
"Kakek tua! Karyamu sungguh bagus sekali. Aku menyukai patung yang sedang kau buat...!" kata saudagar Bergola Mungkur mengulangi ucapannya.
Tanpa menoleh pematung tua itu menyahut
"Sesuatu yang bagus belum tentu menyenangkan. Sesuatu yang disukai, belum tentu membawa kepuasan dan kebahagiaan."
"Jika aku ingin memilikinya, apakah kau mau memberikannya padaku?" tanya saudagar Bergola Mungkur tanpa mengerti apa arti ucapan si kakek.
Pematung tua gelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika aku membelinya?" tanya saudagar kaya itu penasaran.
"Patung ini kubuat bukan untuk dijual atau kuberikan kepada siapapun. Jadi maafkan saja jika aku tidak dapat memenuhi permintaanmu, Saudara!" ujar pematung tua tanpa pernah berpaling dari pekerjaannya.
"Bagaimana jika dua kantung emas murni ini kita tukar dengan patung buatanmu, orang tua?" kata saudagar Bergola Mungkur. Seraya menggerakkan dua kantung emasnya sehingga menimbulkan suara bergemerincingan. Giwang Rana dan Banjar Saketi pelototkan matanya. Mereka sama sekali tidak menyangka majikannya menjadi keranjingan setelah melihat patung buatan si kakek tua. Gilanya lagi dua kantung emas yang tidak ternilai harganya hendak ditukar dengan sebuah patung batu. Walaupun memang patut diakui patung itu memiliki kharisma yang sangat hebat. Bukankah jika pematung tua tidak menjualnya. Hanya dengan memberi perintah pada mereka, ia dapat membereskan si pematung untuk kemudian memiliki patung batu itu tanpa ada yang berani menganggu?
"Apakah kau seorang saudagar?" tanya si kakek dengan sikap acuh tak acuh.
"Benar, Aku adalah saudagar yang paling kaya di kota Malaya. Jika kau merasa dua kantung emas ini tidak sepadan dengan patung buatanmu itu. Aku dapat menyuruh orangku untuk mengambil dua kantung emas lagi sebagai tambahan."
Pematung tua kerutkan kening geleng-gelengkan kepala berulang-ulang.
"Sudah kukatakan dengan jumlah emas berapapun harganya aku tidak akan menjualnya. Patung ini adalah bagian dari hidupku!"
"Orang tua, kami harap kau tidak usah bertingkah di depan kami. Dua kantung emas adalah jumlah yang tidak sedikit. Apakah kami harus memaksamu untuk menyerahkan patung itu pada majikanku?" bentak Giwang Rana. Dan rupanya laki-laki bergiwang dan bertampang angker ini sudah tidak dapat lagi mengendalikan akalnya.
Saudagar Bergola Mungkur sendiri yang merasa telah kehabisan kata-kata untuk membujuk pematung tua hanya berdiam diri menunggu reaksi.
Untuk pertama kalinya pematung tua palingkan wajahnya dan memandang lekat-lekat ke arah Giwang Rana dan Banjar Saketi. Ekspresi wajahnya tetap datar tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun.
"Kalian menjadi kaya adalah karena tenaga dan keringat darah orang-orang yang tidak berdosa. Jika kuterima tawaranmu, sama artinya aku melumuri hasil karyaku dengan darah orang-orang yang terbunuh di goa penambangan Bumi Ayu! Aku pematung kelana setiap saat selalu mendengar suara jeritan arwah-arwah orang yang mati sebelum waktunya. Berlalulah kalian dari hadapanku! Kehadiran kalian hanya akan membuat udara di sini menjadi pengap dan berbau dosa."
Bukan saja ketiga penunggang kuda ini yang dibuat terkejut. Tapi juga Pendekar Blo'on yang bersembunyi di atas bukit di balik batu cadas terkesima. Entah siapa laki-laki aneh itu? Namun sungguh mengherankan ia mengenali sepak terjang penunggang kuda yang ternyata merupakan seorang saudagar kaya ini.
"Orang tua! Kau benar-benar mencari penyakit telah berani mencampuri urusan kami!" bentak saudagar Bergola Mungkur tiba-tiba.
Tanpa berpaling dari patung yang sedang dipolesnya. Pematung Kelana tersenyum dingin.
