Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
69


__ADS_3

Maya Swari terus dibawa berlari dengan kecepatan laksana terbang. Jika malam ia tidak dapat mengenali siapa yang telah melarikannya itu. Maka kini dalam keadaan siang tentu ia tahu dan kenal orang yang telah menculiknya itu. Dia tidak lain adalah Datuk Alang Sitepu, Raja Penyihir dari gunung Sibayak.


Apakah raja penyihir ini memang ada dua? Bukankah sesungguhnya Datuk Alang Sitepu tengah mengadakan perjalanan menuju Lembah Ciruyung bersama Nyanyuk Pingitan?


Pada saat mereka meninggalkan Diraja Penghulu Iblis dan Buta Terenggi. Ketika pertama kali melihat kecantikan Maya Swari diatas pelaminan. Datuk Alang Sitepu alias Bungkuk Lima ini sudah merasa jatuh hati dan terbangkit nafsunya. Tapi ia tidak mau bersikap gegabah. Karena ada hal yang sangat besar yang perlu mendapat perhatiannya. Hal besar itu menyangkut Prisma Permata yang berada ditangan Nyanyuk sebagai orang yang telah mencurinya dari Goa Darah.


Malam ketika kawan-kawannya mempercayakan Prisma Permata kepadanya. Tentu ini merupakan satu kemenangan. Karena hanya ia sendiri yang tahu sampai sejauh mana kegunaan barang yang sangat langka itu. Setelah Prisma Permata ada ditangannya ia mengatur siasat lagi dengan mencari dalih bahwa ia memerlukan tempat yang aman untuk memecahkan rahasia yang terkandung dalam Prisma tersebut. Padahaltanpa pemecahan apapun, sesungguhnya Prisma Permata itu memang memiliki kesaktian yang dahsyat. Asal saja tahu cara penggunannya.


Apa yang dikatakan oleh Datuk Alang Sitepu sebenarnya hanya tipuan semata karena ia sendiri memang ingin menguasai dan mendirikan kerajaan persilatan tanpa ada orang lain, sungguhpun kawan-kawan segolongan sendiri.


Menjelang dinihari mereka berangkat ke Lembah Ciruyung, baru lima puluh tombak meninggalkan istana Diraja Penghulu Iblis ia memberitahu Nyanyuk Pingitan bahwa disepanjang jalan nanti jangan bicara atau berkata apapun. Setelah merasa yakin. Berkat kesaktian serta mantra-mantra sihirnya yang sangat ampuh. Datuk Alang Sitepu menciptakan kembarannya. Sedangkan yang asli berbalik ke istana dan menculik Maya Swari.


Jadilah Nyanyuk Pingitan berjalan dengan bayangan sang Raja Penyihir. Kini di pinggir hutan Jati Muyung laki-laki bongkok berwajah hancur sebelah dan bermata satu ini meletakkan Maya Swari.


Gadis itu selain sangat marah juga menjadi ketakutan sekali. Ketika Datuk Alang Sitepu membuka jalan suaranya. Maka menyemburlah caci ma ki dari bibirnya yang mungil dan selalu membasah.


"Iblis kepa rat! Mengapa kau membawaku kemari?"


"Ah... jangan terlalu galak, Maya. Aku membawamu kemari tentu ada tujuan. Setiap laki-laki menghendaki seseorang juga pasti ada tujuan tertentu. Kecantikanmu membuat jantungku mpot-mpotan. Apakah kau tidak merasakannya?" Datuk Alang Sitepu kemudian tergelak-gelak. Tangannya dengan leluasa menjamah dan membelai pipi Maya Swari yang kemerah. Lalu belaian itu turun ke bagian lehernya yang jenjang, kemudian turun lagi dibagian dadanya.


Karena pakaian Maya Swari menghambat gerakan tangannya, maka tidak ampun lagi pakaian itu dicabiknya. Terlihatlah payudara si gadis yang putih tegak menantang.


Datuk Alang Sitepu demi melihat pemandangan ini langsung menelan ludah. Matanya yang cuma, tinggal sebelah berputar-putar liar, tenggorokannya turun naik. Dengan nafas terengah-engah diremasnya dada si gadis yang kenyal itu berulang-ulang hingga membuat Maya Swari menjerit-jerit kesakitan. Ia berusaha meronta dan membebaskan diri dari totokan. Tapi setelah ia mengerahkan tenaga dalamnya berulang-ulang apa yang dilakukannya sia-sia saja.


"Bang sat! Manusia rendah... kepa rat...!"


"Hakk Hak Kak...! Percuma saja kau meronta dan menjerit, Maya. Gerakanmu hanya membuat semangatku kian menggebu untuk menikmati kehangatan tubuhmu. Aku tahu kau masih suci. Tentu ini merupakan kenikmatan yang tidak ada duanya." desis laki-laki berwajah mengerikan itu dengan suara sember.


