Sang Pendekar Bloon

Sang Pendekar Bloon
58


__ADS_3

Hujan petir, angin menderu-deru. Goa Darah yang terletak di kaki bukit gunung Gede ini untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun terkena siram air hujan. Jika orang mengetahui kejadian ini tentu mereka terheran-heran. Sebab Goa Darah mereka kenal mempunyai semacam tabir gaib yang melindungi gua sepenuhnya berwarna merah darah ini dari hempasan air hujan terpaan badai. Bahkan masyarakat Jawa bagian barat merasa yakin sekali bahwa Goa Darah menyimpan misteri gaib hingga saat ini.


Sementara itu dalam keadaan hujan angin sedemikian rupa di mulut pintu Goa Darah terlihat sosok bayangan berpakaian putih berkulit hitam macam arang sedang meneliti bagian dalam gua yang berwarna kemerah-merahan itu.


Petir menyambar, sehingga sekilas cahaya kuat yang membersit tadi menerangi wajah hitam legam berambut jarang. Wajah itu tidak ubahnya seperti tengkorak hidup. Matanya mencorong seperti mata setan. Betapa mengerikan penampilannya, melebihi buruknya se tan penghuni kubur. Ia baru saja melangkahkan kaki kanannya menuju ke bagian ruangan tengah gua tersebut. Ketika cahaya merah dari dalam gua melabrak tubuhnya. Cahaya itu sedemikian dahsyat dan dingin membekukan. Namun si pendatang rupanya telah bersikap waspada. Sehingga ia melompat ke samping kiri. Belum sempat ia menjejakkan kakinya. Dari bagian samping menyambar cahaya yang sama. Tidak pelak lagi tubuhnya langsung tergontai-gontai terkena sambaran cahaya merah yang menyerangnya secara aneh ini.


Ia mengeluh pendek. Namun kemudian mulutnya mem aki menumpahkan kata-kata yang sangat kotor sekali. Dengan cepat ia bangkit berdiri kemudian merapat ke dinding gua. Sementara matanya tidak pernah lepas dari sebuah benda bersegi tiga yang terletak di tengah-tengah gua itu. Permata tersebut sejak tadi terus memancarkan cahaya berwarna putih kemilau. Tapi setiap cahaya yang melesat meninggalkan permata itu selalu berwarna merah. Dan cahaya dari prisma permata persegi tiga itulah yang rupanya telah menyerang perempuan macam tengkorak hidup berkulit hitam macam arang.


Sungguh ini merupakan sebuah kejadian yang sangat langka. Dan perempuan berkulit hitam ini juga bukan perempuan sembarangan. Dia adalah tokoh aliran sesat dari daerah kulon. Ia sangat ditakuti oleh golongan putih, disegani oleh golongan hitam karena memiliki jurus-jurus tongkat hitam yang sangat diandalkannya.


Sudah begitu banyak tokoh-tokoh tingkat tinggi yang tewas di ujung tongkatnya yang berkepala harimau ini. Terlebih-lebih saat ia malang melintang di rimba persilatan tiga belas tahun yang lalu.


Beberapa tahun belakangan ia dikabarkan telah mengasingkan diri di daerah Labuhan. Entah mengapa hari ini ia sengaja muncul ke lereng gunung Gede. Yang jelas hingga sampai detik ini ia terus berusaha mendekati Prisma permata yang terjepit di tengah-tengah batu mirip meja altar tersebut. Sekali lagi ia berusaha menggapai batu Permata dengan mempergunakan tongkatnya. Keringat dingin mengucur di sekujur wajahnya yang menyerupai tengkorak, perlahan tongkat itu bergerak. Baru saja menyentuh salah satu sisi Prisma tiba-tiba kilat melesat dari Prisma itu dan menghantam tongkat ditangan Setan Hitam.


"Uuh...!"


Tangan yang kurus kering itu bergetar keras, hawa dingin menusuk menyengat bagian jemarinya. Untung ia memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai tarap diatas sempurna. Sehingga senjata yang sangat diandalkannya itu tidak sampai terlepas dari tangannya.


"Gelo betul. Apa yang kudengar selama ini ternyata bukan omong kosong belaka. Terlanjur aku mendapat undangan merah. Aku harus memperlihatkan sesuatu yang sangat luar biasa di depan Diraja Penghulu Iblis. Dan Prisma gaib kini telah berada di depan mata. Aku harus segera mengambilnya."


Setelah berkata begitu, dengan segenap kecerdikan yang dimilikinya ia melepaskan baju putihnya. Di balik baju ia tidak memakai apa-apa, sehingga terlihatlah buah dadanya yang peot menggelantung seperti karung basah.