__ADS_1
"Manusia yang memiliki jiwa besar adalah orang yang berani mengakui setiap kesalahannya. Tidak perduli apakah kesalahan itu dibuat oleh tua bangka sepertiku ini. Tapi kebanyakan orang lupa, dan berusaha mencari dalih dengan menyebar fitnah untuk menutupi kesalahan sendiri. Alangkah ruginya manusia semacam itu kelak di kemudian hari!"
"Ke parat! Aku tidak membutuhkan khotbahmu!" ma ki saudagar dari kota Malaya itu geram bukan main.
"Aku adalah orang yang paling tidak suka mendengar kata-kata yang kotor! Sebaiknya kalian menyingkirlah dari hadapanku!" perintah pematung tua, suaranya pelan namun tegas.
"Bang sat hi na! Bunuh dia!" perintah saudagar Bergola Mungkur, lalu memberi aba-aba pada Banjar Saketi dan Giwang Rana. Serentak kedua laki-laki bertampang beringas ini menggebrak kuda tunggangannya. Kuda itu melabrak ke arah Pematung Kelana yang tetap duduk ngejeplok di depan patung. Lalu kaki Giwang Rana dan Banjar Saketi menghantam dada dan kepala Pematung Kelana. Namun sebelum kedua kaki lawannya mencapai sasaran. Dengan gerakan yang sangat sulit diikuti kasat mata. Pematung tua gerakkan tangannya ke arah bagian ************ kaki kuda.
Dengan tidak terduga-duga, kuda-kuda itu melonjak ke atas sambil meringkik-ringkik kesakitan. Giwang Rana dan Banjar Saketi yang tidak menyangka akan mengalami nasib sial langsung terpelanting dari punggung kuda. Untung mereka rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Sehingga dalam keadaan yang sangat terdesak itu mereka masih sempat bersalto dan menjejakkan kedua kakinya tidak jauh dari pematung tua. Dua ekor kuda tunggangan berlari kencang meninggalkan majikannya. Sementara Giwang Rana dan Banjar Saketi menjadi marah bukan main.
"Tua ke parat! Tidak ada jalan bagimu terkecuali mati! Sekarang kau katakan pada kami kematian yang bagaimana yang kau inginkan?" teriak Banjar Saketi.
"Kematian adalah urusan Tuhan! Pergilah sebelum darah kalian tercecer membasahi tanah gersang yang sangat suci ini!"
"Juih...!" Giwang Rana meludah.
"Sriing!"
Dilain kesempatan laki-laki bertampang pemberang ini telah menghunus senjatanya berupa sebilah kapak berwarna kuning mengkilat. Sekali lirik Pematung Kelana sudah dapat melihat bahwa senjata di tangan lawan-lawannya mengandung racun yang sangat keji. Tapi dasar laki-laki aneh, sungguhpun lawan telah menghunus senjata yang sangat berbahaya. Namun ia tetap bersikap tenang-tenang saja bahkan tetap terpaku di tempatnya.
Merasa diremehkan, sambil menggeram aneh Giwang Rana dan Banjar Saketi melompat ke depan, lalu bacokkan senjata di tangannya membelah kepala Pematung Kelana, sedangkan kampak lainnya menebas bagian pinggangnya. Angin dingin menderu menyertai berkelebatnya kapak di tangan lawannya. Serangan itu cepat bukan main. Sehingga Pendekar Blo'on yang melihat keadaan ini terpaksa menahan nafas dan pentang mata lebar-lebar
"Wuus!"
"Aaaaakkkh...!"
Tiba-tiba terdengar suara pekik kesakitan. Dua sosok tubuh terpelanting dengan arah berlawanan.
Di dekat patung, si kakek tua bangkit berdiri sambil sunggingkan seringai aneh. Entah bagaimana caranya dua kapak di tangan masing-masing lawannya kini telah berpindah tangan. Matanya yang agak cekung memandang ke arah lawan-lawannya yang sedang berusaha bangkit berdiri.
Wajah Giwang Rana dan Banjar Saketi sebentar memerah sebentar berubah pucat. Selama malang melintang di rimba persilatan belum pernah mereka mengalami nasib sial seperti sekarang ini. Apalagi hanya dalam gebrakan pertama saja mereka sudah dibuat tidak berdaya!Namun untuk mundur, merupakan satu pantangan bagi mereka. Apalagi mengingat di tempat itu ada majikan mereka. Sambil menelan ludah, tiba-tiba saja tangan kanan saudagar Bergola Mungkur mencabut keris berlekuk tiga di bagian pinggang kiri. Keris itu diputarnya sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah bayang-bayang berwarna putih berkilauan.
"Hap...!"
