Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
68


__ADS_3

Tidak dapat dihindari lagi pertempuran sengit segera terjadi. Pada hakekatnya masing-masing lawan adalah tokoh-tokoh angkatan tua yang memiliki kepandaian tinggi. Sehingga begitu bergebrak, angin kencang langsung menyambar.


"Hiya...!"


"Shaa...!"


Masing-masing pihak keluarkan teriakan melengking tinggi. Lalu Gajah Krempeng lentikkan tubuhnya ke udara. Tangannya mendorong kebagian dada lawan. Sekali lagi angin menderu dahsyat, Inilah jurus 'Para Gajah Bersilahturahmi'.


Sungguhpun jurus ini terkesan konyol, tapi tidak bisa dianggap main-main. Raka Tendra sendiri sempat terdorong ke belakang. Ia hindari tangan Gajah Krempeng yang terus terulur panjang.


"Aiih...!"


Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis sama-sama mengegoskan tubuhnya ke samping kiri. Tangan Raka Tendra mengemplang ke kepala lawannya. Gerakan menghindar sekaligus membalas serangan lawan ini benar-benar tidak terduga oleh Gajah Krempeng. Ia terpaksa tarik pukulan untuk selamatkan kepala dari keplangan musuh.


"Hmm, hebat juga kau iblis!"


"Tutup mulutmu!" bentak Raka Tendra.


Tokoh iblis itu sendiri kini kerahkan jurus Menepis Kabut Menguak Tabir Ini merupakan salah satu jurus pedang tunggal yang diciptakan oleh Diraja Penghulu Iblis. Tapi jurus ini akan lebih berbahaya lagi bila dimainkan dengan tangan kosong.


Diraja Penghulu Iblis tekuk kaki kanan ke depan, tangan kiri menjulur ke samping sedangkan tangan kanan membentuk paruh. Dengan bertumpu pada kaki kirinya tiba-tiba ia melompat ke depan lalu hantam ke kiri dan hantam ke kanan. Cepat bukan main gerakannya. Sehingga tangan lawan berubah menjadi banyak. Udara disekitarnya menebar bau busuk menyengat.


Menghadapi serangan Raka Tendra saja Gajah Krempeng sudah mulai kerepotan apalagi dari bagian lain Buto Terenggi juga mencecarnya secara beruntun.


Jika Gajah Gemuk malah tertawa-tawa melihat keroyokan itu, sebaliknya pendekar Blo'on menjadi sangat marah. Sejak tadi ia melihat pertempuran yang sengit itu. Tapi kini setelah melihat kedahsyatan serangan Raka Tendra ia sudah tidak sabar lagi. Ia menyeruak dari tempat persembunyian. Setelah itu terdengar pula suara bentakannya.


"Bukanlah tindakan orang gagah tidak bertarung main keroyokan! Manusia daun mata ikan lele. Alangkah baiknya kalau kau bertarung dengan aku. Aku jadi ingin merobek-robek pakaian yang melekat di tubuhmu itu!"


Datuk Mambang Pitoka menoleh ke arah Suro Blondo. Lalu terdengar gema suara tawanya.


"Huh... bukankah kau mantunya Diraja Penghulu Iblis, mengapa kau malah mencaci golongan mertuamu?"


"Ha ha ha! Siapa sudi jadi mantu iblis. Sampai mati pun aku tetap tidak setuju!" Suro Blondo pencongkan mulutnya lalu meludah ke tanah. Karena angin kebetulan berhembus ke arahnya. Maka ludahnya membasahi wajah sendiri.


"Kalau begitu kau memang pantas kucincang!" Datuk Mambang Pitoka menggembor marah. Ia melompat ke depan, lalu lepaskan tendangan menggeledek ke dada lawannya. Karena sudah mengetahui kehebatan pemuda ini ketika adu Pibu beberapa hari yang lalu. Maka ketika lepaskan tendangan tadi ia kerahkan setengah dari tenaga dalamnya.


Angin bersiut nyaring. Tapi Suro Blondo keburu rundukkan kepala, tangannya menderu menghantam perut lawan. Gerakan ini benar-benar diluar dugaan Buto Terenggi. Sehingga ia tidak sempat menarik pulang kakinya, sementara tinju Suro Blondo menggedor dengan telak.


