Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
16


__ADS_3

Pada sebuah lereng sebelah timur gunung Bromo terdapat sebuah bangunan megah berwarna biru. Bangunan itu selain menjulang tinggi dengan beberapa menara pengawas di atasnya juga cukup luas. Sehingga dilihat sepintas lalu mirip dengan sebuah istana kerajaan.


Pada setiap menara yang berjumlah delapan buah ini terdapat pengawal paling sedikit tiga orang bersenjata panah, yang sewaktu-waktu siap dibidikkan.


Karena bangunan itu dikelilingi sebuah benteng tinggi, mustahil orang dapat memasukinya terkecuali dari pintu gerbang depan yang menghadap ke lereng gunung.


Waktu itu hari telah menjelang malam ketika sosok bayangan berpakaian serba kuning mengendap-endap di luar benteng. Melihat gerakannya yang sangat hati-hati, jelas bayangan ini sengaja menghindari bentrok dengan regu pemanah yang bertugas di menara pengawas.


Setelah memastikan dalam keadaan aman. Tidak lama setelah itu ia menggenjot tubuhnya malompati tembok benteng setinggi hampir dua setengah tombak itu. Gerakannya enteng seringan kapas. Menandakan bahwa orang ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah cukup sempurna.


Setelah dua kakinya menjejak tembok, ia mengawasi suasana di dalam benteng. Ternyata keadaan di sana dalam keadaan lengang. Kalau pun ada pengawal, mereka sedang duduk-duduk minum tuak keras. Bahkan ada pula diantara mereka yang sedang main kartu.


Merasa keadaan dalam suasana aman-aman saja, maka bayangan kuning yang ternyata merupakan seorang gadis cantik ini melayang turun. Sama seperti pertama tadi, kini gerakannya pun ringan tidak menimbulkan suara.


Tapi tanpa diduga-duga, begitu kedua kakinya menjejak ke tanah, dua orang laki-laki berbadan tambun dan bertelanjang dada langsung menghantamnya dengan jotosan.


"Pengacau go blok ingin cari penyakit!" dengus salah seorang diantara mereka.


Suaranya serak seperti dicekik setan. Dengan gesit sekali gadis baju kuning yang ternyata Dewi Bulan ini menggeser wajahnya ke samping hingga pukulan itu luput.


Tapi lawan yang satunya lagi sudah mencabut senjatanya berupa kaitan berbentuk bengkok namun dua sisinya memiliki ketajaman luar biasa.


Hingga sejauh ini Dewi Bulan melayani mereka dengan jurus-jurus tangan kosong. Sementara itu terdengar suara teriakan-teriakan orang yang terlibat pertarungan. Maka para pengawal lainnya berhamburan mendatangi.


Mereka segera mengurung Dewi Bulan dengan sikap waspada. Menghadapi dua orang berbadan tambun ini, semakin lama Dewi Bulan kehilangan kesabaran. Apalagi mengingat senjata mereka yang berbentuk aneh itu berulang kali nyaris membuat robek badannya.


"Triing!"


"Wiing!"


"Hiyaa...!"


Sekali bergebrak ia langsung mengerahkan jurus 'Mentari Redup Di Kaki Bukit'. Ini adalah salah satu jurus yang sangat diandalkannya.


Rupanya Dewi tidak ingin membuang-buang waktu, mengingat musuh yang dihadapi terlalu banyak jumlahnya.

__ADS_1


Sebaliknya dua lawan yang berbadan tambun ini begitu bernafsu untuk meringkus Dewi. Karena sudah menjadi peraturan di situ siapa yang dapat meringkus lawan dalam keadaan hidup akan mendapat hadiah yang cukup besar.


Kedua laki-laki itu secara berbareng langsung menggempur sambil babatkan senjata unik di tangannya.


Dengan pedang kembar di tangan, Dewi menangkis. Terdengar suara berdentang dua kali berturut-turut. Bunga api sampai memijar. Ini merupakan tanda masing-masing lawan mereka sama-sama mengerahkan tenaga dalamnya.


Dewi sendiri tangannya terasa linu, pedang hampir terlepas. Ia maju dan langsung menyeruak dengan mengerahkan serangan yang sangat mematikan.


Salah satu dari lawan berusaha menghalau serangannya. Tapi ia tidak sempat lagi babatkan senjatanya karena senjata Dewi meluncur deras membeset lehernya.


"Jres!"


"Wuaakkh...!"


Jeritannya terputus bersama putusnya pangkal tenggorokan. Darah menyembur, si tambun memegangi lehernya yang hampir putus.


Melihat ini kawannya menjadi kalap. Ia menyerang secara membabi buta.


Kenyataan ini tentu saja menguntungkan Dewi. Sementara yang satunya meregang ajal, sedangkan yang ini bagaikan banteng terluka terus mendesak lawannya.


Karena serangan-serangannya selalu mengenai sasaran kosong, laki-laki tinggi besar ini menggembor marah. Dengan kedua tangannya ia ayunkan senjata berbentuk kaitan itu.


