Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
43


__ADS_3

Perjalanan menuju ke tempat kediaman gembong iblis ternyata tidak semudah yang dibayangkan oleh Suro Blondo. Karena selain harus naik turun bukit. Juga terlalu banyak jebakan yang sewaktu-waktu dapat mencelakakan dirinya. Dalam keadaan harus selalu siap waspada ini. Wiro Suryo berulang kali malah mengejek Pendekar Blo'on. Dan tentu saja dengan banyolan-banyolannya yang lucu.


"Pendekar sepertimu, alangkah semakin bo dohnya jika sampai termakan oleh tipuan yang dibuat oleh iblis itu"


"Diamlah benalu. Kalau tidak mau diam, kau akan kucampakkan ke jurang sana. Eeh... sekarang di sebelah mana lagi kira-kira Iblis Betina Dari Neraka memasang perangkap?"


"Kalau matamu tidak bisa mencari. Lebih baik kau pergunakan hidungmu untuk mengendus-ngendus seperti an jing. Kemudian menyalak tiga kali dan semuanya akan beres! Ha ha ha...!" kata Wiro Suryo.


"Berhentilah kau bercanda bayi bangkotan. Jika aku salah langkah, kaupun ikut mati." dengus Suro Blondo sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Sementara itu, Wiku Palawa yang pergi menuju arah timur sampai di tengah perjalanan rupanya perasaannya tidak enak. Ia seperti punya pirasat ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada kawan-kawannya. Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah sangat berpengalaman. Biasanya pirasatnya itu selalu menjadi kenyataan. Untuk itu, tanpa membuang-buang waktu lagi. Ia segera berbalik langkah kemudian berlari cepat menuju Curing Bencana. Dugaannya ternyata benar, karena ketika ia hampir mencapai bangunan yang menjadi markas sekaligus tempat tinggal tetuanya. Ia melihat seorang pemuda berambut hitam kemerah-merahan menyelinap di balik taman di luar tembok. Hanya ia agak heran karena pemuda itu seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Padahal ia hanya melihat hanya pemuda itu saja tanpa disertai oleh orang lain.


"Mungkin dia orang yang tidak waras. Tapi siapa pun yang telah masuk ke daerah ini, apalagi telah berani memasuki daerah bangunan Curing Bencana. Ia pantas diseret untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya."


Berbekal dengan keyakinannya, Wiku Palawa langsung mencegat langkah Pendekar Blo'on.


Sraaak!


Hanya dengan mengandalkan gerakan yang cukup cepat. Dalam waktu sekejap Wiku Palawa telah berada di hadapan Suro Blondo.


Pendekar Blo'on sempat terkejut juga. Lalu berbisik:


"Nampaknya kita mengalami gangguan. Jalan kita tidak mulus, lihat ada keledai gundul di depan!"


"Dia bukan tuyul, bukan pula pendeta atau biksu dari vihara. Pastilah dia kawannya para iblis. Jangan banyak tanya, sikat saja!" kata Wiro Suryo memberi semangat.


"Siapakah kau kisanak?" tanya Wiku Palawa,


"Kau dengar, Tenggiling Kedil. Dia bertanya padaku, apakah aku tidak usah menjawabnya?" Suro Blondo lalu menyeka keningnya.


"Sudah kubilang sikat saja! Kalau perlu kasih satu jawaban saja sudah cukup!"


"Ditanya malah cengengesan. Apakah kau orang gila?"


"Kawanku bilang aku cuma bisa kasih satu jawaban saja. Aku datang kemari untuk mencari biang penyebar racun sekaligus membunuhnya!" kata Suro Blondo.


"Kaukah yang berjuluk Pendekar Blo'on?" pancing Wiku Palawa lebih jauh.


Sebagaimana yang dikatakan oleh Wiro Suryo tadi. Maka Pendekar Blo'on tanpa berkata apa-apa lagi langsung menyerang Wiku Palawa.


"Hati-hati kau. Manusia gundul yang satu ini termasuk salah satu pentolan di Curing Bencana." Wiro Suryo mengingatkan.

__ADS_1


Tidak tanggung-tanggung. Suro Blondo langsung mengerahkan jurus Tawa Kera Siluman. Wiku Palawa yang semula menganggap remeh lawannya jadi terkejut. Terlebih-lebih setelah mendapatkan kenyataan sambil melakukan serangan-serangan dahsyat lawan mengeluarkan suara tawa yang benar-benar sangat mengganggu konsentrasi dan gerakan silatnya. Lebih aneh lagi, suara tawa itu terkadang berubah menjadi suara tangis, atau bahkan suara ringkik kuda.


Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah sangat berpengalaman. Wiku Palawa langsung menutup indera pendengarannya. Namun ia terkesiap juga. Karena sungguh pun Wiku Palawa telah mengerahkan tenaga dalam untuk menghilangkan pengaruh suara tawa lainnya. Tetap saja suara tawa dan tangis Pendekar Blo'on terdengar olehnya.


"Heiit! Edaan...!" Wiku Palawa membentak garang. Ia kemudian menerjang ke depan. Satu tonjokan menderu disertai dengan melesatnya kaki kanan sang Wiku ke bagian lambung Suro Blondo. Dengan gerakan lincah dan sangat manis. Pemuda ini berkelit dan bersalto ke belakang.


"Hiaa...!"


Serangan awal luput, tapi Wiku Palawa yang mempunyai pengalaman luas dalam rimba persilatan tidak diam sampai di situ saja. Ia pun menerjang kembali. Kali ini tubuhnya melentik ke udara. Kakinya menyapu ke bagian kepala Suro Blondo. Gerakan yang dilakukannya cepat bukan main. Dan Suro Blondo dengan cepat membungkukkan tubuhnya. Tapi tidak disangka hal itu cuma tipuan belaka. Begitu Pendekar Blo'on merunduk, tinju Wiku Palawa menghantam punggung pendekar berambut hitam kemerahan ini.


"Haaakgh..."


Suro tersungkur mencium tanah. Kepalanya sakit berkunang-kunang. Sementara punggungnya seperti tertindih batu gunung. Sudut-sudut bibir Suro Blondo mengalirkan darah. Pemuda ini tidak dapat bangkit secepatnya. Padahal pada saat itu Wiku Palawa yang merasa berada di atas angin telah menghunuskan tongkatnya yang berujung runcing ke bagian perut lawannya.


"Kecurangan inilah yang tidak aku suka!" dengus Wiro Suryo yang sejak awal pertempuran tadi terus menggelantung di pinggang Suro. Badannya yang pendek dan elastis itu melentik dan menghantam wajah Wiku Palawa. Bukan main kerasnya tendangan sekaligus pukulan yang dilepaskan oleh Wiro Suryo. Sehingga membuat sebagian wajah laki-laki tua itu hancur.


Ia jatuh terpelanting. Namun tongkat mautnya masih tetap tergenggam di tangannya


"Aaaa...!" Wiku Palawa menjerit-jerit sambil menekap mukanya yang berlumuran darah.


"Bangun anak ge blek!" desis Wiro Suryo sambil menepuk pundak Pendekar Blo'on.


"Bukan hanya membantu, tapi juga menolongmu dari kelicikan-kelicikan para iblis!" gerutu bocah bangkotan berkumis serta berjenggot putih itu.


Sementara Wiku Palawa sudah bangkit berdiri. Kini ia selain marah juga merasa heran. Karena di depannya telah berdiri dua orang laki-laki. Laki-laki berbadan super pendek yang satunya ini membuat Wiku Palawa terkejut. Seingatnya tadi ia hanya menghadapi satu lawan. Mengapa kini ada dua? Selain itu sama-sama bertampang to lol lagi.


"Siapakah kalian?"


"Tidak cukup waktu bagiku untuk menerangkan siapa kami yang sesungguhnya. Bersiap-siaplah untuk mati!" dengus Wiro Suryo. Kemudian ia berpaling pada Pendekar Blo'on.


"Kau segera satroni musuh bebuyutanmu. Tapi kau harus ingat, dalam penglihatanku musuhmu itu kini selain mempunyai pengawal luar biasa sakti juga mempunyai kemajuan pesat dengan ilmu-ilmu barunya!"


"Baiklah, hati-hati, Tenggiling Kedil! Jangan pula badanmu yang kerdil sampai tercincang tongkat bututnya!"


Sambil tertawa-tawa Suro Blondo langsung melompati pagar. Sementara Wiro Suryo yang mempunyai ajian Suket Sekilen dan Pancar Wajah ini sudah berhadapan dengan lawannya.


"Jadi kau benar-benar tidak mau mengatakan siapa kau yang sesungguhnya?" tanya Wiku Palawa.


"Sebagai musuh! Bertarung ya... bertarung. Jika kita bertanya jawab, berarti kita adalah sahabat. Tapi jika kau tetap penasaran, akulah Wiro Suryo dari Gunung Sembung!"


