
Kejut hati Warok Batiroso bukan kepalang. Seseorang yang bisa menyerang burung perkasanya itu tentu merupakan mereka yang mempunyai kepandaian tinggi.
Tapi ketika ia melihat ke samping kiri, orang yang berdiri di situ sambil cengar-cengir bertolak pinggang hanya seorang pemuda berambut hitam kemerahan bertampang to lol. Sungguh pun ia harus mengakui bahwa pemuda itu lebih tampan dari Gemblaknya sendiri.
"Tidak ada hujan tidak ada angin. Hanya orang gila yang cari penyakit kalau berani mencampuri urusan orang lain!" bentak Warok Batiroso.
"Karena gadis baju kuning itu kawanku. Masak aku harus melotot saja melihat dia kehilangan kepala?"
"Hmm, rupanya kau kawannya?"
Suro Blondo garuk-garuk kepala, lain memandang pada Dewi Bulan yang melotot kepadanya.
"Bagus, kurasa tujuanmu tidak jauh beda dengan tujuan gadis ini. Sebutkan namamu dan apa gelarmu?"
"Gelar tidak perlu, namaku Suro Blondo!" kata Pendekar Blo'on.
"Heh...! Rupanya kau yang dikabarkan sebagai anak ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro delapan belas tahun yang lalu? Kebetulan sekali aku ingin tahu apa kehebatan yang tersimpan di balik nama dan kelahiran yang menggemparkan dulu!" geram Warok Batiroso hampir tidak dapat menahan tawanya.
"Ha ha ha! Yang membuat gempar adalah tikus-tikus sesat sepertimu. Mereka kemaruk ingin punya murid sepertiku. Heh... apakah kau tidak kasihan membawa-bawa istrimu yang bunting itu?"
Merasa disindir begitu rupa, baik Warok Batiroso dan Panaran jadi sangat tersinggung sekali.
"Kep arat!"
Warok Batiroso hendak mengemplang kepala Suro. Tapi pemuda ini menahannya
"Tunggu?"
"Apa lagi?"
"Bertarung dengan manusia ajaib seperti ku ada waktu dan batasnya. Kalau waktu yang sudah sama-sama kita sepakati telah berakhir. Artinya kau kalah jika tidak mampu merobohkan aku. Sebaliknya jika kau menang aku bersedia menjadi kacungmu"
"Kalau aku kalah?"
"Kalau kalah kau harus menyembahku tujuh kali setelah itu segera merat dari hadapanku!"
"Ha ha ha!"
Warok Batiroso tergelak.
Ia yakin dengan kemampuannya. Pemuda di depannya walau tadi sempat ia lihat kehebatannya pasti tidak sampai lima jurus ia akan menjadi pecundang. Apalagi mengingat wajah pemuda itu tampan. Paling tidak jika ia dapat mengalahkannya, selain Warok punya kacung pemuda itu dapat pula dijadikan selirnya.
"Bagaimana, apakah kau setuju?" tanya Pendekar Blo on.
"Setuju. Berapa jurus kau tawarkan?"
"Sepuluh," jawab Suro Blondo.
"Aku menawar lima."
Pendekar Blo on menyeringai,
kemudian tertawa sambil pencongkan mulutnya.
"Kau menawar paling sedikit, jangan menyesal nanti kalau juraganmu ini harus mengemplang kepalamu pulang pergi, Warok...!"
"Banyak mulut!"
"Tuuing...!"
Warok mengemplang mulut si pemuda. Tapi Suro sudah tarik mulutnya ke belakang. Lalu ia geser langkahnya ke samping kiri. Tinjunya menghantam dada sang warok. Laki-laki ini menepis dengan gerakan ringan tapi tangan dialiri tenaga dalam tinggi.
Suro tak mau mengambil resiko. Lalu putar tangan ke samping. Tendangan kaki kanan menghantam perut.
Warok Batiroso terkejut sekali. Ia melompat ke belakang. Justru pada saat si pemuda hantamkan lagi tangannya ke dada lawan.
__ADS_1
Tendangan dapat dihindari, tapi tinju lawannya menghantam telak dada sang Warok.
