Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
32


__ADS_3

Laki-laki itu terus melangkahkan kakinya yang pincang. Sesekali ia mendongak ke langit. Lalu berjalan lagi seperti orang yang sedang dalam keadaan tergesa-gesa. Lalu ketika berada di atas dataran bukit tiba-tiba ia hentikan langkahnya. Sekali lagi ia memandang ke langit.


"Aduh biuuung... panasnya dunia hanya asap api neraka. Di sana panas di sini panas. Mati... kematian ada dimana-mana. Aduh biung... mengapa aku terlahir ke dunia yang sengsara...!" kata kakek berkumis, berjenggot serta berambut putih itu seperti menyesali sesuatu.


Lalu ia melangkah lagi, tongkat butut di tangannya ia acungkan ke depan. Lalu tampak selarik sinar biru melesat dari ujungnya. Sinar biru tersebut menghantam sulur akar pohon rambat.


"Tes! Tes!"


Sulur-sulur pun putus, dari putusan sulur menetes air yang sangat bening. Si kakek berkaki kecil sebelah itu menampung air tersebut dan,


"Gluk! Gluuk!"


"Ah... lega rasanya, kelegaan yang membuat aku menyesal, menangis dan... hu hu hu... penyesalanku tidak kunjung berkesudahan. Kulihat kematian membuat aku menyesal. Kulihat kemarahan, aku menyesal, kulihat penderitaan orang kecil aku menyesal. Kulihat penghuni dunia celaka ini aku menyesal! Hidupku dalam penyesalan nafasku dalam penyesalan. Lahirnya Iblis Betina Dari Neraka membuat aku teramat menyesalkannya!" dengus si kakek. Lalu ketok-ketokkan tongkat di tangannya di atas batu. Sehingga terdengarlah suara berdenting menyakitkan telinga.


Si kakek memakai ikat kepala warna darah ini langkahkan kakinya lagi. Tetapi secara tiba-tiba ia melihat sosok bayangan biru berkelebat di depannya. Tampak bayangan biru tersebut tengah mengerahkan ilmu lari cepatnya yang bukan main-main. Tetapi hebatnya lagi begitu si kakek membentak....


"Kembali...!!"


Secara aneh dan benar-benar sulit dipercaya, bayangan biru tadi bergerak mundur seperti ditarik. Dan kekuatan itu terus membetotnya ke belakang. Dan....


"Buuk!"


Tubuh pemuda itu menabrak si kakek yang berdiri di belakangnya. Si pemuda bertampang ketolo lan menjadi kaget sendiri. Ia menyadari ada seseorang yang telah mengerjainya dengan hanya membentak secara aneh. Tetapi mengapa ia yang sedang berlari bisa tertarik ke belakang?


"Bocah gendeng! Punya mata tapi tidak melihat, ah...!" Si kakek hentikan ucapannya begitu melihat pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu berpaling ke arahnya.


"Kulihat wajahmu aku jadi menyesal. Di dunia ini ada orang seperti engkau... sungguh aku menyesal. Tapi aku sungguh menyesalkan mengapa ibumu melahirkanmu...?"


Pemuda berbaju biru memakai ikat kepala biru belang-belang kuning ini garuk-garuk kepala. Satu lagi orang gila ia temui, bukan gila tapi aneh dan sangat hebat.


"Orang tua siapa kau! Berani benar kau mengganggu perjalanan orang lain. Bisa-bisa kukemplang kepalamu!" dengus Suro Blondo.


"Ha ha ha...! Ada bocah yang tidak hormat pada orang tuanya. Ada kakek yang tega berbuat mesum pada bocah kecil, ada mayat dipotong-potong seperti hewan. Tahukah kau bahwa semua itu membuat aku menyesal? Oh dunia ini sudah teramat tuanya. Hah... manusia ini sudah parah bejatnya. Lalu siapa yang masih waras, apakah kau bocah gila?" tanya si kakek bersikap acuh tak acuh.


Pendekar Blo'on pencongkan mulutnya. Ia golang-golengkan kepala seperti orang bingung.