Bagaikan mendengar petir di tengah hari bolong, Wiku Palawa belalakkan matanya. Sungguh pun ia belum pernah bertemu dengan tokoh aneh yang konon memiliki kesaktian tinggi ini. Tapi ia sering mendengar tentang adanya manusia kerdil yang selalu muncul dalam rimba persilatan dalam sepuluh tahun sekali.

__ADS_1


"Jadi kau...!" bergetar suara Wiku Palawa sehingga ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Ya... aku kenapa... sekarang apakah kau sudah siap untuk kukirim ke neraka..?" Wiro Suryo tertawa membahak. Tiba-tiba ia melipat badannya. Lalu menggelundung menyerang Wiku Palawa.


"Tenggiling Kedil!" untuk yang kedua kalinya Wiku Palawa dibuat terkejut. Tapi ia segera mengibaskan tongkatnya dengan mengerahkan tenaga dalam tinggi. Tongkat menderu, seakan mempunyai seribu mata, Wiro Suryo menghindar. Bentuk tubuh Wiro Suryo yang seperti bola tersebut memang sangat menyulitkan lawannya. Apalagi ia dapat bergerak lincah menggelundung kian kemari.


Tentu saja apa yang dilakukan lawannya sangat menyulitkan Wiku Palawa. Kalau pun ia berhasil menggebuk Wiro Suryo yang terus bergerak dan menghantam perut Wiku Palawa. Namun tampaknya hantaman tongkatnya tidak berakibat apa-apa bagi Wiro Suryo alias Tenggiling Kedil. Bahkan ia malah tertawa-tawa seperti orang yang kegelian.


"Ha ha ha... kau memang iblis yang baik! Badanku sudah berhari-hari terasa pegal. Sukur kau dengan sukarela mau mengurutku. Ha ha ha...!"


Memerah wajah Wiku Palawa, panas pula hatinya. Tiba-tiba ia melompat mundur, kemudian mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangannya. Hanya dalam waktu sekejap kedua tangannya itu telah berubah menghitam laksana arang. Terlihat kabut tipis berwarna hitam keluar dari ujung jemari Wiku Palawa, selain itu tercium pula bau busuknya bangkai. Ketika itu laki-laki berkepala setengah botak itu memang tengah mengerahkan pukulan 'Banyu Getih'. Inilah salah satu pukulan yang sangat diandalkannya.


Wiro Suryo yang mempunyai banyak keanehan dan ilmu simpanan yang cukup dahsyat tentu saja dapat membaca bahkan mengetahui jenis pukulan yang dimiliki oleh laki-laki itu. Dengan cepat ia bangkit berdiri merobah posisi. Mulutnya berkomat-kamit. Jelas ia sedang merapal mantra-mantra ajian 'Suket Sekilen'.


"Hiyaa...!" Wiku Palawa menghentakkan kedua tangannya ke arahWiro Suryo. Kakek berusia delapan puluh tahun ini tertawa membahak. Kemudian...


Plaas!


Bumm!


Bersamaan waktunya dengan datangnya pukulan lawan, maka saat itu juga Tenggiling Kedil lenyap dari pandangan mata Wiku Palawa. Pukulan yang dilepaskan Wiku Palawa menghantam sasaran kosong. Sementara itu, Wiro Suryo yang sudah tidak terlihat lagi oleh lawannya menghantam ke depan.


Buk!


Kraak! Kraak!


"Wuaaakh...!"


Wiku Palawa menjerit kesakitan. Kedua tulang kakinya patah. Ia jatuh terduduk. Tapi hantaman terus mendera wajahnya.


Praak!


"Uaaakh... bang sat pengecut...!" ma ki Wiku Palawa sambil mendekap tulang pelipisnya yang hancur.


"Setiap iblis selalu licik dan pengecut. Apa salahnya kalau sekarang aku terpaksa bertindak curang pula? Lagipula kau bukan lawanku, Wiku Palawa. Kalau pun umurmu bertambah seratus tahun lagi. Kau tetap tidak dapat melawanku. Karena aku sendiri setengah manusia setengah jin!" kata Wiro Suryo yang kini telah memperlihatkan diri lagi.


"Kalau kau masih mau tobat, sebaiknya kau merat dari sini. Tapi kalau tetap membangkang juga. Maka tempat yang sebaik-baiknya bagimu adalah di neraka jahanam!"


Wiku Palawa tidak dapat menjawab. Akibat luka-luka yang dideritanya itu ia tidak sadarkan diri.


"Tidur memang lebih baik bagimu! Huh ha ha ha...! Suro Blondo! Apakah kau sudah menemukan Betina Dari Neraka?"

__ADS_1


__ADS_2