
"Hello, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, kamu dimana?"
"Di mana lagi kalau bukan di tempat Adik kesayanganmu!" Jawab Amel dengan nada ketus.
"Bagus lah. Ingat pesanku. Jangan pergi kemna-mana selain bersama mereka" ujar Aldo dengan nada tegas.
"Tapi........"
"Jangan membantah. Atau aku akan memotong gajih mu" Ujar Aldo dengan nada yg sedikit di tinggikan.
"Baiklah" Jawab Amel dengan nada lesu. Sebenarnya ia ingin protes. Tapi belum bilang Apa- apa saja, bos kutupnya itu sudah semena-mena kepadanya. "Nasib-nabis" Ujarnya dalam hati.
"Good. Ingat jangan nakal. Lusa aku pulang. Awas saja sampai aku dengar kamu macam-macam, aku putong gajih kamu"
"Iya,iya bawel" Sambil menekan tombol merah.
"Dasar kutu kupret" Teriak Amel.
Amel tidak menyadari jika di belakangnya ada Silvi dan Verlita. Keduanya yg mendengar teriakan Amel tertawa terbahak-bahak. Sementara Amel yg baru menyadari, ia pun langsung memukul keningnya
"Dasar, begok kamu Amel. Bagaimana bisa kelepasan? Bikin malu aja" gumamnya dalam hati. Sambil cengengesan, Amel berlari kedalam kamar.
"Siapa yg kamu maksud Mel?" Teriak Verlita sambil tertawa. Sementara yang di ledek tak menjawab. Ia langsung berbaring di atas kasur dan merenungi kebodohannya.
Sementara Aldo, ia sangat puas sudah membuat gadis kecilnya itu kesal. "Sabar gadis kecil, aku janji kita pasti bersama" ucapnya lirih
Sementara dari kejauhan, seorang gadis sedang berjalan-jalan di belakang rumahnya.Gadis tersebut tidak sengaja melihat Aldo yg sedang membelakanginya. ya gadis tersebut adalah Tika. sahabat Amel. Tika yg merasa ini adalah kesempatan yg sangat bagus, ia pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Dengan tergesa-gesa, Tika pun langsung menghampiri Aldo.
"Ehem, ada yg bisa saya bantu Tuan" Ujar Tika dengan wajah yg di buat semanis mungkin.
Aldo yg mendengar suara seseorang pun langsung membalik badan. Seketika wajahnya yang tadinya tersenyum, kini berubah datar kembali.
"Tidak" Jawabnya singkat.
"Baiklah, jika Tuan butuh sesuatu jangan sungkan"
"Baiklah, terimakasih sebelumya" Dengan senyum yg sedikit di paksa. Entah mengapa. Sejak awal, Aldo sudah miliki virasat kurang baik terhadap Tika. Namun secepat kilat Aldo menepisnya. Ia tidak ingin terlalu berburuk sangka terhadap seseorang. Bagaimanapun, ia sudah baik terhadapnya.
Tika sangat senang mendengar jawaban Aldo kali ini. Walau masih sedikit ketus, tapi setidaknya ucapan itu sudah membuatnya bahagia.
"Sama-sama tuan itu tidak seberapa" jawab tika dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
__ADS_1
Kini mereka duduk berdua di sebuah bangku yg berada di belakang rumah Amel. Sungguh, Aldo sudah tidak nyaman dengan ke adaan ini. Ia berdoa semoga Dika segera menghampirinya agar bisa segera pergi.
Senyum mengembang di bibir Aldo. Ternyata, Allah langsung mendengar doanya. Baru saja ia berdoa, batang hidung Dika sudah di depan mata
Berbeda dengan Tika, wajah yg semula tersenyum manis, kini masam dan terlihat sangat kesal.
"Bos, ayo kita segera berangkat" Ajak Dika sambil berjalan mengarah kepada Aldo.
"Baiklah" langsung berdiri dan berjalan mendahului Dika tanpa mengucapkan apapun kepada Tika.
"Tika, kita pamit dulu" Ujar Dika, dan langsung pergi menyusul bosnya itu.
Tika tak menjawab ucapan Dika, ia hanya diam dan menatap tajam punggung tegap Aldo yg mulai menjauh. "Lihat saja. Kali ini kamu boleh saja tak perduli akan kehadiran ku.Tapi ingat. Suatu saat aku pastika kamu yg akan mengejarku" ujarnya dengan percaya diri.
Setelah berpamitan kepada ibu Tika, Aldo lansung bertandang kerumah kakek subejo dan ibu wartinah. Terlihat dari kejauhan rumah kakek subejo yg sudah rapuh karna termakan usia.
