndok. Dari mna kami dapat uang sebanyak itu? Uang ini bahkan lebih dari cukup untuk membayar hutang kepada Pak Eko!" tanya kakek yg sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Kakek, jangan khawatir. Uang itu halal, jadi kakek tidak usah berpikir yg macam-macam" ujar Amel serius.


"Maaf, kakek tidak ada maksud Apa-apa, ndok. Kakek hanya takut" ujar kakek lesu.


"Sudah lah, kek. Amel tida apa-apa. Kakek seperti itu, karena kakek sayang sama Amel. Kakek baik-baik di sana. Pergunakan uang itu sebaik mungkin. Ingat kek. Jangan lupa membayar hutang ke pada pak Eko. Amel tidak mau jika tua bangka itu, menyakiti kakek" Ujar Amel mengingatkan.


"Pasti, ndok. Kakek akan menggunakan sebaik mungkin.Kamu baik-baik di sana. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan ndok" Pesan kakek kepada cucu kesayangan nya.


"Baik, kek. Amel akan selalu ingat pesan-pesan kakek"

__ADS_1


"Kalau begitu, kakek putus dulu" pamit kakek kepa Amel.


Sungguh Amel tidak menyangka, jika bosnya itu akan mengirim uang sebanyak itu. Kini hati Amel sudah tenang. Ia tidak akan menikah dengan renternir tua bangka itu. Namun, lama-lama Amel jadi bosan. Setiap hari, ia tidak mengerjakan apapun. Ia merasa sedang di dalam sangkar. Ia pun berniat menelpon, Aldo. Namun sedetik kemudian ia urungkan.


"Hem, kalau aku menelponnya, aku takut akan mengganggunya. Baik lah, nanti setelah ia pulang, aku akan bicara kepadanya" ucapnya lirih.


Sore hari, Aldo sudah sampai di apartemen. Sebenar nya malam ini ia akan pulang ke rumah orang tuanya. Namun sebelum itu, ia menemui Amel sebentar agar Amel tidak menunggunya. Dan di sini lah sekarang Aldo. Sedang memandangi Amel yg sedang memasak.


"Kamu, kenapa harus memasak. Kenapa kamu tidak pesan saja?" Tanya Aldo basa-basi.


"Tidak papa. Hanya saja aku bosan di sini tanpa melakukan apapun. Boleh tidak kalau aku berkerja lagi di kantormu?" Tanya Amel ragu-ragu.


"Tidak. Kamu disini saja" jawab Aldo sedikit menekan.


"Ayolah. Aku suntuk di sini tanpa melakukan apa pun. Apapun pekerjaannya aku mau. Asal aku tidak disi terus menerus. Please" Sambil memasang wajah memelas.


"Kamu serius ingin berkerja? Apa tidak sebaiknya kamu disini saja. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu " Jelas Aldo yg berusaha menahan ke inginan Amel.


"Kan, Ada kamu. Kamu bisa mengawasi ku. Ayo lah, aku janji tidak akan macam-macam" Bujuknya.


"Baiklah. Besok bersiaplah, gunakan baju yg rapi. Besok jam 7:30 saya akan menjemput mu. Kamu berani disi sendirian?" Tanya Aldo.


"Memang, kamu mau kemana?" tanya balik Amel.


"Saya harus pulang. Sebentar lagi adikku akan menikah. Jadi aku tidak mau menyia-yiakan waktu yg tersisa" Ujar Aldo serius.


"Tenanglah. Saya sudah terbiasa hidup sendiri. Jangan kuatir. Saya pasti baik-baik saja" jelas Amel.


"Baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu" pamit sambil berlalu meninggalkan Amel.


Setelah kepergian Aldo Amel pun memutuskan untuk beristirahat. Ia tidak menyangka, jika bos kutupnya itu menuruti kemauannya. Jika di perhatikan, sikap Aldo berangsur-angsur membaik. Ia tidak terlalu jutek dan dingin lagi kepalanya. Semoga ini Awal yg baik.


Jangan lupa like komennya ya biar author semangat 😁😁😁😁


Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹


Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2