
Pematung Kelana menarik nafas pendek. Ia kemudian duduk kembali di depan patung batu marmer yang berkilat-kilat terkena sinar matahari.
Suro Blondo usap-usap keningnya yang berkeringat. Ia sekarang menjadi ragu apakah ia harus menemui pematung tua itu atau berlalu? Tapi bila mengingat bahwa dirinya tidak punya urusan dan kepentingan apa-apa dengan laki-laki aneh ini. Maka tidak lama setelah itu ia pun memutuskan segera berlalu. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan tempat persembunyiannya, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
"Hei... pemuda bertampang geb lek! Sejak tadi kau mengintip di situ, datang tidak permisi kini pergi tidak memberi salam. Kau benar-benar manusia to lol yang tidak tahu peradatan!"
"Eeh... mati aku...!" Suro Blondo garuk-garuk punggung kepalanya. Kemudian senyumnya yang jenaka pun mengembang.
"Bagaimana ini, kakek itu rupanya mengetahui kehadiranku. Sungguh! Walaupun sudah tua matanya belum lamur. Sebaiknya aku hampiri saja, ah...!"
Sambil tersenyum-senyum, Suro Blondo datang menghampiri. Sampai di depan Pematung Kelana seraya menjura hormat. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk hingga nyaris menyentuh tanah.
"Maafkan aku, kakek tua. Karena datang tidak memberi salam dan ingin pergi tapi ketahuan...."
"Bocah go blok! Kapan aku kawin dengan nenekmu? Seenaknya saja kau memanggilku kakek?!" Pematung Kelana bersungut-sungut. Sebagaimana kebiasaannya kali ini pun ia tidak berpaling dari pekerjaannya.
"Lalu apakah aku harus memanggilmu, Mbah, Engkong, Buyut, orang tua keriputan atau manusia aneh tukang ukir batu?" kata Suro Blondo sambil menahan tawa.
Sedikitpun ekspresi wajah Pematung Kelana tidak menunjukkan perubahan sama sekali. Hanya wajahnya saja agak dimiringkan. Sehingga pandangan mereka saling bertemu.
Suro Blondo alias Pendekar Blo'on melangkah mundur, bibirnya yang nyaris tersenyum kini terkatup rapat. Betapa sorot mata laki-laki tua di depannya tampak begitu berwibawa. Si pemuda merasa tidak kuat berlama-lama menatapnya. Ia kemudian beralih ke arah patung. Pemuda ini lebih terkesima lagi setelah melihat betapa bagusnya ukiran patung batu itu. Dadanya bidang, otot-otot di tubuh patung bersembulan melambangkan seorang pemuda perkasa. Hanya pemuda ini menjadi malu sendiri ketika melihat ke bagian bawah perut patung. Di sana ada daging yang berlebih. Dan daging itu tampak tegang seukuran lengan bayi, tegak terpancang menghadap ke langit.
"Walah! Patung ini memang indah. Tapi mengapa harus dibuat por no?" Suro Blondo nyengir, lalu garuk-garuk kepala.
"Bocah! Kuminta hentikan ocehanmu, tutup mulutmu dan jangan tersenyum macam orang gila di depanku!" bentak Pematung Kelana.
Tiba-tiba saja suara tawa Suro Blondo meledak. Perutnya terguncang karena berusaha menahan tawa.
"Diam...!" bentakan menggelegar itu menghentikan tawa Pendekar Blo'on seketika itu juga.
"Kau siapakah?"
"Namaku Suro Blondo, Kek!" sahut Pendekar Blo'on.
"Apakah kau mempunyai gelar?"
"Gelarku... ah bagaimana, ya...!" Suro Blondo menggaruk belakang kepalanya berulang-ulang.
"Katakan saja kalau kau punya gelar atau julukan!" desak Pematung Kelana sambil memperhatikan pemuda di depannya dengan kening berkerut.
"Aku Pendekar Blo'on...!" jawabnya polos.
"Pantas! Tampangmu saja sudah membuktikan bahwa kau seorang pemuda to lol. Hmm... akhir-akhir ini aku memang sering mendengar namamu! Oh ya... apakah kau mau jika patung ini kuberikan padamu?"
Suro Blondo terperanjat.
