
Hampir sepekan pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini melakukan perjalanan. Tetapi perjalanannya ke Madura tidak membuahkan hasil apa-apa.
Katai Muka Merah seakan hilang raib ditelan bumi. Semua ini membuat hatinya menjadi penasaran. Mungkinkah Katai Muka Merah pergi ke tempat lain, atau Dewi Kerudung Putih sengaja berbohong padanya. Namun kalau dipikirkan lagi apa untungnya?
Dengan kecewa akhirnya Suro kembali ke tanah Jawa. Di sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya menggerutu.
"Dia berani membohongi aku. Kalau ketemu lagi akan kupotong lidahnya. Oh, bukan hanya lidahnya saja, tapi tangan dan kaki juga harus kupotong...!" pikir Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepala.
Kini ia memasuki sebuah daerah yang sangat tandus di mana tidak terdapat rumah-rumah penduduk di situ. Dalam suasana panas terik seperti itu ia terus mengayunkan langkahnya.
Tidak sampai sepemakan sirih si pemuda berjalan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti.
"Bau busuk ini, seperti bau bangkai manusia," kata Suro.
Ia kemudian mengendus-endus, sehingga hidungnya kembang kempis seperti binatang buas yang sedang mengintai mangsanya.
"Bau ini datangnya dari arah selatan. Hmm, betul dari arah sini!" Suro mengikuti sumber bau tersebut.
Hingga kemudian terlihatlah olehnya sebuah pemandangan yang sungguh menyedihkan. Banyak mayat-mayat bergeletakan di situ, mereka semuanya terdiri dari para wanita dan tidak mengenakan pakaian sama sekali.
Mayat-mayat tersebut di antaranya telah menjadi tulang belulang. Tapi ada juga yang masih kelihatan baru.
"Mereka kelihatannya bukan mati secara wajar. Pasti seseorang telah memperkosanya. Kemudian setelah tidak dibutuhkan dibunuh dengan cara mencekiknya. Dunia ini benar-benar sudah edan... keterlaluan...!" geram si pemuda
Kemudian ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ia menjadi heran. Para wanita itu didatangkan dari mana?
Pendekar Blo'on kembali mengedarkan matanya. Dan tiba-tiba saja ia tersenyum sinis ketika melihat sebuah bangunan batu tampak bertengger di lereng bukit.
"Kurasa iblis bercokol di dalam bangunan itu, aku harus melihatnya. Barangkali Katai Muka Merah bersembunyi di sana."
Memikir sampai ke situ, Suro akhirnya bergegas menghampiri bangunan batu yang jaraknya hanya sekitar tujuh puluh lima batang tombak dari tempat dia berada.
Setelah dekat dengan bangunan tersebut, Pendekar Blo'on menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Dadanya menjadi sesak, di depan bangunan Suro Blondo melihat ada seorang laki-laki bermuka merah.
Semula ia menyangka laki-laki itu adalah musuh besar yang tengah dicari-carinya. Namun setelah melihat bahwa orang itu berbadan tinggi semampai, maka ia menjadi ragu, walau begitu ia tetap mengayunkan langkahnya mendekati.
"Hei... kau berhenti di situ...!" teriak laki-laki bermuka merah pada Pendekar Blo'on.
Orang yang membentak tadi sejenak tampak sibuk memasukkan sesuatu ke dalam bumbung bambu kecil. Selanjutnya dengan tergesa-gesa segera mendatangi.
"Kau siapa?" tanya si muka merah curiga.
"Kau sendiri siapa? Apakah kau yang berjuluk Katai Muka Merah?" bentak Suro Blondo.
"Bukan. Aku Setan Merah Mata Jereng. Cobalah kau lihat mataku, benar-benar juling, bukan?"
Suro sebenarnya merasa geli juga melihat cara laki-laki di depannya bicara seperti orang melawak. Namun karena urusannya sangat mendesak, maka ia langsung bicara pada titik persoalan.
