
Ternyata itu bukan kekasihku, melainkan orang suruhan pak eko. Mereka pun melanjutkan acara ijab kabull itu. Hatiku terasa nyeri rasanya aku ingin pingsan, atau gak kabur. tapi sayang tubuhnya sudah tak memiliki tenaga tenaga lagi. kini aku hanya bisa pasrah ke pada Allah.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang. aku melihat siapa yg lagi-lagi menggagalkan acar tersebut. lagi-lagi aku kecewa. ternyata bukan kekasihku. tapi tunggu, senyum mengembang ternya itu penolongku. Ya, Tiba-tiba beberapa polisi datang menangkap pak Eko dan para centeng-centengnnya.
Semua orang yg ada disana terkejut. Terlebih aku dan para istri pak Eko yg ada di sana.
"Sebentar pak. Kenpa saya di tangkap? Apa salah saya?" ujar pak Eko panik dengan keringat yg sudah bercucuran.
"Maaf, Pak. Saya harus membawa anda. Kami mendapat laporan tentang kasus penculikan ibu Mesi yang Mana bapak terlibat dalam masalah ini" jelas salah satu polisi tersebut.
"Sebentar, Pak. Bapak jangan asal bicara. Saya tidak tahu siap Mesi bahkan saya tidak pernah menculik siapa pun!!" Elak pak eko.
"Apa, asal bicar" Teriak seorang pria dari ambang pintu. Semua orang fokus mencari sumbersuara tersebut.
"Saya tidak salah bicara. Lihatlah. Itu gadis yang kau paksa menikah denganmu adalah calaon istriku. Dia adalah Mesiana putri. Anak dari bapak Hermawan grup dan Ibu Meri Askara" jelas Aldo. Mesi yg melihat pria itu adalah Aldo, ia langsung berlari kedalam pelukan Aldo. Aldo pun dengan senang hati memeluk kekasihnya itu.
"Apa. Kamu salah..." Ujar pak eko yg terputus.
"Sudah. Kamu jelaskan saja di kantor polisi" sambil mengangkat tangannya dengan angkuh.
Polisi tersebut langsung membawa mereka semua. Acara pun di bubarkan. Semua mata tertuju kepada Mesi. Banyak pertanyaan dari dalam hati mereka. Namun mereka tidak berani membuka muluk dan memilih bungkam.
Kini yang tertinggal hanya kakek dan nenek serta mereka berdua. Sementara Dika ikut ke kantor polisi dan meberikan berkas-berkas yang memperkuat mereka.
Aldo langsung menghampiri kakaek Sebejo dan nenek Wartinah yang tertunduk.
"Maafkan kami nak. Ini semua salah kami. Andai saja dulu aku tidak meminjam uang kepada rentenir, pasti ini semua tidak akan terjadi" ujar kakek lirih.
"Tidak, kek ini semua bukan salah kakek. Sudah lah tidak usah di bahas lagi. Yang p
terpenting masalah ini sudah selesai " jelas Aldo lembut.
"Tapi tunggu kek. Bukankah Mesi sudah mengirim uang kepada kakek untuk melunasi hutang itu?" jelas Aldo .
__ADS_1
"Maaf, nak. Kakek tidak perna menerima uang itu. Dulu memang iya Amel pernah mengirim uang hannya 2 juta. Itu pun untuk pengobatan nenek juga kurang. Sementara hutang kita ke pada pak Eko lebih dari 20 juta. Dan lama- kelamaan hutang itu semakin bertambah karna kami tidak bisa membayarnya" jelas kakek.
Sementara Aldo hanya mangut-mangut kepalanya tanda mengerti. Seperti yg sudah ia duga pasti ada yg mengambil uang kakek. Tapi biarlah, Aldo sudah tidak perduli dengan uang tersebut.
"Kek, ingatan Amel telah kembali. Sebenarnya lusa kami akan kemari untuk menemui kakek dan nenek. Namun karna insiden ini kita datang lebih awal" ujar Aldo sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, nak. Kami ikut bahagia. Pantas saja tadi Amel tidak mengenali kami " jelas nenek lirih.
"Ya, sebab ingatannya telah kembali lagi. Sementara memori bersama kakek dan nenek tidak ia ingat kembali. Itu sebabnya kami hendak kemari" ujar Aldo yg terpotong. Sementara kakek dan nenek Hannya terdiam mencerna semua kata-kata Aldo.