Saudagar Bergola Mungkur saja yang berniat membeli patung itu dengan dua kantung emas ditampik oleh Pematung Kelana. Mustahil sekarang Suro Blondo dapat menerimanya. Lagi pula ia tidak berminat dengan segala macam patung, sungguhpun karya Pematung Kelana ini sungguh hebat dan mendekati sempurna tanpa cacat dan kekurangan.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Wah... saya tidak berminat dengan patungmu, Kek." jawab si pemuda, tegas.
"Mengapa? Apakah patung ini tidak bagus, menurutmu?"
"Patung itu memang bagus. Tapi aku mana berani terima pemberian yang sangat berharga ini." jawab si pemuda polos.
"Hmm, ternyata walaupun tampangmu to lol, tapi kau merupakan seorang pemuda yang cukup cerdik. Rupanya kau tahu bahwa setiap keindahan yang kita lihat ternyata tidak selalu menjanjikan kebaikan. Rupa cantik belum tentu hati dan pribadinya cantik. Tampang tidak selalu mencerminkan hati. Jadi kau benar-benar tidak mau menerima pemberianku ini?"
Suro Blondo golang-golengkan kepalanya.
"Apakah kau tidak menyesal, jika nanti aku memberikannya kepada orang lain?"
"Jika itu memang sudah kehendakmu, buat apa kusesalkan?"
"Kalau aku punya satu permintaan untukmu, apakah kau mau melaksanakannya?" tanya Pematung Kelana.
"Tergantung baik buruknya permintaan itu. Jika kau suruh aku mencuri, siapa sudi. Jika kau suruh merampok tentu aku kapok. Jika permintaanmu baik dan aku mampu melakukannya, tentu dengan senang hati aku menjalankannya."
Pematung Kelana tersenyum, namun hanya sesaat saja. Dilain waktu sikapnya telah berubah serius.
"Pergilah kau ke Bumi Ayu...!"
"Heh.... Bumi Ayu?"
"Ada apa di sana?" tanya Suro Blondo tidak mengerti.
"Kau tidak layak bertanya!"
"Sialan. Tua bangka ini sangat angkuh sekali. Dia yang suruh pergi, tapi tidak mau kasih tahu apa yang harus kuperbuat di sana?" gerutu Pendekar Blo'on.
"Aku tidak akan pergi jika aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di sana...!" kata Pendekar Blo’on akhirnya dengan perasaan jengkel.
"Ha ha ha...! Kau rupanya curiga juga padaku. Perlu kau ketahui, bahwa saudagar yang menawar patungku tadi merupakan orang kaya yang telah memperalat orang lain untuk mengambil biji-biji emas di Bumi Ayu! Hampir setiap hari banyak di antara mereka yang menemui ajal secara menyedihkan. Mayat mereka dicampakkan begitu saja, hingga tempat itu bertimbun bangkai. Sudah menjadi tugasmu Suro, untuk menghentikan mereka. Jika usahamu itu berhasil. Maka kau juga harus melenyapkan saudagar Bergola Mungkur. Karena dia merupakan dalang dari semua penderitaan mereka."
"Mengapa tadi Kakek tidak membunuhnya?"
"Hmm, aku memang sengaja memberi kesempatan untuk memperbaiki sepak terjangnya. Lagipula aku berpantang membunuh."
"Tapi terhadap dua ekor an jing jelek itu mengapa Kakek dapat melakukannya...?"
"Itu karena kepepet, dan mereka memang sengaja mencari mati!"
Suro Blondo seka keningnya yang berkeringat.
"Satu hal yang harus kau ingat! Jika kau telah berhasil menghentikan mereka. Maka kau harus mencariku!"
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Pendekar Blo'on terheran-heran.
"Sekarang belum waktunya bagiku untuk menjelaskannya padamu. Nanti jika tugasmu telah kau selesaikan."
"Baiklah, sekarang aku mohon diri." kata si pemuda. Pematung Kelana menganggukkan kepala sambil memandangi kepergian Pendekar Blo'on
*
Dua pemuda penunggang kuda berbulu hitam pekat itu tampak saling berlomba-lomba menuju ke daerah Bumi Ayu. Melihat gelagat mereka yang dalam keadaan tergesa-gesa. Tampak jelas bahwa mereka ini mengemban tugas yang cukup penting.