Karena hantaman itu cukup keras, Warok biar pun badannya besar tetap saja terhuyung ke belakang. Merah wajahnya menerima kenyataan ini. Ia kertakkan rahangnya, lalu tangan kanan diputar cepat. Inilah jurus 'Kalinding Bencana'.
Sebuah jurus andalan yang sangat diyakini kehebatannya.Serasa tangan lawan semakin lama semakin bertambah cepat. Hingga tangan yang berputar dan menimbulkan gelombang angin menderu-deru ini semakin lama seakan berubah menjadi banyak.
Pendekar Blo’on telah kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' Salah satu jurus konyol warisan gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.
Seketika tubuh si pemuda terhuyung-huyung. Tangan kirinya tidak henti menggaruk sana-sini. Sedangkan tangan kanan mencecar mata sang Warok.
Kaki si pemuda terus bergerak lincah. Terkadang posisinya setengah berjongkok sambil melompat-lompat. Tapi begitu serangan lawan semakin menghebat, ia berguling-guling sambil menunjuk-nunjuk ke langit.
Bibir si pemuda berkomat-kamit. Terkadang keluar suara mendesis atau ngak ngik nguk seperti suara seekor mo nyet yang ribut. Lalu dalam keadaan tetap berguling-guling itu ia melepaskan tendangan beruntun menyapu kaki sang Warok.
Serangan-serangan gencar yang dilakukan oleh Warok Batiroso selalu luput. Sebaliknya serangan balik yangdilakukan oleh lawannya nyaris menghantam tempat-tempat yang berbahaya.
Tidak ayal lagi, Warok Batiroso jadi uring-uringan.
Sementara itu Dewi Bulan juga rupanya tidak tinggal diam. Ia melabrak Panaran gemblak sang Warok dengan serangan-serangan yang sangat ganas.
Panaran yang sempat melihat Dewi Bulan sempat kucar kacir mendapat serangan sang Undan sama sekali tidak menyangka. Kini gadis itu berubah menjadi hebat tanpa mempergunakan senjata. Kini secara pelan ia menyadari bahwa gadis ini mempunyai jurus-jurus yang sangat berbahaya bila tidak mendapat serangan dari udara.
Dalam waktu singkat pertempuran sudah berubah menjadi seru. Sebaliknya Panaran sudah mencabut keris kecil lekuk tiga begitu mendapat tekanan dari lawannya. Keris berwarna hitam mengandung racun keji ini menderu-deru menimbulkan sinar hitam dan menebar bau amis. Pertanda bahwa senjata lawannya mengandung racun yang sangat keji.
"Aku tidak mungkin bertangan kosong terus menghadapi senjatanya yang mengandung racun itu," pikir Dewi Bulan.
"Sriing! Sring!"
"Heaaa...!"
Dewi Bulan membentak keras, tubuhnya melesat ke depan. Sedangkan pedang kembar pendek yang baru dicabutnya menusuk ke arah leher lawan sedangkan satunya lagi menebar ke perut Panaran.
Mendapat serangan dahsyat dalam waktu bersamaan ini sempat terkesiap juga. Namun laksana kilat ia membanting tubuhnya ke samping kiri lalu lepaskan tendangan ke pergelangan tangan lawannya.
"Duuk!"
Walau pedang di tangan kanan sempat tergetar dan pergelangan yang kena tendangan terasa remuk. Tapi pedang di tangan kirinya terus melaju mengancam dada Panaran. Laki-laki ini mengegoskan tubuhnya. Tidak urung....
"Reeek...!"
"Uuh...!"
Panaran mengeluh pendek. Bahunya yang kena sambar ujung pedang Dewi robek. Selir sang Warok menggerung marah. Lalu bangkit berdiri, tanpa menghiraukan luka yang dideritanya ia menyerang kembali dengan serangan-serangan yang lebih gencar.
Dewi Bulan tidak mau kalah. Ia kerahkan jurus pedang 'Walet Menyambar Buih'. Salah satu jurus terhebat dengan fungsi menggempur dan bertahan.
