Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
50


__ADS_3

Mereka tidur di atas tumpukan daun yang ditata seadanya. Malam itu bulan bersinar cerah. Pendekar Blo'on yang memang sudah merasa letih sebentar saja sudah tertidur.


Sementara itu Dewi Arimbi tampak gelisah. Sesekali ia melirik pada pemuda tampan yang tertidur tidak jauh di sampingnya. Beberapa hari ia mengenal Pendekar Blo'on, terus terang hatinya merasa tertarik. Apalagi bila mengingat pemuda itu mempunyai kepandaian sulit dijajaki. Selain itu ia suka dengan kepolosan pemuda itu, walau terkadang terkesan seperti pemuda bodoh yang tidak punya kepandaian apa-apa.


Hati gadis berbaju putih ini selalu tergetar bila memandang mata si pemuda. Setiap kali mata mereka bertemu pandang, ia tidak kuat melihatnya berlama-lama. Tetapi pada sisi lain ia mengkhawatirkan sesuatu. Gurunya, si Nenek Cantik Tambel Nyawa tidak menghendaki murid-muridnya jatuh cinta pada pemuda mana pun. Ia tahu Dewi Kehidupan tidak pernah mengenal laki-laki seumur hidupnya. Sebab menurut si nenek, mengenal seorang laki-laki hanya akan merusak kehormatan. Padahal kesucian harus selalu dijaga sampai ajal tiba. Agar ia dapat mewarisi seluruh ilmu yang dimiliki oleh gurunya.


Kini hatinya menjadi bimbang, haruskah ia mengesampingkan perasaannya terhadap laki-laki. Padahal anak-anak manusia terlahir karena cinta. Tetapi menurut gurunya, manusia terlahir karena nafsu dan perbuatan usil ayahnya, dan juga karena emaknya tidak pakai celana.


"Mengapa aku harus merasakan hal-hal seperti ini! Guru pasti marah besar bila mengetahui aku jatuh cinta pada pemuda ini!" pikir Dewi Arimbi. Kenyataan ini membuat si gadis gelisah, sehingga tidak dapat memejamkan matanya.


"Uhuk...! Uhuk...!"


Suro Blondo terbatuk-batuk. Entah disengaja atau batuk sungguhan. Dewi Arimbi segera menghampiri.


"Masih sakitkah dadamu, Suro?" tanya si gadis dengan suara lirih.


"Tidak."


"Mengapa batuk?"


"Sebab aku ingin dekat denganmu, Kulihat kau gelisah, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Pendekar Blo'on.


"Memikirkan dirimu, to lol!" batin Dewi dalam hati. Namun yang keluar dari bibirnya tetap lain.


"Tidak ada." Ketika mereka bicara wajah mereka sejarak dua jengkal saja, sehingga masing-masing dapat mendengar tarikan nafasnya.


"Kupikir kau sedang mengingat kekasihmu!" pancing Suro Blondo sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kekasih apa, kenal laki-laki saja baru kali ini!" sergah Dewi ketus.


"Kalau begitu kau pasti sedang memikirkan aku!" ujar Suro nakal.


Tiba-tiba direngkuhnya Dewi dalam pelukannya. Gadis itu jelas kaget dan langsung meronta. Suro menjatuhkan ciuman lembut di bibir si gadis.


"Kk... kau kurang ajar...!" ma ki Dewi. Tiba-tiba ia menampar pipi Suro, hingga pemuda itu terjengkang. Dari sudut bibir si pemuda menetes darah segar.


"Rupanya ini pekerjaanmu pada setiap perempuan yang kau temui?" desis Dewi Arimbi sambil mengusap-usap bibirnya bekas ciuman si pemuda. Setelah itu ia menendang perut Suro Blondo.


"Cepat mengaku!"


"Baru kali ini aku melakukannya! Itu kulakukan karena aku merasa berhutang nyawa padamu!" kata si pemuda sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Kau bohong!"


"Aku tidak berdusta! Maafkan aku Dewi...!"


"Maafmu kuterima, tapi aku merasa muak melihat tampangmu! Kalau saja bukan karena guru memberi tugas padaku. Tentu aku telah kembali ke Lembah Tanpa Nama!"

__ADS_1


Dewi merajuk. Pendekar Blo'on akhirnya terdiam. Melihat si pemuda memegangi perutnya. Dewi merasa iba juga, amarahnya pun reda kembali. Ia segera datang menghampiri. Sesungguhnya Dewi Arimbi mempunyai hati yang lembut, tidak seperti Dewi Bulan yang ketus atau Dewi Kerudung putih yang misterius.


