Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
19


__ADS_3

Mula-mula yang dilihatnya adalah kemunculan seorang laki-laki berbadan pendek, cebol, wajahnya pucat kekuning-kuningan.


Kumisnya cuma beberapa gelintir saja sedangkan alis matanya berwarna putih. Ia memakai celana pendek sebatas dengkul, bajunya hanya berupa selempang berwarna hitam. Di pinggang katai Muka pucat ini menggelantung sebuah ruyung berwarna perak.


Katai itu berjalan mendekati perempuan setengah telan jang di atas altar. Rupanya ia tidak menyadari kehadiran Suro di situ, sedangkan pemuda itu sendiri langsung tergetar tubuhnya saat melihat katai muka pucat.


"Inilah salah satu orang yang telah membunuh kedua orang tuaku, mana yang muka merah?" pikir Suro Blondo.


Manusia katai ini setelah sampai di atas altar langsung menyingkap pakaian bawah gadis yang kepala serta wajahnya terbungkus kain merah.


Setelah membuka pakaiannya sendiri, ia melakukan perbuatan yang sangat terku tuk atas diri si malang. Badannya yang kecil menghempas-hempas di atas tubuh si gadis.


Tahulah Suro Blondo apa yang telah dilakukan oleh Katai Muka Mayat ini terhadap gadis di atas altar.


Wajah Pendekar Blo'on berubah kelam membesi. Ia meninggalkan kegelapan sudut gua. Tangannya melambai pelan. Angin menderu dari telapak tangannya, melesat dengan cepat menghantam Katai Muka Mayat.


Laki-laki berbadan kerdil ini langsung jatuh terpelanting. Rasa kejut di hatinya bukan alang kepalang.


Kalaulah Suro mau membokong, tentu Katai Muka Mayat telah tergelimpang menjadi bangkai atau paling tidak menderita luka dalam cukup parah.


Tapi pemuda berambut hitam kemerahan bertampang to lol ini walau mempunyai dendam sedalam lautan terhadap orang-orang yang telah membunuh ayah ibunya, ia tidak mau bertindak gegabah dan kesalahan tangan.


Katai Muka Mayat bangkit berdiri. Wajahnya jelas tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya tatkala melihat kehadiran seorang pemuda asing di ruangan itu. Ia jadi teringat pada pintu gua yang ditutupnya. Tidak setiap orang mampu membukanya terkecuali mereka yang memiliki tenaga dalam tinggi.


"Hhm, kau begitu berani menyeberangi selat dan menyusup ke tempat tinggal iblis. Siapa namamu?" Katai Muka Mayat menggeram.


Suro Blondo garuk-garuk kepala.


"Ha ha ha...! Bicara ya bicara... tapi urusi dulu senjata kramat berikut buah jambu milikmu. Gondal-gandil seperti itu apakah kau mau pamer kelebatan hutan rimbanya?"


"Aih...!"


Katai Muka Mayat langsung mendekap bawah pusarnya. Ia mengenakan pakaian seadanya. Tidak lupa ia juga mengambil ruyung yang tergeletak di bawah kaki telanjang si gadis.


Wajah laki-laki itu semakin bertambah pucat. Tiba-tiba saja ia membentak berang:


"Cepat katakan siapa kau yang sebenarnya, ku nyuk bertampang tol ol!"


"Dengar an jing gladak!" dengus Suro Blondo tidak kalah sengitnya.


"Aku Suro Blondo, putra Sepasang Pendekar Golok Terbang dari gunung Bromo. Apakah kau ingat peristiwa delapan belas tahun yang lalu? Hah... mana kembaranmu yang bermuka merah?"


Katai Muka Mayat terkesiap, matanya yang kecil molotot. Tanpa sadar ia bahkan sampai bersurut mundur. Bibirnya mendesis…..


"Kau bocah ajaib itu? Rambutmu kemerahan, tapi tampangmu tidak meyakinkan. Apakah kau punya tompel di punggung?" tanya Katai Muka Mayat seakan menyelidik.


"Sekarang tidak ada waktu lagi untuk bertanya jawab, manusia cebol! Apakah aku punya tompel di punggung, di kening, hidung atau di kumis. Itu bukan persoalan. Jika kau merasa berhutang, maka hari ini aku datang untuk menagih hutang-hutangmu!"


"Hu hu hu...!" Katai Muka Mayat tertawa.