Baju itu kemudian dilemparkannya ke arah Kristal dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Spontan cahaya merah menyambar. Baju yang dilemparkan oleh Setan Hitam alias Nyanyuk Pingitan langsung disambar oleh cahaya merah. Hingga membuat baju tersebut terbakar. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Setan Hitam. Seraya langsung melompat dan berguling-guling. Di lain kejap ia sudah menyambar Kristal Permata tersebut.


Sedetik kemudian di tengah-tengah hujan yang membadai terdengar suara menggemuruh yang begitu dahsyat. Nyanyuk Pingitan tercekat. Sementara ia terpaksa memasukkan Prisma Kristal yang telah dicurinya ke dalam kantong kulit yang telah dipersiapkannya.


"Oh... mengapa jadi begini? Apakah karena kekuatan gua ini tergantung pada Prisma Kristal yang baru saja kuambil?" Setan Hitam menggumam dalam hati. Tokh ia sudah tidak sempat berpikir lebih jauh lagi. Karena pada saat itu langit-langit gua mulai runtuh. Batu-batu berjatuhan. Sementara altar tempat bersemayamnya Prisma Kristal tadi mulai menunjukkan keretakan disana-sini.

__ADS_1


Krraaaak....!


Setan Hitam laksana kilat melompat keluar dari dalam gua. Pada saat yang sama pula terdengar suara dahsyat menggelegar.


Bumm! Buum!


Gua runtuh. Setan Hitam tercengang ketika melihat sinar merah menerangi reruntuhan gua. Sinar merah itu seperti muncul dari dalam bumi.


"Aku tidak mau mengambil resiko. Aku harus meninggalkan tempat ini segera!" Belum selesai dengan ucapannya ia telah melesat pergi sambil membawa Prisma Permata Sakti curian.


Tidak sampai sepuluh menit setelah Nyanyuk Pingitan meninggalkan Gua Darah. Dari reruntuhan gua yang memancarkan cahaya merah menyala bagaikan lava gunung ini muncul tangan berwarna kemerah-merahan. Batu-batu yang berasal dari reruntuhan gua berpelantingan.


"Hoaaarkh...! Hraaaakk...!"


Brol! Bool!


"Gila... siapa orangnya yang berani mencuri Kristal Sakti milikku. Siapa orangnya yang telah membuat hancur istanaku. Kristal diambil. Dunia benar-benar hendak kiamat. Seluruh Jawa ini bisa tenggelam menjadi lumpur api." Serak dan berat suara manusia merah ini. Matanya yang liar itu memandang ke sekelilingnya. Dan hidungnya mulai mengendus-endus.


Tiba-tiba ia tertawa, tapi dalam tawanya mengandung kesedihan. Gunung Gede bergetar hebat karena pengaruh suara tawanya itu. Sementara goa Darah kini telah berubah menjadi lautan lumpur panas yang mengobarkan api menyala-nyala. Panas yang ditimbulkannya menyebar ke seluruh tempat-tempat yang berdekatan dengan bekas Goa Darah tersebut. Sehingga mengundang ketakutan siapa saja.


"Benar-benar keterlaluan. Benda penjaga keseimbangan bumi telah diambil oleh orang pintar tapi bodoh. Aku tidak melihat orangnya, tapi melihat baunya. Aku harus mencarinya... harus...!"


Dengan langkah-langkah kakinya yang berat menggetarkan setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Ia melangkah menuju arah matahari terbit. Hanya malam hari saja ia berjalan. Pada siang hari ia tidur disembarang tempat yang tersembunyi dari perhatian orang.


Siapakah Manusia Merah dengan tinggi lima meter ini? Sekitar dua abad yang silam. Seorang Kyai Sakti mandraguna yang tinggal di gunung Jati sering melakukan perjalanan ke daerah Banten. Dalam perjalanan yang berulang itu, terkadang ia singgah di tempat-tempat tertentu sebelum mencapai tempat tujuan. Karena beliau masih begitu muda dan belum punya istri pula.


Di daerah Jampang kulon kebetulan ia kenal seorang gadis bernama Restu Abadi. Gadis cantik ini anak seorang ******** besar bernama Malim Kuswara. Cinta diantara mereka ternyata bersambut. Setelah dua tahun mereka menjalin hubungan. Akhirnya mereka menikah.

__ADS_1


Ketika Restu Abadi hamil, maka terjadi banyak keanehan. Setiap malam istri Kyai Tapa ini sering menggerung-gerung seperti harimau.


Suatu malam Kyai Tapa bermimpi bahwa anak yang akan terlahir dari rahim istrinya ini akan terlahir dengan dua rupa. Yaitu kepala harimau sedangkan badan seperti manusia biasa cuma ditumbuhi bulu.


