Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
8


__ADS_3

"Suro Blondo! Kau beraninya membangkang pada aku saja. Pada kakekmu Malaikat Berambut Api kau tidak berkutik! Ayo kemari! Atau aku menyuruh anak-anak menyeretmu kemari?" dengus Barata Surya, lalu usap-usap jenggotnya yang putih bagaikan kapas.


"Monyet-monyet yang punya ekor selalu dipanggilnya anak-anak. Gila barangkali aku punya guru." Suro Blondo membatin di hati.


"Cepat Suro! Air telaga sudah menggelegak menunggumu. Jangan kau tunggu kesabaranku sampai habis!"


Sambil uncang-uncang kaki di atas pohon, si kakek mengulangi perintahnya.


Suro Blondo usap-usap perutnya yang putih berkilat-kilat. Pemuda tanggung bertampang t*lol ini semakin jengkel saja mendengar perintah gurunya.


"Kesabaran jangan selalu dihabiskan, Guru! Kalau Guru sudah tidak punya kesabaran. Ke mana Guru akan mencari gantinya...!" kata Suro Blondo tenang.


"Sialan anak t*lol! Kau membantah terus kalau diperintah!"


"Guru b*go. Kerjanya kasih perintah melulu." rutuk Suro Blondo.


Tiba-tiba saja Penghulu Siluman Kera Putih tergelak-gelak. Kalau bukan muridnya yang bicara begitu. Mungkin sudah sejak tadi digebuknya Suro Blondo. Sejenak Barata Surya hentikan tawanya.


"Anak ini wataknya sama persis dengan sifatku diwaktu kecil. Kalau tidak mengingat kakeknya manusia sakti Mandraguna. Sudah kucopot mata dan hidungnya." gerutu Barata Surya.


Saat itu Suro Blondo membatin pula:


"K*nyuk berjanggut itu selalu memanjakan aku. Sialnya dia tidak mau sama-sama mandi di telaga panas."


"Hei... tunggu apalagi...! Cepat kerjakan...!" teriak Barata Surya jadi berang.


Pada saat itu tanpa diketahui oleh Penghulu Siluman Kera Putih ini. Suro Blondo telah masuk ke dalam telaga panas berbisa tersebut.


"Anak-anak seret manusia yang di atas pohon!" kata Barata Surya tanpa melihat lebih dulu kalau pohon yang selalu dijadikan tempat beristrahat Suro Blondo sudah kosong.


Puluhan ekor kera siluman saling pandang. Satu-satunya orang yang berada di atas pohon hanya Barata Surya sendiri. Dengan bingung puluhan ekor kera berpaling pada Suro Blondo yang tampak meringis dan menunjuk-nunjuk ke arah pohon yang diduduki Barata Surya. Secara beramai-ramai kera siluman itu tanpa menimbulkan suara langsung mendekati penghulu mereka. Lalu....


Sreet!


"Eeh... apa-apaan monyet-monyet t*lol! Eeh... heii...!"


Byur...!


Melihat gurunya basah kuyup tercebur ke dalam telaga. Suro Blondo tergelak-gelak. Monyet-monyet siluman ikut berjingkrak-jingkrak kegirangan.


"Kurang ajar! Murid t*lol, kera-kera blo'on...! Menyingkir kalian semua sebelum kena gebukanku!" bentak Barata Surya marah bukan kepalang.


"Nguk! Nguk!"


Monyet-monyet siluman pun menjauhi tempat di sekitar telaga.


"Guru salah sebut. Ha ha ha...! Mestinya kera-kera itu yang t*lol. Guru yang g*blek dan aku... ha ha ha... blo'on... ha ha ha...!"


"Diam...!" bentak Barata Surya.


Seraya melompat dari dalam telaga. Sementara itu air di dalam telaga terus bergolak. Hawa panas mulai menyengat. Sedangkan ular-ular berbisa yang berada di dalamnya mulai menyerang Suro Blondo pula.

__ADS_1


"Ih... aku nggak bisa diam. Ular-ular sialan ini terus menggelitikku... ihh... hiii... geli...!" Suro Blondo terus meringis-ringis.


Entah kegelian entah kesakitan. Yang jelas disekujur tubuhnya yang terendam air berwarna merah itu mulai tampak dipenuhi luka di sana-sini. Luka-luka itu menimbulkan rasa dingin yang teramat sangat. Sehingga membuat sekujur tubuh Suro Blondo bergetar hebat.


