
Sontak mata Aldo membulat. Ia langsung menarik Amel dan mengecup bibirnya dengan lembut.
Ceklek.
"Apa yg kalian lakukan" Teriak seorang wanita dengan suara lantang.
Aldo dengan santai melepaskan ciuman mereka seolah tidak terjadi sesuatu. Sementara Amel, wajahnya sudah bersemu merah. Ia takut melihat aura gadis itu yg sangat mengerikan.
"Harusnya, aku yg bertanya kepadamu. Ada keperluan apa kamu kemari?" jawab Aldo santai sambil menggenggam tangan Amel.
"Kamu...!!! Dasar wanita murahan. Berani sekali kamu menganggu Tunangan ku. Dasar ******...!!!" Teriaknya dengan lantang sambil tangan hendak menjambak rambut Amel.
Aldo dengan sigap menarik tubuh Amel agar berada di belakangnya. Mata Amel membulat. Ia sungguh tidak menyangka, wanita itu menuduhnya wanita ******. "Siapa sebenarnya dia" gumamnya dalam hati. Saking takutnya Amel memeluk Aldo dengan erat. Aldo yg merasakan pelukan Amel sangat erat sontak menggenggam tangannya, agar sedikit memberikan ketenangan. Namun gadis tersebut semakin brutal, ketika melihat Amel memeluk Aldo. Mata wanita itu semakin merah. Menujukan akan emosi yg memuncak. Aldo yg melihat tingkah wanita itu yg semakin menjadi, ia ikut emosi dan tidak dapat mengendalikan diri.
"Kamu.....!!! Jaga bicara mu. Sebelum aku akan bertindak kasar" Tunjuk nya dengan mata tajam bak elang.
"Apa....??? Kamu membela dia...???" Teriaknya dengan raut wajah berubah menjadi merah karena emosi yg sudah meledak-ledak.
"Tentu, aku akan membelanya. Asal kamu tau, Dia itu tunangan ku. Jadi berhentilah mengaku sebagai tunaganku" Ujarnya dengan kesal.
"Apa...?? Kamu pasti bercanda...!!! Mana mungkin kamu semudah itu meneriman wanita ****** itu sebagai Tunangan mu. Kamu pasti bohong" Teriaknya dengan gemetar.
"Buat apa aku bohong. Tak ada gunanya. Jadi keluarlah. Sebelum aku menyeret mu..!!! " Teriak Aldo dengan lantang.
"Tega kamu kelakuan ini kepada ku. Jadi selama ini kamu Anggap Aku apa?" runtuh sudah pertahanan wanita tersebut. air matanya mengalir deras.
"Sudah lah. Berapa kali saya bilang sama kamu. aku hanya menganggap mi sebagai Adik tidak lebih. Jadi berhentilah berharap lebih kepadaku" Jelas Aldo serius.
Dika yg berada di ruang sebelah mendengar ada keributan. Dia pun keluar untuk mencari sumber suara tersebut. Ternyata sumber suara itu dari ruangan bosnya. Ia langsung berlari menghampirinya. Sontak matanya membulat. Ia segera menelpon satpam untuk membawa gadis itu keluar.
Setelah menunggu beberapa saat. Akhirnya pak satpam datang. Dika dan Kedua satpam tersebut langsung masuk.
__ADS_1
Aldo yg melihat Dika membawa satpam hatinya sedikit lega. Ia langsung memerintahkan satpam tersebut untuk membawa wanita itu keluar.
"Bawa wanita itu keluar...!!! Jangan pernah biarkan dia masuk kemari apapun alasannya" Perintah Aldo dengan sedikit penekanan Di ujung kalimat
"Baik, pak" Sambil memaksa wanita itu keluar
"Awas, kamu ******. Tunggu pembalasanku...!!!" Teriaka wanita itu karna tidak terima mendapat sebuah penghinaan.
Kedua satpam tersebut dengan sigap menarik wanita itu hingga keluar kantor.
"Tolong, mbak pergi. Jangan membuat keributan disi" Ujar salah satu satpam tersebut. Tanpa menjawab, wanita itu langsung meningalkan kantor tersebut.
Sementara di dalam, Amel masih terdiam. Ia masih shok dengan kejadian tadi. Ia binggung. Siapa wanita itu sebenarnya, mengapa dia bisa semarah itu. Aldo yg melihat Amel ketakutan, ia segera mengenggam tangan Amel kemudian memutar tubuhnya dan memeluknya erat. "Tenanglah. Dia tidak akan melukaimu" Ujarnya sambil mengecup kening Amel. Amel yg mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam. Hatinya mulai menghangat. Setelah melihat keadaan Amel yg mulai membaik, Aldo langsung menghadap Dika.
"Maaf, tuan. Saya sedikit terlambat" Ujarnya penuh penyesalan.