"Orang tua ini sebenarnya menderita penyakit apa? Gilanya sudah teramat parah. Dia bukan saja sinting, tapi miring. Namun melihat caranya menarikku tadi, kurasa dia mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali...!" pikir Suro Blondo.


"Kau bicara apa bocah to lol? Aku bisa melihat pikiranmu, aku dapat mendengar suara hatimu, sungguh semua ini sangat kusesalkan!" dengus si kakek sambil ketok-ketokkan tongkatnya di atas batu.


"Kakek penyesal, siapakah engkau yang sesungguhnya. Urusanku dengan saudagar Bergola Mungkur sudah tidak dapat ditunda-tunda lagi" tegas sipemuda.


"Ha ha ha...! Aku Datuk Sage Manyasal Hiduik. Si renta yang selalu menyesali segala sesuatu di dunia ini, orang yang menyesalkan terjadinya angkara murka di bumi, sepanjang abad, sepanjang hidup sampai dunia ini menjelang kiamat pun aku menyesal!"


"Datuk Sage Manyasal Hiduik. Apa yang kau sesalkan, setiap manusia punya urusan sendiri-sendiri. Biarkan saja...!" kata Suro seenaknya.


Datuk Sage Manyasal Hiduik kedip-kedipkan matanya yang mulai lamur. Bicara pemuda tampan bertampang ketolo lan itu memang ceplas-ceplos. Dan ia tahu siapa pemuda itu.


"Kau pemuda to lol, pantas menyandang gelar Pendekar Blo'on. Gurumu Penghulu Siluman Kera Putih, duh menyesalnya aku. Kakekmu Malaikat Berambut Api, manusia sakti mandraguna, tinggal di Pulau Seribu Satu Malam, banyak musuh, punya banyak kekasih, tapi tidak pernah kawin-kawin. Oh... menyesalnya aku...!" kata si kakek.


Kata-kata yang diucapkannya itu jelas membuat Pendekar Blo'on jadi terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa kakek aneh ini mengenali siapa dirinya dan juga gurunya. Bahkan sampai masa lalu gurunya sendiri. Padahal Malaikat Berambut Api tidak pernah cerita apa-apa tentang peribadinya pada Suro Blondo.


"Bagaimana Datuk bisa mengenal mereka?"


"Aku menyesal mengenal kedua gurumu, aku menyesal mengenal dirimu dan aku menyesal bakal melihat darah!" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.


Wajah kakek tua berkaki kecil ini berubah muram. Lalu ia ketuk-ketukkan tongkat bututnya ke tanah. Tanah sekeras cadas itu berlubang dan dari lubang akibat tusukan tongkat menebarkan bau busuk menusuk hidung.


"Darahnya siapa yang kau sesalkan Datuk? Apakah darahmu sendiri darahku atau darah monyet?" tanya Suro sambil cengengesan.


"Hidupmu berkubang darah, bukan ku nyuk sepertimu yang akan menjadi bangkai. Aku menyesal karena bukan darahku pula yang tercecer. Darah orang-orang serakah. Aku sedih karena berpantang membunuh, aku menyesal datang ke tanah Jawa ini."

__ADS_1


"Memang engkau dari mana Datuk? Apakah dari dalam kuburan, dasar bumi atau dikirim dari neraka?"


Wajah sang Datuk berubah kelam membesi. Matanya berkedip-kedip, lalu ia memandang ke langit.


"Bicaramu sudah keterlaluan, bocah gendeng. Sayang aku tidak punya urusan denganmu. Seorang anak ingusan tidak layang tanpa asal-usul. Satu hal yang harus kusesalkan, aku harus tahu seberapa hebat kekuatan yang kau punya, seberapa banyak ilmu yang kau miliki!" kata sang Datuk.


Tiba-tiba saja Datuk Sage Manyasal Hiduik hentakkan kaki kanannya yang kecil di atas tanah. Segulung angin kencang menderu, Suro Blondo tiba-tiba saja terpelanting tunggang-langgang. Pendekar Blo'on terkejut bukan main-main. Seorang Tua renta seperti Datuk Sage Manyasal Hiduik dapat menjatuhkannya hanya dengan menjejakkan kaki di atas tanah. Satu hal yang sangat sulit dipercaya.


