
Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya Dewana menggerutu dan menyesali diri.
"Manusia-manusia edan! Kalian semua akan celaka. Berani menyentuh keponakanku berarti kematian. Jika telah membunuh seperti ini berarti tidak ada ampunan dunia akhirat!" Malaikat Berambut Api terus
berlari laksana terbang.
Sama sekali ia tidak menghiraukan suasana di sekelilingnya yang gelap gulita. Sekarang sudah tersusun rapi dalam benaknya, setelah selesai mengubur kedua keponakannya itu ia akan mengejar Siluman Kera Putih yang berdiam di Gunung Mahameru.
Di lereng Gunung Bromo sebelah timur pertempuran sengit terus terjadi. Empat tokoh yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat terus berusaha merobohkan dua lawan tangguh. Namun tampaknya Gajah Munding dan adiknya Gajah Krempeng bukan lawan
sembarangan.
Terbukti setelah dua puluh jurus berlalu. Empat tokoh partai Dunia Akhirat mulai terdesak hebat. Padahal waktu itu Balung Raja, Ki Rambe Edan, Braja Musti dan Baja
Geni telah mengerahkan senjata andalah masing-masing.
Hebatnya kedua manusia Gajah yang satu berbadan seperti raksasa dan satunya lagi berbadan kurus macam tengkorak hanya mempergunakan tangan kosong dalam
menghadapi serangan gencar mereka ini.
"Rampas bayi itu, Saudara kurus! Kita tidak punya banyak waktu untuk melayani manusia-manusia ini!" teriak Gajah Munding keras bukan main.
"Tenang saja! Aku segera melakukannya," sahut Gajah Krempeng.
Tubuh kurusnya tiba-tiba melesat ke arah Ki Rambe Edan yang membawa bayi dengan kecepatan laksana terbang.
"Bangs*t! Jangan mimpi! Makan nih...!" Ki Rambe Edan hantamkan pedang di tangannya ke arah kepala Gajah Krempeng.
Laki-laki ini tanpa diduga-duga bersalto ke udara. Dalam gelapnya malam Gajah Krempeng yang langsung menjejakkan kakinya di bahu Ki Rambe Edan lakukan dua totokan berturut-turut.
Totokan yang dilakukan Gajah Krempeng langsung pada bagian pusat gerak dan suara. Hingga membuat tubuh laki-laki itu tidak dapat bergerak lagi. Kesempatan itu dipergunakan oleh Gajah Kurus untuk merebut bayi dari tangan Ki Rambe Edan. Setelah mendapatkan bayi, Gajah Krempeng
langsung berkelebat pergi.
Dikejauhan sayup-sayup terdengar suara Gajah Krempeng memanggil saudaranya si Gajah Munding.
__ADS_1
"Tinggalkan pertempuran! Aku sudah dapatkan bayi ajaib!" Gajah Munding tertawa mengekeh.
Ia melepaskan dua tendangan dahsyat berturut-turut. Lawan menyadari betapa berbahayanya serangan manusia raksasa yang bernama Gajah Munding itu. Sehingga hampir bersamaan mereka melompat mundur sejauh tiga langkah.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Munding. Tubuhnya yang sangat besar itu langsung terlipat dan menggelinding cepat bagaikan meteor.
"Kejar pencuri bayi!" teriak Balung Raja pada kawan-kawannya.
Tapi dari arah kiri mereka tiba-tiba terdengar suara gelak tawa disertai ocehan seseorang.
"Hik Hik Hik! Orang-orang tol*l! mengapamencari susah dengan mengejar dua gajah setan! Pekerjaan itu hanya sia-sia. Mereka bukan melarikan bayi ajaib... paling-paling juga bayi mainan! Lihat kawan kalian yang telah jadi patung...!"
"Eeh...!" Braja Musti melengak kaget. Cepat ia palingkan muka ke arah lain.
Di sebelah kiri mereka terlihat Ki Rambe Edan berdiri tegak dengan posisi tangan seperti menggendong bayi. Sungguh menggelikan keadaan tokoh tua ini. Tapi bila mereka ingat kehebatan dan kepandaian yang dimiliki
kakek tua ini.
Maka mereka jadi terkejut. Gajah Krempeng diluar sepengetahuan mereka rupanya dapat menjatuhkan Ki Rambe Edan.