"Wukk! Wukk!"
Kilatan sinar pedang itu memedihkan mata Panaran. Sinar hitam yang memancar dari keris Panaran seakan terdorong dan meredup. Hanya dalam kejapan mata saja Panaran telah terkurung.
Di lain saat kerisnya membentur pedang di tangan Dewi Keris mustika itu terpental. Di saat itulah Pedang di tangan Dewi menempel di dadanya. Kalau Dewi Bulan mau, tentu jiwa Panaran sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
"Aku mengaku kalah!" desisnya dengan muka pucat ketakutan.
"Lain kali jika bertemu dengan kau. Kepalamu akan kupenggal!" dengus Dewi Bulan sambil memasukkan pedang ke rangkanya.
Sementara itu pertarungan antara Warok Batiroso dan Pendekar Blo on sudah mencapai puncaknya. Sang Warok yang menjanjikan waktu selama lima jurus kini telah melewatinya sampai empat puluh jurus. Rupanya ia tetap penasaran juga. Karena sejak tadi ia hanya mampu membuat lawan jatuh tunggang langgang dan muntah darah.
Sebaliknya Suro Blondo dengan mengandalkan jurus-jurus yang kocak dan konyol berulang kali menghantam sang Warok hingga membuat laki-laki ini menderita luka dalam cukup serius.
Tokoh dari Ponorogo ini rupanya tidak mau menyerah begitu saja. Kini sambil menyeringai kesakitan ia keluarkan golok panjang besar, tipis tajam mirip golok milik tukang jagal.
"Bocah! Kuakui jurus-jurus silatmu yang aneh dan dahsyat itu. Tapi aku tidak mungkin membatalkan niatku untuk bergabung dengan penguasa gunung Bromo sebelum menjajal kehebatan golokku ini!"
"Ha ha ha! Aku bosan tawar menawar denganmu, kurasa kau tidak akan tepat janji lagi. Mau pergunakan Undanmu yang sudah terluka untuk mengerokku silakan. Mau pergunakan seribu senjata masa bodo!"
__ADS_1
"Kau terlalu memandang enteng padaku! Hiyaa...!"
"Aku selalu memandangmu berat dan tinggi Warok! Weiit... hampir saja ambrol bakul nasiku...!" jerit si pemuda sambil melompat ke belakang selamatkan perutnya dari hantaman golok besar lawannya.
"Wik! Wik! Wik!"
"Ngung! Ngung! Ngung!"
"Eiit! Hampir saja...!"
Suro Blondo bersalto ke udara ketika golok di tangan Warok Batiroso membabatkan goloknya terarah ke bagian kakinya. Masih dalam keadaan berjumpalitan di udara tanpa diduga-duga sang Warok mengejarnya. Tentu sangat sulit bagi Suro untuk menghindarkan diri dari bahaya. Sehingga ia mencabut senjata andalannya berupa Mandau Jantan berwarna hitam dari balik pakaiannya.
Senjata dengan empat sisi lubang miring pada bagian tengahnya dan mempunyai ujung ganda ini menderu membelah udara. Seketika terdengar suara rintih tangis yang menyayat hati. Suara rintihan itu berubah menjadi jeritan yang menyakitkan gendang-gendang telinga ketika si pemuda menyalurkan tenaga dalamnya ke gagang Mandau Jantan tersebut.
Warok Batiroso terkesiap, dadanya bergetar dan langsung terasa sesak. Ia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghilangkan pengaruh aneh yang memancar dari senjata lawan. Tapi hingga sejauh itu ia tidak mampu juga melakukannya.
Warok kiblatkan senjatanya, terjadi benturan hingga menimbulkan bunga api.
"Raap!"
"Traak! Traak!"
Benturan keras itu membuat masing-masing lawan terpental jauh. Warok Batirono jatuh terduduk. Sedangkan Suro Blondo masih mampu menjejakkan kakinya dengan baik di
atas tanah.