"Siapa yang bersembunyi di dalam rumah itu?"
"Perlu apa kau tanya?" dengus Setan Merah Mata Jereng ketus.
"Aku mencari seseorang berbadan pendek. Namanya Katai Muka Merah. Aku rasa dia bersembunyi di dalam bangunan itu, makanya aku harus masuk ke sana!" tegas Suro Blondo.
"Kau boleh masuk, tetapi setelah meninggalkan kepalamu di sini!" sahut Setan Merah Mata Jereng.
Tanpa basa-basi lagi laki-laki berkulit kemerah-merahan ini langsung bersiap siaga membangun serangan. Namun sebelum tubuhnya melesat ke arah Suro, terdengar suara bentakan dari arah bangunan…
"Tunggu dulu...!!"
Gerakan Setan Merah Mata Jereng berhenti seketika. Dari depan pintu tampak sebuah bayangan berkelebat. Hanya dalam waktu sekejap saja di depan Pendekar Blo'on telah berdiri seorang laki-laki bertelanjang baju Laki-laki tua tersebut berwajah angker. Tatapan matanya seolah-olah ingin menembus batok kepala Suro Blondo.
"Siapa kau?" dengus laki-laki berkulit gelap tidak ramah.
"Aku Suro Blondo!"
"Hmm, kau si bocah ajaib dari gunung Bromo? Ha ha ha...! Tampangmu yang keto lolan membuat kau tidak pantas menyandang gelar si bocah ajaib. Dan kau rupanya yang telah membuat sahabatku Katai Muka Mayat terluka parah?!"
__ADS_1
Pendekar Blo'on terkejut sekali mendengar ucapan orang berkulit hitam tersebut.
Semula ia menyangka Katai Muka Mayat yang tercebur ke dalam laut itu telah binasa.
"Huh, rupanya bang sat pendek itu masih hidup. Dan tentunya sekarang berada dalam lindunganmu. Kuperintahkan padamu agar segera menyerahkan setan yang telah membunuh orang tuaku. Kalau tidak kau akan menyesal!" tegas Suro Blondo sengit.
"Ha ha ha...! Kepada orang lain kau mungkin bisa main gertak. Tapi sekarang kau berhadapan dengan Datuk Hitam Gadang Dibumi! Dan perlu kau tahu, Katai Muka Mayat dan Katai Muka Merah adalah sahabatku. Jika kau mengusiknya walau seujung rambut pun maka nyawamu tidak ada yang menjamin keselamatannya," tegas si kakek.
"Lagak bicaramu seperti Malaikat pencabut nyawa. Kau melindungi musuh besarku. Maka kau rasakanlah akibatnya!" teriak Suro Blondo.
Tanpa basa-basi lagi Suro langsung menerjang Datuk Hitam Gadang Dibumi. Tetapi gerakannya itu segera dihalang-halangi oleh Setan Merah Mata Jereng. Akibatnya laki-laki bermata jereng inilah yang menjadi sasaran serangan Pendekar Blo'on.
Anak buah Datuk Hitam Gadang Dibumi ternyata mempunyai kepandaian yang sangat mengagumkan. Ia langsung berkelit ke samping kiri ketika melihat serangan lawan menghantam mukanya.
Setelah itu tanpa terduga-duga pula ia melancarkan serangan balik dengan melepaskan tendangan ke ************ lawan.
Pendekar Blo'on langsung melompat mundur sambil menepiskan tangannya ke bagian kaki kanan. Benturan tenaga dalam tidak dapat dihindari.
"Duuk!"
"Heh...!"
Pendekar Blo'on dan Setan Mata Jereng sama-sama terkejut. Pemuda memakai ikat kepala berwarna biru belang-belang kuning ini kemudian mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'.
Setelah itu ia kembali menerjang lawannya. Gerakan Suro yang tampak kacau seperti seekor monyet yang sedang menggaruk-garuk kepalanya ini benar-benar membuat repot lawannya. Apalagi terkadang dalam keadaan berjongkok ia masih dapat melepaskan serangan-serangan yang cukup berbahaya.