Dengan kesaktiannya yang sangat tinggi, sang Kyai mulai menyelidiki keanehan kehamilan yang terjadi pada isterinya. Akhirnya diketahui, rupanya sebelum malam pertama. Ada raja Jin yang datang kepada Restu Abadi, dan menggaulinya sebagaimana layaknya suami isteri.


Dalam hal ini, Kyai tidak dapat menyalahkan istrinya. Karena Raja Jin itu telah menyaru sebagai diri sang Kyai. Dengan tekunnya ia meminta pada sang khalik agar dipertemukan dengan Raja Jin yang dia anggap telah mencoreng harga dirinya.


Dalam pertempuran yang berlangsung selama seratus hari tidak ada henti itu. Ternyata tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Mereka akhirnya sama-sama mengangkat ikrar agar tidak bermusuhan lagi. Sebagai imbalannya. Bila anak itu terlahir kelak ia harus ditempatkan di dalam sebuah gua yang tidak pernah didatangi manusia. Sedangkan istrinya harus rela dibuang ke pulau Andalas.


Raja Jin ternyata setuju. Sungguhpun Restu Abadi yang merasa tidak bersalah tidak menyetujuinya. Demikian juga halnya dengan Malim Kuswara ayah kandung Restu Abadi. Pertempuran antara anak menantu dengan mertua ini tidak dapat dihindari lagi. Tapi karena begitu tingginya ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Kyai Tapa. Malim Kuswara tewas di tangan menantunya. Begitu anak mereka terlahir, maka pergilah Restu Abadi meninggalkan Jampang Kulon dengan membawa luka hati dan dendam membara. Ia tidak lagi menghiraukan anaknya yang terlahir dengan keadaan yang sangat mengguncangkan hatinya itu.


Kyai Tapa sendiri setelah membawa anak Jin itu ke Goa Darah langsung mengasingkan diri ke Gunung jati. Tidak ada yang tahu, anak Jin alias manusia Merah yang diberi nama Soma Sasra ini selalu memberontak dan menimbulkan guncangan di sekitar pulau Jawa. Khususnya di daerah Jawa Barat. Raja Jin diam-diam meletakkan sebuah Kristal Permata di tengah-tengah altar untuk meredam gerakan sang anak yang setengah manusia dan setengah binatang ini.


Tapi siapa sangka hari ini setelah dua ratus tahun mendekam di dasar perut bumi Prisma Permata itu ada yang mengambilnya. Karena memang tidak ada yang tahu bagaimana tabiat dan sepak terjang Manusia Merah ini.


Benarkah Soma Sasra hanya ingin mencari Kristal sakti miliknya itu atau punya maksud lain setelah ia terbebas dari penjara perut bumi selama ratusan tahun.


Pada saat yang sama, sebuah perahu kecil meluncur menyeberangi selat Sunda. Pemandangan senja yang remang-remang dengan latar belakang gunung Krakatau yang terus mengepulkan asap, merupakan keindahan tersendiri bagi yang melihatnya. Tapi bila melihat ke arah orang yang sedang meluncur kencang dengan perahunya ini sangat jauh bertolak belakang. Wajah laki-laki ini hanya sebagian saja yang tertutup kulit. Sedangkan bagian lainnya tertutup daging busuk bernanah. Matanya juga hanya sebelah, sedangkan mata kirinya membentuk lubang yang sangat dalam. Sesekali bibirnya yang rusak bopeng-bopeng dan hampir tanggal ini menyunggingkan seulas senyum. Namun senyum itu malah sedemikian menyeramkan.


"Jauh sudah jalan kutempuh. Akhirnya aku menjadi bosan. Ha ha ha...! Letih nian aku mencari akhirnya aku diam sendiri. Ha ha ha... Undangan merah undangan maut. Tanah Jawa lama tidak kudatangi, masihkah kini para iblis ingat pada Alang Sitepu. Mudah-mudahan Bungkuk Lima tetap di kenang. Aku akan datang... ya... datang atas undang merah...!"


Alang Sitepu alias Bungkuk Lima berdiri di atas perahunya yang terus meluncur kencang. Tokoh hitam yang kondang karena ilmu sihirnya ini kemudian tertawa-tawa.


"Gunung Sibayak telah jauh di belakang sana. Gunung Pangrangko kini menjadi tujuan. Ha ha ha... apa kabar orang Jawa?"


Wajah yang sangat mengerikan dengan mata yang cuma tinggal sebelah ini memandang ke satu arah. Kini Labuhan telah terlihat olehnya. Ia pun menyeringai, kemudian tertawa. Gemuruh suara tawanya menggema diantara deburan ombak yang kian menggila.

__ADS_1


__ADS_2