
Malam satu Syuro adalah malam paling kramat dalam tradisi masyarakat Jawa. Malam seperti itu merupakan ajang bagi orang-orang tertentu dalam mencari keberuntungan.
Ada pula tokoh-tokoh terhormat di kalangan masyarakat yang mencuci barang-barang pusakasimpanannya. Malam satu Syuro malam kramat yang mengandung banyak berkah. Tidak heran jika kehadiran malam Syuro ditunggu oleh banyak orang.
Lain lagi halnya yang terjadi di sebuah tempat yang bernama Lereng Gunung Bromo. Seminggu sebelum malam satu Syuro tiba. Banyak tokoh-tokohpersilatan yang datang dari seluruh tanah Jawa telah berkumpul disitu.
Bahkan di antara sekian banyak tokoh yang terdiri dari golongan hitam dan putih ada yang datang dari daerah lain di seberang lautan. Semula kabar menggemparkan tentang akan lahirnya seorang bayi di lereng Gunung Bromo berasal dari seorang pertapa bernama Ki Begawan Sudra yang sudah sejak puluhan tahun mengasingkan diri di pantai laut selatan.
Kabar tentang akan hadirnya bayi aneh ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru tanah Jawa. Kabar itu disampaikan dari mulut ke mulut, bahkan mereka yang tinggal di luar tanah Jawa juga mendengar kabar ini.
Tidak heran jika dua hari menjelang datangnya malam satu Syuro.Lereng Gunung Bromo telah dipenuhioleh orang-orang berkepandaian tinggi yang menginginkan bayi ajaib tersebut.Tidak jauh dari Gunung Bromo, bahkanterlihat satu pemandangan yang tampak aneh.
Beberapa tokoh persilatan yang tergabung dalam sebuah partai telah mengumpulkan para perempuan hamil tua yang berdiam di sekitar lereng gunung tersebut.
Tujuan mereka sudah jelas. Jika memang bayi ajaib itu kelak lahir disitu. Para tokoh persilatan berharap salah satu dari perempuan yang sedang hamil tua ini melahirkan anak yang dianggap memiliki keajaiban itu.
Kalau hal ini sampai terjadi, maka tidak susah-susah mereka bersaing dengan tokoh-tokoh lain yang juga ada di tempat itu.
Tapi mungkinkah partai Persilatan Dunia Akhirat yang dipimpin empat tokoh ini dapat memenuhi ambisinya dengan cara mengumpulkan para perempuan yang sedang dalam keadaan hamil tua ini?
Menurut pertapa Ki Begawan Sudra tersebut. Bayi ajaib yang akan lahir pada malam satu Syuro itu memiliki ciri-ciri tertentu pada keadaan pisiknya. Antara lain ada sebuah tahi lalat besar pada punggungnya, kulitnya putih bersih. Rambutnya berwarna hitam kemerah-merahan.
Menjelang malam satu Syuro tiba. Suasana di sekitar Gunung Bromo tampak gelap berselimut kabut tebal. Padahal saat itu baru sekitar jam tiga sore. Kabut yang menyelimuti lereng Gunung Bromo disertai dengan berhembusnya angin kencang seperti badai topan.
Tiba-tiba suara halilintar menggelegar menyambar puncak Gunung Bromo. Sehingga orang-orang yang berada di sekelilingnya menengadahkan wajahnya ke langit.
"Waktunya sudah hampir tiba!"
teriak salah seorang di antara empat tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat.
"Apanya yang sudah tiba, Baja Geni!" mendengus kawannya yang terus mengawasi para perempuan yang dalam keadaan hamil tua tersebut.
"Kalian lihat sendiri. Sejak tadi orang-orang bunting ini hanya pipis dan berak-berak melulu. Kurasa sampai besok pagi pun bayi aneh itu tidak lahir!" tegasnya sambil bersungut-sungut pada tiga kawannya.
Walaupun dalam suasana serba menegangkan seperti itu. Namun mendengar ucapan Balung Raja. Laki-laki gemuk yang memiliki tingkah kocak ini. Mau tidak mau tiga tokoh partai persilatan Dunia Akhirat tidak dapat menahan senyum.
Hanya laki-laki berbaju merah dan paling tua saja yang cuma tersenyum sebentar. Kemudian sikapnya berubah serius tidak ketulungan.
__ADS_1
"Sudahlah. Hentikan tawa kalian yang jelek! Rasa-rasanya tanda-tanda kelahiran bocah aneh itu sudah semakin dekat. Orang-orang hamil ini harus kita awasi dengan ketat. Jika salah seorang di antara mereka mengerang kesakitan. Itu tandanya mau melahirkan!"
"Pesanmu akan kami perhatikan Ki Rambe Edan!" sahut Baja Geni.
Laki-laki bertubuh jangkung dan berwajah tirus, angker seperti muka setan playangan.
"Hmm.... Lihat!" Balung Raja tiba-tiba saja berseru keras.
Jari telunjuknya mengarah ke salah seorang perempuan setengah baya yang tampak mulai mengerang-erang, tiga tombak di depan mereka.
Dengan sigap tiga orang tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat segera menyerbu ke arah perempuan itu.Perempuan dalam keadaan hamil tua ini terus mengerang-ngerang. Ki Rambe Edan dengan hati berdebar-debar segera mendekatinya.