"Huup...!"
Setan Merah Mata Jereng tiba-tiba saja melompat ke udara. Ia segera mengerahkan jurus 'Menari Di DalamBayang-Bayang'. Jurus ini adalah salah satu jurus andalan yang dimiliki oleh Setan Merah MataJereng.
Hanya beberapa saat saja setelah ia mempergunakan jurus andalannya ini, maka tiba-tiba tubuhnya lenyap hanya tinggal bayang-bayang saja.
Suro terkesiap. Serangan-serangan lawannya membuat setiap gerakan pemuda itu seperti menemui jalan buntu. Apalagi mengingat serangan Si Jereng cepatnya bukan main.
Suro Blondo serta merta melompat ke samping. Namun pada waktu bersamaan lawannya melepaskan tendangan beruntun ke bagian perut. Tampaknya walau telah berusaha menghindar serangan lawan datang begitu cepat. Sehingga....
Tanpa ampun lagi, Pendekar Blo'on jatuh terjengkang. Tampak jelas darah menetes dari sudut-sudut bibirnya. Pemuda itu kemudian bangkit kembali.
Melihat Setan Merah Mata Jereng terus menyerangnya, maka si pemuda segera mengerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Detik-detik selanjutnya gerakan si pemuda tampak lebih cepat. Langkah kakinya tidak beraturan, terkadang tubuhnya meliuk-liuk, atau melompat ke samping kanan dan ke kiri. Di lain waktu sambil mengeluarkan suara lolongan panjang, kaki kirinya menghantam lawannya.
Setan Merah Mata Jereng tampaknya menjadi gugup. Tendangan kaki Suro yang keras dan mengandung tenaga dalam tinggi membuat orang ini jatuh terpelanting.
Ada benjolan besar akibat tendangan itu. Namun ia segera bangkit berdiri dan secara tidak terduga-duga ia mengibaskan kedua tangannya ke arah Suro.
"Wuut!"
Sakejap saja tampak seleret sinar meluncur deras ke arah si pemuda. Dan sebelum serangan yang menebar hawa panas itu menghantam tubuhnya, maka Suro melepaskan pukulan 'Kera Putih Menolak Petir'.
Segulung sinar putih menderu ke arah lesatan sinar yang keluar dari telapak tangan lawannya. Udara di sekitar tempat itu tiba-tiba saja berubah menjadi panas luar biasa.
Setelah itu benturan keras tidak dapat dihindari lagi....
"Glaar!"
"Aaakh...!"
Setan Merah Mata Jereng memekik keras. Tubuhnya terlempar cukup jauh. Sedangkan Suro Blondo tampak tergetar saja, meskipun luka dalam yang dideritanya cukup berbahaya juga.
Hebatnya lawan sudah bangkit kembali. Kali ini ia segera melepaskan pukulan 'Bayang Bayang Setan'. Begitu tangannya berkiblat, maka angin kencang bergulung-gulung menyerang Suro.
Pemuda yang telah mempersiapkan tenaga dalam ke bagian telapak tangan ini tidak mau menunggu lebih lama.
'"Matahari Rembulan Tidak Bersinar'! Heaaa...!" teriak Suro.
Laksana kilat tangannya didorongkan ke depan. Maka untuk yang kedua kalinya terjadi benturan yang sangat dahsyat.
"Buuum!"
__ADS_1
Tanah terguncang keras. Setan Merah Mata Jereng terkapar di atas batu. Sedangkan kaki Suro melesat sedalam tumit. Ketika pemuda itu mencoba menarik kakinya yang sempat terbenam di dalam tanah, maka pada saat itulah Datuk Hitam Gadang Dibumi membokongnya dari belakang.
Suro berusaha menghindari bokongan tersebut. Tetapi kaki kanannya susah dicabut dari himpitan tanah. Sehingga tidak dapat dihindari lagi...
