
Laki-laki itu berbadan tegap tinggi, perutnya bundar, kulit hitam seperti arang. Wajahnya angker dan tampak ditumbuhi cambang serta jenggot lebar berwarna putih. Rambutnya yang jarang juga tampak telah memutih.
Bila tersenyum giginya yang cuma tinggal beberapa buah terlihat jelas. Gigi-gigi itu berwarna hitam.
Di dalam ruangan sempit bangunan batu, ia tampak mondar-mandir seperti ada sesuatu yang sangat mengusik pikirannya. Mulutnya tidak henti-henti mengunyah. Ketika ia meludah, maka ludahnya tampak berwarna merah.
Di Rimba persilatan kakek tua yang suka makan sirih ini dikenal dengan julukan 'Datuk Hitam Gadang Dibumi'.
Beberapa tahun yang lalu ia baru saja meninggalkan tanah Andalas. Kejahatannya yang menggunung membuat ia dimusuhi oleh tokoh-tokoh persilatan tanah Andalas. Ia bukan saja tokoh hitam sesat yang selalu membuat onar dan beberapa kali melakukan pemberontakan tarhadap Rajo Mangku Alam.
Tetapi perbuatannya yang selalu menculik gadis-gadis demi kesempurnaan ilmunya telah membuat penduduk di tanah barat menjadi khawatir sekaligus murka.
Rajo Mangku Alam bahkan menyediakan dua kantung emas bagi yang dapat manangkap Datuk Hitam Gadang Dibumi hidup atau mati. Tidak heran jika akhirnya ia meninggalkan tanah Andalas dan kini gentayangan di tanah Jawa.
Satu hal yang menguntungkannya. Di tanah Jawa ini ia mempunyai dua orang sahabat baik. Katai Muka Mayat dan Katai Muka Merah adalah kawan'kawan yang bersedia memberi tumpangan hidup dengan segala fasilitasnya.
Walaupun begitu, kebiasaan Datuk Hitam Gadang Dibumi dalam menculik anak-anak perawan terus berlanjut. Apalagi mengingat sekarang di tanah Jawa ini ia mempunyai anak buah yang selalu patuh menjalankan perintahnya.
Kini ia menjadi sangat resah, karena sudah dua hari anak buahnya yang bernama Lohgender atau yang lebih dikenal dengan julukan Setan Merah Mata Jereng belum juga kembali dari perjalanannya. Padahal keinginannya untuk mencicipi kehangatan tubuh wanita sudah semakin menggebu-gebu.
"Se tan alas. Menunggu... menunggu dan terus begitu sepanjang hari. Lama kelamaan membuat aku bosan. Setan Merah Mata Jereng, kalau sampai tidak mendapatkan gadis malam ini, hukumanmu akan semakin bertambah berat...!" geram si Datuk sambil membanting-bantingkan kakinya.
Bangunan batu kali bergetar hebat ketika kaki Datuk Hitam Gadang Dibumi menghantam lantai batu. Tanpa menghiraukan getaran yang terjadi, laki-laki bertelanjang dada itu berjalan mondar-mandir mengitari ruangan.
Tetapi langkahnya terhenti dengan tiba-tiba. Rupanya ia mendengar sesuatu yang mencurigakan di luar sana. Setelah menunggu beberapa saat lamanya, kemudian terdengar suara ketukan pada daun pintu yang sudah tua.
"Trotok! Tok! Tok!"
"Siapa?" bentak Datuk Hitam Gadang Dibumi.
"Aku yang datang Datuk. Harap membuka pintu, santapan yang kubawa ini kurasa sangat sesuai dengan seleramu!" terdengar sebuah jawaban.
Suara orang di luar serak, seakan ada kodok di dalam tenggorokannya. Kakek berambut putih bertampang bengis segera menghampiri pintu.
Setelah pintu dibuka maka di depan pintu tersebut berdiri seorang laki-laki bermuka merah, sedangkan matanya yang menjorok ke dalam rongga tampak jereng. Di bahu laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun tersebut tersampir tubuh seorang wanita.
Melihat keadaannya yang lemah lunglai, tampaknya gadis memakai kain kebaya itu dalam keadaan tertotok baik urat gerak maupun suaranya.
"Bawa ke kamarku!" perintah Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil leletkan lidah basahi bibir.
Laki-laki muka merah segera melakukan perintah atasannya. Setelah meletakkan tubuh gadis malang tersebut di atas tempat tidur yang terbuat dari batu pula, maka Setan Merah Mata Jereng keluar kembali. Ia duduk di ruangan depan sambil mengeluarkan sebuah bumbung kecil berwarna hitam dari balik pakaiannya.