Siang malam mereka memacu kuda tunggangan, seakan tidak mengenal lelah sama sekali. Mereka baru berhenti jika benar-benar merasa lelah. Memang kalau dipikir-pikir jarak yang mereka tempuh antara Kuningan dan Bumi Ayu cukup jauh. Sehingga dalam seminggu perjalanan beberapa kali mereka terpaksa bermalam di hutan.
Matahari sudah mulai condong di ufuk barat pada saat mereka memasuki daerah Bumi Ayu. Yaitu sebuah tempat terakhir yang menjadi sasaran pengejaran mereka.
"Sebaiknya kita bermalam di sini saja, Kakang!" kata salah seorang di antara pemuda itu. Pakaiannya yang berwarna putih telah kotor berselimut debu. Wajah pemuda itu juga sudah tampak kelelahan sekali.
"Jarak kita dengan gua-gua penggalian sudah sangat dekat sekali. Aku yakin pemuda-pemuda dari Kuningan yang diculik para algojo itu sampai saat ini belum menjalani kerja paksa! Bagaimana kalau kita lanjutkan saja?"
"Kakang Sapala! Kakang harus ingat bahwa algojo yang menjaga para pekerja paksa itu jumlahnya tidak sedikit. Aku yakin mereka rata-rata memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Kita membutuhkan waktu untuk menghimpun tenaga yang terkuras selama dalam perjalanan. Kalau tidak ada aral melintang besok pagi kita dapat melanjutkan perjalanan ini."
"Baiklah, Panji. Jika memang itu sudah maumu, kali ini aku dapat menurutinya...!"
Sapala dan Panji yang selama ini dikenal sebagai Pendekar Kembar di daerah Kuningan segera turun dari punggung kudanya. Sebentar kemudian mereka mulai mencari tempat yang cocok untuk melewatkan malam.
"Hhuimm... adalah to lol, jika laki-laki tidur dengan laki-laki. Jika tidak mempunyai kelainan jiwa, pastilah orangnya sudah sinting!"
Panji dan Sapala melengak kaget ketika mendengar suara seorang perempuan yang seakan datang dari seluruh penjuru arah.
"Eeh... apakah kau mendengarnya, Panji?" tanya Sapala.
"Suara perempuan itu?"
"Ya....!"
Sapala kemudian memandang ke sekelilingnya. Aneh selain pohon-pohonbesar ia tidak melihat apa-apa di situ.
"Lihat!" Panji tiba-tiba menunjuk ke salah satu cabang pohon. Ketika Sapala melihat ke arah itu. Maka ia tersentak kaget. Pada salah satu cabang pohon ia melihat seorang gadis berbaju ungu. Wajahnya cantik menggiurkan. Tubuhnya padat montok di balik pakaian yang sangat tipis mencolok. Gadis itu langsung tersenyum genit ke arah mereka. Bibirnya sengaja dibasah-basahkan dengan lidahnya.
"Mengapa kalian memandangku seperti itu?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika Jajar atau terkenal dengan julukan 'Iblis Betina Dari Neraka'.
Sapala dan Panji saling berpandangan. Lalu dua-duanya memutar langkah dan hendak berlalu meninggalkan Mustika Jajar yang masih tetap duduk tenang di atas cabang pohon itu. Namun baru saja tiga langkah, tiba-tiba terasa adanya sambaran angin menerpa wajah mereka. Panji dan Sapala bersurut dua langkah ke belakang. Sebagai pendekar muda, mereka langsung bersikap waspada menjaga segala kemungkinan. Tapi gadis berbaju ungu yang sekarang berdiri menghadang di depan mereka malah tersenyum memikat.
"Kalian salah sangka. Aku bermaksud menanyakan sesuatu pada kalian!" ujar si gadis. Seraya membungkukkan kepala, sehingga memperlihatkan kedua payudaranya yang putih mulus menyembul ke luar.
"Siapa Nisanak?" tanya Panji curiga.
Mustika Jajar tersenyum. Betapa senyumannya menimbulkan gelora yang menyentak-nyentak. Tapi hanya dengan mengerahkan tenaga dalam, baik Panji maupun Sapala dapat menghilangkan semua pengaruh itu.
__ADS_1