"Kami ingin membawa kakek dan nenek ke kota. 3 minggu lagi kita akan menikah. Kami ingin kakek dan nenek berada di sana. bersama kami." Jelas Aldo mengutarakan isi hati.
"Maafkan kami, nak. Kami tidak bisa ikut dengan mu. Lihat lah nenek mu dia sudah tidak kuat untuk perjalanan jauh. Kami hanya bisa mendoakan kalian semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah" jelas kakek dengan senyum mengembang dari bibirnya.
"Amin" ucapnya serentak.
"Tapi kan kek..." Ujar Mesi yang terpotong.
"Sudah ya, sayang. Jangan memaksa. Lihatlah, keadaan kekek dan nenek. Kita berdoa saja semoga kakek dan nenek sehat selalu." jelas Aldo lembut sambil mengelus rambut Mesi.
"Ya sudah, kek. Minta Doanya saja semoga kita menjadi lebih baik " tukas Aldo dan Mesi.
"Pasti, Nak. Doa kami selalu menyertaimu" jawab nenek.
Mereka berniat untuk beberapa hari di sana sambil menikmati suasana desa yg entah kapan lagi mereka bisa berkunjuk kesini lagi.
Keesokan pagi Mesi dan Aldo sudah bersikap-siap untuk pergi ke Wisata Kampung Durian yg ada di kota bengkulu.
Tepatnya di kecamatan Taba Penanjung, kab. Bengkulu tengah. Selain menyediakan kerindangan pohon-pohon durian berikut buahnya, kampoeng durian juga di lengkapi pemandian pinggir sungai serta pemandangan gunung yang indah.
Pemandian tersebut di bangun tiga tingkat agar pengunjung dapat bermain air di lokasi itu dengan leluasa sambil menikmati pemandangan di pingir persawahan serta barisan bukit hijau yg berjejeran mengelilingi tempat tersebut.
Aliran sungai tersebut dangkal sehingga orang tua dapat mengajak bermain disana.
__ADS_1
Sungguh sangat menakjubkan. Mesi tidak menyangka masih ada tempat wisata seperti ini. Kini mereka menikmati pemandangan. dengan nikmat. Raut wajahnya selalu berseri-seri tak pernah sedikit pun luntur dari bibirnya keduanya.
Mesi yg melihat ada aliran sungai ia pun langsung mengajak Aldo ke aliran sungai itu.
Mereka duduk di sebuah batu besar sambil kakinya ia ceburkan ke air. Sambil bercerita canda gurau dan sesekali mengecup kening Mesi. Seandainya mereka sudah menikah tentu akan banyak kegiatan yg mereka lakukan.
Namun apa boleh dikata. Mereka harus bisa menahannya sampai waktunya tiba. Merekapun berjalan berkeliling hingga kaki Mesi sudah terasa pegal. Akhirnya mereka duduk di pondok yg lumayan sepi menurut mereka.
Mesi pun meletakan kepalannya di pun dan Aldo.dan Aldo pun balas memeluk dari belakang.
"Sayang, ini adalah impian mas dari dulu. Bisa berlibur dengan mu hanya berdua tidak ada yg mengangu" jelas Aldo dengan serius.
"Iyakah sayang? Berarti sama donk. Aku juga sering menghayal kita akan berlibur ketempat sejarah kita bersama anak-anak kita kelak dan menceritakan semua perjalanan cinta kita yg berliku-liku" ujar Mesi sambil menatap wajah Aldo.
Dan cup, Aldo mengecup bi2r Mesi sekilas.
"Is, nakal." sambil menepuk dada bidang Aldo.
Aldo tak menjawab ia hanya senyum dan mengacak-acak rambut Mesi dengan sayang. Merekapun melanjutkan mengelilingi wisata itu hingga sore hari.
Berawal dengan kesedihan berakhir dengan kebahagianβΊβΊβΊβΊ
Maaf, lama upπππ
author lagi sibuk jualan bakso bakarπππ
harap di mengertiππππ
Terimakasih yg sudah sabar menunggu
Jangan lupa like komennya ya biar author semangat ππππ
Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaππππ
__ADS_1
Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburππ