
Gunung Galunggung hampir sepanjang masa menyemburkan lidah api abadi. Hampir setiap saat penduduk di sekitarnya boleh dikata terancam marabahaya. Letusan gunung hampir semua orang tahu selalu mendatangkan malapetaka. Walaupun kesuburan tanahnya memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Tidak jauh dari gunung Galunggung ini ada sebuah tempat yang bernama Cilawu. Daerah ini merupakan sebuah daerah dataran rendah dan berbukit-bukit. Meskipun daerah tersebut selalu tampak sunyi seakan tidak berpenghuni. Bila dilihat dari dekat, maka setiap pagi selalu terdengar suara bentakan-bentakan atau terkadang suara lengking tangis berkepanjangan. Tidak jarang terdengar pula suara beradunya dua senjata, terasa menyakitkan gendang-gendang telinga.
Melihat ke arah lembah gersang dan berbatu cadas itu. Maka segera terlihat seorang gadis berbaju ungu dan berwajah angker sedang bertarung mati-matian melawan seorang laki-laki tua muka tengkorak. Rambutnya yang riap-riapan dibiarkannya tergerai memanjang.
Sementara kakek berambut putih acak-acakan muka tengkorak, tampaknya juga tidak jauh lebih baik dari gadis yang dihadapinya.
"Kerahkan seluruh kepandaian yang kau miliki!" suara kakek wajah tengkorak menggema ke seluruh bibir lembah, menggetarkan dinding-dinding batu, juga menulikan telinga.
"Jangan hanya gembar-gembor macam harimau ompong tua bangka! Mari kita buktikan siapa yang paling kuat di antara kita!" bentak gadis baju ungu tidak kalah sengitnya.
Tidak dapat dihindari pertempuran seru pun terjadi. Masing-masing tampaknya sama-sama mengandalkan tangan kosong. Setiap serangan yang mereka lancarkan selalu menimbulkan angin bersiuran. Debu-debu mengepul di udara. Batu-batu berhamburan dan siap menghantam tubuh lawannya. Lengah sedikit, maka putuslah nyawa.
Pertempuran sengit itu semakin lama semakin menghebat. Terlebih-lebih ketika kakek tua bertampang mengerikan berbadan kurus kering itu lepaskan salah satu pukulan yang paling diandalkannya.
"Heaaa...!" Tangan si kakek yang telah berubah menjadi biru tiba-tiba saja dihantamkannya ke depan.
"Hmm. Hanya pukulan Racun Segala Bisa, siapa yang takut!" Gadis baju ungu menggeram hebat. Ia kerahkan tenaga dalam yang dimilikinya ke bagian tangan kiri kanan. Hanya dalam waktu sekedipan mata saja kedua telapak tangannya juga telah berubah menjadi biru. Tanpa menunggu ia lontarkan kedua tangannya memapaki pukulan beracun yang dilepaskan oleh kakek muka tengkorak mata buta sebelah.
"Huup!"
"Shaa...!"
Angin dingin mencucuk membekukan darah saling menyambar dengan ganas. Kemudian terjadi benturan yang sangat keras bukan alang kepalang.
"Duum! Duum!"
__ADS_1
Dinding tebing yang selama bertahun-tahun tidak pernah goyah diterpa musim. Kini tampak longsor di sana-sini. Suara bergemuruh disertai menyebarnya bau menusuk berbaur menjadi satu. Debu mengepul tinggi membumbung ke angkasa. Bila beberapa saat kemudian debu-debu yang berterbangan itu mulai menipis. Maka daerah di sekitarnya menjadi porak poranda. Pada dua buah sisi yang berlawanan terlihat dua sosok tubuh tergeletak tidak bergerak sama sekali. Dari bibir mereka mengalirkan darah. Tampak jelas baik gadis berbaju ungu maupun si kakek muka tengkorak menderita luka dalam yang sangat parah. Namun anehnya tidak berselang lama. Terdengar suara tawa si muka tengkorak bergelak. Tawa itu semakin lama semakin meninggi, hingga membuat daun-daun hijau di atas pohon berguguran. Gadis berbaju ungu agaknya juga menyadari apa yang tengah dilakukan oleh laki-laki renta di depannya. Itulah salah satu cara menyembuhkan luka dalam lewat pengerahan suara tawa. Dan inilah merupakan sebuah cara yang teramat langka dan sangat jarang dimiliki oleh orang-orang rimba persilatan. Sadar lawannya mengerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya. Maka gadis baju ungu juga ikut tertawa. Suara tawanya melengking tinggi. Tubuhnya yang ramping bahkan sampai terguncang-guncang. Suara tawa saling tindih menindih hingga menimbulkan guncangan hebat pada tanah tempat mereka berada.