Ketika Warok Batiroso melihat ke arah goloknya maka terkejutlah tokoh dari Ponorogo ini. Golok mustika di tangannya telah terbabat putus menjadi dua. Wajahnya berubah pucat, sadarlah ia kalau pemuda itu mau sejak tadi bukan saja goloknya yang buntung menjadi dua, tapi juga kepalanya bisa copot dari badannya.
Ketika ia memandang ke arah si pemuda, maka terlihatlah dengan jelas bahwa pemuda itu baru saja memasukkan senjatanya yang berbentuk dan mengeluarkan suara aneh tersebut ke dalam sarungnya.
Pendekar Blo on seka keningnya.
"Apakah kau masih tetap penasaran juga, Warok?"
"Hmm, kalau tidak melihatnya sendiri mana aku bisa percaya. Kau masih muda tapi sudah mempunyai kepandaian beragam. Ternyata kau memang bukan pemuda lemah. Kepandaianmu mustahil dapat kuimbangi walau aku belajar lima belas tahun lagi. Aku mengaku kalah padamu, sesuai janjiku aku membatalkan niatku untuk bergabung dengan penguasa gunung Bromo. Di mataku, kau pantas menyandang gelar Pendekar Blo on...."
"Ha ha ha...! Untuk menerima julukan yang sama, berarti aku harus memotong kambing lagi. Apa pun yang kau katakan, kuharap kau tidak melupakan janjimu...!"
"Oh tentu saja tidak!"
Warok Batiroso tiba-tiba menjatuhkan diri dan berlutut sebanyak tujuh kali. Ketika sang Warok bangkit kembali, seraya berkata:
"Jika kau menyambangi Ponorogo dan dapat kesulitan. Kau cukup menyebut namaku dan orang tidak ada yang berani mengganggumu!"
"Hmm, aku berterima kasih sekali. Semoga kau panjang umur, Ki. Banyak rejeki, enteng jodoh, panjang rambut, panjang kumis dan panjang pula kau punya...!" ujar Suro Blondo sambil garuk-garuk kepalanya.
Sesungguhnya Warok Batiroso mendongkol juga mendengar ueapan si pemuda yang dianggapnya setengah miring ini. Tapi mau apa, dia sudah kalah dan harus tahu diri dengan angkat kaki.
Tanpa menunggu jadi bahan olokan selanjutnya, Warok Batiroso langsung pergi dengan menggendong Panaran di pundaknya.
Pendekar Blo on memandangi kepergian Warok Batiroso sambil tersenyum-senyum.
"Dunia ini benar-benar sudah tua apa manusianya yang semakin edan. Perempuan tidak kalah banyaknya. Kok kawin batangan lawan batangan? Seperti orang main tongkat saja. Ha ha ha... gila... gila bukan main-main...!"
Pemuda itu tertawa-tawa seperti orang miring. Namun bila ia teringat sesuatu, maka Suro Blondo celingukan.
"Aku kecolongan. Gadis baju kuning itu. Ahh...." Si pemuda tepuk keningnya berulang-ulang
"Siapa namanya? Dewi... Dewi Bulan bintang. Dewi Dewa atau Dewi Saritem. Ah… Dewi Bundar, Dewi Bulan...! Ke mana dia pergi?"
Pendekar Blo on memperhatikan suasana sekelilingnya. Tapi di tempat itu sepi seperti kuburan
"Aku yakin Dewi telah pergi ke gunung Bromo. Rupanya ia tidak mau kuikuti. Padahal aku punya urusan hampir sama. Dia pergi ke sarang macan sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hmm, hatiku mengapa berdebar-debar begini. Adik bukan, ibu bukan... mengapa aku mengkhawatirkan keselamatannya?"
Suro Blondo mondar-mandir di tempat itu, setelah berpikir agak lama ia kemudian mengambil kesimpulan.
__ADS_1
"Sebaiknya aku susul dia. Siapa tahu dia benar-benar dalam kesulitan," pikir Suro Blondo.
Pemuda ini kemudian berlari-lari meninggalkan daerah berbukit itu dengan mempergunakan ilmu lari cepat Kilat Bayangan. Sehingga dalam waktu singkat ia telah hilang dari pandangan mata.