Ia bangkit berdiri, dengan sangat berhati-hati ia segera mengerahkan tenaga dalam ke bagian kakinya.


"Mengapa kau menyerangku Datuk? Apakah kau sudah edan?" dengus Suro sambil garuk-garuk kepala.


"Kusesalkan karena aku tidak bisa memberikan jawaban kedua. Tetapi untuk lebih jelas sebaik-baiknyalah kau menjaga diri" Baru selesai bicara Datuk Sage Manyasal Hiduik tampak gembungkan pipinya. Lalu tiba-tiba saja ia menghembuskan nafasnya.


"Puuuih...!"


"Wuus!"


Segulung angin topan menderu menerjang Suro Blondo. Pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini tidak tinggal diam. Ia segera mengerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'. Pemuda ini kemudian melompat ke samping sejauh satu batang tombak. Tubuhnya meliuk-liuk sambil sesekali menggaruk kepala. Lalu berjongkok dan melompat-lompat, sedangkan tangannya menghantam ke depan dan mulut mengeluarkan suara seperti lolongan serigala kelaparan yang seakan datang dari seluruh penjuru arah.


"Buumm!"


Hembusan Datuk Sage Manyasal Hiduik menghantam sebatang pohon yang terdapat di belakang Suro. Pohon mengeluarkan suara berderak dan roboh. Jika Pendekar Blo'on tidak cepat-cepat menghindar tentu ia tertimpa pohon-pohon.


"Ha ha ha...! Jurus gila, sudah kuduga gurumu mempunyai jurus itu. Menyesal aku harus menyerangmu hingga aku tahu seberapa hebat murid dari dua orang guru!"! kata Datuk Sage.


"Aku juga menyesal melihat ulah gilamu Datuk. Tapi aku tidak akan menyesal kau terus memaksaku bertindak kasar!" dengus Pendekar Blo'on jengkel.


"Heaa...!"


Datuk Sage Manyasal Hiduik sama sekali tidak menghiraukan ucapan Suro. Ia menulikan telinga dan kini menyerang Pendekar Blo'on dengan tongkat butut di tangannya. Sekali sang Datuk mengibaskan tongkatnya. Maka terlihat tongkat tersebut berubah menjadi banyak, tongkat butut meliuk-liuk bagaikan seekor ular cobra yang sedang memburu mangsanya. Suro dibuat pontang-panting, beberapa kali tongkat lawan menyodok ketiak, dada, ulu hati dan juga mata si pemuda. Pemuda ini mencoba menangkis serangan itu dengan telapak tangannya. Maka benturan tidak dapat dihindari lagi.


"Taaak!"


Tangannya tadi seperti lumpuh dan sakitnya bukan main. Padahal Pendekar Blo'on telah mengerahkan tenaga dalam ke bagian telapak tangan.


Kini ia melompat mundur. Lawan terus mengejarnya, Pendekar bertampang ketolo lan ini segera mempergunakan jurus 'Kacau Balau' untuk menghalau setiap serangan yang melabraknya.


Gerakan pemuda itu sekarang benar-benar sudah tidak teratur lagi. Terkadang tubuhnya terhuyung ke kanan dan ke samping kiri, atau bergerak seperti menubruk ke depan. Ketika tongkat lawannya menyambar menusuk dada ia cepat menarik tubuhnya ke belakang seperti orang yang terpeleset kulit pisang. Lalu kaki depannya menendang ke bagian perut sang Datuk.Lawan menepisnya dengan tangan kiri Suro menarik kakinya sedangkan tangan melayang mengemplang kepala sang Datuk.


"Plok!"


"Heh…!"


Sang Datuk memang sempat terhuyung-huyung terkena pukulan si pemuda. Namun Pendekar Blo'on sendiri dibuat kaget. Bagaimana tidak, ia seperti menghantam batu saja. Tangannya sendiri sakit bukan main.


"Ha ha ha...! Aku sedih karena tubuhku keras seperti batu. Aku menyesal lantaran kau kesakitan!"