"Duuk!"
"Aaakh...!"
Jeritan keras disertai menyemburnya darah dari mulut Suro Blondo yang terbuka. Tubuhnya tersungkur, jelas sekali kalau pemuda ini menderita luka dalam yang cukup serius.
"Ha ha ha...! Cuma segitukah kehebatanmu, bocah gila?'' desis Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil bertolak pinggang.
Suro masih sempat mendengar semua itu. Kecurangan yang dilakukan oleh lawannya benar-benar membuatnya marah. Secara diam-diam ia mempersiapkan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'.
Akibat pengerahan tenaga dalam ini tentu membuat Suro menjadi semakin tersiksa. Tetapi dia sudah tidak perduli lagi. Ketika Datuk Hitam Gadang Dibumi menghampirinya. Di saat itu laksana kilat ia berbalik sambil menghantamkan pukulan ke arah lawannya.
Semula Datuk Hitam Gadang Dibumi yang menyangka bahwa lawan masih dapat bertahan. Lebih tidak menduga lagi pemuda itu mampu melepaskan pukulan dahsyat ke arahnya.
Karena jarak di antara mereka teramat dekat, maka Datuk Hitam Gadang Dibumi tidak sempat menghindar lagi.
Pukulan yang mengandung hawa panas menghanguskan itu pun menghantam tubuhnya.
"Buummm!"
Datuk Hitam Gadang Dibumi menjerit keras. Sontak tubuhnya terpelanting. Sebagian wajah laki-laki itu hangus.
Suro sendiri akibat pengerahan tenaga tadi membuat luka yang dideritanya menjadi bertambah parah. Akhirnya ia tidak sadarkan diri. Ketika pemuda ini terjaga, maka hari sudah menjadi malam. Ia merasa heran karena saat itu ia tidak berada di tempat terbuka. Melainkan di dalam sebuah pondok.
"Di mana manusia lak nat yang telah membokongku!" desisnya.
Suro segera bangun, dan ia merasa tubuhnya menjadi ringan. Ia yakin pasti ada orang yang telah menolongnya. Ternyata dugaannya benar.
"Kau sudah sadar?" kata sebuah suara merdu.
Pendekar Blo'on memandang ke arah datangnya suara. Ternyata di sampingnya telah duduk seorang gadis cantik memakai kerudung putih.
"Kau...!"
"Aku menemukan tubuhmu tergeletak di padang tandus."
"Ke mana Datuk ke parat itu?"
"Ketika aku datang, aku tidak melihatnya, terkecuali mayat seorang laki-laki yang menyerangsang di atas batu."
"Kau gadis aneh, kau menipuku."
"Apa yang kutipu?" tanya Dewi Kerudung Putih heran.
"Aku pergi ke Madura, Katai Muka Merah tidak berada di sana!"
“Mungkin aku salah kasih keterangan, maafkanlah,'' ujar si gadis sambil menundukkan kepala
“Siapakah sebenarnya kau ini?" tanya si pemuda heran.
"Luka-lukamu belum sembuh benar. Nanti pada suatu saat kau akan mengetahuinya juga."
“Katakan siapa kau?!" kata Pendekar Blo'on bersikeras.
"Aku adalah orang yang ingin selalu dekat dengan dirimu!" sahut Dewi Kerudung Putih.
Ia langsung menempelkan jari tangannya ke bibir si pemuda ketika melihat pemuda itu ingin bicara lagi.
"Istirahat... hanya itu yang kuminta darimu...!" ujar si gadis sambil merebahkan Suro Blondo di alas balai-balai.
Karena sadar dirinya masih belum pulih benar, maka pemuda berambut hitam kemerahan ini terpaksa menurut juga, walaupun hatinya menggerutu.
Gadis di depannya begitu baik, misterius dan ia tidak tahu apa yang terkandung dalam hatinya. Suro pada akhirnya hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya saja.
__ADS_1