"Lep.. lepaskan..! Oh... tidak...!" Maya Swari menjerit-jerit ketakutan.


Setiap geliatnya membuat darah tua Datuk Alang Sitepu semakin panas berapi-api.


Bret! Bret!


Celana panjang biru penutup aurat Maya Swari terenggut lepas. Melihat tubuh telan jang didepannya, jantung si datuk semakin mpot-mpotan. Ia raba-raba bagian yang sangat peka itu. Kini Maya Swari yang dalam keadaan terancam itu bukan lagi menjerit, melainkan sudah menangis.


Lebih ketakutan lagi ketika sang Datuk membuka celananya sendiri. Nasib serta kehormatan putri iblis namun baik budi ini benar-benar berada di ujung tanduk.

__ADS_1


Terlebih-lebih ketika melihat laki-laki bermuka busuk sebelah itu mulai menindihnya. Namun rupanya suratan nasib menentukan lain. Pada saat-saat yang sangat kritis itu ada sinar putih yang datangnya dari balik pohon menderu ke arah Maya Swari. Sinar putih tanpa rasa itu langsung menembus ubun-ubun Maya Swari. Gadis itu menjadi kejang dan ia merasa tubuhnya secara tiba-tiba seperti tersentak.


Tanpa diduga-duga kini dari bagian bawah Maya Swari mencuat kepala ular berwarna putih. Ular itu langsung mematuk kepala burung kramat Datuk Alang Sitepu, hingga membuatnya meraung dan lepaskan pelukan.


Sambil terguling-guling Datuk Alang Sitepu pegangi burungnya yang dipatuk ular. Karena ular itu masih lengket dikepala pisang rajanya. Maka pisang rajanya yang bisa membengkak dan mengempis itu mengucurkan darah.


Didera rasa sakit yang bukan alang kepalang. Sang Datuk terpaksa memencet badan ular putih. Tapi ular itu tidak mati. Jalan satu-satunya adalah memencet kepala ular tersebut.


Tapi ia juga bingung. Jika kepala ular itu dipencetnya, praktis kepala pisang raja juga ikut tergencet. Ini akan bertambah repot. Karena separoh kepala pisang rajanya berada didalam mulut sang ular. Tidak ada jalan lain lagi. Datuk Alang Sitepu terpaksa memotong badan ular tersebut dengan mempergunakan kuku-kukunya yang runcing.


Ular itu menggelepar, mulutnya terbuka dengan sendirinya ular itu jatuh bersamaan mengempisnya kepala pisang raja sang datuk.


Digeceknya ular itu sampai menjadi serpihan daging. Si pisang raja jadi bengkak lagi karena bisa ular. Barulah pada saat itu ia teringat mengapa tadi tidak mempergunakan ilmu sihir saja untuk membunuh ular itu.


Cepat-cepat ia mengambil obat penawar bisa. Dalam hati ia berguman.


"Bagaimana nanti jika si pisang raja tidak dapat dipergunakan lagi. Jika loyo dan tidak bisa kembang kempis ini bisa berabe, berarti setiap ada kesempatan menikmati kehangatan gadis ia harus gigit jari."


Kenyataan ini rupanya yang membuat Datuk Alang Sitepu menjadi marah sekaligus menoleh ke arah si gadis yang hampir mencelakakan dirinya. Tapi alangkah terkejutnya dia karena gadis itu sudah tidak ada lagi di tempat terkecuali hanya pakaiannya saja yang berserakan diatas rerumputan.


"Da jal! Perempuan sun dal... pemborosan dan buang-buang waktu saja. Awas... aku tahu ada yang menolongnya. Suatu hari nanti jika ketemu ia akan kuper kosa pulang pergi!" desis Bungkuk Lima sambil menyeringai kesakitan. Begitu marahnya dia, sampai-sampai ia memukulkan tongkatnya yang berbulu kepala ular Cobra ke tanah.


"Sial! Gara-gara bukit kembar urusanku jadi runyam!"


Seperti orang linglung tokoh yang biasanya angker ini kembali mendapatkan celananya. Untung Prisma Kristal Permata masih berada ditempatnya. Setelah mengenakan pakaiannya kembali kini ia melanjutkan perjalanannya ke Lembah Ciruyung.


Sementara itu tubuh telan jang Maya Swari terus melayang dalam keadaan rebah diudara. Sinar putih kemilau itu terus menggerakkannya ke satu arah. Sampai kemudian berhenti mengambang persis ditengah-tengah hutan Hutan Jati Muyung.


Lalu dari atas batu tidak jauh dari gadis itu yang tengah mengapung diudara. Terlihat seorang kakek tua berambut serba putih, wajahnya nyaris tertutup bulu-bulu warna putih. Alis matanya yang juga berwarna putih itu tertutup caping bambu.