"Wuuk! Wuuk!"


Dewi berkelit sambil merundukkan kepala. Tangan kiri menghantam ke depan. Pedangnya hanya menyambar angin. Karena lawan sudah menarik tubuhnya ke belakang. Tidak kalah cepat pedang di tangan kanan Dewi menyusul dan begitulah seterusnya.


"Traaang!"


Pedang itu membentur senjata si tambun, hingga untuk yang kesekian kalinya tubuh mereka sama-sama tergetar. Jika si tambun mundur sebaliknya Dewi merangsak maju.


Laki-laki berbadan besar ini terkesiap. Ia sudah tidak dapat lagi selamatkan diri ketika pedang pendek di tangan Dewi Bulan menembus dadanya.


"Bleess!"


"Raaaakh!"

__ADS_1


Karena pedang tersebut diputarnya sedemikian rupa. Maka ketika dicabut, perabotan dalam perut si tambun ikut terbetot keluar. Laki-laki itu melotot, lidahnya menjulur-julur keluar. Tubuhnya terhuyung-huyung dan ambruk ke tanah dengan jiwa melayang.


Kematian si tambun membuat pengawal-pengawal lainnya semakin rapat mengurung Dewi bahkan mulai mencabut senjatanya masing-masing.


Pada saat itu pula menyambar angin yang begitu lembutnya. Dewi baru menyadarinya ketika sebuah tangan menyapu dadanya.


"Eeh...!" Dewi terkesiap dan lontarkan ma kian.


Karena secara kurang ajar bayangan yang bergerak laksana kilat tadi meremas buah dadanya. Tapi ia jadi terkejut karena ternyata selain tidak mampu bersuara, Dewi juga tidak dapat menggerakkan tubuhnya.


Nyatalah sudah bahwa ia ditotok oleh lawannya dengan cara yang sangat aneh sekaligus kurang ajar.


"Ha ha ha...! Tamu yang tidak diundang ternyata seorang perempuan cantik dan menawan sekali. Hari ini aku Ki Rambe Edan dan kawan-kawan benar-benar ketiban rejeki yang sangat istimewa!"


Dewi memandang laki-laki tua bertampang angker yang berdiri tidak jauh di depannya dengan mata tidak berkesip sedikit pun.


Melihat betapa hormatnya para pengawal yang berada di sekitar situ, jelas sudah bahwa laki-laki berhidung besar ini merupakan salah seorang pemimpin di situ. Inilah pembunuh orang tuanya. Betapa marahnya dia, tapi dalam keadaan tertotok begitu rupa, mustahil ia dapat berbuat banyak. Bisa-bisa keselamatannya sendiri pun dalam keadaan terancam.


Tanpa sadar wajah si gadis berubah merah padam. Ia terlalu gegabah memasuki benteng istana yang dibangun atas cucuran darah dan keringat rakyat ini. Seharusnya ia bicara dulu dengan pemuda konyol yang telah menolongnya dari amukan Undan Warok Batiroso. Jadi bukan meninggalkannya begitu saja.


Kini ia benar-benar berada dalam kesulitan yang sangat besar. Apalagi mengingat kawan-kawan Ki Rambe Edan telah berkumpul di situ. Dan semuanya merupakan orang yang telah menyebabkan kematian orang tuanya.


"Gadis secantik bidadari ini rasanya jarang kita temui di sini. Ia datang menyerahkan diri, Kakang. Alangkah baiknya jika kita mulai segala-galanya untuk menemani pesta tuak wangi!" kata yang berperut bundar sambil usap-usap perutnya.


"Kurasa dia masih benar-benar tulen. Kakang Rambe... kami mendapat jatah sisanya setelah Kakang pun rasanya sangat terima kasih sekali!" ujar yang bermuka bengis sambil lalu membelai-belai wajah Dewi Bulan


"Manusia sesat har am jadah. Kalian semua akan merasakan pembalasanku yang sangat pedih jika sampai berbuat macam-macam padaku!" m aki Dewi Bulan. Tapi suaranya sama sekali tidak terdengar.


Sementara itu Ki Rambe Edan sudah memberi perintah.


"Bawa dia ke kamarku! Aku ingin melihat kebagusan tubuhnya yang halus mulus ini!"


Dengan senang hati, Baja Geni memanggul Dewi Bulan memasuki istana mereka. Sepanjang jalan menuju istana itu tidak henti-hentinya tangan Baja Geni menggerayang kian kemari.


Dewi Bulan yang keras hati ini hanya mampu menggerutu dalam hati mengingat ia tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali.

__ADS_1


Di luar suasana berubah sunyi kembali. Para pengawal pergi ke tempat penjagaan masing-masing sambil membicarakan ketua dan pemimpin mereka yang telah mendapatkan gadis cantik yang tentu saja segera menjadi korban nafsu bejad mereka.


__ADS_2