
Matahari senja menapaki kaki bukit. Suasana di sekitar Malaya terasa sepi seperti berada di daerah kuburan. Dalam suasana senja yang sedemikian mencekam itu. Tiba-tiba dari arah utara terdengar derap langkah suara kaki kuda. Semakin lama langkah kuda yang dipacu dengan tergesa-gesa itu semakin bertambah mendekati sebuah sungai. Sampai kemudian terlihat salah seorang penunggang kuda memakai ikat kepala warna hitam, berbaju hitam dan kuda yang ditungganginya berwarna hitam pula.
Laki-laki ini bertampang sangat angker, wajahnya dipenuhi jambang dan bawuk lebat. Badannya tegap berisi pertanda bahwa ia memiliki tenaga yang sangat besar. Sungguh sangat jauh berbeda dengan kuda yang ditungganginya, karena kuda tersebut berbadan kurus macam keledai. Melihat keadaan kuda kurus kering itu, tentulah ia baru dipacu dari sebuah tempat yang sangat jauh. Terbukti badan kuda itu berkeringat, lidahnya menjulur seperti anjing sedangkan dari hidung dan mulutnya keluar busa berwarna putih.
Sampai di pinggir sungai yang sudah berubah gelap itu. Tiba-tiba penunggang kuda tersebut menghentikan tunggangannya. Ia melompat turun tanpa menghiraukan benda semacam karung yang terus menggelantung di punggung kudanya.
Sebentar ia celingak-celinguk memperhatikan suasana di sekelilingnya. Kemudian ia menuruni pinggiran sungai. Sebuah kantong dikeluarkannya dari balik bajunya yang dekil. Dari dalam kantong hitam dikeluarkannya serbuk. Serbuk itu ia tebarkan ke dalam sungai. Hanya dalam waktu singkat terlihat adanya gejolak di dalam sungai tersebut. Jika saja suasana dalam keadaan terang benderang. Tentu segera terlihat bahwa ikan-ikan yang hidup dalam sungai tersebut terkapar mati. Jelas serbuk yang baru ditebarkannya merupakan serbuk racun yang sangat ganas. Laki-laki itu tampak puas sekali.
"Hanya dalam waktu yang singkat. Ha ha ha...! Hanya dalam waktu yang singkat orang-orang di seantero Jawa Barat ini pasti pada ****** semua!" Laki-laki itu kemudian memasukkan kantong bubuk racun ke balik pakaiannya kembali.
Sebentar kemudian ia berjalan mendekati kudanya, karung di atas kuda diturunkan. Lalu dengan seenaknya karung itu ditendangnya hingga masuk ke pinggir sungai. Karena terganjal batu, maka karung tersebut tidak langsung masuk ke air melainkan tertahan.
"Di dunia ini memang tempat bernaungnya para iblis. Tidak heran jika orang seperti Pematung Kelana ****** di tangan iblis pula. Para iblis kini mempunyai urusan dan rencana besar. Bagaimana caranya membuat seluruh manusia di permukaan bumi ini menjadi penganut iblis...!"
Pengikat karung disentakkan oleh orang bertampang angker ini. Begitu karung terbuka. Maka tercium bau busuk yang sangat menusuk. Bau busuk tersebut sedemikian menyengat. Hingga membuat seseorang yang memperhatikan tingkah penunggang kuda kurus terpaksa menutup hidung dan mulut.
*
Ia menyeka keningnya yang berkeringat. Buah durian yang dimakannya kini ia letakkan di samping tempat duduknya pada cabang yang sama.
"Apa yang dilakukan lutung angker itu? Ia membekal makanan yang busuknya seperti bangkai manusia. Ketika ia bicara pelan tadi aku mendengar ia ada menyebut-nyebut tentang Pematung Kelana! Pematung Kelana yang mana yang dimaksudkan monyet itu? Apakah pematungnya para iblis? Atau malah Pematung Kelana yang kujumpai di bukit Watu Cadas beberapa purnama yang lalu?" Si pemuda garuk-garuk kepalanya.