Duuk!


Habis memukul si pemuda langsung melompat mundur. Sehingga Buto Terenggi yang ingin menyamakan kedudukan jadi kecele.


Gusar bukan main melihat serangannya hanya mengenai angin. Hanya dalam beberapa gebrakan saja ia telah mempergunakan jurus andalan, 'Mengukir Nama Di Atas Pusara'. Ini merupakan salah satu jurus berbahaya yang penuh dengan tipuan. Bila ia hantamkan tangan kiri, maka yang diincar adalah kepala lawan. Tangan kanan yang memukul, kaki menendang. Kiri-kanan, atas bawah disusul dengan bentakan-bentakan menggeledek membuat Suro Blondo terpaksa mengerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'.


Gerakan si pemuda berubah secara total. Tubuhnya tidak lagi hanya meliuk ke depan dan belakang bagaikan pucuk cemara ditiup angin. Melainkan telah melompat ke samping kiri, lalu berjongkok, melompat atau garuk-garuk kepalanya.


Apa yang dilakukan oleh si pemuda ternyata hanya membuat kemarahan Buto Terenggi semakin berkobar-kobar. Ia semakin memperhebat serangannya. Kini kakinya melakukan tendangan beruntun ke arah lawan yang terus berjingkrak-jingkrak.


Pendekar Blo'on tiba-tiba berbalik. Tendangan lawan tidak dielakkannya. Ia menunggu dengan sikap seakan gugup, lalu....


Wuuiis!


Traaap!

__ADS_1


Buto Terenggi terbelalak. Sama sekali ia tidak menyangka lawan akan menangkap kakinya. Karena kaki kirinya tertangkap, ia bermaksud memukul kepala lawan yang berada dibawahnya. Pada saat itu diluar dugaan pula tiba-tiba Suro Blondo mendorong kakinya.


Gubraak!


Jika Buto Terenggi tidak punya ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna. Pasti ia telah jatuh tunggang langgang


"Huuup!"


Dengan terhuyung-huyung ia mendaratkan kedua kakinya. Wajahnya yang hitam berubah kelam membesi.


"Pemuda bertampang to lol ini ternyata tidak bisa dianggap main. Gerakannya seradak-seruduk seperti **** mabuk. Tapi..." pikir Buto Trenggi.


"Hanya segitukah kepandaianmu manusia daun?" Suro Blondo tersenyum menge jek.


"Bang sat sombong!" ma ki Buto Terenggi dengan suaranya yang sember. Tiba-tiba saja ia melompat ke depan, lalu melompat pula ke samping kanan, lalu kesamping kiri.


Melihat gerakan lawan yang sungguh sangat aneh dan lucu ini Suro Blondo hampir saja tertawa. Pada saat itu pula ia mendengar Gajah Gemuk mengisiki.


"Jangan kau pandang enteng dia. Sebentar lagi kalau bukan perutmu, kepalamu yang dibikin ambrol. Sekarang dia telah mengerahkan ajian 'Merubah Rupa Membentuk Bayangan'!"


"Heeh...!" Suro Blondo sempat tertegun, lalu menerjang ke depan saat lawannya telah berubah menjadi empat orang. Tidak tanggung-tanggung lagi ia menghantam ke depan. Tapi sasaran yang ditujukan hanya dengan sedikit menggeser kaki berhasil menghindari serangan si pemuda.


Serangan luput, dari belakang pukulan laksana palu godam mendera punggungnya secara beruntun. Pemuda berambut kemerah-merahan ini terpelanting. Darah meleleh dari sudut-sudut bibirnya. Dengan bersusah payah ia bangkit berdiri, matanya berkunang-kunang.


Kemudian terdengar suara lolongan dari mulutnya yang berdarah, suara lolongan itu kemudian berubah menjadi tangis yang begitu menyedihkan, selanjutnya secara aneh berubah pula menjadi suara tawa berkepanjangan. Bukan hanya lawan saja yang dibuat terkejut. Sebaliknya Gajah Gemuk yang sedang berusaha menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Dewi Bulan juga terkejut.