Isi bambu diintipnya, sehingga terlihat sepasang Yuyu (sejenis kepiting kecil air tawar). Yuyu-yuyu itu dikeluarkannya.
"Apa itu?" tanya Datuk Hitam Gadang Dibumi.
"Sepasang Yuyu, Datuk!" sahut Setan Merah Mata Jereng ketakutan dan tampak berusaha melindungi binatang mainannya.
"Aku bosan melihat yuyumu. Rupanya kutugaskan selama dua hari kau mencari yuyu dulu baru kemudian mencari gadis yang aku inginkan?!"
__ADS_1
"Tidak Datuk! Kutemukan mainan kesayanganku ini di tengah jalan."
"Bagaimana kalau yuyumu kubunuh?"
Setan Merah Mata Jereng terkesiap. Dua hari yang lalu Datuk itu juga membunuh yuyu-yuyu miliknya. Padahal mainan itu sangat ia senangi dunia akhirat.
"Jangan... kumohon Datuk jangan membunuhnya. Yuyu ini adalah belahan hatiku. Jika Datuk membunuhnya, oh... aku bisa sangat sedih sekali!" ucap Setan Merah Mata Jereng.
"Baiklah, aku tidak akan membuatmu kecewa. Tetapi kuharap selama aku bersenang-senang, kau main di luar sana!"
"Bbb... baik, Datuk. Terima kasih karena kau tidak menyakiti binatang kesayanganku!" ucap si laki-laki muka merah.
Setelah itu Setan Merah Muka Jereng segera meninggalkan ruangan tersebut.
Datuk Hitam Gadang Dibumi tersenyum sinis, lalu ia melangkah menuju kamarnya. Sebentar saja Datuk Hitam Gadang Dibumi telah berada di dalam kamarnya sendiri. Matanya yang bengis memandang tajam pada calon korbannya.
"Tubuh ramping, dada padat dan pinggulmu! Ha ha ha...!" Si Datuk tertawa membahak.
Sejenak ia terdiam, tangannya dengan liar meraba-raba dada si gadis yang terasa padat dan kenyal.
Gadis malang tersebut tentu saja tidak dapat mencegah kekurangajaran si Datuk apalagi berteriak, karena sekujur tubuhnya dalam keadaan tertotok.
"Tidak perlu merasa takut Sayang. Kita akan bersenang-senang. Aku akan memberimu sebuah pengalaman yang belum pernah kau dapatkan selama ini!" kata laki-laki tua itu.
Kemudian Datuk Hitam Gadang Dibumi duduk di samping gadis itu. Ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir si gadis.
Gadis malang berkulit kuning langsat tersebut tampak menitikkan air mata. Wajahnya berubah pucat ketakutan.
"Bret! Bret!"
Jemari tangannya yang kokoh mencabik habis pakaian yang membalut tubuh gadis itu. Sehingga gadis malang tadi sekarang sudah tidak berpenutup sama sekali.
Mata sang Datuk berubah ja lang macam singa kelaparan. Tangannya Bemakin kurang ajar saja. Menggerayang dan meremas-remas dada si gadis dengan kasar.
Tidak berselang beberapa lama bahkan tangannya meluncur ke bawah perut dan bermain-main di sana.
Air mata gadis itu semakin deras menetes. Sementara Datuk Gadang Dibumi mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Sebentar saja ia telah berada di atas tubuh si gadis. Kemudian ia melakukan gerakan-gerakan yang seperti push up.
Gadis tersebut menyeringai kesakitan ketika kejantanan Datuk Hitam Gadang Dibumi memasuki dirinya dengan paksa.
Gerakan laki-laki tua itu semakin lama semakin menggila, menghempas-hempas dengan hebatnya. Hingga akhirnya tubuh tuanya melengkung disertai teriakan lirih penuh kenikmatan.
Kemudian ia terkapar dengan senyum puas mengambang di bibirnya. Tidak terbayangkan betapa hebatnya penderitaan si gadis. Hatinya jelas-jelas terguncang. Andaikan saja dia tidak dalam keadaan tertotok dapat dipastikan gadis itu telah bunuh diri.
"Ha ha ha…! Hebat... kau gadis yang masih suci! Karena itu aku mengampuni jiwamu. Jika saja kau sudah tidak asli lagi. Tentu kau sudah kubunuh...!" ucap Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil mengenakan pakaiannya kembali.
"Tok! Tok! Tok!"