Suaranya jelek seperti burung hantu yang menderita mejan.


"Secara jujur aku memang ikut membunuh Satria Purba dan Dewi Rini orang tuamu. Aku dan kakangku dan yang satunya lagi tidak perlu kusebutkan karena aku sangat menghormatinya. Tapi mengingat tampangmu yang begitu, aku yakin ramalan pertapa itu hanya bualan saja. Hu hu hu... aku dan saudaraku memang ingin mencarimu. Membunuh pohon harus sampai ke akar-akarnya. Tidak disangka kau datang sendiri mengantarkan nyawa... Hu hu hu...!"


Katai Muka Mayat tiba-tiba melompat ke depan sambil lambaikan tangannya, tiga leret sinar berwarna keperakan datang menggebu-gebu.


Suro sadar betul bahwa lawannya telah menyambitkan senjata rahasia ke arahnya sehingga dengan gerakan kacau ia menghindarinya.


Serangan senjata rahasia itu lewat setengah jengkal di atas kepalanya.


"Crap! Crap! Crap!"


"Bukan main...!" desis si pemuda.


Ia berpaling ke belakangnya. Ternyata senjata rahasia berbentuk empat persegi itu menancap dalam pada dinding karang yang cukup atos tersebut.


Katai Muka Mayat gelengkan kepala melihat pemuda berbaju biru ini dapat menghindari serangannya.


"Kau punya kebolehan juga rupanya. Sayang kau berada di dalam wilayah kekuasaanku. Hanya orang yang punya nyawa rangkap saja dapat keluar dari tempat ini hidup-hidup!"


"Jangan kelewat percaya diri, Iblis tergencet bumi. Lihat serangan...!" Suro membentak keras.

__ADS_1


Suaranya menimbulkan gema hingga membuat dinding gua karang tergetar.


"Hu hu hu! Shaaa...!"


Katai Muka Mayat melompat ke udara. Serangan Suro luput dan menghantam altar di depannya. Altar hancur, tubuh perempuan telan jang tergontai di udara dan jatuh lagi di atas hancuran batu-batu altar.


Dari atas menderu selaksa angin memerihkan kulit Suro Blondo. Pemuda ini melompat mundur sejauh dua batang tombak.


"Blaar!"


Lagi-lagi gua karang tergetar. Pukulan yang dilepaskan oleh Katai Muka Mayat luput. Di tengah ruangan gua terlihat sebuah lubang besar akibat pukulan si Katai yang luput sasaran tadi.


"Zeb! Zeb! Dep!"


Kaki si katai direntang, tangannya diputar cepat. Terdengar suara angin menderu-deru ketika manusia katai ini menggerakkan tangannya.


"Badai Topan Menggempur Karang...!" teriak si Katai menyebut nama jurus yang dimainkannya.


"Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor...!" jerit Suro Blondo tidak mau kalah.


Jika Katai Muka Mayat gerakan-gerakan silatnya sangat teratur sekali, maka sebaliknya dengan Suro Blondo. Gerakan yang dilakukannya tidak pernah beraturan dan terkesan konyol.


Namun hingga sejauh itu ia dapat menghindari serangan lawan dengan sangat baik sekali. Pemuda ini kemudian bergerak


cepat, pada saat lawan semakin meningkatkan serangannya. Di lain saat ia melakukan serangan balik yang tidak kalah hebatnya.


"Hiyaa...!"


"Deb!"


"Wuus!"


Dengan mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya, Katai Muka Mayat lepaskan tendangan menggeledek ke perut Suro Blondo.


Pemuda ini geser langkahnya ke samping. Tangannya menangkis sambil lepaskan tinjunya ke wajah lawan.


"Dhaak!"


"Wiih...!"


Suro Blondo mengeluh. Tangannya yang dipergunakan menangkis terasa kesemutan. Katai Muka Mayat terhuyung ke belakang sambil terpincang-pincang.


Ia menggeram marah, dilihatnya bayangan lawan semakin lama semakin bertambah banyak. Ia menyerang lagi sambil kerutkan kening. Sejauh itu serangan-serangan yang dilakukannya selalu mengenai sasaran kosong.


Dengan gusar ia melompat mundur, tangannya yang pendek diangkat ke atas kepala. Tangan itu digosok-gosokkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian.


"Plak! Plak!"