"Sudah Guru! Dingin... dingin sekali. Aku mau naik ke daratan, Guru. Sudah tidak tahan...!"


"Diam di situ, kalau perlu sampai besok pagi!" bentak Barata Surya.


"Uhu... tega nian dikau...!"


Suro Blondo menggerutu. Barata Surya terkekeh-kekeh.


"Kalau mau jadi manusia berguna, murid harus patuh perintah guru. Kau harus ingat pula, jika tenaga dalammu sudah benar-benar sangat sempurna dan tubuhmu telah kebal sepenuhnya karena berendam di Telaga Bisa. Dua tahun mendatang aku dan kakekmu akan menurunkan jurus-jurus ilmu silat tingkat paling tinggi kepadamu. Jika kau tidak punya tenaga dalam yang tinggi, mana bisa aku dan kakekmu menurunkan pukulan-pukulan dahsyat yang kami miliki!" jelas Penghulu Siluman Kera Putih lebih lanjut.


Setelah memberi penjelasan pada muridnya. Barata Surya segera melompat lagi ke atas pohon di mana tempat ia tadi berada. Kemudian beliau rebahkan badan. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, suara dengkurannya pun terdengar dengan jelas di telinga sang murid.


"Sekujur tubuhku sudah berdarah. Hawa dingin semakin menyerang. Telaga ini panas bukan main, tapi mengapa setelah tubuhku digigiti ular-ular merah ini badanku jadi dingin sekali."


Suro Blondo menggerutu. Satu dua ekor ular merah ditangkapnya. Dengan geram digigitnya kepala ular-ular yang sangat berbisa itu.


"Huh... rasain pembalasanku!"


Suro Blondo cengengesan ketika melihat ular tanpa kepala tersebut menggelepar-gelepar lalu mati.


"Guruku sudah tidur. Aku sudah mengantuk baiknya aku naik ah...!"


Dengan hati-hati Suro blondo merangkak naik ke daratan meninggalkan telaga bisa. Namun di atas pohon kemudian terdengar satu bentakan keras menggeledek.


"He... mau ke mana kau...? Jangan coba-coba ya...!"


Dengan terpaksa ia kembali masuk ke dalam telaga bisa. Sedangkan sang guru yang sama-sama miringnya terus ngorok berkerokokan.


***


Sejak empat tokoh sesat yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat mendirikan markas di Gunung Bromo. Maka sejak saat itu sepak terjang mereka sudah sampai di daerah Nongkojajar, Wendit bahkan Singosari.


Segala macam kejahatan mereka lakukan. Membunuh dan melakukan perampokan besar-besar sudah biasa mereka lakukan. Mereka juga melakukan penculikan di mana-mana. Tidak jarang orang persilatan yang berusaha menghentikan sepak terjang mereka ini tewas secara sia-sia.


Semakin lama partai yang dipimpin oleh Balung Raja, Ki Rambe Edan, Braja Musti dan Baja Geni semakin bertambah besar. Pengikut-pengikutnya juga semakin bertambah banyak.


Dalam waktu 17 tahun, mereka bahkan telah berhasil membentuk sebuah kerajaan kecil yang memiliki mata-mata tersebar di setiap daerah. Bahkan sejak saat itu semua penduduk dibebankan membayar upeti. Siapa yang membangkang pasti mereka bunuh. Pendeknya tidak seorang pun yang berani menentang kekuasaan mereka.


Siang itu udara terasa panas membakar bumi. Daerah Nongkojajar yang padat penduduk memang senantiasa sarat dengan berbagai kegiatan. Tampaknya mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Tidak perduli pada musim panas atau pun musim hujan. Mereka senantiasa bekerja keras demi untuk membayar upeti pada majikan di Gunung Bromo.


Di sebuah warung yang selalu sarat dengan pengunjung. Seorang gadis mengenakan pakaian ringkas berwarna kuning gading tengah menikmati hidangan yang dipesannya pada pemilik warung. Ia memakai ikat kepala warna biru. Rambutnya yang panjang dan menebarkan bau harum semerbak membuat orang-orang yang berada di dalam warung itu selalu melirik dan mencuri pandang kepadanya.


Gadis berwajah cantik dengan tahi lalat di dagu ini bersikap acuh tak acuh. Sungguh pun ia sadar sejak tadi berpasang-pasang mata terus mengawasinya sambil menelan ludah.


"Pak Tua! Saya minta tambah makanannya!" Sama sekali ia tidak menoleh pada pemilik warung ketika ia menyampaikan keinginannya itu.


