
"Seluruh tokoh rimba persilatan di permukaan bumi ini mungkin tidak dapat menembus alam gaib, Barata Surya. Jauh-jauh aku datang dari pulau Seribu Satu Malam. Semata-mata demi menyelamatkan keturunanku dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab!"
Kalau saja tokoh lain yang bicara seperti itu. Walaupun jumlah mereka mencapai belasan. Mungkin Penghulu Siluman Kera Putih tidak akan gentar menghadapinya. Tapi jika memang benarlah laki-laki yang bicara tadi tanpa mau menunjukkan diri. Berarti Sekarang ia sedang berhadapan dengan Malaikat Berambut Api. Yaitu satu-satunya tokoh sakti yang sangat diseganinya di kolong jagad ini.
"Kisanak! Tunjukkanlah diri! Segala sesuatunya masih dapat kita bicarakan...!"
Byaar! Byaar!
Lereng gunung Mahameru seakan diterangi oleh ribuan pelita yang datang dari seluruh penjuru arah. Suasana kemudian berubah menjadi terang benderang. Di tengah-tengah cahaya terang berkilau itu, tampak sosok tubuh berambut merah dan juga memakai pakaian warna merah belang kuning. Wajahnya yang ditumbuhi cambang berwarna merah tampak dingin berwibawa.
"Malaikat Berambut Api!" desis Barata Surya setelah melihat siapa laki-laki di-depannya.
"Berikan anak itu padaku, Barata Surya!" perintah Malaikat Berambut Api alias Dewana. Suaranya terasa tajam menusuk.
"Eeh... mana bisa begitu! Aku ingin mengangkat bocah berambut merah ini menjadi muridku! Seluruh apa yang kumiliki ingin kuturunkan kepadanya! Apakah itu tidak hebat?"
"Apa?" Malaikat Berambut Api belalakkan mata.
"Satu kegilaan besar jika semua apa yang kau miliki kau turunkan pada cucuku. Kau manusia s*nting, gila, konyol dan keblinger! Dalam didikanmu cucuku bisa jagi t*lol!"
"Ah... he he he...! Betul! Ini anak hebat, apa yang dikatakan oleh pertapa Ki Begawan Sudra memang ada padanya. Rambutnya merah seperti rambutmu, Kisanak. Ada tompelnya dan tulang-tulangnya baik sekali. Tapi lihatlah, tampangnya t*lol tidak ketulungan!"
Wuss!
Sekali berkelebat Dewana telah sampai di depan Barata Surya. Tangannya berkelebat laksana kilat. Tahu-tahu bayi berambut merah itu telah berada di tangan Malaikat Berambut Api.
Namun keanehan terjadi. Bayi di tangan Dewana ini langsung menangis. Tubuhnya meronta-ronta seperti tidak suka berada dalam gendongan kakeknya.
"Cup... diam cucuku! Aku ini kakekmu! Eeh... betul, tampangmu seperti tampang orang t*lol...!"
Semakin bertambah keras saja tangis si bayi. Hingga membuat Penghulu Siluman Kera Putih tertawa-tawa. Malaikat Berambut Api jadi salah tingkah.
"Aku rasanya tidak dapat membuatnya diam. Ia sudah terlanjur akrab dengan siluman jelek itu. Kalau dia menangis terus. Mana mungkin aku dapat membawanya ke Pulau Seribu Satu Malam. Walah... dia kencing lagi...!"
Wajah Dewana berubah memerah.
"Apa kataku. Dia tidak mau ikut kakeknya."
Tiba-tiba Barata Surya merebut bayi itu. Ehh... begitu berada dalam gendongan Penghulu Siluman Kera Putih. Bayi itu diam seketika. Bahkan ia mulai tersenyum-senyum kembali.