Aldo dan Dika langsung menghampiri rumah pak subejo. Sesampainya di depan pintu Dika langsung mengetuk pintu. Cukup lama mereka berada di sana, namun tak ada sautan dari sang empu.
"Sepertinya tidak ada orang didalam. Sebaiknya kita mencari tempat penginapan"
"Tapi, bos........" ucapan Dika terpotong.
"Tapi apa?" dengan sedikit ditekan
"Maaf,Tuan. Disini tidak ada penginapan"
"Maaf, sekali lagi tuam. Disini tidak ada penginapan, tapi tuan jangan khawatir. Untuk sementara waktu kita bisa tingal di tempat kost pak eko, seorang rentenir " jelas Dika panjang lebar.
"Maksud kamu rentenir tempat Amel meminjam uang?"
"Benar tuan. Ini kesempatan bagus buat kita. Kita bisa mengorek informasi darinya"
"Kamu, benar. Kalau begitu mari kita kesana"
Tanpa menjawab Aldo dan Faris langsung bergegas pergi menuju kos yg Dika maksud.
Kini Aldo dan Dika sudah sampai di depan pintu rumah pak Eko.
Tok-tok-tok," Assalamualaikum" ucap Dika sambil mengetuk daun pintu.
"Waalaikumsalam" Teriak dari dalam.
Ceklek
Terlihat dari balik pintu seorang pria paru baya yang terlihat kuno dengan gaya pakaian tahun 1990 an.
__ADS_1
"Permisi, pak. Kami dari kota. Kedatangan kami kemari ingin menyewa kontrakan bapak yg berada di sebarang sana" Jelas Dika
"Apa kalian sudah tahu, berapa sewanya permalam" sambil mandan mereka berdua bergantian.
"Maaf, pak. Kami tidak tahu. Untuk masalah sewa, berapa pun kami akan membayarnya" ujar Dika dengan sopan.
Pak Eko pun langsung memberi harga yg sangat mahal untuk ukuran kos yg sangat minim. Namun tak ada pilihan lain selain mengiyakan kemauan rentenir itu. Setelah harga sepakat. Pak eko langsung mengantar mereka ke tempat yangdimasut.
Kini mereka berdua sudah berada di kost yg sangat sempit. Dika langsung menceritakan apa saja informasi yg sudah ia dapatkan.
"Begini, tuan. Ternyata Non Tika itu adalah adik Rangga, salah satu manager di perusahaan kita" Ujarnya yg sengaja di potong.
Sementara Aldo yg mengetahui jika perkataan Dika belum selesai, ia hanya diam dan mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
Dan satu lagi Tuan, ternyata Non Tika adalah sahabat non Amel, sekaligus yang membantu Non Amel untuk pergi ke Jakarta. Menurut informasi, Non Amel memiliki hutang banyak kepada pak Eko" jelas Dika panjang lebar.
"Ya, jika masalah hutang saya sudah tau"Ujar Aldo.
"Apa tuan juga tau jika hutang Non Amel belum lunas, dan jika Non Amel tidak dapat membayar hutang tersebut maka Non Amel harus menikah dengan rentenir tua itu!" Jelas Dika.
"Apa....!!! Bukan kah aku sudah memberi gadis kecil itu uang. Terus, kenapa ia belum membayarnya?" Jelas Aldo dengan nada tinggi.
"Kalau itu saya kurang tahu Tuan"
"Baiklah, untuk masalah itu kita selesaikan lusa setelah urusan kita saat ini selesai" jelas Aldo sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas.
"Baik, Tuan. Bagaimana rencana kita selanjutnya?"
Aldo dengan santai langsung membisikkan sesuatu di telinga Dika, Dika pun hanya mengantuk-angukan kepala tanda mengerti.
"Baiklah. Siang ini kita istirat dahulu. Nanti sore kita kembali kerumah kakek" ajak Aldo.
Dika pun hanya menganggukkan kepalanya tanda patuh. Karna terlalu lelah mereka berdua sudah terlelap ke alam mimpi.
Amel, yang merasa malu pun, ia tidak berani Keluar kamar hingga sore hari. karena terlalu suntuk, Amel pun membuka jendela berniat menghirup udara segar dan melihat mobil yg berlalu Lalang di bawah sana.
Namun baru saja Amel membuka jendela, terdengar suara ketukan pintu. Amel pun langsung membalik badannya hingga ia lupa untuk menutup jendelanya kembali.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba mulut Amel ada yg membekap hingga ia tak sadarkan diri.
Maaf, lama upπππ
Terimakasih yg sudah sabar menunggu
Jangan lupa like komennya ya biar author semangat ππππ
__ADS_1
Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaππππ
Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburπππ