Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
21


__ADS_3

Merasa tujuannya hampir sampai, Suro Blondo mengayunkan langkahnya lagi. Setelah melewati jalan setapak, ia terpaksa mengambil jalan pintas dengan melewati tengah-tengah kuburan.


Pada saat ia berjalan itulah, Suro merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tanah yang dipijaknya bergerak-gerak seperti hidup. Permukaan tanah bergelombang.


Ketika Pendekar Blo'on menghentikan langkahnya, maka permukaan tanah yang ikut bergerak-gerak tadi ikut berhenti pula.


"Acara edan apa lagi ini yang dipersembahkan oleh Kala Demit? Aku tidak yakin ada dedemit yang mengikuti aku melalui bawah tanah. Atau memang ada siluman yang dapat melakukannya?" bathin Suro Blondo.


Ia memandang ke sekelilingnya yang sepi, lalu memandang ke langit yang sunyi Suro tiba-tiba merasa berada dalam keterasingan waktu. Dan hidup di dunia ini seperti seorang diri.


"Suro! Hati dan pikiranmu sesungguhnya adalah satu. Jika kau merasa hidup ini sepi. Sesungguhnya itu hanya permainan dan suasana hati. Lingkunganmu adalah duniamu. Kau hadir di dunia ini bersama empat saudaramu. Suatu saat kau kembali lagi pada Sang Pencipta, juga sendiri. Jika kau berada di kuburan, maka ingat-ingatlah mati. Karena kematian itu pasti akan datang pada setiap orang. Tidak perduli apakah dia orang berpangkat, hartawan, atau gembel sekali pun. Tidak seorang pun yang dapat menundanunda kematiannya, walau barang sedetik pun. Musuh yang paling hebat datang dari diri sendiri, yaitu dari hawa nafsumu. Kebanyakan manusia jadi celaka dan tidak berguna karena terlalu menuruti hawa nafsu!"


Wejangan-wejangan yang pernah diberikan oleh gurunya kini seakan mengiang kembali di dalam gendang-gendang telinganya.


"Di sana kubur di sini kubur, di tengah-tengah aku berdiri. Aku hanya orang yang ingin berbakti pada orang tua. Hawa amarahku tidak kelihatan, namun Kala Demit harus kucari!" pikir Pendekar Blo'on.


Setelah menimbang baik buruknya, Suro Blondo bermaksud meneruskan langkahnya lagi. Namun langkah kakinya terhenti seketika saat melihat ada papan peringatan tidak jauh dari tempat ia berdiri.


Saudara sampai di kuburan Mayat Hidup


Teruskan langkah berarti celaka!


Lupahanlah masa lalu


Karena setiap manusia


Tidak pernah luput dari khilaf dan dosa


Lebih baik kita berdamai saja....


Suro tersenyum mencibir, lalu pencongkan mulutnya.


"Mana bisa! Kalau orang tuaku dapat hidup kembali dengan hanya sejuta kata penyesalan dan maaf. Tentu setiap orang sudi memberi maaf. Hutang darah bayar darah, hutang pati bayar pati. Hutang ubi harus dibayar dengan talas. Hutang mati harus dibalas. Kala Demit! Begini pengecutnyakah kau.... Tunjukanlah dirimu agar kau dapat melihat bocah yang kau cari-cari dulu kini telah menyerahkan diri datang sendiri!" teriak Pendekar Blo'on.


Sejenak adalah hening. Sepi begitu menyentak, hingga setiap tarikan nafas Suro Blondo terdengar dengan jelas.


Hingga sejauh itu tidak terdengar suara apa-apa. Suro Blondo mulai mencari-cari. Namun apa yang diharapkannya tidak muncul-muncul juga hingga membuatnya jadi kesal.


"Baiklah... kalau kau tidak mau menemuiku. Aku akan menyeretmu keluar dari pondok bututmu itu, Kala Demit!'' teriak si pemuda dengan suara lebih lantang lagi.


"Gleerrr...!"


Bukan jawaban yang didapatnya, tapi suara menggemuruh yang disertai retaknya permukaan tanah. Pada retakan tanah itu terlihat gerakan aneh seakan ada sebuah kekuatan yang meronta-ronta dari dalamnya.


Suro Blondo terkesiap. Memandang berkeliling, pemandangan yang sama terlihat dengan jelas. Lalu....


Diawali dengan suara ringkikan panjang, maka menyembullah sosok kepala dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu sosok tubuh menggeliat keluar.


Wajah mereka sangat menyeramkan, karena wajah itu rusak dan berlendir. Hidung sumplung, kedua mata membentuk rongga besar. Tercium pula bau busuk menusuk penciuman. Hingga membuat si pemuda berjalan mundur sambil menahan napas agar tidak muntah.


"Mayat hidup? Mungkinkah semua ini perbuatan Kala Demit? Begitu pengecutnya dia...!" desis Suro Blondo.


Tidak sampai sepemakan sirih, pemuda berambut hitam kemerahan ini telah dikepung dari segala penjuru arah.


"Edan...!"


"Groaaaakh...!"


"Crep! Craap!"


"Hiyaaa...!" Suro lentingkan tubuhnya. Hingga kedua kakinya yang terpegang oleh mayat-mayat hidup dapat terlepas.


"Groaakh...!"


Baru saja Suro menjejakkan kakinya di atas tanah, mayat-mayat gentayangan ini telah menyergapnya kembali.


Begitu kompaknya serangan mereka, sehingga membuat Suro jadi kerepotan. Ia melompat lagi ke udara. Ia segera mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' Tangan pemuda itu bergerak dengan lincahnya, sementara kaki terkadang menendang atau meliuk-liuk menghindari sergapan lawan-lawannya yang terdiri dari mayat-mayat yang serba menjijikkan ini.

__ADS_1


"Groakkk...!"


"Upts...!"


Begitu ganasnya serangan-serangan mayat hidup ini hingga membuat Suro Blondo semakin bertambah repot saja.


"Heyaa...!"


"Duk! Duk!"


"Gubrak!"


Suro Blondo jatuh terguling-guling. Belum sempat ia berdiri, kaki mayat hidup yang berselumut lendir menendangnya berulang-ulang. Hingga membuatnya terhempas kian kemari.


"Sesuatu yang mengacaukan terkadang banyak menolong dirimu!"


Dalam keadaan muntah darah seperti itu, Suro seperti mendengar petuah kakek merangkap gurunya, yaitu Malaikat Berambut Api.


"Hraa...!"


Pendekar Blo'on melompat menjauh. Setelah berdiri sepenuhnya, tanpa menghiraukan darah yang meleleh di bibirnya, ia putar langkah, mulut dimonyong-monyongkan, lalu gerakan yang dilakukannya kemudian adalah sesuatu yang sangat kacau.


Inilah jurus 'Kacau Balau'. Sebuah jurus pamungkas kedua yang dilandasi dengan gerakan aneh dan sangat kacau dan jelas sangat bertentangan dengan jurus-jurus silat.


Betapa tidak, terkadang tubuh si pemuda terhuyung ke depan seperti orang yang hendak terjengkang. Di lain saat miring ke kiri, oleng ke kanan. Kaki setengah diangkat seperti orang yang terpeleset kulit pisang.


Namun betapa pun hebatnya serangan mayat-mayat hidup ini, tidak satu pun serangan mereka mengenai sasaran.


Sebaliknya, begitu Suro melakukan serangan balik dengan cara yang aneh dan sulit diikuti kasat mata, maka lawan-lawannya nampak berpelantingan terkena jotosan maupun tendangan kakinya.


Melihat kawannya bergelimpangan, maka yang lainnya menyerang dengan kecepatan dan kekuatan berlipat ganda. Sebaliknya mayat-mayat hidup yang sempat terhempas ini bangkit pula kembali. Sehingga tekanan serangan lawan semakin bertambah berat saja.


"Gila...! Mayat-mayat ini digerakkan oleh satu kekuatan. Aku harus melepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'," desis Suro Blondo.


"Huup!"


"Hyaaa...!"


"Wuuk! Wuuk! Wuuk!"


Angin kencang disertai hawa dingin menderu ke delapan penjuru arah. Gelombang angin bercampur salju putih ini kemudian menghantam mayat-mayat gentayangan itu dengan telak.


"Bumm! Buum! Buum!"


"Groaaaakh...!"


Jerit menggidikkan terdengar. Jasad rusak busuk mengerikan berpelantingan roboh. Mereka berubah beku, tapi yang terhindar dari pukulan dahsyat si pemuda, lepaskan pukulan yang tidak kalah dahsyatnya dari pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.


Kenyataan ini membuat Pendekar Blo'on terkesiap. Dengan cepat ia lepaskan pukulan yang sama lagi.


"Glar! Glaar!"


Ledakan-ledakan yang keras dan memekakkan gendang telinga terdengar. Pemakaman umum jadi porak poranda. Suro Blondo jatuh terguling-guling. Nyata kalau ia menderita luka dalam yang cukup serius. Terbukti darah mengalir tidak ada henti dari sudut bibirnya.


Ia langsung menelan dua butir pel berwarna hitam. Tidak lama darah terhenti. Terhuyung-huyung pemuda ini bangkit berdiri. Mulutnya peletat-peletot, suatu pertanda amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.


“Jika aku tidak pergunakan senjata! Kurasa sebentar lagi jiwaku melayang," bathinnya.


Kemudian ia mencabut mandau di balik pakaiannya. Lalu terdengar suara tawanya membahana.


"Mandau Jantan! Jika benar kau penjelmaan dari seorang pertapa sakti patah hati. Tunjukkanlah kehebatanmu! Aku membunuh mayat hidup yang menyalahi aturan. Tempat mereka adalah di liang kubur! Hiyaaa...!"


"Hiiiii...!"


Begitu mandau jantan di tangan Suro Blondo berkiblat. Maka empat lubang miring yang terdapat di tengah-tengah mandau tersebut mengeluarkan suara jeritan tangis.


Sinar hitam menderu-deru disertai bersiurnya udara dingin luar biasa. Laksana kilat senjata maut ini menerabas.

__ADS_1


"Crass! Tas! Ctas! Ctaas!"


"Grooook...!"


Mayat-mayat hidup itu pun berpelantingan terkena tebasan senjata milik Pendekar Blo'on.


Di luar sepengetahuan si pemuda. Kiranya ada sepasang mata indah dan bening memperhatikan sepak terjangnya. Ia sempat mengkirik ketika melihat senjata di tangan pemuda itu membuat mayat-mayat hidup yang tentunya telah dibangkitkan oleh Kala Demit menjadi tidak berarti sama sekali.


Tapi lama kelamaan ia tidak tega juga melihat pemuda ini mengamuk membabi buta. Sebab ia tahu persis bahwa mayat-mayat itu tidak mungkin dihentikan meskipun mereka telah kehilangan kepala, tangan maupun kakinya.


Tidak lama kemudian ia pun keluar dari tempat persembunyiannya.


"Rebah...!"


Terdengar suara teriakan gadis berkerudung putih ini. Maka tanpa disangka-sangka oleh Suro Blondo, mayat-mayat yang menyerang Pendekar Blo'on pun berjatuhan dan kembali ke asalnya.


Jasad mereka dalam waktu singkat telah berubah membusuk. Suro ter kesiap. Ia memandang ke arah datangnya suara.


"Kau...! Rupanya kau mengikuti aku, Kerudung Putih!" dengus Suro Blondo.


"Pasti semua ini adalah permainanmu!"


"Justru kau salah! Aku hanya tahu bagaimana caranya menjatuhkan mereka, bukan membangkitkannya," bantah si gadis tegas.


"Lalu apa tujuanmu mengikuti akukemari?"


"Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu" jawab Dewi Kerudung Putih dengan malu-malu.


Suro merasa serba salah.


“Kau tidak punya sangkut paut apa-apa denganku. Jika aku mati engkau pun tidak akan rugi."


“Tetapi aku tidak mau melihat kaumati,"


"Kalau begitu coba kau katakan di mana Kala Demit dan Katai Muka Merah! Aku tidak melihat dia ada di rumah itu," ujar si pemuda.


"Aku tidak mampu memastikannya. Mungkin beliau sedang melakukan perjalanan ke Madura. Biasanya sangat lama dan entah kapan dia pulang ke sini lagi!"


Kening Suro berkerut tajam.


"Kau ada hubungan apa dengan Kala Demit?"


Dewi Kerudung Putih menggelengkan kepala.


"Mengapa waktu itu kau menghalangi aku?" tanya Pendekar Blo'on tanpa berani memandang ke mata si gadis yang menyimpan seribu macam teka-teki itu.


Dewi Kerudung Putih tampaknya ingin mengatakan sesuatu. Tetapi bibirnya seperti terkunci. Hanya tatapan matanya yang terasa begitu aneh, bahkan kemudian wajah gadis berkulit bersih dengan bulu-bulu halus di pipinya tampak kemerah-merahan.


"Engkau tidak mengerti bagaimana perasaanku saat pertama kali melihatmu di teluk," jerit Dewi Kerudung Putih.


Selanjutnya tanpa bicara apa-apa lagi ia segera berkelebat pergi. Begitu cepat gerakannya, sehingga dalam waktu singkat Dewi Kerudung Putih telah lenyap dari pandangan mata si pemuda.


"Dia begitu aneh, tatapan matanya juga aneh. Matanya terasa lembut bening dan sejuk. Dan caranya memandang yang malu-malu. Sepertinya ia kagum padaku. Ah... ada-ada saja," dengus Pendekar Blo'on seraya kemudian geleng-geleng kepala.


Ia merasa pikirannya menjadi kalut. Kala Demit adalah musuh besarnya, demikian juga dengan Katai Muka Merah. Tetapi gadis yang berjuluk Dewi Kerudung Putih itu mengapa selalu membayangi dan mengkhawatirkan keselamatannya?


"Jika seorang gadis menaruh perhatian besar padamu. Bisa jadi ia sedang jatuh cinta."


Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Penghulu Siluman Kera Putih seakan mengiang kembali di telinganya. Suro tersenyum masam. Dua gadis cantik paling tidak telah menyita perhatian dan waktunya. Walau ituhanya sedikit.


Yang satu agak terbuka. Sedangkan yang satunya lagi sangat misterius. Pemuda bertampang keto lolan seka keringat di wajahnya, sambil menggeleng-gelengkan kepala ia melangkah pergi.


Suro Blondo sama sekali tidak menyadari bahwa sejak meninggalkan teluk di pantai laut Selatan, ada bayangan-bayangan lain yang terus mengikutinya dari tempat yang cukup aman.


Gerakan bayangan-bayangan tersebut sangat cepat seperti setan. Terkadang mereka mengikuti dari jarak yang sangat dekat. Tetapi tidak jarang bayangan-bayangan itu menghilang, kemudian muncul bayangan baru menggantikan posisi yang pertama.


"Bagaimana pun aku harus pergi ke Madura. Kurasa gadis kerudung putih tidak berdusta. Ha ha ha...! Kuda budek sapi nungging. Ke mana pun kalian bersembunyi aku tetap akan mengejar kalian!" seru Pendekar Blo'on seperti orang sinting.

__ADS_1


__ADS_2