Saatkedua tangannya saling bersambut, maka terdengar suara ledakan-ledakan menggelegar. Suro terkesiap ketika sepuluh larik sinar mengejar ke arahnya. Pemuda berambut kemerahan ini mencoba memapakinya dengan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar'.


Mendadak suasana di sekelilingnya menjadi sirap. Tangan si pemuda yang melintang di depan dada bergetar hebat. Pukulan 'Monyongsong Kabut Tenggelam Dalam Kegelapan' yang terdiri dari sepuluh laret sinar berwarna biru ini seakan tersendat-sendat.


Bukan langsung menghantam tubuh si pemuda melainkan berputar-putar mengelilinginya.


Ketika Suro Blondo menggerakkan kedua tangannya dengan gerak membubarkan, maka terdengar sepuluh kali suara ledakan beruntun. Katai Muka Mayat jatuh terguling-guling dan menghantam dinding gua.


Sebaliknya, Suro Blondo jatuh terjengkang. Dari sudut-sudut bibirnya menetes darah kental berwarna hitam. Ia cepat mengerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dalam yang ia derita.


Katai Muka Mayat walau juga sempat merasa dadanya seperti hendak remuk, namun secepatnya ia bangkit berdiri.


"Pemuda ini tidak bisa dianggap main-main. Kakang Muka Merah tidak ada di tempat saat ini. Kalau dia ada tentu untuk membunuhnya bukanlah sesuatu yang sulit. Kini aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menghabisi riwayat anak ajaib ini...!" bathin Katai Muka Mayat.


Selagi lawan dalam keadaan lengah, Katai Muka Mayat kembali menyerangnya. Kali ini ia mempergunakan ruyung peraknya yang berjumlah dua buah itu.


Suro Blondo menyeringai, ketika dua ruyung maut yang dapat mengembang dan menguncup itu menyerangnya. Suro Blondo menghindarinya sambil berjingkrak-jingkrak. Terkadang badannya condong ke depan, lalu miring ke kiri dan ke kanan.


Di lain saat ia berjongkok, lalu mencecar kaki lawannya, hingga membuat si Katai melompat mundur tarik balik serangan.


Tokoh sesat dari selatan ini kembangkan ruyung di tangan kiri, sedangkan yang di tangan kanan dibiarkannya tetap menguncup. Ruyung yang terkembang ini dibiarkan sedemikian rupa, kemudian diputar hingga menimbulkan deru suara anginyang sangat menyakitkan gendang-gendang telinga.


"Ziing!"

__ADS_1


"Wuut! Wuut!"


Ruyung yang terkembang menerabas dada Suro sedangkan yang tetap menguncup menusuk ke bagian dada.


Salah satu serangan ganas ini memang dapat dihindari Pendekar Blo'on. Tapi serangan lainnya tidak sempat dielakkannya walaupun ia telahmelakukan gerak serta langkah yang aneh-aneh.


"Bret!"


"Eph...!"


Pemuda ini mendekap bahunya yang sempat robek dari bagian baju sampai ke dagingnya. Darah mengucur. Ia cepat totok urat darahnya hingga darah yang mengalir cepat terhenti.


Mata si pemuda berkedap-kedip. Mulutnya pletat pletot, kemudian kaki depan ditekuk. Tangan ditepuknya ke bagian lutut, sedangkan yang kiri diangkat sejajar dengan bahu.


Pemuda berambut kemerahan ini rupanya tidak ingin menghadapi serangan senjata lawan dengan mempergunakan Mandau Jantan yang selalu memperdengarkan suara rintihan tangis itu, melainkan dengan mempergunakan pukulan pamungkas kedua warisan dari kakek merangkap gurunya Malaikat Berambut Api.


Rambutnya yang hitam kemerah-merahan itu secara perlahan berubah merah membara sepenuhnya sehingga dilihat sepintas seperti lidah api yang berumbai-umbai. Jelas si pemuda telah mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya.


Inilah pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Sebuah pukulan maha dahsyat yang tidak ada duanya di kolong langit ini.


Ketika Pendekar Blo'on dorongkan kedua tangannya ke depan, maka terdengar suara angin menderu-deru. Lalu terdengar pula suara jeritan di mana-mana. Jerit ketakutan yang seakan datang dari alam roh dan alam kubur.