Dalam kegelapan itu tatapan matanya yang setajam mata elang terus memperhatikan laki-laki berbadan tegap yang disebutnya dengan 'Monyet Lutung'.
"Pematung Kelana? Kurasa pematung sepertimu sudah tidak ada lagi di antara orang-orang yang segolongan denganmu. Kini kau memang pantas menjadi bangkai menemani ikan-ikan yang sudah mati itu!"
Kembali terdengar suara serak si laki-laki. Tentu saja pemuda berbaju biru berambut kemerah-merahan ini terkejut sekali mendengar ucapan orang yang berada di bawahnya. Dugaannya tentang Pematung Kelana ternyata meleset.
"Jadi orang yang telah membusuk di dalam karung itu bukan Pematung Kelana aliran sesat? Weeh... bagaimana aku ini? Kuingat-ingat, ia merupakan seniman aneh dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Berarti orang yang telah membunuh Pematung Kelana merupakan lutung hitam di bawah sana yang kesaktiannya di atas luar biasa pula."
"Aih... kepa rat betul...!" Pemuda berambut kemerah-merahan ini membatin dihati.
Dua suing kulit durian disambarnya. Laksana kilat ia menyambitkannya ke arah laki-laki berbaju hitam yang sudah bersiap-siap melemparkan mayat Pematung Kelana ke dalam sungai.
Bletak!
Buuk!
Dengan keras kulit durian itu menghantam kepala dan punggung si laki-laki. Sungguh pun yang dilemparkannya hanya kulit durian, namun membawa akibat yang cukup fatal. Kulit durian itu sebagian menancap di punggung penunggang kuda kurus, sedangkan satu di antaranya menghantam keningnya.
"Wuah... setan alas! Ku nyuk mana yang telah begini lancang main-main dengan Sugriwa Kertopati!" Laki-laki baju hitam yang berdiri di bawah pohon yang diduduki di pemuda menggeram marah.
Suasana kemudian berubah hening.
"Bang sat! Ku nyuk yang di atas pohon, sebaiknya cepat kau perkenalkan diri. Kau merupakan kawan kami atau hanya seekor monyet yang ingin cepat-cepat mam pus?"
"Ha ha ha...! Kebetulan aku masih mempunyai derajat yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan monyet lutung sepertimu! Kalau melihat bawaanmu, tentu kau lutung kesasar dan sesat. Sedangkan aku orang baik-baik yang sangat benci dalam hal racun meracun!" jawab pemuda baju biru yang tidak lain adalah Suro Blondo alias Pendekar Blo'on.
Sugriwa Kertopati tentu saja kaget bukan main mendengar semua apa yang dilakukannya telah diketahui oleh orang lain. Sehingga ia sempat terdiam untuk beberapa saat lamanya.
Dicabutnya kulit durian yang membenam di bagian kening dan punggungnya. Dengan gerakan ringan dan asal-asalan ia melemparkannya ke arah kegelapan pohon.
Wuut! Wuut!
"Aduh...!" Suro Blondo mengeluh.
Padahal sambitan yang dilakukan oleh lawannya sama sekali tidak mencapai sasaran.
"Kepa rat! Aku tahu kau mengejekku! Cepat kau turun atau aku akan membuatmu tidak berkutik di pohon itu?"
"Seharusnya kau malu, karena kau ternyata tidak becus apa-apa. Tapi kurasa semakin lama aku semakin bosan bermain-main dengan lutung jelek sepertimu! Aku tanya... harap kau jawab secepatnya...!" tegas Pendekar Blo'on.
"Huh...!"
"Benarkah mayat yang baru hendak kau buang itu mayat Pematung Kelana?"
"Apa perdulimu?" dengus Sugriwa Kertopati.
__ADS_1
"Tentu saja aku sangat perduli. Karena Pematung Kelana masih merupakan kenalan dekatku dan orang yang sangat kuhormati."