"Apa dosaku? Dia benar-benar serasi dengan siluman muka k*nyuk itu. Kalau pun aku bersikeras dengannya, paling tidak segala kesaktian yang kumiliki dapat mengalahkannya. Tapi bagaimana kalau anak itu menangis terus! Bocah itu benar-benar memaksaku untuk menentukan pilihan...!" gerutu Dewana sambil katupkan rahangnya rapat-rapat.
__ADS_1
"Lihatlah sobat! Dia diam. Dia suka padaku. Eeh... bagaimana pendapatmu jika kita sama-sama membesarkannya di tempat ini?"
"Membesarkannya di tempat kediaman siluman. Jangan-jangan kalau besar nanti dia menjadi s*tan gentayangan. Kurasa lebih baik jika aku membesarkannya di kandang kuda!"
Wajah Penghulu Siluman Kera Putih berubah memerah. Namun hanya sebentar saja. Untung yang bicara itu adalah tokoh sangat sakti yang diseganinya, kalau tidak Barata Surya pasti sudah menampar kakek tua di depannya itu pulang pergi.
"Ah, jangan begitu sobat. Seumur hidup aku belum punya murid. Kau pun begitu juga. Jika kekuatan kita sama-sama kita gabungkan kelak ia akan menjadi seorang pendekar tangguh tanpa tanding!"
"Kau membujukku?" dengus Malaikat Berambut Api.
"Mana berani aku mengatakan begitu. Aku cuma mengajakmu untuk memberikan yang terbaik padanya."
"Bagaimana kalau kita sama-sama membesarkannya di Pulau Seribu Satu Malam?"
"Walah! Jauh amat. Mana bisa aku mengawasi kera-kera siluman yang berdiam di sini kalau aku harus pergi ke tempatmu!"
"Jika begitu urusi saja monyet-monyetmu itu. Biar aku yang urus cucuku...!" ketus suara Malaikat Berambut Api.
"Jangan begitu sobat! Aku sungguh-sungguh mengasihi anak ini, karena Anda merupakan orang yang paling berhak. Maka aku bersedia bekerja sama membesarkan anak ini."
Dalam suasana seperti itu. Malaikat Berambut Api merasa harus mengambil kesimpulan terbaik.
"Wah belum. Dua minggu bersamanya aku merasa senang sekali. Sehingga belum terpikirkan olehku tentang namanya." Barata Surya menyahuti.
"Kedua orang tuanya telah menjadi korban...!"
"Aku ikut merasa prihatin atas kejadian itu." Memotong Barata Surya.
"Dia terlahir pada malam satu Asyuro. Karena rambutnya yang kemerah-merah itu. Maka aku memberinya nama Suro Blondo.... Bagaimana apakah kau setuju...?!"
Penghulu Siluman Kera Putih tidak langsung menjawab. Melainkan memandang pada bayi dalam gendongannya. Seraya bicara pada bayi itu seperti sedang bicara dengan orang yang sudah dewasa.
"Kau setuju jika kakekmu memberi nama Suro Blondo?"
Bayi dalam gendongan Barata Surya menggeliatkan tubuhnya sejenak kemudian tawa kecilnya terdengar.
"Ha ha ha! Dia setuju, sobat! Dia setuju dengan pemberian nama itu." kata Barata Surya.
"Kalau dia setuju aku pun setuju."
"Baik! Tapi aku punya beberapa syarat yang harus kau penuhi." tegas Malaikat Barambut Api.
__ADS_1
"Apakah syarat-syaratnya?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih sambil cengar-cengir.
"Pertama aku tidak suka kau menurunkan sifat-sifat jelekmu kepadanya. Kedua aku yang memberi dasar-dasar ilmu tenaga dalam kepadanya. Aku tidak mau melihatmu mengajarkan ilmu sesat padanya?!"
"Oho... jangan takut. Semua ilmuku tidak ada yang menyesatkan. Aku menjamin Suro Blondo tidak tersesat!"
"Ingat! Janjimu kupegang sampai kapan pun. Sekali kau ingkar! Bukan kau saja yang akan menanggung akibatnya. Seluruh monyet-monyet siluman yang ada di sini akan menanggung akibat perbuatanmu!"