Jeritan ini sungguh membuat merinding bulu kuduk yang mendengarnya, termasuk juga Katai Muka Mayat. Selain itu ia terkesiap melihat rambut lawannya seperti dikobari api.


Melihat bahaya yang mengancamnya, Katai Muka Mayat mengembangkan ruyung lainnya. Sinar merah hitam menggebu-gebu. Lalu pukulan maut ini menghantam ruyung di tangan Katai Muka Mayat.


"Bum! Bum!"


"Praak!"


Benturan itu membuat ruyung di tangan Katai Muka Mayat hancur berkeping-keping. Katai Muka Mayatterhempas melabrak dinding goa karang.


Ia bangkit berdiri. Terlihat dengan jelas darah mengucur dari hidung dan mulutnya. Namun ternyata ia memiliki daya tahan yang sangat hebat.


Secepatnya ia bangkit berdiri. Suara jeritan mengerikan lenyap, tapi sebentar kemudian terdengar suara jeritan lagi.


Kali ini Katai Muka Mayat tidak tinggal diam. Kehebatan yang dimiliki pemuda bertampang to lol ini benar-benar telah membuka matanya.


Tidak pelak lagi bersamaan waktunya dengan saat pemuda itu lepaskan pukulannya yang sangat mengerikan itu. Ia juga lepaskan pukulan 'Menyongsong Kabut Tenggelam Dalam Kegelapan' tingkat paling tinggi.


Keadaan di dalam ruangan gua seperti hendak kiamat saja layaknya. Berleret-leret sinar saling menghantamdengan suara yang memekakkan gendang-gendang telinga.


"Glar! Duaamm...!"


"Broll...!"


"Wuaaakkkhh...!"


Suro Blondo tergontai-gontai lalu terjatuh terjajar menimpa tubuh perempuan telan jang yang sudah meregang ajal terkena sambaran pukulannya tadi.


Dinding gua jebol, sosok tubuh terlempar keluar disertai suara jeritan menggidikkan. Sosok tubuh si Kate melayang-layang dan terjatuh ke dalam laut.


Tidak ada seorang pun yang tahu apakah Katai Muka Mayat ini masih hidup apa sudah mati.


Sambil mengatur nafasnya yang memburu, Suro Blondo mengedarkan matanya ke segenap ruangan gua yang nyaris runtuh dan retak di sana-sini.


"Eeh... aku telah duduk di atas mayat perempuan ini," desis pemuda itu sambil bangkit berdiri.


Ia melongok ke arah dinding gua yang berlubang besar, ia sadar dari sinilah tubuh si katai terlempar. Ia melirik ke bawah. Masih terlihat riak-riak air laut di mana lawannya jatuh tadi. Demikian tingginya puncak bukit ini sehingga membuat tengkuk Suro meremang.


"Aku harus memeriksa ruangan lainnya. Siapa tahu Katai Muka Merah bersembunyi di dalam sana."


Melihat kondisi gua yang sangat membahayakan, Suro Blondo cepat memeriksa sisa-sisa ruangan yang berada dalam gua itu. Tapi ia tidak melihat orang yang dicarinya selain perempuan-perempuan telan jang yang sudah tidak bernyawa lagi.


Pendekar Blo'on palingkan muka ke arah lain dengan muka merah jengah.


"Manusia cebol itu rupanya punya kegemaran mengumpulkan perempuan. Huh sayang sekali aku tidak tahu di mana Katai Merah. Dan si kampret itu siapa bisa jamin itu siapa bisa jamin kalau dia ****** terkena pukulanku atau dimangsa hiu," gerutunya sambil garuk-garuk kepala.


Suro Blondo kemudian cepat berlari kaluar dari gua karang itu ketika ia mendengar suara bergemuruh. Dinding-dinding gua berjatuhan, baru saja Suro sampai di mulut pintu gua. Gua tersebut benar-benar runtuh menimbulkan suara menggemuruh seperti diguncang gempa.


"Hampir... hampir saja mam pus. Kalau mati di atas perempuan mungkin enak. Tapi kalau tertimbun batu apa enaknya...?"

__ADS_1


Suro Blondo nyengir kuda. Ia memandang ke jalan semula. Melalui jalan itu pula ia harus turun. Diam-diam hatinya heran juga ketika melihat sosok serba putih berdiri di sana dengan jarak sekitar seratus tombak.


__ADS_2