
Kini Amel dan Silvi sudah berada di dalam apartemen. Semenjak kejadian kemaren Amel sedikit canggung. Hatinya terasa sedikit nyeri setiap melihat wajah Silvi. Ia selalu teringat sikap manis Aldo kepada Silvi. Amel sangat yakin, jika mereka berdua memiliki hubungan.
Namun sebisa mungkin Amel menetralkan raut wajahnya di depan Silvi seolah tidak terjadi sesuatu. Ia takut jika Silvi akan curiga terhadap sikapnya. Silvi yg menyadari perubahan sikap Amel kepadanya, ia hanya tersenyum puas.
Namun dalam hati ia tak tega.Silvi janji, jika Aldo sudah menemukan kebenarannya, Ia akan menceritakan kepada Amel yg sebenarnya.
Bagai manapun Amel adalah Mesi sahabat yg sangat ia cintai. Walau semua itu belum pasti. Namun ia sangat yakin jika itu Mesi. Ia selalu berdoa, semoga lusa Aldo membawa kabar baik.
Karena sangat canggung, akhir nya Silvi menghubungi Verlita supaya datang ke apartemennya. Apa lagi sebentar lagi ia harus pergi ke butik. Tanpa pikir panjang Silvi langsung meraih ponselnya dan mengetik sesuatu di benda pipih miliknya.
Sementara Amel hanya memperhatikan tingkah Silvi tanpa berniat untuk bertanya kepadanya. Amel memilih diam dan tidak mau terlalu kepo dengan urusan pribadi orang.
Di tempat lain
Aldo dan Dika sedang kebingungan mencari bengkel terdekat yang ada di sana. Matanya menyusuri ke segala arah. Yang semakin membuat Aldo kesal, ternyata Ia berada di dalam hutan yg jauh dari pemukiman. Apalagi montir yg mereka hubungi pun, belum bisa datang Ke sana dan lusa baru bisa datang.
Dengan perasaan kesal, Aldo menendang ban mobilnya dengan kencang.
"Ah, sial." Sambil memegang kakinya yg kesakitan.
"Sabar, bos. Saya akan cari batuan" Ujarnya sambil berlalu meninggalkan Aldo.
Aldo tak menjawab ia hanya diam. Sungguh hatinya tidak karuan. Namun, seketika itu raut wajahnya yang kesal berubah menjadi senyum yg sangat manis. Siapa pun yg melihat pasti terpesona. Cukup membayangkan kekonyolan gadis yg beberapa bulan ini mulai mengisi hatinya saja sudah menghilangkan emosi san ke kesialannya dalam sekejab.
Sungguh, hatinya melayang-layang setiap teringat sikap Amel kepadanya. Ia pun segera merogoh benda pipih miliknya dan berniat menghubungi Amel.
__ADS_1
Belum sempat ia menekan nomor Amel, terdengar suara langkah kaki seseorang. Seketika Aldo pun langsung mendongakkan kepalanya. Terlihat dari kejauhan, Dika bersama seorang gadis.
"Bos, kenalkan ini Tika, dia yg akan menolong kita untuk sampai di tempat tujuan. Kebetulan tujuan kita searah dengannya" ujar Dika dengan tergesa-gesa.
Aldo tak menjawab ia menatap wajah Tika. Tika pun yg di tatap seketika menjadi salah tingkah. Pasalnya ia baru pertama kali melihat pria setampan Aldo. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mengulurkan tangannya.
"Hay, tuan. Kenalin nama saya Tika" dengan senyum yg di buat semanis mungkin.
"Hay, juga.Aldo" dengan raut wajah datar.
Tika yg melihat sikap Aldo ia sedikit kesal. Namun karena obsesi nya, ia tidak akan menyerah. dalam hati ia harus bisa mendapatkan Aldo apapun caranya.
"Mari kita berangkat sekarang. Takutnya jika kita terlalu lamaan nanti, akan kemalaman" Ajak Tika dengan senyum manisnya
Sesampai di dalam mobi, ternyata Tika tidak sendiri. Ia berdua bersama seorang supir yg sudah berumur. Mereka bertiga pun langsung masuk kedalam kendaraan dan berlalu.
Kini Amel berada di apartemen Silvi dengan kesal. Sungguh perasaannya sangat tegang. Hatinya selalu menolak jika harus berada di tempat Silvi. Namun apa mau di kata. Mau tidak mau ia harus terima. Tak ada pilihan untuk orang sepertinya.
Setelah lumayan jenuh, Amel memutuskan untuk beristirahat ketimbang luntang lantung tak jelas. Saat kaki hendak melangkah, terdengar suara bel berbunyi.
Ting tong, ting tong
Amel yg mendengar suara bel tersebut mengurungkan niatnya, dan beralih ke arah pintu. Namun, saat Amel tinggal beberapa meter dari pintu, ternyata Silvi sudah membukanya.
Amel pun mengintip dari balik dinding siapa yayangh datang. Ternyata itu Verlita. Hati Amel sedikit lega. Setidaknya, ia tidak terlalu sungkan jika bertiga.
__ADS_1
Verlita yg sejatinya memang sudah kangen dengan ke bersama mereka bertiga, ia pun segera mencari keberadaan Amel. Amel yg melihat mereka mencari keberadaanya, ia pun segera berlari menuju tempat semula ia berada.
Yaitu di depan Televisi sambil memencet remot menganti-ganti cenel agar mereka berdua tidak curiga kepadanya.
"Hay, Mel. Apa kabar" sambil berlalu memeluk Amel. Sementara Amel sangat terkejut melihat Sikap Verlita kepadanya.
"Hay, juga. Alhamdulillah saya baik. Mna anakmu yg lucu itu?" Tanya Amel dengan senyum yg di buat semanis mungkin.
"Hehehe, biasa sama opanya."
Akhirnya mereka bercerita ke sana kemari dengan santai. Entah sejak kapan Amel melupakan rasa sungkannya kepada Silvi. Mereka pun tertawa ke sana kemari dengan lepas.
Sedang asik-asiknya bercerita, Terdengar dering hp milik Amel berbunyi. Amel pun segera mengambil benda pipih miliknya, dan melihat siapa yg menghubunginya....?
Ingin tau kelanjutannya? Simak terus ya.
Maaf, lama upπππ
Terimakasih yg sudah sabar menunggu
Jangan lupa like komennya ya biar author semangat ππππ
Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaππππ
Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburπππ
__ADS_1