Sugriwa Kertopati sama sekali tidak menjawab. Tiba-tiba ia merangkapkan tangannya ke depan dada. Secepat tangan hitam berbulu itu bergerak, maka secepat itu pula ia mengibaskannya ke atas pohon.
Wus!
Seleret sinar berwarna kemerah-merahan menderu dan menghantam cabang pohon yang diduduki oleh Suro Blondo. Pemuda ini kaget bukan main begitu merasakan sengatan hawa dingin mencucuk menghantam pantatnya. Ia melompat ke pohon lain, lalu melepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir' untuk menghadang pukulan berikut yang dilepaskan oleh Sugriwa Kertopati.
Suasana berubah terang laksana kilatan cahaya petir. Sugriwa Kertopati paling sempat melihat wajah si pemuda melalui cahaya yang terpancar dari pukulan lawannya ini. Pemuda bertampang to lol berambut hitam kemerah-merahan. Rasa-rasanya ia pernah mendengar ciri-ciri seperti dari ketua mereka.
*
Sugriwa Kertopati rasanya sudah tidak dapat berpikir lebih jauh lagi. Karena sinar putih berkilauan laksana perak tersebut langsung melabrak ke arahnya.
Wuut!
Seketika ia mengibaskan tangannya memapaki serangan itu. Cahaya merah berhawa dingin menderu. Kemudian ter-dengar suara ledakan dahsyat menggetarkan.
"Edan!" Suro Blondo menggerutu sambil basahi bibirnya. Ia kemudian melompat dari cabang pohon dan menginjakkan kedua kakinya di atas sebongkah batu tidak jauh dari tempat Sugriwa berdiri.
"Manusia muka ku nyuk bertampang iblis ini boleh juga. Tapi kurasa aku tidak perlu mengulur waktu. Sungai ini sudah tercemar, aku harus bisa paling tidak menangkapnya. Setelah itu segera kuumumkan pada semua penduduk agar tidak memakai air sungai ini untuk kepentingan memasak!" batinnya.
"Siapakah kau?"
"Hmm, aku adalah aku. Bukan kau, bukan bapakmu dan juga bukan kakekmu! Lekas kau berlutut di depanku. Aku mau menangkap kau punya badan dan mengumumkan pada orang-orang bahwa kau telah meracuni sungai ini!" Suro Blondo menggelengkan kepala sambil menyeka keringat yang mengucur di keningnya.
Sugriwa Kertopati tertawa membahak. Tawa itu jelas disertai pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi. Suro Blondo dapat merasakan getaran itu. Tapi ia malah menyeringai seperti kuda terinjak duri.
"Bicaramu boleh juga, bocah. Kau kira dengan kepandaian picisan yang kau miliki kau dapat melawanku? Cobalah berkaca apakah kau pantas mengalahkan aku!"
"Air yang biasa kupergunakan untuk berkaca telah kau racuni. Mana mungkin aku dapat melakukannya. Menyerah sajalah kau padaku...!"
"Bang sat rendah! Tidak ada yang dapat memerintah anggota iblis, apalagi hanya monyet to lol sepertimu?" bentak Sugriwa.
Tiba-tiba saja ia menerjang ke depan. Tinjunya melayang mengarah pada bagian mata kiri Suro. Sedangkan kaki melakukan serangan tipuan kilat. Tindakan yang dilakukan oleh lawannya ini benar-benar tidak pernah terduga oleh pemuda berambut hitam kemerahan ini.
Duuk!
"Kampret sialan!" ma ki si pemuda terpincang-pincang.
Melihat lawannya dalam keadaan begitu rupa. Tiba-tiba ia menyerang kembali. Jurus yang digunakannya juga bukan merupakan jurus sembarangan. Ia mengerahkan jurus 'Tapak Neraka Dunia' dalam upaya nya mengakhiri perlawanan Suro Blondo.
