
"Bagus! Aku setuju, Braja Musti. Tapi kudengar-dengar di sebelah barat lereng gunung ini berdiam sepasang Pendekar Golok Terbang. Kita harus menyelidik apakah mereka masih tinggal di daerah ini atau tidak. Jika memang tidak, kita dapat memulai segala sesuatunya dari sini." Ki Rambe Edan menimpali.
Ketika itu Baja Geni segera memberi isyarat pada dua orang kawannya untuk membantai para perempuan malang yang dalam keadaan hamil tua tersebut.
"Kalian dikumpulkan di sini ternyata merupakan orang-orang yang tidak mempunyai guna sama sekali. Malam ini adalah malam terakhir kalian dapat melihat dunia!" desis laki-laki tertampang sadis ini.
Sreek!
Baja Geni dan kawannya mencabut senjata di pinggang masing-masing. Para perempuan yang tidak berdaya ini ketakutan setengah mati.
"Ja... jangan bunuh kami...! Kasihanilah selembar nyawa kami, Tuan?" rintih para perempuan itu ketakutan.
Tubuh mereka menggigil, terlebih-lebih setelah melihat kilatan senjata di tangan orang-orang di depannya.
"Nyawa kalian memang cuma selembar. Kalau kalian punya berlembar-lembar pun kami tetap akan mencabutnya?!" Balung Raja mendengus sinis.
"Hiya...!" pedang di tangan laki-laki itu tiba-tiba saja menderu dahsyat. Jerit serta lolong kematian pun menggema menyambut datangnya sang fajar. Darah membasahi rumput-rumput berembun. Tubuh-tubuh malang ini tersungkur mandi darah dengan luka-luka sungguh sangat mengerikan. Braja
Musti, Balung Raja dan Baja Geni tergelak-gelak melihat orang-orang yang tidak berdosa itu meregang ajal.
Dari tempat yang agak jauh Ki Rambe Edan menyeringai puas melihat pembunuhan yang dilakukan oleh kawan-kawannya. Semburat merah mulai terlihat di langit sebelah timur.
Lereng Gunung Bromo berubah sunyi, seakan tidak pernah terjadi apa-apa di situ. Mayat-mayat bergelimpangan tampak mulai membeku.
Waktu terus bergulir tanpa menunggu. Malam satu Asyuro beberapa minggu telah terlewatkan. Namun tidak seorang pun yang dapat melupakan peristiwa tragis yang terjadi di Gunung Bromo.
__ADS_1
Bahkan tokoh-tokoh persilatan yang merasa gagal men-dapatkan bayi ajaib itu. Tetap menunggu kabar dan mencari kesempatan ingin memiliki bayi itu. Hanya kabar yang mereka tunggu tidak kunjung datang.
Tidak seorang pun di antara mereka yang tahu, di mana dan di tangan siapa bayi ajaib itu berada. Gunung Mahameru dalam ketinggian dua ribu lima ratus kaki lebih.
Hampir setiap saat selalu berselimut kabut
tebal. Hampir seluruh lerengnya ditumbuhi dengan berbagai jenis pohon pinus membaur dengan pohon-pohon lainnya. Tidak seorang dari kalangan manapun yang berani datang atau menjarah tempat itu.
Konon gunung Mahameru selain sangat angker, juga didiami oleh dedemit dan makhluk halus. Anehnya walaupun tidak kelihatan ujudnya.
Hampir setiap saat dari pagi sampai menjelang sore. Sepanjang lereng melingkar selalu terdengar suara jeritan-jeritan kera.
Masih di daerah sekitar lereng.
Di depan pondok terdapat sebongkah batu besar dan datar pada permukaannya. Di atas batu itulah seorang laki-laki berbaju putih, bercambang, jenggot dan berambut serba putih duduk bersila sambil menimang-nimang bayi di tangannya.
Laki-laki ini tampak terus tertawa-tawa seperti orang sinting. Karena agaknya ia memang merupakan orang sinting.
Anehnya bila ia tertawa, bayi dalam pangkuannya yang sedang menangis itu hentikan tangisnya seketika.
"Ah... ha ha ha...! Bayi bagus! Tulang-tulangnya juga bagus untuk kujadikan manusia sakti. Aku beruntung. Tapi... bayi ini mengapa rambutnya kemerah-merahan? Ada tahi lalat besar di punggungnya. Mukanya
memang ganteng, tapi... kelihatannya... seperti orang *****! Kayak orang ****, Blo'on...! Eh... bayi baru dua minggu bisa tertawa. Senang, ya... apakah senang kau jadi orang blo'on? Eeh... dia tertawa lagi. Waduh apa ini hangat-hangat...!" Laki-laki bertampang seperti monyet ini meraba bagian depan celananya. Basah.
"Hah...!" Si Orang tua mendelik.
__ADS_1
"Kau... kau kencingi aku! Kurang ajar, kau kencingi aku!" Seakan mengerti bayi berambut kemerah-merahan itu tiba-tiba menangis sekeras-kerasnya.
Semakin lama tangisnya semakin keras, hingga membuat si kakek jadi kebingungan.
"Cup... diam, ya... akh, rupanya kau tahu aku ngomel. Uuh... bukan kau yang kencing. Ya.. ya... bukan kau yang kencing. Aku yang kencing. Tua bangka ini yang kencing di celana. Ha ha ha Kakek bertampang seperti kera putih tergelak-gelak. Aneh, bayi laki-laki itu tiba-tiba hentikan tangisnya dan ikut pula tertawa.
Kakek berbaju serba putih yang tidak lain penguasa seluruh Siluman Kera Putih ini terus tertawa-tawa. Perutnya terguncang-guncang. Air mata terus mengalir dari sudut-sudut matanya akibat tawa yang tiada henti.
"Kau... ha ha ha...! Kau ini lucu, bocah mungil yang lucu. Aku suka bayi lucu sepertimu. Tampangmu blo'on tapi aku yakin tersimpan kecerdikan di dalam benakmu, nah... nah matamu bilang begitu.,.!" Siluman Kera Putih hentikan tawa dan ucapannya.
Ia mendengar siluman siluman kera yang merupakan rakyatnya memberi isyarat-isyarat khusus padanya. Ini merupakan satu pertanda ada orang lain di sekitarnya.
Tapi sungguh aneh, makhluk-makhluk lelembut itu mengapa tidak menyerang pendatang yang belum terlihat olehnya. Bahkan Penghulu Siluman Kera-Kera Putih melihat makhluk-makhluk dalam kegelapan itu seperti ketakutan.
Angin kencang laksana topan tiba-tiba saja menderu hebat. Dari satu arah terdengar suara orang menggumam. Jelas suara yang
didengarnya mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi. Sehingga Siluman Kera Putih terpaksa tertawa-tawa untuk menghilangkan pengaruh getaran suara gumaman tersebut.
"Penghulu Siluman Kera Putih! Barata Surya penguasa alam kegelapan di gunung Mahameru. Kuharap kau mau menyerahkan anak itu padaku sebagai orang yang berhak merawat dan membesarkannya! Kalau tidak jangan salahkan aku jika seluruh siluman di sini habis kubinasakan!"
"Eeh... siapakah orang itu?
Semestinya ia tidak dapat melihat keberadaanku di sini, karena perisai gaib yang kumiliki!" desis Barata Surya terheran-heran. Dengan cepat ia bangkit berdiri.
Bayi dalam gendongannya di dekapnya erat-erat. Seakan ia tidak ingin berpisah dengan bayi lucu dalam gendongannya.
__ADS_1