Sang Penakluk Hati CEO

Sang Penakluk Hati CEO
Bab 52


__ADS_3

Pagi hari


Saat azan subuh berkumandang,Mesi pelan - pelan mulai membuka matannya.


Tubuhnya terasa kaku dan berat seperti ada yang menindihnya. Netra matanya mencari apa yang melingkar di perutnya.


Terlihat sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggang nya. Mesi awalnya terkejut. Namun saat mendongakkan wajahnya, Mesi pun tersenyum.


Ia baru mulai menyadari siapa orang yang kini sedang memeluknya.


Apa lagi mengingat kegiatan yang mereka lakukan semalam semakin membuatnya malu dan kini wajahnya sudah bersemu merah.


Mesi pun berusaha melepas tangan suaminya yang melingkar. Ia pelan-pelan memindah tangan Aldo. Namun apa lah daya usahannya sia-sia.


Aldo yang memeng sudah terjaga, ia sengaja mengerjai istrinnya. Aldo pun semakin mengeratkan pelukannya. Mesi yang menyadari itu iya pun langsung membangunkan suaminya.


"Abang, bangun" ujarnya lirih sambil mengelus pipinya. Namun Aldo bukannya terbangun ia malah semakin erat dan menenggelamkan kepalannya di dada Mesi.


"Bangun Bang" kali ini dengan nada yang sedikit keras. Namun apa lah daya, usaha nya sia -sia. Belum terlihat tanda-tanda Aldo akan terbangun. Karna semakin kesal, Mesi pun langsung mengigit lengan Aldo dengan kuat.


Aldo yang terkejut sontak menarik tangannya. "Aww,, sakit sayang" teriak Aldo sambil mengusap-usap tangannya.


"Salah sendiri. Siapa suruh ngerjain aku " ujar Mesi sambil tersenyum kemenangan.


"Is, kamu ya sayang berani banget sama aku. Mau aku hukum" ujar Aldo sambil mencubit hidung mancung Mesi.


"Biarin, wekkk" ujar Mesi yang hendak beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


"Awww" teriak Mesi yang terduduk di lantai.


"Makannya sayang, jangan nakal " ujar Aldo lirih sambil mengendong istrinya ke kamar mandi.


Mesi tak menjawab. Ia Hannya diam dan pasrah. Bagai mna ia bisa lupa akan kejadian semalam. Namun ia juga tidak menyangka, jika bekas semalam akan terasa sampai saat ini.


Akhirnya mereka berdua mandi bersama. Dengan banyak perdebatan di antara mereka berdua yang di menangkan oleh Aldo. Kali ini mereka hanya mandi bareng ya temen-temen. Karena jika melakukan kegiatan mereka akan takut tertinggal sholat subuh.


Pukul 07:00


Aldo dan Mesi sudah berpakaian rapi. Kali ini Mesi sengaja mengurai rambutnya. Ia tidak mau menjadi bahan olokan saudara dan kedua sahabatnya. Sebab karna ulah suami nya itu yang sengaja meninggalkan banyak jejak di lehernya.


Untung saja, jejak itu masih dapat ia tutupi dengan rambutnya. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi selanjutnya, entahlah ia tidak bisa membayangkannya.


Saat mereka turun dan menghampiri keluarga mereka, terlihat semua nya sedang menunggunya. Mesi dan Aldo pun langsung bergegas menghampirinya.


"Baiklah, karna yang kita tunggu-tunggu sudah datang. Mari kita santap hidangan yang telah tersaji" ujar Ayah Andre dengan ramah.


Semua yang ada disana hanya tersenyum dan mengikuti perintah ayah Andre. sepanjang makan mereka semua hanya diam menikmatinya. hanya suara dentingan sendok yang sesekali beradu.


Namun berbeda dengan kedua sahabatnya Mesi. Ya. Verlita dan Silvi. Kedua nya selalu memperhatikan Mesi. Sampai-sampai Mesi di buat salting. Namun kedua sahabatnya itu dengan songong nya tersenyum mengejek.


Mesi yang melihatnya hanya bisa pasrah. Ya pasrah karna sebentar lagi ia akan di buli habis-habisan oleh kedua sahabatnya.


Saat makana sudah selesai, kini Ayah Andre membuka suaranya kembali.


"Bagai mna rencana kedepannya nak? " uja ayah Erwin dengan tersenyum.

__ADS_1


"Seperti rencana awal yah" Ujar Aldo yakin. Sementara Mesi yang belum mengerti ia hanya diam.Berbeda dengan kedua sahabatnya yang songong itu sudah senyum-senyum gak jelas.


"Baiklah, kalau itu mau mu. Ini untuk kalian. Anggap saja ini kado pernikahan dari Ayan dan bunda" sambil menyerahkan sebuah kunci dan map berwarna coklat kepada Aldo.


"Dan ini untuk mu nak. Semoga kalian menyukai nya" kali ini yang berbicara iyalah Ayah Herman. Yang menyodorkan sebuah amplop berwanah putih.


"Trimakasih yah, pah. Kami pasti menyukainnya " Tukas Aldo sambil meraiahnya.


"Satu kita pinta. Lekas berikan kita cucu" kali ini Ayah Andre yang berbicara.


Mesi yang mendengar ucapan Ayah Andre hanya bisa menunduk. Ia sangat malu jika membahas tentang hal yang sensitif itu. Namun berbeda dengan Aldo. Ia malah tersenyum girang tanpa malu sedikit pun.


"Ayah dan papah tenang saja. Pasti kita akan segera mewujudkannya" ujar Aldo semangat.


Dan jawaban Aldo sontak membuat semua yang ada di sana tersenyum senang.


Maaf, lama up dan sedikit😊😊😊. lain kali Author tambahπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


author lagi sibuk jualan bakso bakarπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹


harap di mengertiπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Terimakasih yg sudah sabar menunggu


Jangan lupa like komennya ya biar author semangat 😁😁😁😁


Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

__ADS_1


Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburπŸ™πŸ™


__ADS_2