"Sakitkah?"


"Lumayan!" sahut si pemuda.


"Kau kurang ajar sih, kalau tidak mana begini jadinya?" kata si gadis. Ia kemudian seperti seorang tabib segera memeriksa perut si pemuda.


"Cuma luka sedikit, kurasa tidak apa-apa!" gumam Dewi pelan.


"Ssst...!"


Suro menempelkan jemari tangannya ke bibirnya sendiri sebagai isyarat agar gadis di sampingnya diam.


"Aku mendengar ada orang menuju kemari!" bisik Pendekar Blo'on sambil berusaha memasang telinganya dengan baik.


"Dicari kemana-mana, tidak tahunya bersembunyi di sini!" kata sebuah suara.


Tidak berselang lama tampak seorang laki-laki muda perkasa bertelanjang dada dan cuma memakai cawat. Pemuda itu memandang tajam pada Suro Blondo dan Dewi Arimbi silih berganti.


"Perkasa!!" seru Pendekar Blo'on yang memang pernah melihat manusia jelmaan patung batu itu.


"Kau Pendekar Blo'on?" bentak Perkasa.


Si pemuda dan si gadis segera melompat berdiri untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini.


"Ha ha ha...! Apa yang lucu dalam dunia ini, Perkasa? Ketika Pematung Kelana mengukir sebuah keindahan dan nilai seni yang tinggi. Dirimu hanyalah batu marmar hampir tidak berguna. Tetapi orang yang telah membuatmu, dibunuh oleh Betina Dari Neraka. Atas bantuan iblis Tua Tengkorak Mata Api membangkitkanmu. Sehingga kau hidup seperti sekarang ini! Dirimu bernilai lima kantong emas! Tetapi setelah kau punya nyawa, engkau menjadi budak Betina Dari Neraka!" dengus Pendekar Blo'on sambil pencongkan mulutnya.


"Kau Pendekar Blo'on? Siapa kawanmu?"


"Kawanku adalah orang yang dekat dengan diriku!" sahut Suro tenang.


"Junjunganku memberi perintah untuk menangkapmu hidup atau mati!" tegas Perkasa.


"Begitu mudahkah, Perkasa? Menangkap nyamuk saja kau tidak becus. Yang pernah kulihat bisamu cuma menangkap, mendekap, membelai tubuh mulus majikanmu...!" ejek si pemuda rupanya sengaja memancing kemarahan lawannya.


Perkasa mendengus geram. Dengan langkah-langkahnya yang kaku bagaikan patung. Tangannya yang kokoh mencengkeram ke dada Suro. Dewi Arimbi jelas khawatir melihat keselamatan si pemuda. Sebab ia menyangka pemuda itu belumlah sembuh benar dari luka dalam yang dideritanya.


Gadis itu tidak tahu, bahwa Suro adalah si bocah ajaib, yang apabila terluka tubuhnya segera sembuh. Melihat tangan Perkasa terus terjulur memanjang. Maka Dewi Arimbi melepaskan pukulan jarak jauhnya.


Wuut!


Selarik sinar biru menderu dan menghantam pergelangan tangan Perkasa. Laki-laki itu mendengus geram. Ternyata pukulan yang dilepaskan Dewi Arimbi tidak membawa akibat apa-apa bagi Perkasa. Gadis berbaju putih itu tentu kaget bukan main. Kini ia melepaskan pukulan lagi ke arah lawan. Pada waktu bersamaan Perkasa berbalik dan mengejar Dewi Arimbi.


"Kau membantu pemuda itu? Kalau begitu aku juga harus menangkapmu!" dengus pemuda tinggi besar yang hanya memakai cawat ini. Hanya dengan dua tiga kali langkah. Maka Perkasa berhasil mendekati lawannya.


Namun Dewi Arimbi tidak tinggal diam, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tahap sempurna. Maka Dewi Arimbi mempergunakan jurus 'Bermain Di Atas Air'. Tiba-tiba saja tubuh gadis itu berputar-putar. Ia menggerakkan tangannya sebanyak tujuh kali. Di lain kesempatan pada setiap ujung jemarinya melesat seutas tali berwarna putih ke arah Perkasa. Sepuluh tali setipis kuku itu langsung membelit tubuh Perkasa. Pemuda itu meronta-ronta. Tetapi ternyata tali yang terdapat di ujung jari Dewi Arimbi ini ulet bukan main.