Ancaman Malaikat Berambut Api bukan main-main. Siluman Kera Putih sadar benar siapa tokoh yang jarang muncul di rimba persilatan ini. Setiap kemarahannya dapat menimbulkan kobaran api di kepalanya. Dan ia sangat disegani karena tinggi ilmu kesaktiannya yang tidak dapat diukur.
"Aku terima perjanjian ini sobat!" sahut Barata Surya serius."
"Jika Anda suka. Anda boleh tinggal di dalam gubukku ini...!"
"Hmm, sekali-sekali tidak. Hanya sewaktu-waktu saja aku akan datang kemari. Siang hari cucuku berada dalam pengawasan dan didikanku. Sedangkan pada malam hari ia berada dalam bimbinganmu sepenuhnya!"
"Aku setuju! Ya... aku setuju sekali...!" Penghulu Siluman Kera Putih tertawa cengengesan.
***
Hampir setiap malam bocah lucu bertampang t*lol itu selalu bermain-main dengan kera-kera berbulu putih yang jumlahnya mencapai ratusan ekor.
Dalam usianya yang baru tujuh tahun. Tubuhnya sudah tampak kekar berotot. Walaupun tampangnya blo'on, namun sesungguhnya ia mempunyai otak yang cerdas. Hanya dalam waktu-waktu tertentu saja ia memang tampak lamban dalam berpikir. Tapi tingkahnya yang konyol, kocak membuat kera-kera yang selalu menemaninya menjadi sangat suka bermain-main dengannya.
Malam itu udara di lereng Gunung Mahameru terasa dingin mencucuk. Tapi sungguh aneh, bocah bertelanjang dada ini malah merasakan kegerahan yang bukan alang kepalang. Ia mengipas-ngipas daun jati di tangannya. Daun jati itu bolong-bolong bekas dimakan ulat. Sehingga kipasan-kipasan yang dilakukannya tidak membawa arti sama sekali. Tiba-tiba ia nyengir sendiri.
"Kakek Dewana tidak sama dengan kakek Barata Surya. Orang rambut merah itu terlalu keras dalam membimbingku. Ia datang seperti setan dan pergi seperti angin. Tapi ia mengatakan dirinya sebagai kakekku. Apa sih artinya kakek? Dan guruku yang kayak monyet itu. Hampir tiap malam selalu memasukkan aku ke dalam telaga yang ada asapnya. Kata kera-kera itu telaga di bawah sana rasanya panasnya seperti lahar gunung. Tapi ketika aku dimasukkan ke dalam telaga itu. Uuh... air telaga itu dinginnya tidak ketulungan...!"
Swiiiet!
"Eeh... guru gila itu memanggilku. Malam malam begini aku disuruh mandi lagi. Bagaimana ini? Apakah aku harus menolak?" batin si bocah kekar lalu mengusap-usap dadanya yang bidang.
"Suro Blondo manusia t*lol! Cepat kau kemari. Saatnya bagimu untuk menikmati sarapan kesepuluh...!" terdengar teriakan orang yang sangat dikenalnya.
"Sialan guru k*mpret! Malam ini aku tidak mau mandi di situ. Aku mau tidur!"
"Kurang ajar. Jangan buat kakekmu jadi kecewa. Telaga mendidih itu adalah untuk memantapkan tenaga dalammu...!"
"Guru s*nting. Setiap malam aku harus mandi di dalam air mendidih yang sangat berbisa itu. Di dalamnya ular-ular merah menggelitikku. Sedangkan kau sendiri enak-enakan ngorok di atas pohon telaga!"
Sebenarnya ular-ular merah berbisa yang hidup di dalam telaga panas tersebut bukan menggelitik Suro Blondo, melainkan menggigitnya. Sehingga tanpa disadari oleh Suro Blondo. Lama kelamaan tubuhnya menjadi kebal terhadap segala macam bisa yang maha ganas sekali pun.
__ADS_1