Jika Gajah Krempeng dapat menjatuhkan Ki Rambe Edan dengan cara sedemikian mudahnya. Tentu Gajah Krempeng pastilah bukan manusia sembarangan.
Balung Raja segera menghampiri Ki Rambe Edan. Sementara itu Baja Geni melompat ke depan Setan Merah dan Rambut Besi yang masih tetap berdiri di situ sambil tersenyum-
senyum mengejek.
"Setan Merah! Rambut Besi! Apa yang kalian berkata tadi? Apakah bayi yang dilarikan oleh Gajah Munding dan saudaranya bukan bayi ajaib seperti yang dikatakan oleh pertapa laut selatan?"
"Hik hik hik!" Rambut Besi menyambuti dengan tawa.
"Hek! Ha ha ha...! Orang-orang bod*h! Kalau kau mau tahu, bayi yang dibawa kabur oleh Gajah Munding hanya bayi biasa. Rambutnya tetap hitam, bukan merah. Punggungnya dalam keadaan mulus tanpa tahi lalat...!"
"Kalian dusta!" bentak Baja Geni. Ia memang merasa penasaran bahkan mulai ragu-ragu ketika dua manusia di depannya memberi
peringatan.
__ADS_1
"Dusta dan bohong sama-sama tidak ada untungnya bagi kami. Saudara bukan, anak bukan! Mau kalian kejar bayi palsu itu aku tidak perduli! Bukankah begitu, Rambut Besi?" dengus Setan Merah.
Ia berpaling pada perempuan tua yang sedang memonyongkan mulutnya.
"peduli amat! Daripada tarik urat dengan tokoh-tokoh dari partai celaka, lebih baik kucari bayi aneh itu di tempat lain di sekitar Gunung Bromo ini!" Sekali menjejakkan kakinya.
Perempuan renta berambut panjang menjela ini sudah lenyap dari hadapan mereka.
"Hmm. Monyet kurus rambut besi boleh juga dipercaya! Aku pun tidak berlama-lama di sini. Orang-orang bunting itu hanya mengingatkan aku pada nenekku yang sedang hamil tua!"
Setan Merah.
Laki-laki berbaju merah dan memiliki kepandaian tinggi ini pencongkan mulutnya. Dari sela-sela bibirnya meluncur air ludah menderu ke arah Baja Geni.
"Terima oleh-olehku!"
"Kurang ajar!" Baja Geni hantamkan tangannya ke arah air ludah yang meluncur ke bagian wajahnya.
Ludah yang melesat dari mulut Setan Merah tertahan dan memercik ke seluruh penjuru arah. Tapi ada juga di antaranya yang mengenai baju Baja Geni.
Hingga membuat laki-laki itu menyumpah serapah. Dikejauhan terdengar suara Setan Merah sayup-sayup di telinga Baja Geni.
"Seumur-umur kalian menunggu para perempuan itu melahirkan. Kalian tidak mungkin mendapatkan apa-apa.
Tampaknya bayi ajaib telah terlahir di sebelah barat sana. Orang partai Dunia Akhirat? Apakah kalian tetap mengharap bayi dari perempuan hamil yang kalian kumpulkan? Tunggulah sampai dua purnama mendatang.
Mudah-mudahan perempuan-perempuan itu melahirkan bayi yang lebih besar...!"
"******* rendah!" maki Ki Rambe Edan yang baru saja terbebas dari totokan menggembor marah.
"Gajah Krempeng! Suatu saat nanti aku cincang tubuhmu yang cuma rongsokan itu!"
"Sudahlah! Para kurcaci itu tidak ada di sini! Mereka membawa bayi biasa. Sekarang apa yang harus kita lakukan terhadap perempuan itu?" tanya Brcna Musti seakan tidak sabar lagi.
"Ya... apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi fajar segera terlihat. Kurasa malam satu Asyuro sudah hampir berakhir. Dan kita tidak mendapatkan apa-apa."
__ADS_1
"Hmm. Aku pun yakin tentang hal itu. Kalau perempuan-perempuan hamil ini tidak ada gunanya. Untuk apa susah payah. Lebih baik kita bunuh mereka semua!" Ki Rambe Edan dengan kejam memutuskan.
"Ya.... Aku setuju mayat-mayat mereka kita buang di jurang sebelahsana. Mungkin dalam waktu yang singkat kita dapat menjadikan tempat ini sebagai markas."