"Mampuslah kau!" teriak Banjar Saketi dan Giwang Rana hampir bersamaan. Tubuh mereka melesat ke depan laksana kilat. Keris di tangan membabat dan menusuk ke arah sepuluh jalan darah yang mematikan.Tapi ternyata Pematung Kelana adalah manusia serba bisa yang bukan saja memiliki ilmu kepandaian mematung yang handal. Tapi juga mempunyai simpanan jurus-jurus silat yang sangat mengagumkan.
Belum sempat senjata lawannya menyentuh tubuhnya. Ia sudah melesat ke udara. Senjata rampasan dilemparkannya dengan kecepatan sangat sulit diikuti kasat mata.
__ADS_1
"Jiiing!"
"Traang!"
"Waarkhgh...!"
Giwang Rana dan Banjar Saketi menjerit setinggi langit. Tubuh mereka mengejang kaku. Kapak beracun yang dilemparkan oleh pematung tua menghunjam di dada mereka dan langsung menembus di punggung. Mata kanan saudagar Bergola Mungkur terpentang lebar bagai melihat se tan perempuan telan jang.
Hanya sekejap saja tubuh mereka berkelojotan, kemudian terdiam untuk selama-lamanya. Kejut di hati saudagar kota Malaya itu bukan alang kepalang.
Di atas bukit Suro Blondo leletkan lidah dan garuk-garuk kepalanya. Sementara itu Pematung Kelana kembali duduk ngejeblok dan meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Sikapnya begitu tenang seakan tidak pernah terjadi apa-apa di situ. Dari rasa kecut, Saudagar Bergola Mungkur berubah menjadi sangat marah sekali.
"Manusia hi na dina ke parat! Kau benar-benar tidak memandang muka sama sekali padaku! Kalau kau tidak punya nyawa rangkap, sebaiknya kau berlutut di depanku dan serahkan patung marmer itu secepatnya!"
Bukan menjawab, pematung tua malah terkentut-kentut. Lalu terdengar suara batuk-batuk dari mulutnya yang tertutup kumis memutih.
"Ah... lega rasanya. Punya perut harus bisa kentut, supaya jangan sakit pemburut! Eeh... kau barusan bilang apa?" tanya Pematung Kelana tanpa memalingkan muka sedikitpun.
"Bang sat hi na! Makan nih pedangku...!" teriak sang saudagar. Tiba-tiba saja tubuhnya melesat ke udara. Pedang di tangannya mengeluarkan suara mendengung. Tapi tiba-tiba saja dengan sikap acuh tak acuh Pematung Kelana melibaskan tangannya ke samping kanan. Angin kencang laksana bara menderu-deru. Angin kencang berhawa panas menghanguskan itu melabrak Bergola Mungkur hingga membuatnya jatuh terjengkang.
"Akkh..."
"Bruuk...!"
"Hhrrrk...!"
Bergola Mungkur bangkit berdiri. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tanda amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
Pendekar Blo'on yang melihat kejadian itu bertepuk tangan. Hanya saja tidak menimbulkan suara sama sekali.
Sementara itu Bergola Mungkur sudah menerjang kembali dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Sejengkal lagi pedang berwarna putih mengkilat itu hampir memutus urat leher Pematung Kelana. Tiba-tiba si kakek menggerakkan tangannya ke bagian dada lawan. Gerakan yang dilakukannya tampak begitu lambat. Tapi akibatnya sungguh sangat luar biasa sekali.
"Breet!"
"Iiih...!"
Bergola Mungkur terpekik kaget. Baju saudagar kaya ini robek besar bahkan seperti hangus terbakar. Jika saja Pematung Kelana menghendaki, tentu sejak tadi nyawanya melayang. Sekarang sambil melangkah terhuyung-huyung ia memperhatikan pematung tua seakan tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh lawannya. Tapi ia segera tahu gelagat. Kekayaannya menumpuk, siapa sudi kehilangan nyawa?
__ADS_1
"Pergilah sebelum kesabaranku benar-benar habis!" Pematung Kelana menggeram.
"Bbb... baiklah, aku akan pergi. Tapi kau tunggulah nanti pembalasan ku!" kata Bergola Mungkur. Seraya cepat-cepat mendapatkan kudanya, kemudian meninggalkan Pematung Kelana sambil memacu kudanya sekencang mungkin. Dan ternyata kuda tunggangannya entah mengapa sudah tidak dapat berlari kencang lagi. Sepanjang perjalanan terus terkencing-kencing dan meringkik-ringkik tidak teratur.