Pemuda berbaju biru ini tentu tidak mau bersikap gegabah lagi. Begitu kaki kirinya bergeser ke belakang. Maka Suro pergunakan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'
"Huup...!"
Wuut! Wuut!
"Iih...!"
Suro Blondo terus berkelit dengan gerakan-gerakan lincah, lucu dan konyol. Sesekali ia bahkan melompat-lompat sambil menggaruk-garuk punggungnya. Namun setiap serangan yang dilakukan oleh Sugriwa selalu mengenai sasaran kosong. Sugriwa dalam kegelapan itu sempat terkejut. Sama sekali ia tidak menyangka kalau pemuda itu dapat menghindari setiap serangan yang dilakukannya.
"Manusia ge blek..!" dengus Sugriwa.
Tiba-tiba saja ia merentangkan kedua tangannya.
"Inti Hati Yang Satu!" jerit Sugriwa.
Laksana kilat ia menerjang ke depan, tapi kali ini ia tidak menyerang secara langsung. Melainkan mengitari tubuh Suro dari segala penjuru arah.
Lalu...,
Deb! Deb!
Tangan kanan dan tangan kiri menggebrak secara beruntun ke arah empat jalan kematian. Pendekar Blo'on tercekat juga merasakan sambaran-sambaran angin yang begitu menghebat. Satu hantaman keras menderu ke bagian tulang rusuknya. Pemuda ini tampak sekali tidak sempat menghindari serangan ini. Sehingga ia terpaksa menangkisnya dengan siku kirinya.
Benturan tidak dapat dihindari lagi.
__ADS_1
Duuk!
"Hukh...!"
"Beeh...!"
Dua-duanya terkejut sekali. Sugriwa bahkan sempat terhuyung-huyung. Sedangkan Suro Blondo meringis sambil memegangisikunya yang membengkak merah.
"Ternyata kau memiliki kebolehan juga, ku nyuk!"
"Hhmm...." Suro Blondo menggumam tidak jelas.
Dalam keadaan begitu rupa, pemuda berambut hitam kemerahan ini merobah jurus Silatnya dengan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Ini merupakan jurus yang lebih konyol lagi, yang kelihatannya dilakukan secara asal-asalan. Namun membawa pengaruh yang sangat berat bagi lawannya.
Sugriwa terkesiap ketika di atas lima belas jurus kemudian ia mulai mendapatkan tekanan-tekanan yang hebat dan dapat membahayakan pertahanannya. Ia berusaha mengerahkan jurus lain yang dimilikinya untuk melakukan serangan balik. Tapi sekali lagi ia dipaksa menghadapi kenyataan yang sangat mengesalkan. Semakin hebat dia berusaha mendesak lawannya, maka semakin gigih pula Suro Blondo melakukan serangan balik.
Celakanya sungguh pun gerakan yang dilakukan oleh lawan seperti gerakan monyet melompat dan berayun. Tapi lawan yang bertarung sambil tertawa dan melolong ini sulit dijinakkan.
Buuk!
"Huakgh...!"
Sekali waktu tinju kiri Pendekar Blo'on mendarat di dada Sugriwa. Laki-laki berkulit hitam legam ini jatuh terpelanting. Sudut-sudut bibirnya mengalirkan darah.
Anehnya ia sudah dapat bangkit kembali hanya dalam waktu beberapa detik saja. Ia bahkan sekarang telah mencabut senjatanya yang berupa sepasang roda baja yang memiliki ujung runcing seperti mata tombak pada setiap sisinya.
Cring...!
Senjata kembar bulat bentuknya dan bergerigi ini sempat memijarkan api ketika Sugriwa mengadunya antara yang satu dengan lain.
"Kali ini kau tidak mungkin dapat luput dari kematian, bocah to lol! Tapi sebelum kau mam pus di tanganku, maukah kau menyebutkan siapa namamu agar nanti dapat kutuliskan di atas nisanmu?" berkata Sugriwa Kertopati.