Suro pencongkan mulutnya,


"Datuk Penyesal, apakah kau tidak menyesal melihat orang lain yang tidak bersalah kesakitan?" tanya si pemuda.


"Penyesalanku sudah mendarah daging, berurat berakar seperti pohon kehampaan. Kau kesakitan aku menyesal, tetapi aku akan lebih menyesal lagi setelah nanti melihat darah. Darah orang tamak, orang serakah, para pejabat kerajaan yang korup, dan juga pembesar yang menyeleweng. Semua itu kusesalkan!" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik.


"Bicaramu semakin ngaco tidak karuan. Bicara soal penyesalan tapi kau malah menyerangku seperti orang mabuk. Kau menyerang maka aku pun harus balas menyerang supaya adil!" dengus Pendekar Blo'on.


Tiba-tiba saja pemuda tampan bertampang ketolo lan itu menerjang Datuk Sage. Namun sang Datuk menyambutnya dengan tusukan tingkat ke tubuh Pendekar Blo'on. Masih dalam keadaan mengambang di udara Suro berjumplitan ke belakang. Begitu ia menjejakkan kedua kakinya di atas tanah. Maka pemuda ini lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'


"Huuuh...!"


Pemuda itu secepat kilat mendorongkan kedua tangannya ke depan. Seleret sinar putih melesat bagaikan anak panah melayang dari busurnya.

__ADS_1


"Aku menyesal karena engkau keluarkan pukulan. Aku menyesal karena terpaksa gunakan tongkat bututku!" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik. Tiba-tiba saja....


"Wuut! Wuut!"


"Byar!"


Pukulan yang dilepaskan Pendekar Blo'on buyar seketika terkena sabetan tongkat lawan yang menimbulkan angin kencang bagaikan badai. Suro Blondo terhuyung-huyung, namun secepatnya ia memperbaiki posisinya. Dalam kesempatan itu Datuk Sage telah membalas serangan si pemuda dengan mengayunkan tongkat di tangan. Pemuda itu mengelak, namun gerakannya kalah cepat dengan tongkat lawannya. Maka....


"Buuk!"


"Aduh emaak....! Kakek kaki kurus ini benar-benar edan." pikir Suro sambil usap-usap dadanya yang mendengut sakit. Setelah diusap-usap, malah dari bibir si pemuda tampak meleleh darah segar.


"Kau terluka? Aku sedih melihatmu terluka, ha ha ha...!" Datuk Sage tertawa sumbang.


"Sekarang aku terluka, sebentar lagi aku sedih melihatmu mati makan ulah sendiri!" dengus Suro.


Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on melompat ke udara. Kedua tangannya dihentakkan ke arah Datuk Sage Manyasal Hiduik.


"'Ratapan Pembangkit Sukma'! Hiaaa...!" teriak Pendekar Blo'on.


Angin kencang bagaikan topan bergulung-gulung. Tampak adanya kabut putih bagaikan salju menderu ke arah Datuk Sage Manyasal Hiduik. Gelombang angin kencang itu menebarkan hawa dingin mencucuk ke sumsum tulang. Datuk Sage Manyasal Hiduik tersentak kaget. Sama sekali ia tidak mengira pemuda tampan berwajah ketolol-tololan ini telah mewarisi pukulan dashyat 'Ratapan Pembangkit Sukma' warisan manusia sakti Malaikat Berambut Api.


Maka tanpa membuang-buang waktu lagi ia kibaskan tongkatnya yang telah teraliri tenaga dalam ke arah lawan.


"Wut! Wut!"


Dari ujung tongkat melesat dua larik sinar biru menebar hawa panas menyambut gelombang angin topan yang melesat dari telapak tangan lawannya. Benturan keras tidak dapat dihindarkan lagi....


"Bum! Buum!"


Ledakan-ledakan keras disertai dengan memijarnya bunga api.


"Aaaakh... celakanya neraka dunia jika kau mempergunakan pukulan itu...!" desis Datuk Sage Manyasal Hiduik.


Tubuh kakek tua ini terhuyung-huyung. Ujung tongkatnya patah, celana sebatas betis terkoyak. Suro Blondo jatuh terduduk, dadanya sesak bukan main. Sedangkan kedua kakinya sampai amblas ke tanah sedalam lutut.