Sementara dalam keadaan tertawa-tawa itu Suro Blondo langsung teringat pada nasehat gurunya.


"Jika kau dalam keadaan sakit, bersikaplah tenang untuk menahan rasa sakitmu! Jika lawanmu tunggal tapi banyak, pejamkanlah matamu untuk menghadapinya. Karena permainan sulap tidak dapat menipu mata hati!"


Wuut!


"Hiyaa...!"


Buto Terenggi tiba-tiba merangsak ke depan. Empat bayangan berupa dirinya juga menyertainya. Keanehan segera dirasakan oleh laki-laki mata sipit ini. Karena ternyata lawannya bukan mengincar bayangannya melainkan dirinya sendiri.


Deb! Bet!


"Haaakgh!"


Tinju si pemuda mendarat dengan telak di dada Buto Terenggi. Laki-laki ini terseret mundur. Ia batuk-batuk, mukanya berubah pucat, lalu menyemburlah darah dari mulutnya. Kalaupun Datuk Mambang Pitoka ini kemudian menjadi sangat murka, semata-mata bukan karena rasa sakit yang dideritanya. Melainkan rasa malu yang sangat, karena ia tidak menyangka ajian yang telah diyakininya selama bertahun-tahun dan membuat geger orang-orang persilatan di wilayah timur kini dapat dihindari oleh seorang pemuda bertampang to lol.


Ia ambil mata kail dibahunya, setelah itu dengan mempergunakan mata kail yang dapat menjulur panjang itu ia menyerang si pemuda.


"Hmm, maling itu kini mencoba memancing lawannya dengan kail yang dipergunakan untuk mencuri ular Kayangan!" desis Gajah Gemuk. Ia menoleh pada Dewi Bulan yang terus mengawasi jalannya pertempuran.


"Mari muridku. Sebaiknya kita pergi ke Ciruyung! Aku khawatir Iblis penyihir itu sudah dapat memecahkan teka-teki Prisma Permata untuk menghantam kaum lurus!"


"Tap... tapi bagaimana dengan guru kurus dan pemuda itu?" Dewi Bulan diam-diam menjadi khawatir.


"Ah... sudahlah aku bosan melihat permainan mereka. Aku yakin masing-masing pihak dapat menjaga diri, kalau pun tidak selamat paling-paling mam pus! Ayo...!" ajak Gajah Gemuk.


Karena murid tidak memberikan reaksi. Maka ia sambar muridnya, lalu didukung dibahunya. Selanjutnya Gajah Gemuk berlari dengan kecepatan laksana terbang.

__ADS_1


Apa yang diperhitungkan oleh Gajah Gemuk memang tidak meleset. Diraja Penghulu Iblis sendiri yang bertarung dengan Gajah Krempeng jadi tidak bersemangat karena kosentrasinya selalu terpecah memikirkan keselamatan anaknya.


Mereka sudah sama-sama terluka. Jika Gajah Krempeng tubuhnya babak belur dan menderita luka bacokan pada keningnya, maka Diraja Penghulu Iblis juga menderita luka dalam yang tidak ringan. Jelas sekali jika kedua tokoh ini mempunyai kepandaian dan kesaktian hampir seimbang.


Setelah pertempuran sengit itu berlangsung selama hampir sembilan puluh jurus maka Diraja Penghulu Iblis mulai berpikir untuk menyusul dua kawannya ke Lembah Ciruyung. Sekejap kemudian ia mengeluarkan bola kecil berwarna hitam. Bola itu dilemparkannya ke arah Gajah Krempeng secara berturut-turut. Begitu bola hitam itu meletus. Maka asap tebal menebar dan membuat gelap sekelilingnya.


"Aku belum kalah, Krempeng! Urusanku juga banyak! Sampai ketemu di Lembah Ciruyung!" kata Diraja Penghulu Iblis.


"Bang sat kecoa. Mau mam pus saja mengapa harus ke Lembah Ciruyung?" desis Gajah Krempeng sambil terbatuk-batuk.


