Sang Penakluk Hati CEO

Sang Penakluk Hati CEO
Bab 81


__ADS_3

Di ruang tamu


Buk Yeni sedang berbasa basi mengucapkan turut berduka atas musibah yang menimpa Aldo. Namun matanya terus menelisik mencari keberadaan Mesi. sebab sedari tadi ia tak kunjung terlihat.


"Ada apa jeng Yeni? Ada yang sedang jeng cari?" Tanya Bu Wina yang penasaran.


"Hem, Dimana Mesi? Sedari tadi saya tidak melihatnya jeng" Ujar Bu yeni ragu-ragu.


"Hem. Ia di rumah ibunya jeng. Dia sepertinya sangat terpukul dan tak mau di lihat siapa pun" Jelas bu Wina lesu.


"Ya Allah, Jeng. Kasihan sekali dia. Pasti ia sangat terpukul. Saya pun tidak dapat membayangkan jika musibah itu menimpa anak saya. Yang sabar ya jeng. Tolong jaga dia saya sudah menganggapnya seperti putri saya sendiri" Ujar Bu Yeni dengan akting yang begitu sempurna dan pura-pura menangis.


"Terimakasih bu. Semua musibah ini terasa seperti mimpi bagi kami" Ujar Bu Wina yang mulai menangis.


"Sabar ya jeng aku tahu bagaimana perasaan jeng. Namun jika jeng seperti ini, siapa yang akan menjaga Mesi" sambil memeluk bu Wina.


"Hem. Iya jeng. Luka yang saya rasakan tak sebanding dengan yang Mesi rasakan saat ini. Apa lagi ia sedang mengandung. begitu malangnya Nasib nya" sambil menghapus air matanya.


"Kalau saya boleh tahu, Dimana rumah orang Tua Mesi bun? Sebab saya sangat khawatir kepada nya" Tanya bu Yeni dengan tipu muslihatnya.


"Di jalan Xx bun Nomor 28. Namun saya minta tolong untuk du hari ke depan, jangan dulu menemuinya. paling tida tunggu hingga polisi menemukan putraku" Ujar bu Wina mengingatlan


"Terimakasih bun. Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu " Pamit Bu Yeni buru.

__ADS_1


"Baik bu. Terimakasih telah menyempatkan datang kemari" sambil tersenyum manis.


Bu Wina pun mengantar Bu Yeni hingga ke depan. Setelah mendapatkan Alamat rumah ibu Mery. Buk Wina pun langsung menelpon seseorang untuk memastikan jika Mesi benar-benar di sana. Entah mengapa melihat bu Wina tadi ia sedikit tak percaya. Seperti ada yang sedang di sembunyi kan.


Namun ia juga tidak dapat menuduh. Jika benar Mesi berada di sana, ia akan datang ke tempat tersebut dan melihat penderitaan Mesi. Setiap mengingat raut wajah Mesi ia akan tersenyum puas.


Hari ini Silvi masih setia menemani Dika di rumah sakit. Sampai detik ini pun Dika masih setia dari tidur panjangnya. Silvi pun sedikit bingung sebab sudah hampir 5 hari Dika di rawat tak satu pun keluarga nya datang menjenguknya.


Dalam hati Silvi bertanya-tanya siapa sebenar nya Dika? Apa mungkin anak yatim piatu atau apa? Entah lah Silvi bingung.


"Hey. Kamu. sepertinya senang banget tidur? Bangun dong apa kamu gak capek?" Ujar Silvi kesal.


"Kamu kenapa si hobi banget tidur ayo donk bangun. Aku capek tahu nungguin kamu terus. Ayo donk bangun" Ujar Silvi yang mulai terisak.


Di Sana ia merasa berada di tempat yang asing. Ia berkeliling di taman bunga yang sangat indah. Namun ia hanya sebentar terpesona di tempat itu. setelah itu, ia pun mencari jalan untuk kembali. Namun hingga kakinya sudah terasa lelah, ia tak juga menemukan jalan keluar.


Ketika ia sudah tak sanggup lagi berjalan tiba-tiba , Ia melihat seorang pria yang membelakangi nya. Dika pun langsung menghampiri pria tersebut berniat meminta pertolongan. Saat ia melihat pria itu sontak Dika terkejut. "Toni" gumam Dika lirih.


"Assalamualaikum" Ujar Toni tersenyum manis. Sementara Dika masih shok melihat siapa yang ada di depan mata nya.


"Wa....wa..Waalaikumsalam" Ujar Dika gelagapan.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Toni yang mulai sedikit tak bersahabat.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, bagai mana aku bisa sampai disini. Aku sudah mencari jalan keluar namun sampai detik ini aku tak kunjung menemukannya" Ujar Dika yang sedikit frustasi.


"Saya akan mengantar mu. Tapi berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi tolong jaga Silvi " Jelas Toni dengan tatapan sendu.


"Apa maksudmu? Bulan kah kamu sangat mencintai nya. Lalu mengapa harus aku yang menjaganya?" Ujar Dika yang belum sadar akan Toni.


"Ya aku sangat Mencintainya. Namun Dunia kita sudah berbeda. Pulanglah, ia sudah menunggumu" Jelas Toni sambil menunjuk sebuah cahaya. Tak hanya cahaya terang itu. Dika pun mendengar Suara Silvi yang memangil namanya.


"Dika.... Kemari lah" pagilan itu terus menerus dan berulang- ulang.


Toni pun. langsung meminta Dika pergi ke sana dan tersenyum.


Author gantung sebentar ya sayang😍😍😍😍


Besok di lanjutkan lagi😘😘😘😘😘


Ayo donk beri semangat buat author, biar up setiap.hariπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹


Jangan lupa like komennya nya. Di tunggu sarannya, agar cerita lebih menarik lagi.


Terimakasih semuannnya.


Salam sayang dari saya

__ADS_1


__ADS_2