Sang Penakluk Hati CEO

Sang Penakluk Hati CEO
Bab 34


__ADS_3

Baru beberapa langkah, tiba-tiba mulut Amel ada yg membekap hingga ia tak sadarkan diri.


Verlita mulai panik sudah hampir 5 menit dia di depan pintu tapi tak kunjung mendapat sautan. Dengan ragu-ragu, ia membuka pintu, memastikan apa yg sedang terjadi di dalam kamar. Apalagi ia tadi mendengar suara yg sedikit aneh menurutnya.


Ternyata pintu tidak di kunci, Verlita segera mengecek apakah Amel berada di dalam. Verlita kebingungan saat melihat Amel tidak ada di dalam. Ia sudah mengecek ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukannya.


"Vie, Silvi" Teriaknya sambil berlari.


Merasa terpangi, Silvi pun berlari menghampiri sahabatnya itu.


"Ada apa, kenapa harus teriak-teriak. Ini bukan hutan" ujarnya kesal.


"Amel,, Vie. Dia tidak ada di kamar" jelas Verlita dengan nafas yang tak beraturan.


"Maksud kamu? Bukannya tadi dia di kamar?" Ujar Silvi yg mulai panik.


"Ia tadi dia kekamar. Tapi setelah aku cek dia gak ada. Yg buat aku panik jendela kamar kebuaka. Gue takut dia kenapa-napa" ujarnya cemas.


"Sudah loe tenang. Coba hubungi nomernya, kalau tidak aktif baru kita cari" Jelas Silvi mencoba menenangkan sahabatnya.


Verlita mencoba menghubungi no amel. Terdengar suara dering dari dalam kamar, mereka yang mendengar pun langsung mencari sumber suara. Ternyata henpon Amel tertinggal. Mereka berdua mulai panik, mereka langsung keluar mencari keberadaan Amel.


Sebisa mungkin ia berlari mencoba mencari keberadaan Amel berharap tidak terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut. Setiap sudut mereka periksa tapi tak juga menemukannya. Sungguh mereka sudah Amat khawatir terhadap Amel.


Apalagi mengingat banyak yg iri kepadanya. Pikiran mereka berdua sudah tidak karuan. Karna sangking paniknya mereka tak menghiraukan orang yang memperhatikan mereka.


Kembali ke Aldo.

__ADS_1


Aldo dan Dika kini sudah berada di rumah kakek subejo. Mereka di sambut hangat oleh kedua nya. Kakek sedikit terkejuk dengan kehadiran mereka berdua. Sebab baru kali ini ada seseorang dari kota bertandang kerumahnya.


Tak lupa nenek menghidangkan teh hangat untuk keduanya. Dika pun langsung mengutarakan maksud tujuan mereka datang ketempat kakek.


"Begini kek, mohon maaf sebelumnya. maksud kedatangan kami berdua ingin bertanya tentang Amel. Apa benar Amelia kalaresata adalah cucu kakek?" Tanya Dika memperjelas.


Wajah Nenek dan kakek saling menghadap sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Benar, nak. Ada apa? Apakah dia dalam masalah?" Tanya kakek yang mulai khawatir.


"Tidak kek, dia baik- baik saja. Maaf sekali lagi kek. Apakah benar dia cucu kandung kakek dan nenek?" Tanya Dika kembali.


Nenek dan kakek sedikit tersentak. Dalam hati ia bertanya-tanya siapa sebenarnya mereka berdua.


"Kenpa kalian menyakan hal yg sangat pribadi?" Dengan nada yg mulai sedikit naik.


Aldo yg merasa kakek mulai emosi, ia pun meminta Dika untuk diam. Dika yg melihat intruksi dari tuannya ia pun mengangguk.


Awalnya kakek engan memberi tahu kebenarannya. Namun, setelah melihat ketulusan Aldo kakek pun menceritakan yg sesungguhnya.


Senyum mengembang di hati Aldo. Ternyata apa yg di sangka benar. Aldo pun langsung memeluk keduanya dan mengucapkan banyak terima terimakasih kepada kakek dan nenek.


Dika yg melihat pemandangan di depannya sangat terharu. Apa lagi melihat bosnya sangat bahagia. Ini pertamakalinya ia melihat bosnya sebahagia ini.


Kakek dan nenek sangat terharu, apalagi melihat Aldo yg terlihat tulus menyayangi nya, mereka sangat yakin jika Aldo bisa membuat Amel lebih bahagia.


Setelah momen haru, kini Aldo sudah berada di kamar Amel yg sudah 2 tahun ini ia tempati. Awalnya mereka ingin kembali ke kosan, namun karna kakek dan nenek tidak mengizinkan, Akhirnya mereka tidur di kamar kekasihnya.

__ADS_1


Tak henti-henti Aldo tersenyum memandang foto Mesi yg terpajang di sana. "Cantik" ujarnya lirih. Dika yg melihat bosnya yang kasmaran pun hanya tersenyum kikuk. Ia tidak menyangka jika bosnya yg dingin itu bisa se alay ini.


kembali ke Amel.


Verlita dan Silvi sudah kelabakan mencari keberadaan Amel. Hingga ia sampai di lorong jalan, ia mendengar keributan. Mereka pun menghampirinya.


Terlihat aksi bangku hantam dari ke enam pelaku. Ketiga pria itu mengunakan penutup kepala, sementara ketiga lainnya mengunakan pakaian serba hitam. Silvi dan Verlita menyimpulkan jika ketiga pria berpakaian seba hitam itu adalah bodyguard yang sengaja dikirim Aldo untuk menjaga mereka.


Mata Silvi melihat ke sekeling mereka berharap dapat menemukan sahabatnya. Tak jauh dari kerumunan terlihat seorang gadis yg tengah berlari dari kejaran dua orang pria. Karna terburu-buru, ia tak melihat jika ada sebuah mobil yg melaju kencang dan,


Braakk


"Mesi....".Teriak keduanya


Mereka berlari menghampiri Amel. Verlita histeris, ketika melihat tubuh Amel sudah berlumuran darah. Para bodyguard yg mendengar teriakan mereka berdua segera berlari menghampiri sumbernya.


Setelah melihat keadaan Amel tanpa pikir panjang mereka langsung membopong Amel dan membawa nya ke rumah sakit. Dengan derai air mata, Silvi dan Verlita mengikutinya.


Sepanjang jalan kedua sahabatnya tersebut tak henti-hentinya berdoa, meminta kepada Allah agar tak terjadi sesuatu kepada sahabatnya. Sungguh ia sangat merasa bersalah, karna tidak bisa menjaga sahabatnya itu.


Dari kejauhan, seseorang tersenyum puas melihat apa yg terjadi pada gadis itu. Sungguh ini saat yg ia tunggu-tunggu berharap gadis itu akan musnah. Ya itulah yg selama ini ia harapkan.


Maaf, lama up😊😊😊


Terimakasih yg sudah sabar menunggu


Jangan lupa like komennya ya biar author semangat 😁😁😁😁

__ADS_1


Apa lagi kalau beri vote dan hadiah tambah semangat up nyaπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹


Terimakasih yg sudah mampir semoga menghiburπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2