Baru saja sang Datuk selesai berpakaian, pintu sudah ada yang mengetuknya.
__ADS_1
"Bang sat apa lagi yang berani mengganggu ketenanganku!" dengusnya geram.
Kemudian ia menghampiri pintu dan membukanya. Ia menjadi jengkel, karena yang mengetuk pintu tidak lain adalah Setan Merah Mata Jereng.
"Ada apa lagi? Apakah kau tidak tahu bagaimana kebiasaanku?" bentak si tua bengis marah.
"Maaf, Datuk. Di luar ada orang terluka parah ingin bertemu denganmu!" lapor Setan Merah Mata Jereng ketakutan.
"Kalau sudah terluka parah biarkan saja mam pus. Bukankah kau juga bisa mempercepat kematiannya?"
"Tet... tetapi ia mengaku sebagai kawan Datuk sendiri," ujar Si Jereng.
Kemudian ia menjelaskan ciri-ciri orang yang dilihatnya. Wajah sang Datuk seketika berubah. Tanpa bicara apa-apa ia segera bergegas keluar dari dalam bangunan tersebut. Ternyata di depan pintu tampak seorang laki-laki bermuka pucat seperti kain kafan dalam keadaan lemah.
Di tubuh laki-laki bertubuh pendek ini terdapat beberapa luka yang sudah mulai membusuk.
"Katai Muka Mayat, sahabatku...?" seru Datuk Hitam Gadang Dibumi dengan terkejut.
Ia segera memapah sahabatnya itu untuk dibawa masuk ke dalam. Setelah berada di dalam ruangan, maka Setan Merah Mata Jereng merebahkannya di atas tempat tidur sederhana terbuat dari marmar.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya kakek berbadan tinggi jangkung berkulit gelap ingin tahu.
"Akkh... seseorang. Bocah ajaib itu memukulku dengan pukulan yang sungguh dahsyat. Ia datang untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya dua puluh tahun yang lalu," jelas Katai Muka Mayat.
"Siapa?" desak sang Datuk.
Sementara itu Setan Merah Mata Jereng telah kembali lagi menemui ketuanya dengan membawa obat-obatan yang dibutuhkan.
"Waktu peristiwa menggemparkan terjadi, kau mungkin belum berada di sini..." ujar laki-laki berbadan kerdil itu.
Kemudian sacara singkat ia menceritakan segala sesuatunya di masa silam dengan jelas.
"Hmm, geger bayi ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro itu ketika berada di Andalas aku memang pernah mendengar. Tapi kala itu aku hanya menganggapnya hanya sebagai kabar burung. Ternyata pemuda itu benar-benar ada?!" dengus Datuk HitamGadang Dibumi.
"Rupanya tempat tinggalmu di pantai Selatan telah diketahuinya? Kalau begitu alangkah lebih baik jika kau tinggal di sini bersama aku. Kita mempunyai kesenangan yang sama. Kurasa kita mempunyai kecocokan satu sama lain."
"Aku hanya akan membuat kau repot. Kurasa jika luka dalam ini telah sembuh, mungkin aku akan segera kembali ke teluk lagi. Saat ini kurasa pemuda itu mengira aku sudah mati. Karena waktu itu aku terlempar ke laut...!"
"Sobatku, Katai. Aku bisa sampai ke tanah Jawa ini karena jasa baikmu dan juga saudara seperguruanmu. Apa salahnya jika sebagai sahabat kita saling tolong menolong?" ujar Datuk Hitam Gadang Dibumi serius.
"Kutekankan padamu, aku tidak ingin menyusahkan engkau. Lagipula jika bocah ajaib itu sampai tahu aku berada di sini, maka aku tidak dapat menyangkal dia juga akan memusuhimu!" kata Katai Muka Mayat khawatir.
"Ha ha ha...! Apakah bocah itu begitu hebat di matamu, sehingga engkau menjadi takut? Aku juga jelas tidak berpangku tangan, jika dia datang tentu dia menjadi bagianku!"
Datuk Hitam Gadang Dibumi selanjutnya memerintahkan Setan Merah Mata Jereng untuk tetap berjaga-jaga di depan.
Katai Muka Mayat sendiri menyadari kali ini luka-luka yang dideritanya cukup parah. Bahkan ia telah berusaha menyembuhkan luka dalamnya. Namun sampai sejauh itu tidak juga berhasil.
"Baiklah kuterima tawaranmu itu."
__ADS_1
Katai Muka Mayat akhirnya memberi
keputusan. Datuk Hitam Gadang Dibumi tentu saja merasa senang mendengarnya.