Dari arah barat laut, tiba-tiba saja angin kencang berhembus. Pohon-pohon di sekeliling lembah dan bukit bertumbangan. Dan langit pun seketika berubah mendung. Gadis baju ungu terkesima, sebaliknya kakek renta muka tengkorak semakin memperhebat suara tawanya.
"Ha ha ha...! Hujan angin... inilah waktu yang kutunggu-tunggu sejak tujuh belas tahun yang lalu...! Hak kak kak...."
Gadis baju ungu terkesima. Seraya jatuhkan diri dan berlutut di depan kakek renta muka tengkorak.
"Guruku Tuan Muka Tengkorak Mata Api, apakah maksud ucapanmu?" tanya si gadis. Ia seka darah yang membasahi sudut-sudut bibirnya. Sementara luka dalam yang dideritanya sudah tidak terasa sakit lagi.
"Ha ha ha...! Muridku Mustika Jajar. Sejak masih bayi merah aku sengaja mengambilmu untuk kujadikan seorang murid tanpa tanding. Sekarang dan untuk masa yang akan datang kau akan menjadi seorang ratu yang tidak ada tanding. Kau bukan saja menjadi tokoh yang tidak ada duanya, tapi juga karena kecantikanmu yang sungguh menggiurkan, membuatmu mudah menundukkan laki-laki manapun yang kau sukai."
Seandainya ia seorang gadis yang dididik oleh seorang tokoh aliran lurus. Tentu saja wajahnya berubah merah karena mendapat sanjungan. Tapi karena pada dasarnya ia merupakan hasil gemblengan tokoh Maha Sesat. Mustika Jajar malah tertawa bergelak dan leletkan lidah basahi bibir.
"Sekarang hapuslah coreng moreng di wajahmu, Mustika!" perintah tegas kakek renta muka tengkorak yang hanya mempunyai satu mata ini tegas.
"Hi hi hi...! Jika kuhapus bedak batu penutup wajahku. Aku takut guru tergiur olehku. Jika guru yang kepincut padaku, kujamin aku pasti tidak bersedia melayani keinginan guru!" Mustika Jajar tertawa genit.Seraya lalu menghapus coreng moreng di wajahnya.
"Ha ha ha. Sekarang kau benar-benar telah menjadi gadis yang sudah sangat dewasa sekali, Tika. Wajahmu cantik melebihi bidadari. Jika saja aku masih muda, tentu saja aku tidak akan melepaskanmu setelah berhasil mendapatkan cintamu. Ha ha ha...!"
"Ternyata guru dulunya mata keranjang." Cibir si gadis.
"Lain dulu lain sekarang. Sekarang adalah masa pembalasan di mana kau harus mencari dan membunuh seorang laki-laki yang berjuluk 'Malaikat Berambut Api'. Orang inilah yang dulu pernah mencungkil sebelah mataku. Sudah menjadi tugasmu menjalankan perintahku. Selain itu kau juga berhak membunuh semua tokoh persilatan aliran lurus. Pergunakanlah kecerdikan dan kecantikan yang kau miliki untuk memperdaya setiap lawan. Jika lawan-lawanmu merupakan tokoh yang sangat sakti, kau pikatlah dengan kecantikanmu! Jika mereka benar-benar telah bertekuk lutut di bawah kakimu. Peralatlah dia untuk mencapai cita-citamu."
"Tapi guru. Di mana aku harus mencari musuh besar guru yang mempunyai gelar 'Malaikat Berambut Api' itu?"
Tua Tengkorak Mata Api terdiam beberapa saat lamanya. Matanya yang cuma sebelah itu memandang lurus ke arah si gadis. Dan beberapa saat setelahnya suara tawa muka tengkorak menggema kembali. Di tengah-tengah suara tawanya yang tidak ubahnya bagai gaung suara harimau itu terdengar ucapannya yang tajam menusuk.