"Tidak apa, Dik. Kamu sudah datang di waktu yg tepat" Ujar Aldo sambil tersenyum.
"Silahkan. Trimakasih Dika. Kamu sudah datang di waktu yg tepat" Ujarnya sambil sedikit tersenyum.
Setelah mendapatkan izin dari bosnya tersebut, Dika segera pergi. Setelah melihat Dika yg mulai menjauh, Amel segera melepas pelukannya dan menjauhi Aldo.
"Kamu....!!! Sengaja kan, melakukan itu. Biar apa? Biar di sangka saya wanita murahan, apa wanita ******, seperti yg wanita itu katakan. Saya tau, kamu membayar saya untuk menjadi pacar pura-pura kamu. Tapi bisakah, kamu menghargai ku sebagai wanita baik di depan orang? Aku tidak perduli tanggapan mu tentang aku apa. Tapi aku mohon jangan membuatku terlihat hina di mata orang banyak. Aku tidak mau, jika omongan tersebut akan sampai di telinga kakek dan nenekku. Aku takut terjadi sesuatu kepada mereka" ujarnya panjang lebar sambil meneteskan air mata.
Aldo yg melihat ke adaan Amel, ia merasa sangat bersalah. Ia pun menghampiri Amel.
"Maafkan, aku" ujarnya tulus.
Setelah itu, Aldo berlalu meninggalkan Amel. Sungguh pikirannya sangat kacau. Ia pun pergi ke ruangan Dika, dan mereka pun berlalu karna meeting sebentar lagi di mulai.
Amel yg melihat ke pergian Aldo ia semakin kesal sungguh ia tidak tahu dengan jalan pikiran pria itu. Mengapa ia bisa sampai senekat itu dan siapa wanita itu sebenarnya? Ah masa bodoh itu bukan urusanku. Yg terpenting bagiku adalah nenek dan kakekku. Selebihnya tidak penting. Amel pun langsung menghapus air matanya dan berbaring di sofa panjang yg ada di sana. tanpa tersadar ia pun terlelap.
__ADS_1
Sepanjang meeting Aldo tidak bisa fokus. Ia masih memikirkan Amel. Sungguh di luar dugaan. Ia tidak menyangka jika Amel akan semarah itu. Sekarang dia bingung apa yg harus ia lakukan. Sungguh hatinya tidak bisa tenang. Setelah meeting selesai ia akan menanyakan kepada Dika dan meminta jalan solusinya. Jujur saja jika masalah wanita, ia tidak bisa berpikir jernih. Sungguh ia akan terlihat sangat bodoh, jika itu sudah menyangkut masalah wanita.
Akhirnya meeting selesai. Dika yg merasa ada sesuatu yg aneh dengan sikap bosnya. Namun ia tidak berani untuk mengatakannya prihal tersebut.
Akhirnya Dika memilih diam dan menunggu bosnya tersebut mau bercerita. Mereka pun berjalan beriringan.
Saat sampai di ruangan Dika, tanpa permisi Aldo langsung masuk dan duduk di kursi kebesaran Dika. Dahi Dika mengernyit. Dika sedikit bingung. ia langsung duduk di kursi yg ada di depan Aldo.
"Ehem, Dik. Kamu tau bagai mana meluluhkan seorang wanita yg sedang merajuk?" Tanya Aldo ragu-ragu.
"Maksud Bapak?" Tanya Dika yg terkejut.
"Syut. Pelan kan suara mu. Kamu tau kan insiden tadi? Amel marah kepada saya, gara-gara tadi wanita itu menyebutnya ******" Jelas Aldo sambil menatap Dika.
"Menurut saya si Tuan, non Amel itu bukan tipe wanita yg mudah marah jika tidak karena sesuatu yg sudah kelewat batas. Tuan, biarkan saja dia menenangkan diri. Saya yakin Dia akan baik-baik saja setelah emosinya mereda" Jelas Dika.
"Kamu yakin Dik?" Tanya Aldo yg merasa kurang yakin dengan ide Dika.
"Saya yakin tuan. Kalau tuan tidak percaya, boleh tuan coba" Jelasnya tanpa keraguan.
"Baiklah saya akan mencoba saran kamu. Terimakasih Dik. Kalau begitu saya permisi dulu" pamitnya sambil berlalu meninggalkan Dika.
Dika tak menjawabnya. ia hanya tersenyum sambil Menganggukkan kepalanya.
Di depan pintu Aldo sedikit Ragu. ia pelan-pelan membuka pintu agar tidak terdengar oleh Amel. Ia ingin memastikan sedang apa Amel sekarang. seketika mata Aldo membulat.
Maaf, author lama upπππ
Karena di dunia nyata author masih banyak kesibukan. Nanti kalau ada waktu senggang, author janji akan double up nya ya.
Terimakasih yg sudah mau menunggu. jangan lupa Komen dan sarannyaπππππππ
__ADS_1