Dalam kesempatan itu Buto Terenggi juga sudah sangat terdesak sekali mendapat serangan balik yang membuat kepalanya menjadi semakin bertambah pusing. Dalam keadaan sendiri seperti itu. Menghadapi Pendekar Blo'on saja ia sudah sangat terdesak sekali. Apalagi jika mengingat Gajah Krempeng ikut bergabung. Akhirnya mau tidak mau ia harus mengikuti jejak Diraja Penghulu Iblis.


Dalam keadaan begitu rupa ia segera mempergunakan kelicikannya. Mula-mula mendesak Suro Blondo dengan serangan-serangan yang sangat berbahaya. Setelah itu ia melepaskan pukulan 'Para Mambang Bersedih'. Seleret sinar kuning kemilau keemasan menderu dari telapak tangannya hingga membuat suasana disekelilingnya berubah menjadi panas bukan main.


Pendekar Blo'on tercekat. Kemudian ia lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'. Sepuluh ujung jemari tangan Suro Blondo memancarkan sinar putih kemilau laksana salju. Pukulan ini menimbulkan udara dingin bagaikan di padang es.


Ketika dua pukulan sakti ini bertemu diudara. Maka terjadilah ledakan dahsyat. Suro Blondo sempat tergontai-gontai. Dadanya sesak bukan main, wajahnya berubah pucat. Ketika ia melihat ke depannya. Dilihatnya Buto Terenggi sudah tidak berada ditempat lagi.


Sambil memegangi dadanya dengan tangan kiri, Suro Blondo garuk-garuk kepala dengan tangan kanan. Ia terduduk di bawah sebatang pohon yang sangat rindang. Sementara Gajah Krempeng datang menghampiri.


"Heh... wong gila kowe lawan. Akhirnya dia kabur. Mengapa kau tidak membunuh manusia daun itu?"


"Paman sendiri mengapa tidak bunuh Penghulu Iblis?" Suro Blondo balik bertanya.


"Ah... dia? Seharusnya aku membunuhnya. Tapi jika itu kulakukan, maka aku tidak akan berjumpa lagi dengannya. Eeh... maksudku aku tidak tega melakukannya. Bukankah dia mertuamu?"


Bukannya marah, Suro Blondo sebaliknya malah tergelak-gelak.


"Siapa sudi menjadi mantunya. Sudahlah... jangan bicarakan masalah itu. Urusanku masih banyak. Aku takut Prisma Permata itu tidak dapat kita ambil dari tangan Raja Penyihir jika ia berhasil memecahkan rahasia yang terkandung didalamnya."


"Kurasa mereka bergabung dengan kawan-kawannya di lembah Ciruyung. Tapi sebelum kita berangkat kesana alangkah lebih baik lagi jika kita bakar saja sarang iblis ini!"


"Aku setuju." kata Suro Blondo.


Mereka kemudian bahu membahu melakukan pembakaran besar-besaran. Bangunan berbentuk istana itu hanya dalam waktu yang sangat singkat saja telah berubah menjadi lautan api.


"Sekarang tempat tinggalnya yang menjadi lautan api. Besok orangnya akan kujadikan debu."


"Jangan buang waktu! Sebaiknya kita berangkat sekarang!" kata Suro Blondo mengingatkan.


"Hmm, baiklah!"


Mereka menuruni gunung Pangkrangko. Tapi setelah sampai ditengah jalan mereka dikejutkan lagi dengan hadirnya para pengungsi secara besar-besaran.


"Orang-orang pada membawa bungkusan. Hendak kemanakan mereka, paman?"


"Gila... aku juga tidak tahu. Tapi alangkah baiknya jika kita tanyakan pada mereka!" Gajah Krempeng kemudian menghampiri salah seorang dari para pengungsi itu. Barulah mereka mengerti telah terjadi luapan lumpur panas yang berasal dari gunung Gede.


"Anak muda, seingatku dibawah gunung gede bukankah ada Gua Darah. Apakah mungkin Gua Darah hancur kemudian menyemburkan lahar panas karena kebangkitan manusia merah?"


"Aku tidak tahu, paman. Tapi sebaiknya kita kabarkan hal ini pada semua tokoh-tokoh persilatan yang ada."


"Mari kita susul kakangku...!"

__ADS_1


Maka kedua laki-laki ini langsung berangkat menuju lembah Ciruyung.


__ADS_2