__ADS_1


"Hiaa... kepa rat...!" teriak Perkasa marah. Perkasa meronta-ronta, demikian besar tenaga yang dimiliki oleh manusia jelmaan patung ini. Sehingga membuat Dewi Arimbi kewalahan mengikuti kemana saja gerakannya.


"Pukulan Tali Arus'! Heaaa...!" teriak si gadis.


Dengan cepat ia melepaskan lima jemari tangannya yang memegang tali. Setelah itu tangan kanan ia kibaskan ke depan. Seleret sinar putih berkilau laksana perak meluncur deras ke arah Perkasa. Karena hanya lima tali yang mengikat tubuhnya. Maka dengan sekali berontak ia dapat membebaskan diri dan langsung memapaki serangan lawan.


Wut!


Ketika tangannya dihentakkan ke depan. Maka dari telapak tangan Perkasa meluncur sinar merah seperti bara. Sinar itu membentur sinar putih yang dilepaskan oleh Dewi Arimbi.


Glaar!


Terjadi ledakan dahsyat. Dewi Arimbi terpelanting sejauh tiga batang tombak. Sedangkan Perkasa sendiri, jangan bergetar sedangkan bergeming pun tidak. Dewi Arimbi merasa dadanya hendak pecah. Dari hidungnya tampak menetes darah segar. Ia mencoba bangkit berdiri. Namun kepalanya sakit berdenyut-denyut. Sedangkan pada waktu itu Perkasa telah menggerakkan kakinya menginjak-injak Dewi. Tapi gadis itu bergerak cepat dengan cara berguling-guling.


Melihat bahaya mengancam jiwa Dewi Arimbi, Suro Blondo tentu tidak diam saja. Ia segera menerjang ke depan. Dengan turunnya pemuda itu di arena pertempuran. Tentu saja gerakan Perkasa untuk membunuh Dewi Arimbi jadi terhalang. Sementara itu Pendekar Blo'on dengan gerakan-gerakan kacau terus melancarkan serangan-serangan ke bagian tubuh lawannya.


"Ciaat...!"


Jtok!


"Heh...!"


Pendekar Blo'on terkejut. Telapak tangannya yang menghantam dada Perkasa seperti menghantam batu saja. Pemuda ini kesakitan, lalu melompat mundur sambil garuk-garuk kepala.


"Se tan yang satu ini benar-benar


alot. Aku harus mencari bagian-bagian terlemah di tubuhnya!" pikir si pemuda.


Tiba-tiba ia melompat ke depan. Tetapi lompatannya seperti gerakan seekor monyet yang bergelantungan. Ketika kaki Perkasa menghantam perutnya. Dengan terhuyung-huyung ia melompat mundur, tendangan kaki lawannya tidak mengenai sasaran. Suro menangkap kaki Perkasa yang lewat di atas bahunya. Kemudian jemari tangannya dengan sekuat tenaga meremas bola keramat milik lawan.


Blop!


"Akh...!"


Perkasa menjerit kesakitan. Suro Blondo tertawa membahak sambil seka keningnya.


"Ternyata kau punya bola bukan main-main besarnya. Dan kau punya pusaka gondal-gandul macam kentongan!" ejek Pendekar Konyol itu di sertai senyum.


Perkasa tampak terpincang-pincang, ia memegangi perutnya yang terasa mulas.


"Haarrrgkh...!"


Di puncak kemarahannya, Perkasa menjerit keras. Suaranya menggetarkan dada. Kemudian kakinya bergerak cepat menendang apa saja yang ada di depannya. Batu-batu sebesar anak kerbau berpelantingan menghujani Pendekar Blo'on dan Dewi Arimbi. Kedua muda-mudi itu tentu saja dibuat kalang-kabut. Mereka menghindari hujan batu besar yang melayang akibat tendangan Perkasa. Rupanya manusia jelmaan patung ini kecewa melihat tidak satu batu pun yang mengenai sasaran. Ia kemudian mengangkat batu sebesar kerbau dan melemparkannya ke arah lawan.


"Menghindar Rimbi!" teriak Suro memberi peringatan.


Buum!

__ADS_1


Batu jatuh berdebum tidak mengenai sasaran. Debu mengepul di udara. Perkasa mengamuk membabi buta.


__ADS_2