__ADS_1
"Di manapun adanya Malaikat Berambut Api, kau harus mencarinya Mustika Jajar! Terakhir kudengar ia mengasingkan diri di Pulau Seribu Satu Malam yang terletak di daerah selatan laut Jawa...."
"Apakah orang itu tidak mempunyai murid, guru?"
"Mengenai murid aku sampai saat ini tidak mengetahuinya. Tapi kelak bila kau telah turun ke dunia ramai. Tentu kau dapat mencari tahu!"
"Baiklah guru. Kalau semua ini memang sudah merupakan keinginan guru. Maka sebagai murid yang ingin berbakti padamu, aku siap menjalankan segala perintahmu..." ujar gadis cantik berbaju ungu.
"Bagus! Sekarang kau duduklah di sini," ujar Tua Tengkorak Mata Api. Mustika Jajar duduk di depan kakek Muka Tengkorak. Seraya kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Setelah memberi isyarat pada muridnya, lalu Mustika Jajar pun mengangkat kedua tangannya. Tangan mereka saling menempel. Sebelum Mustika Jajar mengetahui apa yang akan diperbuat oleh gurunya. Tiba-tiba gadis ini merasakan adanya satu sengatan yang sangat keras dan menimbulkan rasa dingin yang tidak tertahankan mengalir melalui telapak tangan gurunya. Mustika Jajar sempat terkesima. Hanya saja sebagai gadis yang sangat cerdik ia segera mengetahui bahwa gurunya sengaja memperbesar hawa murni yang dimilikinya. Tubuh murid dan guru tampak sama-sama tergetar hebat. Asap tipis mencuat dari bagian atas ubun-ubun si kakek muka tengkorak. Sebaliknya tubuh Mustika Jajar sudah tampak bersimbah keringat. Tidak sampai sepemakan sirih. Tua Tengkorak Mata Api sudah menarik tangannya yang melekat di tangan muridnya. Mustika Jajar, gadis berbaju ungu dan memiliki kecantikan luar biasa ini menarik nafas panjang. Kini ia merasa tubuhnya semakin menjadi ringan. Bahkan ketika ia menggerak-gerakkan tubuhnya. Semuanya terasa lebih hebat dari waktu-waktu sebelumnya.
"Apa yang kau rasakan, muridku?" tanya Muka Tengkorak. Sungguh pun saat itu ia sedang tersenyum. Tapi di mata yang melihatnya senyumannya tidak ubahnya bagai seringai yang mengerikan.
"Aku merasa badanku berubah seringan kapas!" jelas gadis cantik berhati telenggas ini sejujurnya.
"Bagus... ha ha ha... bagus...!" kata Tua Tengkorak Mata Api. Seraya meraba pinggangnya. Kemudian terlihatlah sebuah buntalan kecil warna hitam tergenggam di tangannya. Buntalan itu selanjutnya dibukanya. Setelah buntalan terbuka sepenuhnya. Maka terlihatlah sebuah senjata yang sangat aneh bentuknya. Senjata itu berbentuk bulat seperti bulan sabit. Berwarna putih mengkilat karena ketajamannya.
"Kau tahu cara mempergunakannya, muridku?" Mustika Jajar menganggukkan
kepala.
"Coba bagaimana?"
"Sabit Bulan adalah senjata yang sangat aneh. Aku tentu saja dapat mempergunakannya. Walaupun hanya dengan menggenggamnya."
"Bagus! Senjata ini sekarang menjadi milikmu sepenuhnya," ujar kakek renta muka tengkorak. Seraya menyerahkan senjata itu pada Mustika Jajar.
"Pantaskah aku menerimanya, guru?" tanya gadis itu agak ragu-ragu.
__ADS_1
"Tentu saja pantas, karena sebentar lagi kau sudah harus meninggalkan lembah Cilawu ini."
Mustika Jajar memang tidak perlu membantah lagi. Sungguhpun hatinya merasa berat untuk meninggalkan orang yang telah merawat dan mendidiknya selama ini. Namun akhirnya ia harus berangkat memulai kehidupan lain yang sangat baru.