Suro Blondo tersenyum, karena yakin senyumnya tidak mungkin terlihat oleh lawannya. Maka pemuda ini tertawa.
"Malaikat sudah tahu namaku. Kurasa hanya pada iblis saja aku pantas berahasia. Karenanya, kau sajalah yang sebutkan nama. Karena ucapanmu itu bisa saja berbalik menghantam dirimu!"
"Bang sat!" sambil menggeram, Sugriwa menggerakkan kedua tangannya ke depan.
Zing! Siing!
Kedua senjata berbentuk roda itu melesat ke arah Suro Blondo. Bukan main cepat dan berbahaya serangan yang dilakukan oleh Sugriwa. Pendekar Blo'on tentu saja tidak ingin mati konyol. Ia mempergunakan jurus khusus menghindar yang diberi nama 'Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'. Di samping itu ia juga mengerahkan ilmu mengentengi tubuh 'Kilat Bayangan'.
Cepat sekali pemuda berambut merah ini berkelebat lenyap. Serangan-serangan yang dilakukan oleh Sugriwa luput. Namun senjata yang dapat kembali pada pemilik dengan sendirinya ini terus bergerak mengejar kemana pun ia berusaha menghindar.
Suro Blondo sadar betul ia tidak mungkin berkelit seperti itu selama-lamanya. Karena bagaimana pun lama kelamaan tenaganya terkuras habis. Maka ia segera menyalurkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangannya. Masih dalam keadaan bergerak menghindar tubuhnya bergetar keras. Kedua tangannya bahkan telah berwarna merah redup. Satu kesempatan ia menjejakkan kakinya, begitu kaki menyentuh tanah. Suro Blondo menghentakkan kedua tangannya ke arah senjata lawan yang tengah melaju deras mencari sasaran.
Wuut!
Angin kencang disertai hawa panas meluruk ke arah senjata Sugriwa. Kemudian terdengar suara ledakan keras berdenting bagaikan suara bertemunya dua benda keras.
Trang!
Senjata roda bergerigi milik Sugriwa membalik terdorong pukulan 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar' yang melesat dari telapak tangan si pemuda. Sugriwa tentu saja tidak mau mengambil resiko dengan cara menangkap senjata yang hendak mencelakakan dirinya sendiri itu. Ia cepat merunduk sambil terus berguling-gulingan. Satu senjatanya dapat ia hindari. Tapi senjata yang lainnya dengan cepat telah menghantam batok kepalanya.
Sugriwa Kertopati menjerit keras, tapi sudah tidak mampu angkat kepalanya yang rengkah. Tubuhnya menggelepar, kepalanya golang-goleng. Lalu diam membeku.
"Hh, sayang dia mati. Aku tidak bisa tanya siapa orang yang berdiri di belakangnya. Apa yang harus kulakukan!" Pendekar Blo'on menepuk keningnya berulang-ulang.
"Monyet lutung itu cuma punya harta seekor kuda kurus kering."
Suro Blondo kemudian menghampiri kuda kurus yang tampak gelisah tersebut.
"Kuda semacammu begini apa yang diharap? Tulangmu lebih banyak daripada dagingmu. Kulitmu juga keriput, paling yang besar cuma kentut sama kotoranmu. Lebih baik kau bawa majikanmu itu ke tempat asal!" kata Suro Blondo.
Pemuda berwajah tampan bertampang seperti orang to lol ini kemudian mengangkat mayat Sugriwa. Sama sekali ia tidak menyentuh roda bergerigi yang membuat retak kepala pemiliknya sendiri. Ditepuknya pantat kuda tiga kali. Bibirnya tersenyum lalu berkata:
"Kalau sudah sampai ke tempat tuanmu yang lain, katakan pada mereka bahwa majikanmu mati bunuh diri...!"
__ADS_1
Kuda yang dalam keadaan ketakutan itu meringkik keras, kemudian lari terbirit-birit dengan membawa mayat Sugriwa Kertopati di punggungnya.