Ketika pemilik warung bermaksud menyediakan pesanan si gadis. Saat itulah tiga orang laki-laki berpakaian hitam. Berambut panjang awut-awutan, bercambang bawuk lebat memasuki warung tersebut.

__ADS_1


Orang-orang di dalamnya yang memang telah mengenal siapa adanya laki-laki bertampang angker ini langsung meninggalkan warung. Hanya gadis berpakaian kuning gading yang tetap berada disitu. Sama sekali ia tidak menghiraukan ketiga laki-laki yang membekal golok besar ini.


"Bapak! Mana pesanan saya...?" tanya si gadis.


Suaranya terasa enak didengar. Pemilik warung tampak ketakutan. Bukan pada si gadis melainkan pada ketiga laki-laki yang sedang menghampiri gadis itu.


"Bocah manis. Rupanya kau sangat lapar sekali, ya...? Bagaimana jika kami menemanimu makan di sini? Kami juga sama-sama lapar!" kata yang berbadan tinggi tegap.


"Aku tidak butuh siapa pun di sini!" ketus suaranya, Perlahan ia memandang pada laki-laki di depannya.


Sebaliknya laki-laki di depannya tampak tercekat. Tenggorokannya turun naik, mata mereka terbelalak lebar. Sama sekali mereka tidak menyangka kalau gadis yang sejak tadi memunggungi mereka ini memiliki wajah yang sangat cantik luar biasa.


Melihat kecantikan si gadis. Semakin berani


dan kurang ajar sajalah tindakan mereka ini. Salah seorang dari laki-laki berpakaian hitam ini mencolek dagu si gadis. Melihat gadis itu hanya diam sama. Maka dua lainnya tertawa mengekeh.


"Merpati cantik ini ternyata sangat jinak sekali, kawan-kawan!"


"Dia sangat pantas untuk kau jadikan istrimu, Kakang Wongso!" Yang berbadan lebih pendek menyahuti.


"Betul! Jika gadis ini mau kujadikan istriku. Maka istriku yang sepuluh itu akan kuceraikan semua...! Bagaimana Nduk, apakah kau mau menjadi istri orang kepercayaan penguasa Gunung Bromo?"


"Kakang! Biasanya seorang gadis memang suka malu-malu! padahal hatinya sih mau...!" berkata Karsa Jaliteng. Yaitu laki-laki yang paling muda di antara mereka.


Memerah wajah gadis cantik ini. Tubuhnya gemetar, pertanda ia sedang berusaha meredakan amarahnya.


"Pak Tua! Siapkan hidangan yang paling istimewa buat kami dan gadis ini!" perintahnya tegas.


Hingga membuat pemilik warung yang sudah mengetahui keganasan ketiga laki-laki kepercayaan penguasa Gunung Bromo ini dengan tergopoh-gopoh segera menyediakan pesanan mereka.


Ketika orang-orang berbaju hitam ini bermaksud duduk mengelilingi gadis berbaju kuning gading. Sebuah bentakan terdengar.


"Jangan berani lagi bertindak macam-macam di depanku! Sekali kau duduk di situ! Jangan salahkan aku jika aku terpaksa harus melempar kalian keluar dari warung ini!"


"Eeh...!"


Tiga Iblis Pemburu Nyawa sama-sama melengak. Di mata mereka semakin marah gadis ini semakin bertambah cantik wajahnya. Tiba-tiba ketiga laki-laki bertampang angker ini tertawa tergelak-gelak.


Bahkan laki-laki berbadan pendek bernama Karsa Jalinteng yang sudah gatal, tangannya dengan cepat menjulur ke dada si gadis yang padat membusung.


Tapi gadis itu dengan gerakan yang sangat sulit diikuti mata biasa sudah mencengkeram tangan yang kurang ajar itu. Lalu....


Wuss!


Sosok tubuh laksana kilat melayang keluar melalui pintu depan.


Bruuk...!


"Akkh...!"


Terdengar suara teriakan kesakitan di luar sana. Karsa Jaliteng dengan terhuyung-huyung bangkit berdiri. Sementara dua kawannya yang masih berada di dalam warung tersentak kaget dengan mata terpentang lebar.

__ADS_1


"Perempuan b*ngsat!" maki Karsa Jaliteng yang sekarang telah berdiri di ambang pintu.


Wajah laki-laki itu berselot debu. Hidungnya mengucurkan darah. Bibirnya jontor dan tangan kirinya tampak bengkok. Patah.


__ADS_2