"Bukan main-main. Tidak menyesal aku bertemu denganmu, anak muda. Yang aku sesalkan celanaku robek. Ah... rasanya kau pantas menghadapi orang yang telah membunuh orang penting. Carilah dia, aku tidak akan menyesal dia mati di tanganmu!" kata Datuk Sage.


Suro Blondo menarik kakinya yang sempat terbenam, dalam hati ia dongkol juga melihat kakek aneh ini.


"Setelah membuatku hampir babak belur, kini kau menyuruhku pergi. Tidak mengapa. Tapi kuharap kau mau menyebutkan siapa dirimu yang sebenarnya. Dan Datuk hendak pergi kemana?" tanya Suro sambil garuk-garuk kepalanya.


Datuk Sage Manyasal Hiduik mendongak ke langit. Wajahnya yang selalu muram tampak berubah semakin bertambah rawan dan menyimpan banyak kesedihan.


"Aku Rana Gingging, punya nama. Bertanya pada gurumu, mereka akan beri penjelasan. Urusanku sangat besar, di sebuah kerajaan besar, menghadapi hutang lama yang sangat besar. Semua orang mempertaruhkan nyawa di sana. Hik hik hik! Tapi aku tidak menyesal anak muda. Nanti bila panjang umur, panjang nafas, panjang langkah. Kita bertemu di sebuah tempat besar bernama Bukit Keadilan. Di sana, aku, kau, mereka dan sebagian tokoh di rimba persilatan akan bertemu dengan Malaikat Keadilan. Malaikat Bayangan yang menjadi penentu besar kecilnya dosa seseorang. Pada waktu itu setiap wajah tertunduk. Merasa malu pada dirinya sendiri, iblis pun akan malu, setan malu, hantu malu, perempuan cantik malu, laki-laki malu, terkecuali mereka yang tidak punya ******** tidak punya rasa malu." jelas Datuk Sage Manyasal Hiduik.


Pendekar Blo'on tampak kaget mendengar penjelasan Sang Datuk yang tidak beda dengan seorang peramal itu.


"Kapankah waktu yang kau katakan itu tiba, Datuk?" tanya Suro ingin tahu.


Datuk Sage Manyasal Hiduik tiba-tiba saja gelengkan kepala sambil menepuk keningnya.


"Aku menyesal telah membocorkan rahasia besar ini padamu. Ah... bagaimana ini?"


"Aku bukan orang jahat, Datuk. Mengapa kau harus khawatir?" kata Pendekar Blo'on.


"Setiap orang punya bakat jadi orang jahat. Setiap orang punya dosa kecil. Terlanjur aku bicara, urusan besar itu akan datang menjelang kehancuran dunia, masalah besar akan menimpa manusia, dimana kemanusiaan sudah tidak dihargai oleh manusia itu sendiri. Dimana rasa malu hilang, keadilan tinggal tertulis di daun lontar. Dan manusia memakan sesamanya sendiri. Itulah neraka dunia di ujung rimba persilatan. Ah... aku menyesal telah banyak bicara. Anak muda, padamu kutitipkan pesan tegakkanlah kebenaran. Semakin berpegang kau pada akar kebenaran, maka semua orang akan memusuhimu!"


"Mengapa begitu, Datuk?".


"Aku menyesal tidak dapat mengatakannya. Tapi carilah jawaban sendiri. Kau pasti akan menemukannya. Sudahlah, aku harus pergi...!" kata Datuk Sage Manyasal Hiduik. Sekejap saja Datuk ini berkelebat, maka tubuhnya langsung menghilang dari penglihatan Pendekar Blo'on. Pemuda itu melongo sambil gelengkan kepala berulang-ulang.

__ADS_1


"Banyak sekali orang aneh di rimba persilatan ini. Dunia ini rupanya benar-benar mempunyai banyak keanehan. Akh... bisa gendeng aku memikirkannya...!" pikir Pendekar Blo’on sambil melanjutkan perjalanannya kembali.


__ADS_2