Si kakek yang semula hanya mempermainkan ranting kayu berwarna putih sambil bersiul-siul ini tiba-tiba hentikan siulannya. Ranting putih ditangannya digerakkannya ke bawah. Hingga membuat Maya Swari jatuh terduduk. Ia jentikkan ranting itu ke arah Maya Swari. Mengagumkan sekali dalam sekedipan mata Maya Swari telah berpakaian lengkap berwarna putih seperti sutera halus.


Si gadis dalam keadaan terkejut bercampur takjub ini memandang ke sekelilingnya. Ia tidak melihat siapa-siapa disitu terkecuali dirinya sendiri dan juga kakek bercaping yang duduk diatas batu. Satu hal yang membuatnya heran adalah sekujur tubuh si kakek memancarkan cahaya putih berpendar-pedar.


"Andakah yang telah menyelamatkan aku?" tanya Maya Swari dengan penuh rasa terima kasih.


Yang ditanya tidak langsung menjawab. Melainkan angkat capingnya, pandangi wajah Maya Swari dengan tatapan bosan.

__ADS_1


"Gusti Allah yang telah menyelamatkanmu dari nista. Bukankah kau putri Diraja Penghulu Iblis?"


Maya Swari merasa senang karena ternyata orang tua aneh ini kenal nama ayahnya. Dengan cepat ia menjawab.


"Anda kenal dengan orang tuaku, kakek?"


"Huh! Siapa yang tidak kenal dengan Diraja Penghulu Iblis. Karena undangannya membuat aku turun gunung. Jika bertemu ayahmu pasti kugebuk hingga babak belur!" dengus si kakek.


Jawaban si kakek benar-benar sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkannya.


"Apakah salah ayahku?" bentak Maya Swari menjadi sewot. Sungguhpun ia sadar karena kakek bercaping itu ia selamat dari aib yang sangat besar.


"Salah ayahmu? Huh... salah ayahmu sangat banyak sekali. Karena undangannya Prisma Kristal Permata dicuri dari Goa Darah. Karena dicuri Goa Darah menjadi hancur menyemburkan hawa panas. Manusia merah terlepas dari kurungan. Kini membantai penduduk yang tidak berdosa, orang-orang sengsara mengungsi menyelamatkan diri dari amukan lava dan amukan Manusia Merah. Raja Penyihir yang hampir menodaimu juga telah menyihir orang-orang yang tidak berdosa menjadi patung batu. Siasat apa lagi yang lebih keji, melebihi kejinya iblis berkepala ular?"


"Benarkah apa yang kakek katakan itu?" tanya Maya Swari dengan terkejut.


"Aku tidak memintamu percaya, setan tetap setan. Iblis bukan anak setan. Karena hatimu baik. Itu sebabnya aku beri kesempatan kau hidup. Tapi ingat jika kau mencampuri urusan orang tua. Tidak segan-segan aku membunuhmu kelak dikemudian hari."


"Tapi...!"


Kakek bercaping putih ini memotong.


"Tidak ada tapi-tapi. Cepat minggat dari hadapanku!"


Panas hati Maya Swari, memerah wajahnya karena menahan amarah. Laki-laki gaek ini angkuhnya bukan main-main. Kalaulah tidak mengingat dia telah menolongnya. Tentu sudah dilabraknya sejak tadi.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelumnya, sudilah kakek memberitahu siapa nama dan gelarmu."


"Hak hak hak! Gelar? Apa itu gelar? Aku hanya punya nama Barata Surya Penghulu Siluman Kera Putih!"


Karena merasa tidak kenal dengan nama itu, maka Maya Swari hanya diam saja. Jika saja Datuk Alang Sitepu yang mendengar si kakek menyebut nama, tentu ia akan berpikir dua kali untuk bertatap muka dengan si kakek.


Sebagaimana diketahui Barata Surya alias Penghulu Siluman Kera Putih adalah satu diantara dua guru Pendekar Blo'on. Guru yang lainnya adalah Dewana atau Malaikat Berambut Api yang tinggal di Pulau Seribu Satu Malam. Jika salah satu guru si pemuda sampai turun gunung, sama artinya ada persoalan besar akan terjadi.


Laki-laki yang punya sikap ugal-ugalan, konyol dan angin-anginan ini lalu batuk-batuk.


"Tunggu apa lagi. Menyingkirlah kau dari sini!"

__ADS_1


Semakin bertambah geram saja Maya Swari. Ia tanpa menoleh-noleh lagi langsung melangkah pergi. Tidak lama Penghulu Siluman Kera Putih pun berlalu. Tapi bukan dengan berjalan kaki, melainkan mengambang diudara selanjutnya melesat dengan bantuan hembusan angin kencang.


__ADS_2