
Di depan pintu UGD, Aldo sedang berjalan mondar-mandir tak jelas. Tak lupa, bibirnya selalu komat- kamit berdoa kepada sang ilahi memohon semoga istrinya baik-baik saja.
Sementara kedua orang tua Mesi sudah histeris. Apa lagi ibu Mery, ia sudah tak berdaya. Tubuhnya sudah lemas saat mendapat kabar yang tak di inginkan. Apa lagi setelah melihat keadaan putrinya, ia semakin histeris.
Sementara pak herman tak kalah paniknya. Namun, ia tidak ingin terlihat lemah. Ia harus kuat. Ini semua iya lakukan agar istrinya dan putrinya dapat bersandar kepadanya.
Di sini hanya Adam yang terlihat tenang. Iya pun langsung mendekat kepada Aldo dan meminta kejelasan.
"Bang!!" ujar Adam lirih. Aldo yang merasa terpanggil, langsung mencari sumber suara.
"Hem" Jawab Aldo tak bersemangat.
"Bagaimana ceritanya? Siapa yang sudah melakukan ini bang?" Tanya Adam dengan nada lembut.
"Abang tidak tahu Dam. Apakah kamu bisa membantu Abang?" Tanya Aldo tude poin.
"Bantuan apa Bang? Jika itu demi kebaikan, Aku pasti akan senang hati melakuakqnnya" Jawab Adam dengan tenang.
"Tolong, hubungi Asisten Abang. Kalian cari siapa yang tega melakukannya. Hukum ia seberat-beratnya. Sekarang abang tidak dapat berpikir jernih. Abang taku kalap dan akan membunuh nya Nanti " ujar Aldo dengan mata membara. Aldo pun langsung menyodorkan kontak Dika.
"Baik bang. Abang tenang saja. Jika sudah bersangkutan dengan kak Mesi, nyawa ku taruhan nya" Ujar Adam dengan keyakinan penuh.
"Bagus. Tunggulah, Sebentar lagi ia kemari" Ujar Aldo sambil menepuk pundak Adam.
Adam pun hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
Setelah menunggu cukup lama Akhirnya Dokter sudah keluar. Mesi pun langsung di bawa ke ruang inap, dengan Ayah herman dan bunda Mery mengikuti dari belakang. Sementara Aldo dan Adam menghampiri sang dokter.
"Bagai mna keadaan istri saya dok?" Tanya Aldo.
__ADS_1
"Begini tuan. Maaf, Anda siapa?"
"Saya suaminnya" Jelas Aldo.
"Baiklah. Begini, istri anda sudah baik-baik saja. Mungkin dalam beberapa jam akan Sadar. Hanya saja......" Ujar dokter yang di gantung.
"Ada apa dok? Tolong jangan buat kami penasaran " kali ini Adam lah yang bersuara.
"Maaf. Kami tidak dapat menyelamatkan anak bapak" Ujar dokter tersebut tertunduk lesu.
"Apa....????" Teriak Aldo yang terkejut.
"Jadi istri saya hamil dok?" tanya Aldo yabg ingin memastikan jika yang ia dengar tidak salah.
"Ya. Istri bapak hamil 4 minggu." Jelas dokter dengan tegas.
"Yaallah nak, maafkan ayah. Ayah yang tidak dapat menjagamu." Ujar Aldo sambil menahan derasnya air di perlupuk matannya.
"Baik, pak. Terimakasih atas informasinya" saut Adam.
Dan kemudian, dokter pun beranjak pergi.
"Abang yang sabar. Abang harus kuat. Kalau abang seperti ini bagai mna dengan Kak Mesi? Siapa yang akan menjaga nya!" Ujar Adam berusaha menenangkan Aldo.
"Kamu bener Dam. Abang tidak boleh lemah. Ayo kita pergi ke kamar kakak mu. Abang Harap apapun yang terjadi jangan beritahu istriku tentang hal ini. Biar aku yang memberi tahunya nanti." Pinta Aldo dan hanya di anggukan oleh Adam.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan Mesi.
Sementara di Dalam mobil. seorang gadis sedang tersenyum licik. Hari ini adalah hari keberuntungannya. Semua usaha nya berjalan lancar. Namun, semua yang ia lihat tak sesuai dengan hasil. Ia Pikir orang yang ia tabrak sudah Metong. Namun bukan kesenangan yang ia dapatkan malah sebentar lagi ia akan sengsara.
__ADS_1
Sedang Asik tersenyum puas, tiba-tiba pintu mobilnya ada yang membuka. Fika pun langsung melihat ke arah suara.
"Hai, kak cantik. Maaf aku lancang. Apa boleh aku meminta mu mengatakan ku sebentar kesana" Tunjuk seorang pria yang tak lain adalah Adam adik Mesi.
"Berani sekali kau masuk mobilku tanpa seizinku" Jawab Fika ketus. Ia sangat kesal. Bagai mna tidak, tiada angin tiada hujan, ia harus berurusan dengan bocah kecebong.
"Sudah lah kakak cantik. Ayo geser lah biar aku yang mengemudi. Tenang saja aku tidak akan menyakiti mu " Ujar Adam dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
"Hem. Sebenarnya apa tujuannmu? Aku tidak mengenal mu. Mengapa aku harus susah-susah mengatarmu" Ujar Fika dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.
"Uh, takut. Kau harus mengatarku. Apa kau ingin aku telanjangi dan aku seret kesana?" Ujar Adam dengan pelan namun dengan penekanan.
"Ah. Kau memeng kurang ajar bocah tengil. Baiklah, bukan karna aku takut padamu kau. Namun karna aku sedang bahagia, aku akan mengantar mu" Dengan senyum yang licik.
"Bagus. Mari kita berangkat cantik" Ujar Adam lirih dan tersenyum manis.
Tanpa pikir panjang, Adam langsung menginjak gas mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.
Sebenarnya Adam ingin sekali langsung mencekik gadis yang ada di samping nya. Namun, ia tak boleh gegabah. Ia harus melancarkan rencana yang sudah ia dan Dika rencanakan. Menghadapi gadis licik harus dengan cara licik juga. Gumamnya dalam hati.
Hai. sahabat ku semua nya.
Authot balik lagi niπππ
Ayo donk beri semangat buat author, biar up setiap.hariππππ
Jangan lupa like komennya nya. Di tunggu sarannya, agar cerita lebih menarik lagi.
Terimakasih semuannnya.
__ADS_1
Salam sayang dari sayaππππππππ