Sementara itu, Braja Musti, Balung Raja dan Raja Geni tampak berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang tidak diingini.
"Apakah kau hendak melahirkan, perempuan istri orang?" tanya Ki Rambe Edan sambil berjongkok di sebelah perempuan berkebaya warna kuning.
"Tidak! Perutku mulas. Sejak tadi aku kentut-kentut melulu. Suami! Mana suamiku?" rintih perempuan berkebaya kuning ini.
"Suamimu? Ha ha ha...! Suamimu telah berangkat ke neraka duluan!" dengus Ki Rambe Edan.
"Aku tidak membutuhkan suamimu, kau dengar? Yang kami butuhkan adalah anakmu. Itu pun jika kau melahirkan seorang anak laki-laki sesuai dengan ciri-ciri anak ajaib yang telah kami ketahui. Jika tidak, kau dan anakmu tentu segera menyusul suamimu ke neraka!"
Belum lagi tiga orang kawannya yang memiliki senjata sangat aneh bentuknya.
"******* kalian semua! Anakku tidak akan kuberikan pada manusia-manusia iblis macam kalian!" maki perempuan itu sambil meludahi muka Ki Rambe Edan.
Plak! Plak!
"Aarkh...!" Perempuan malang ini menjerit kesakitan ketika tamparan Ki Rambe Edan menghantam wajahnya.
Darah langsung mengucur dari hidungnya. Ia terkulai pingsan. Apa yang dialami oleh perempuan berkebaya warna kuning ini sempat dilihat oleh sepuluh perempuan hamil lainnya.
Mereka jadi lumer nyalinya. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Ki Rambe Edan bangkit berdiri.
Tatapan matanya berkilat-kilat tajam menyapu pandang pada para perempuan yang dalam keadaan tidak berdaya itu.
"Dengar kalian semua!" Lantang suara Ki Rambe Edan.
__ADS_1
"Siapa saja yang berani bertindak bodoh atau menyulitkan kami. Kalian akan mengalami siksaan yang sangat pedih dari kami!"
"Betul. Kami akan mengorek perut kalian dan mengambil jabang bayi yang belum waktunya melek di dunia ini!" tidak kalah seramnya. Balung Raja menimpali.
Kita tinggalkan dulu kawanan tokoh-tokoh yang sangat berambisi untuk memiliki bayi ajaib yang berada di lereng sebelah timur Gunung Bromo ini.
Sementara itu di lereng sebelah barat Gunung Bromo juga sedang terjadi ketegangan. Di tempat ini berkumpul tokoh-tokoh sakti kelas satu.
Walau jumlah mereka tidak sebanyak yang berada di sebelah timur. Tapi tokoh tokoh yang datang dari berbagai daerah ini patut diperhitungkan.
Mereka terus bersikap waspada dan menunggu segala kemungkinan. Di antara mereka ada yang mengendap-endap mendekati sebuah rumah berdinding kayu. Tapi ada juga yang duduk ongkang-ongkang ngejelepok ke tanah.
Satu dua di antara mereka pula yang terus menerus memandang ke atas Gunung Bromo yang menjulang tinggi. Di sebuah rumah yang telah terkepung oleh beberapa orang tokoh
ini.
Seorang laki-laki muda tampak gelisah. Sesekali ia melirik ke arah kamar di mana seorang perempuan berusia muda dalam keadaan terbaring dan perut membuncit. Laki-laki itu berwajah tampan. Ia memakai baju warna putih dengan ikat kepala warna putih pula. Di bagian pinggangnya tersembul
sebilah gagang golok berbentuk aneh. Gagang golok inilah yang sejak tadi dipegangnya.
"Kakang!" rintih sebuah suara dari dalam kamar. Laki-laki berwajah tampan ini memasuki kamar istrinya.
Sebuah pelita dengan nyalanya yang redup menerangi wajah seorang perempuan berwajah cantik.
"Ada apa, Dewi?" tanya sang suami sambil membelai-belai kening Dewi Rini istrinya.
"Kurasa sudah hampir tiba waktunya bagiku untuk melahirkan anak kita, Kakang Satria!" ujar perempuan itu melalui ilmumenyusupkan suara.
Bagaimana pun sebagai seorang pendekar. Nalurinya mengatakan bahwa saat itu ada bahaya besar yang mengancam keselamatan mereka berdua.
"Tenanglah, jangan kau berpikir yang bukan-bukan." Satria Purba membujuk.
"Aku mendengar dan membaui kehadiran mereka. Apakah Kakang tidak tahu mereka sekarang telah mengepung tempat tinggal kita ini?"
Sang suami menggeleng-gelengkan kepala. "Menurut penyelidikanku. Sekarang ini tokoh-tokoh persilatan sedang berkumpul di sebelah timur lereng Gunung Bromo ini. Bahkan
kulihat perempuan-perempuan hamil tua
__ADS_1
yang tinggal di desa Anabrang telah mereka kumpulkan di suatu tempat. Kalau pun ada yang menunggu di sebelah barat ini. Aku telah berjaga-jaga dari segala kemungkinan! Aku takut paman Dewana tidak mendengar kabar menggemparkan yang terjadi akhir-akhir ini."